Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA BELAS
## Bab 12: Hal-Hal Kecil yang Terlewat
Rabu sore itu, sepulang kerja, aku memutuskan untuk membersihkan lemari pakaian Bayu—sesuatu yang biasa kulakukan setiap beberapa bulan sekali untuk memisahkan baju-baju yang sudah jarang dipakai dan menyumbangkannya ke panti asuhan dekat rumah. Sambil melipat kemeja-kemeja kerjanya, aku menemukan sebuah kotak kecil terselip di sudut lemari, tersembunyi di balik tumpukan kaos lama.
Penasaran, aku membuka kotak itu. Isinya cukup sederhana—beberapa struk belanja lama, sebuah gelang karet kecil berwarna biru muda yang tampak seperti gelang bayi, dan sebuah foto polaroid yang sudah agak kusam, menampilkan Bayu sedang tersenyum sambil menggendong seorang bayi yang wajahnya tidak terlalu jelas karena sudut pengambilan gambar yang kurang bagus.
Aku menatap foto itu cukup lama, mengernyitkan dahi. *Bayi siapa ini?* pikirku, mencoba mengingat-ingat apakah ada keponakan atau anak kerabat yang pernah digendong Bayu dalam suasana informal seperti itu.
"Yu, lagi ngapain?" suara Bayu tiba-tiba terdengar dari pintu kamar, membuatku sedikit terkejut.
Aku buru-buru menunjukkan foto itu. "Ini foto siapa, Mas? Kok ada di lemari kamu?"
Wajah Bayu sekilas berubah pucat, meski dengan cepat ia berusaha menormalkan ekspresinya. "Oh, itu... anak temen kantor, Yu. Waktu itu aku sempet momong pas acara syukuran, terus fotonya kesimpen aja di situ, lupa dibuang."
"Oh gitu," aku mengangguk, meski ada sedikit rasa aneh yang muncul—bukan curiga sepenuhnya, hanya semacam pertanyaan kecil dalam hati kenapa foto semacam itu bisa tersimpan begitu rapi di dalam kotak, lengkap dengan gelang bayi dan struk-struk belanja lama yang tidak jelas juntrungannya.
"Gelang ini juga punya anak temen kantor, Mas?" tanyaku lagi, mengangkat gelang karet biru muda itu.
"Iya, itu... waktu itu aku beliin buat kado, eh kelebihan beli, jadi yang satu kesimpen aja," jawab Bayu, cepat, terlalu cepat hingga terdengar sedikit dipaksakan.
Aku tidak melanjutkan pertanyaan lebih jauh, memilih untuk mempercayai penjelasan sederhana itu, meski entah kenapa perasaanku sedikit tidak nyaman malam itu—perasaan yang segera kutepis sendiri dengan alasan mungkin aku hanya terlalu lelah setelah seharian bekerja, sehingga menaruh perhatian berlebihan pada hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
---
Malam harinya, saat Bayu sudah tertidur, aku masih terjaga, menatap langit-langit kamar sambil sesekali memikirkan kembali foto dan gelang bayi tadi. Ada semacam dorongan kecil dalam diriku untuk mencari tahu lebih lanjut, namun rasa lelah dan kepercayaan yang sudah terlalu lama tertanam membuatku memilih untuk tidak memperbesar masalah yang, kupikir waktu itu, mungkin memang hanya sesederhana penjelasan yang diberikan Bayu.
Aku bangkit pelan-pelan, berjalan ke dapur untuk minum air putih, mencoba menenangkan pikiran yang entah kenapa terasa sedikit gelisah malam itu. Di ruang tamu, ponselku yang tertinggal di meja tiba-tiba bergetar—sebuah notifikasi dari aplikasi media sosial, menampilkan sebuah unggahan dari akun Tika, sahabatku.
Aku membuka aplikasi itu, sekadar mengisi waktu sebelum kembali tidur. Tika mengunggah foto liburan bersama suaminya, lengkap dengan keterangan panjang tentang betapa bahagianya ia menjalani pernikahan mereka. Aku tersenyum melihat kebahagiaan sahabatku itu, sebelum akhirnya menggulir ke unggahan-unggahan lain yang muncul di beranda.
Salah satu unggahan yang muncul adalah dari akun publik sebuah rumah sakit bersalin, menampilkan testimoni beberapa pasien yang baru saja melahirkan. Salah satu foto testimoni itu menampilkan seorang perempuan muda yang tersenyum sambil menggendong bayinya—wajah perempuan itu tampak familiar, meski aku tidak bisa mengingat dengan pasti di mana aku pernah melihatnya.
*Mungkin cuma mirip orang lain,* pikirku, menggulir layar lebih jauh tanpa memberi perhatian khusus pada unggahan itu, tidak menyadari bahwa wajah yang baru saja kulihat sekilas adalah wajah Wulan, yang kebetulan pernah memberikan testimoni untuk rumah sakit bersalin tempat ia melahirkan Raka setahun lalu—sebuah kebetulan kecil yang, jika saja aku sedikit lebih memperhatikan, mungkin bisa menjadi petunjuk penting yang mempercepat semuanya.
---
Keesokan paginya, aku bangun dengan perasaan yang sudah kembali normal, hampir lupa sepenuhnya dengan kejanggalan foto dan gelang bayi semalam. Rutinitas pagi berjalan seperti biasa—menyiapkan sarapan, melepas Bayu berangkat kerja, lalu bersiap-siap sendiri menuju kantor.
Di kantor, aku sempat bercerita sedikit pada Rina soal penemuan foto itu, lebih sebagai obrolan ringan di sela pekerjaan daripada kecurigaan serius.
"Eh, Rin, kemarin aku nemu foto aneh di lemari Bayu. Foto dia gendong bayi orang, katanya sih anak temen kantornya," ceritaku sambil menyeruput kopi pagi.
Rina mengangkat alis, tampak sedikit tertarik dengan cerita itu. "Bayi siapa emangnya, Bu? Jangan-jangan..." Rina menghentikan kalimatnya, tampak ragu untuk melanjutkan pikiran yang mungkin terlintas di benaknya.
"Jangan-jangan apa, Rin?" tanyaku, penasaran dengan kalimat yang terputus itu.
"Ah, nggak, Bu. Cuma kebanyakan nonton sinetron aja kali saya," Rina tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Mungkin emang beneran anak temennya kok, Bu. Jangan mikir yang aneh-aneh dulu."
Aku ikut tertawa, menganggap candaan Rina hanya bercanda semata. "Iya juga sih, kebanyakan mikir jadinya. Udah ah, lanjut kerja lagi."
Percakapan singkat itu berakhir begitu saja, tanpa meninggalkan bekas kecurigaan yang berarti dalam diriku. Aku kembali fokus pada pekerjaan, membiarkan pertanyaan-pertanyaan kecil yang sempat muncul semalam perlahan tenggelam di antara kesibukan rutinitas harian yang terus berjalan tanpa henti.
---
Sore harinya, sepulang kerja, aku mampir sebentar ke toko perlengkapan bayi, sekadar melihat-lihat sambil membayangkan kapan kiranya aku dan Bayu bisa benar-benar memiliki momongan sendiri. Di toko itu, tanpa sengaja aku melihat sebuah gelang bayi berwarna biru muda yang persis sama dengan yang kutemukan di kotak Bayu semalam.
Aku berhenti sejenak, mengamati gelang itu lebih dekat, mencoba mengingat-ingat kembali penjelasan Bayu soal gelang yang ia simpan. *Mungkin memang gelang biasa yang banyak dijual di mana-mana,* pikirku, mencoba menepis kembali rasa penasaran yang sempat muncul.
Aku melanjutkan melihat-lihat perlengkapan bayi lainnya, membeli beberapa pernak-pernik kecil yang menurutku lucu, sebelum akhirnya pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk antara harapan memiliki momongan sendiri dan rasa penasaran kecil yang, entah kenapa, terus muncul sesekali di sudut pikiranku, meski belum cukup kuat untuk benar-benar membuatku curiga secara serius pada suamiku sendiri.
Malam itu, seperti biasa, aku dan Bayu melewati waktu bersama dengan hangat, tanpa ada percakapan lebih lanjut soal foto atau gelang bayi yang sempat kutemukan. Aku memilih untuk melupakannya, mempercayai penuh penjelasan yang sudah diberikan, tidak menyadari bahwa benih-benih kecurigaan yang mulai tertanam dari berbagai kejadian kecil ini, cepat atau lambat, akan tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa kubayangkan saat ini.
---
*Bersambung ke Bab 13*