"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Hinaan halus
Dua hari berlalu begitu saja. Danu masih marah padaku karena keputusanku untuk pergi menjadi relawan. Hal itu membuatku tak memiliki gairah dalam bekerja.
"Dinda, kamu kenapa? Jangan banyak melamun, sudah ada beberapa perawat yang komplain karena kamu gak fokus," tegur Siska, teman sejawat sekaligus sahabatku.
"Danu masih marah padaku," jawabku, tidak ragu lagi untuk bercerita padanya.
"Kali ini masalah apa? Apa dia tahu kalau kamu menyukainya?"
Aku segera membekap mulut Siska karena ia berbicara terlalu keras. Rumah sakit ini sebagian besar donaturnya berasal dari keluarga Saliyo. Apa jadinya jika seseorang mendengar pembicaraan itu lalu melaporkannya pada atasan? Selain mendapat caci maki, tentu saja aku bisa kehilangan pekerjaan. Bagaimanapun, seekor anjing yang sudah dipelihara tidak mungkin akan masuk ke dalam rumah majikannya tanpa seizinnya, bukan?
"Maaf, aku kelepasan," ucap Siska seraya melepaskan bekapan tanganku. "Lalu kenapa dia marah padamu?" tanyanya sekali lagi.
"Dia gak terima kalau aku ikut jadi relawan bencana di Ujung Kulon," jawabku.
"Jangankan dia, aku aja gak rela kok. Kamu salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini, kalau kamu pergi kita akan keteteran. Belum lagi perawatan ibu kamu," ungkap Siska dengan wajah sendu.
"Karena jadi relawan ini aku juga bisa mendapatkan uang lebih untuk biaya Ibu."
"Kenapa kamu gak coba meminjam uang saja pada keluarga itu? Lalu membawa ibu ke rumah sakit ini untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Kenapa harus dirawat di rumah sakit berbeda, apalagi di Surabaya? Kakakku sering bertanya padaku alasan kamu melakukan ini semua," cecar Siska.
Aku mendesah berat. Sebagai anak, aku sama sekali belum bisa memberikan apa pun pada Ibu di usianya yang semakin tua. Apalagi saat ini penyakit gula yang terus menggerogoti tubuh tua Ibu sudah masuk dalam kategori komplikasi, membuat uang yang kuhasilkan selama bertahun-tahun menjadi dokter hampir tak tersisa.
Haruskah aku meminjam uang dan memberitahu kondisi keluargaku pada keluarga Danu? Bukankah ini sama saja aku tidak tahu diri? Bahkan saat mencoba mencari pekerjaan di rumah sakit lain dengan gaji yang tinggi pun aku sama sekali tidak berani. Satu-satunya cara untuk mendapatkan uang lebih adalah dengan menjadi relawan.
"Kamu sangat tahu alasannya, dan aku tidak perlu menjelaskannya. Tapi yang terpenting, setelah acara pernikahan Danu, aku bisa pergi dan membawa semua beban ke tempat itu," jawabku sambil memandang kosong ke sembarang arah.
"Dinda, aku tidak tahu di balik tubuh tegar ini ada jiwa ringkih yang ingin berusaha bangkit. Meskipun kamu bodoh dalam asmara dan tidak beruntung dalam segala hal, tetap ada yang bisa kamu syukuri."
"Apa itu?" tanyaku.
"Selain pekerjaan ini, kamu masih punya aku, sahabat yang kadang tidak bisa diandalkan," ucap Siska mencoba menghiburku.
"Dasar narsis," ejekku, lalu kami berdua tertawa.
"Kamu sudah bekerja dua shift, lebih baik kamu pulang biar aku yang jaga UGD. Kalau gak, segera temui dia dan jelaskan kembali keinginanmu itu," perintah Siska.
Baru saja aku menganggukkan kepala, ponselku berdering menampilkan nomor Danu yang memanggilku. Buru-buru aku menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan itu.
"Dinda, kamu ada di rumah sakit?" tanya Danu dari seberang sana tanpa menyapa.
Aku tersenyum lebar. Pertanyaan itu artinya Danu sudah tidak marah lagi padaku. Aku segera menjawab, "Iya, aku masih di rumah sakit. Sebentar lagi pulang, kenapa?"
"Kalau begitu segera keluar, aku ada di parkiran," perintah Danu.
Aku merasa seperti memenangkan undian. Aku tidak percaya lelaki itu memberikan kejutan padaku setelah dua hari tak menemui atau bahkan membalas pesanku.
"Tunggu sebentar, aku akan ke sana."
Setelah menutup telepon, aku langsung melepas jas putihku dan sedikit memoleskan riasan di wajah agar tidak terlihat pucat.
"Hem, kamu seperti mau kencan saja. Ingat, calon suami orang," sindir Siska.
"Em ... jangan merusak mood-ku dong. Lagian tinggal empat hari lagi aku bisa pergi dengannya seperti ini," sahutku. Ada sedikit rasa bersalah bercampur dengan rasa sedih. Perasaanku saat ini sama sekali tidak bisa digambarkan.
"Baiklah. Selamat bersenang-senang," ucap Siska melepas kepergianku.
Setelah melewati beranda rumah sakit menuju parkiran, aku berlarian saat melihat mobil Danu yang terparkir rapi. Kaca mobil itu sangat gelap hingga aku tidak tahu siapa yang berada di dalam sana. Hingga akhirnya, saat aku hendak membuka pintu depan di samping kemudi, kaca itu mendadak turun dan menampilkan sosok cantik di dalamnya.
"Dinda, di sini sudah ada aku. Lebih baik kamu di belakang. Kamu tahu posisi, kan?" ujar Belinda, membuatku tergugu.
"Dinda, halo." Tangan Belinda melambai-lambai di depan mataku, baru kemudian membuatku tersadar.
"Maaf, Belinda, aku tidak tahu. Aku duduk di belakang," ucapku seraya gegas membuka pintu belakang.
"Aku ingin memberikan kejutan padamu, jadi aku tidak memberitahu kalau Belinda sudah pulang," ungkap Danu.
Aku tersenyum miris. Baru saja aku merasa senang saat Danu menungguku dan berpikir akan menghabiskan waktu bersamanya, tapi nyatanya aku harus kembali sadar bahwa aku hanya menjadi obat nyamuk. Memikirkan hal ini, rasanya lebih baik aku melakukan operasi berjam-jam.
"Tidak masalah. Oh ya, Bel, kapan kamu pulang?" tanyaku sementara mobil melaju menelusuri jalanan.
"Kemarin. Aku dengar kamu yang menggantikan aku untuk mencoba gaun pengantin, ya?"
"Maaf. Karena takut kamu pulang waktu hari H, jadi Danu memintaku menggantikan kamu," jawabku.
"Dinda, kamu sangat tahu kan, gaun pengantin itu tidak boleh dicoba-coba? Harusnya kamu menolak permintaan Danu," nada suara Belinda sedikit tinggi karena kesal.
"A-aku ..."
"Sayang, sudahlah, jangan salahkan Dinda. Aku yang memaksanya, lagipula kita bisa memilih gaun baru," potong Danu.
"Ya tetap saja aku kesal. Harusnya orang pertama yang kamu lihat menggunakan gaun pengantin itu aku. Kenapa justru dia? Lagian Sayang, aku sudah bilang tunggu aku. Aku pasti pulang lebih cepat, apalagi ini acara penting," celoteh Belinda.
"Ya Sayang, maaf. Jangan ngambek lagi," pinta Danu. "Dinda, kita berdua sudah salah. Kita harus meminta maaf pada Belinda agar dia tidak ngambek lagi."
Kali ini permintaan Danu sungguh di luar prediksiku. Awalnya aku sudah menolak untuk mengikuti keinginan Danu, tapi lelaki itu terus memohon padaku. Harusnya ini semua kesalahan lelaki itu, kan? Kenapa aku yang diminta untuk ikut meminta maaf juga? Namun, sebagai orang miskin, meminta maaf bukanlah hal yang susah, meskipun harga diri menjadi taruhannya.
"Belinda, aku minta maaf. Untuk menebus semua kesalahanku, akan aku tunjukkan butik paling bagus di kota ini," ucapku.
"Kamu kira aku tidak memiliki rekomendasi? Kalau kamu benar-benar ingin minta maaf, lebih baik kamu beli gaun itu," ucap Belinda dengan nada dingin.
Aku terkejut. Aku sangat tahu gaun itu seharga ratusan juta, karena Danu tidak sembarangan dalam memilih. Lalu aku dapat uang dari mana untuk membeli gaun itu? Apakah secara tidak langsung Belinda ingin memberitahu perbedaan antara aku dan dirinya?
"Kamu terkejut? Apa kamu tidak mampu belinya?" tanya Belinda.
"Sayang, jangan seperti itu. Tentu saja Dinda mampu belinya, kamu tahu dia dokter ahli, kan? Sudahlah, kita jangan membahas ini. Empat hari lagi kita sudah berada di pelaminan dan kamu wanita satu-satunya di hatiku," ucap Danu.
Saat ini aku merasa bahwa Danu memang bukanlah untukku. Keputusanku sudah benar. Setelah empat hari ini, aku akan pergi membawa semua luka ke tempat yang baru.
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
up bnyak bnyak😘😘
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...