NovelToon NovelToon
Obsesi Gila Grayson

Obsesi Gila Grayson

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.

Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Udara di koridor lantai khusus ruang ICU itu mendadak terasa begitu tipis, seolah seluruh oksigen tersedot habis oleh kehadiran sosok yang baru saja datang.

Galang, yang semula berdiri berdampingan dengan Aurelia, perlahan menolehkan kepalanya mengikuti arah pandangan sang gadis. Alis pemuda itu langsung bertaut bingung saat melihat seorang siswa dari sekolah yang sama—seorang berandalan elit yang terkenal paling ditakuti—kini berjalan mendekat dengan langkah tegap dan tatapan mata yang sulit diartikan.

Grayson Balindra menghentikan langkahnya tepat beberapa langkah di hadapan mereka berdua.

Jantung Aurelia berdegup liar, nyaris melompat keluar dari rongga dadanya. Keringat dingin mengalir deras di pelipisnya. Dalam sepersekian detik, ia bisa melihat bagaimana otot-otot di rahang Grayson mengeras dengan sangat ketat. Manik mata *amber* terang milik pemuda itu memandangi Galang dari ujung kepala hingga kaki, lalu beralih menatap lekat-lekat ke arah jarak yang begitu dekat di antara Galang dan dirinya.

Itu adalah tatapan khas seorang predator yang melihat mangsanya didekati oleh makhluk lain. Cemburu, marah, dan kepemilikan yang gelap bergejolak hebat di balik sorot mata tersebut.

Namun, sebelum Grayson sempat membuka mulut atau melayangkan tatapan membunuhnya—sebelum badai kemarahan itu meledak dan menghancurkan segalanya di tempat umum ini—Aurelia bergerak cepat.

Dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki, Aurelia melangkah maju setengah langkah, menghalangi pandangan langsung Grayson ke arah Galang. Tangannya secara diam-diam mengepal erat di balik lipatan kardigan rajutnya, sementara manik matanya menatap tajam ke arah Grayson, memberikan isyarat putus asa yang teramat sangat.

*Jangan... Kumohon, jangan lakukan apa-apa di sini,* bicit sorot mata Aurelia memohon kepada suaminya. *Ingat perjanjian kita. Jangan katakan siapa-siapa tentang hubungan kita.*

Grayson terpaku sejenak. Ia menangkap mentah-mentah setiap sinyal kepanikan dan permohonan yang terpancar dari manik mata basah istrinya. Di dalam kepalanya, ego dan rasa cemburunya berteriak keras menuntut untuk mencengkeram kerah baju pemuda di hadapannya dan menyeret Aurelia detik itu juga. Namun, melihat betapa ketakutannya sang gadis saat ini, Grayson menahan napasnya dalam-dalam. Ia meredam badai di dadanya dengan paksa.

Dengan gerakan rahang yang perlahan mengendur, ekspresi wajah Grayson berubah drastis dalam hitungan detik. Dari sorot mata seorang monster yang siap menerkam, ia bertransformasi menjadi seorang kenalan biasa yang bersikap tenang.

"Galang, kan?" suara bariton Grayson memecah keheningan koridor dengan nada yang terdengar datar namun sopan—sebuah nada yang sangat tidak biasa ia gunakan di sekolah.

Galang mengerjap kaget, sedikit terkejut karena siswa tertutup dan arogan seperti Grayson mengenal namanya. "Ah, iya, benar. Grayson, ya? Kamu... menjenguk juga?" tanya Galang, mencoba bersikap ramah selayaknya seorang ketua OSIS pada umumnya.

Grayson mengangguk tenang, memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana panjangnya. "Ya. Aku kebetulan sedang lewat di sekitar area sini bersama supirku, dan mendengar dari beberapa teman kalau ayah Aurelia sedang dirawat di rumah sakit ini. Sebagai sesama teman sekolah, tidak ada salahnya mampir sekadar melihat kondisi beliau."

Mendengar kata *teman sekolah* yang diucapkan oleh Grayson, Aurelia menghela napas panjang dalam diam. Beban berat di dadanya seolah terangkat separuh. Pria itu mengerti isyaratnya; Grayson memilih untuk menahan egonya dan bermain aman demi menjaga kerahasiaan pernikahan mereka di hadapan Galang.

Galang tampak sedikit tertegun mendengar penjelasan tersebut, tidak menyangka pemuda sekaku Grayson memiliki kepedulian sosial untuk datang menjenguk. "Oh... begitu. Syukurlah kalau begitu. Aku dan orang tuaku baru saja selesai menemui Tante Lila di dalam."

"Baguslah," balas Grayson singkat. Tatapannya beralih sejenak melirik ke arah Aurelia, memberikan isyarat lembut yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua. "Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu waktu kalian. Aku harus segera masuk untuk menemui keluarga pasien."

Sebelum Galang sempat merespons lebih jauh, Grayson menganggukkan kepalanya sopan sekali lagi, lalu melangkah melewati mereka berdua begitu saja menuju arah ruang tunggu tempat Lila berada, meninggalkan koridor tersebut dalam keheningan yang tersisa.

Galang menoleh, memandangi punggung Grayson yang berjalan menjauh dengan alis bertaut heran. "Dia... ternyata tidak seseram yang dibicarakan orang-orang di sekolah ya, Li," gumam Galang pelan kepada Aurelia. "Ternyata dia cukup sopan."

Aurelia hanya tersenyum kaku, tidak berani memberikan komentar apa pun. *Kalau saja kamu tahu siapa dia sebenarnya di balik topeng itu,* batin Aurelia getir.

Tidak lama setelah itu, orang tua Galang keluar dari ruang tunggu dan mengajak anak lelaki mereka untuk segera pamit pulang karena hari semakin malam. Aurelia mengantar kepulangan keluarga Galang sampai ke depan lift dengan hati yang masih berdebar kencang.

Begitu pintu lift tertutup dan koridor kembali sepi, Aurelia berbalik dengan langkah cepat menuju ruang tunggu VVIP di ujung koridor. Ia harus memastikan apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh Grayson setelah insiden kecil tadi.

Suara bariton yang sedingin es itu meluncur begitu saja dari bibir Grayson, langsung memecah keheningan koridor rumah sakit yang mulai sepi.

Aurelia terperanjat di tempatnya. Tiga kata singkat—*“Kita pulang”*—diucapkan dengan intonasi rendah yang tidak mengandung toleransi sedikit pun. Meskipun beberapa menit yang lalu di hadapan Galang pemuda itu berhasil menahan diri dan memasang topeng setenang mungkin, badai emosi yang sempat diredam kini siap meledak begitu mereka berada di luar jangkauan pandangan orang lain.

Bulunya meremang seketika. Aurelia tahu persis apa arti dari sorot mata *amber* yang kembali menggelap pekat itu. Rasa cemburu yang membakar dada Grayson tidak bisa hilang begitu saja hanya karena sebuah sandiwara singkat.

Tanpa menunggu persetujuan atau sepatah kata pun dari sang istri, Grayson langsung membalikkan badan. Tangannya yang kokoh terulur, mencengkeram pergelangan tangan Aurelia dengan erat—tidak terlalu kencang hingga menyakiti, namun cukup kuat untuk memastikan gadis itu tidak bisa melarikan diri atau tertinggal sedetik pun di belakangnya.

"G-Grayson... tunggu sebentar," bisik Aurelia panik, setengah berlari mengikuti langkah kaki panjang suaminya yang berjalan cepat meninggalkan area ruang ICU. "Aku harus pamit dulu sama Mama...!"

"Ibumu sudah tahu," potong Grayson dingin tanpa menghentikan langkahnya sedikt pun. "Aku sudah bicara padanya sebelum aku menghampiri kalian di koridor tadi."

Aurelia tertegun. Jadi, kedatangan Grayson tadi bukan sebuah kebetulan. Pria itu memang sengaja datang tepat waktu untuk memantau gerak-geriknya, dan pertemuan tidak sengaja dengan Galang adalah ujian kesabaran yang hampir membuat batas toleransi Grayson runtuh seketika.

Mereka berjalan menyusuri koridor VVIP, turun melalui lift khusus yang langsung membawa mereka menujubasement tempat mobil *sport* hitam Grayson terparkir. Suasana di dalam kabin lift terasa begitu mencekam. Tidak ada suara apa pun selain deru mesin lift yang bergerak turun. Aurelia menundukkan kepalanya, menggigit bibir bawahnya karena rasa cemas yang merayap di dada. Ia tahu, malam ini di vila terpencil itu, amarah sang suami yang tertahan akan menuntut "bayaran".

Begitu pintu lift terbuka di area *basement* yang remang-remang, Grayson langsung menarik Aurelia keluar menuju sisi mobil. Ia membukakan pintu penumpang dengan gerakan cepat, lalu mendorong tubuh Aurelia secara halus namun tegas untuk masuk ke dalam.

*Brak!*

Pintu mobil ditutup rapat oleh Grayson. Pemuda itu berputar melewati bagian depan mobil, lalu masuk ke kursi pengemudi. Dalam hitungan detik, mesin mobil *sport* berdarah dingin itu menderu buas, membelah malam Kota Samarinda dengan kecepatan tinggi meninggalkan area Rumah Sakit Medika Utama.

Di sepanjang perjalanan pulang, tidak ada satu pun percakapan di antara mereka. Suasana di dalam kabin terasa sangat padat oleh ketegangan yang menyesakkan. Aurelia hanya bisa menatap lurus ke luar jendela, melihat lampu-lampu jalanan kota berkelebat cepat dalam buram, sementara jantungnya terus berdegup kencang menanti apa yang akan terjadi begitu mereka tiba di sangkar emas milik pria di sampingnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!