Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
DORRR! DORRR! DORRR!
Rentetan tembakan otomatis memecah kegelapan malam di sepanjang tebing pantai Karibia. Bau mesiu yang menyengat dan asap tipis menyusup masuk melalui celah ventilasi vila. Di dalam kamar utama yang gelap, Clara bergeming di sudut tempat tidur, memeluk kedua lututnya seraya mendengarkan gemuruh pertempuran yang pecah di luar sana.
Sistem pertahanan pulau yang dibangun Kenzo sangat canggih, namun pasukan armada kapal Diego bertindak lebih cepat dan brutal. Memanfaatkan sisa gelombang pasang pasca badai, tiga unit speedboat taktis bermesin silap berhasil mendaratkan belasan prajurit bayaran berperlengkapan tempur di celah batu karang yang tak terjaga.
TAK! TAK! TAK!
Suara pecahan kaca tebal di lantai dasar vila terdengar menggelegar. Pasukan Diego telah berhasil menembus perimeter luar dan menginvasi interior bagian bawah.
Di lorong depan kamar utama, Kenzo berdiri dengan postur tubuh yang tegap dan mematikan.
Kemeja putihnya kini ternoda oleh percikan darah musuh. Dengan pistol taktis di tangan kanannya, Kenzo menembak jatuh dua orang penyusup yang mencoba menerobos tangga utama. Gerakannya dingin, presisi, dan tanpa keraguan sedikit pun.
"Tuan Kenzo! Diego ada di tim penerobos sisi timur! Dia menggunakan peledak ringan untuk membuka jalur menuju lorong ini!"
teriak Kevin dari balik barikade sofa, terus membalas tembakan musuh.
"Tahan mereka di tangga!"
perintah Kenzo, suaranya terdengar begitu dalam dan berbahaya.
"Jangan biarkan satu pun dari bajingan itu mendekati pintu kamar ini!"
Diego bukan lawan yang mudah dipojokkan. Di tengah kepulan asap peledak yang memenuhi ruang tengah, seorang pria berjanggut tipis dengan jas abu-abu mahal dan rompi anti-peluru melangkah santai melewati tumpukan puing kaca. Senyum miring yang congkak terukir di wajahnya. Diego memegang senapan serbu ringkas dengan gerakan terlatih.
"Kenzo, sahabat lamaku!"
seru Diego dengan logat Spanyol yang kental, suaranya bergema menembus suara tembakan.
"Kau menyembunyikan mahakarya paling indah di pulau terpencil ini! Sungguh tidak adil jika kau menikmati kecantikan gadis itu sendirian!"
"Sebut namanya sekali lagi dari mulut sampahmu, Diego, dan aku akan memastikan kau tidak akan pernah bernapas lagi,"
balas Kenzo dari balik pilar beton, menembakkan dua tembakan yang hampir saja menembus dada Diego.
"Hahaha! Kemarahanmu membuktikan betapa berharganya dia!"
kekeh Diego seraya berlindung di balik meja marmer. Ia memberikan sinyal tangan kepada dua anak buahnya.
"Bawa peledak pintu! Buka kamar utama itu!"
BOOOM!
Ledakan skala kecil menghantam engsel pintu baja kamar utama. Pintu tebal itu terlempar ke dalam, menghantam lantai dengan suara dentuman keras yang membuat Clara menjerit tertahan.
Kepulan asap memenuhi ruangan. Clara memundurkan tubuhnya hingga menempel erat pada dinding kepala tempat tidur. Dari balik asap putih yang perlahan menipis, sosok Diego melangkah masuk ke dalam kamar. Pria Spanyol itu menurunkan senjatanya, menatap lurus ke arah Clara yang terduduk lemas di atas tempat tidur.
Mata Diego membelalak. Pendaran lampu merah darurat memantul pada wajah Clara yang pucat, gaun tidurnya yang serba putih, dan rambut panjangnya yang terurai. Kecantikan alami Clara yang dipadu dengan ekspresi ketakutan yang murni membuat Diego terpana selama beberapa detik.
"Mata Dios"
gumam Diego pelan, matanya menyipit penuh pesona dan nafsu yang serakah.
"Foto dari lensa telephoto itu bahkan tidak mampu menggambarkan sepuluh persen dari kecantikanmu yang sebenarnya, Chica."
Diego melangkah mendekat ke arah tempat tidur, mengulurkan tangannya yang bersarung kulit hitam untuk menyentuh pipi Clara.
"Jangan sentuh aku!"
teriak Clara dengan sisa keberaniannya, melempar lampu meja ke arah wajah Diego.
Diego dengan mudah menepis lampu kristal itu hingga hancur di lantai. Pria itu terkekeh pelan, melangkah makin dekat.
"Sifat liar yang cantik. Kenzo memang tidak pantas memilikimu. Ikutlah denganku ke Madrid, dan aku akan menjadikanmu ratu..."
DOR!
Satu tembakan membakar udara. Peluru melintas hanya beberapa milimeter dari rahang Diego, menembus dinding tepat di belakang kepalanya.
Diego tersentak kaget dan dengan cepat membalikkan badan.
Kenzo berdiri di ambang pintu kamar yang hancur. Wajahnya tertutup jelaga dan percikan darah, namun matanya memancarkan aura kegilaan dan pembunuhan yang begitu pekat hingga membuat udara di dalam kamar terasa membeku seketika. Dua anak buah Diego yang bertugas menjaga pintu luar sudah tergeletak tak bernyawa di belakang kaki Kenzo.
"Aku sudah memperingatkanmu, Diego,"
bisik Kenzo dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti geraman binatang buas yang siap mengoyak mangsanya.
Sebelum Diego sempat mengangkat senapan serbunya, Kenzo bergerak dengan kecepatan yang mengerikan. Pria itu menerjang maju, mencengkeram pergelangan tangan Diego dan menghantamkannya ke dinding tebing kamar hingga senjata api itu terlempar jatuh.
BUG! BUG!
Kenzo melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah dan perut Diego tanpa ampun. Kemarahan cemburu yang membakar dada Kenzo meluap dalam sebuah aksi kekerasan brutal. Suara renyahan tulang hidung Diego yang patah terdengar jelas di dalam ruangan.
"Dia milikku! Hanya milikku!"
geram Kenzo seraya mencekik leher Diego dengan kedua tangannya, menghantamkan kepala sang rival ke dinding batu berkali-kali hingga darah segar mengalir membasahi lantai marmer.
Diego terbatuk-batuk darah, mencoba melepaskan cengkeraman gila Kenzo pada lehernya. Pria Spanyol yang biasanya angkuh itu kini membelalakkan mata melihat kegelapan murni di dalam manik mata Kenzo, sebuah tatapan dari seorang pria yang rela membantai seluruh dunia demi melindungi wanita yang terikat padanya.
Clara menyaksikan pertarungan berdarah itu dari atas tempat tidur. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya menutupi mulutnya untuk menahan jeritan. Ia melihat sosok Kenzo yang sepenuhnya menjelma menjadi monster haus darah demi mempertaruhkan nyawa dan melindunginya dari cengkeraman pria lain.
"Kenzo stop, kau bisa membunuhnya!"
jerit Clara terengah-engah di tengah ketakutan yang meremukkan dadanya.
Suara cicitan Clara seolah menjadi satu-satunya hal yang sanggup menembus kesadaran gila Kenzo. Kenzo menghentikan hantaman kepalanya pada Diego. Dengan napas yang memburu dan tubuh yang berlumuran darah musuhnya, Kenzo menoleh perlahan ke arah Clara, menatap gadis itu dengan pandangan posesif yang teramat pekat.
Dengan satu hembusan napas yang berat, Kenzo menghempaskan tubuh Diego yang terkulai setengah sadar ke lantai marmer yang kini tergenang darah. Pria itu menginjak dada Diego dengan sepatu boot taktisnya, lalu mengarahkan moncong pistolnya tepat di tengah kening sang rival yang meringis kesakitan.
"Ini hukuman karena berani mengincarnya,"
bisik Kenzo dingin.
DOR!
Suara tembakan menggelegar di dalam kamar yang hancur tersebut. Clara memejamkan mata rapat-rapat, meremang ketakutan di atas kasur saat aroma amis darah yang pekat memenuhi udara. Kenzo melempar senjatanya yang kosong ke lantai, lalu melangkah perlahan mendekati tempat tidur. Dengan telapak tangan yang masih bernoda darah hangat, pria itu merengkuh tubuh Clara yang gemetar ke dalam dekapannya, mengunci gadis itu dalam penguasaannya yang mutlak dan tak akan pernah terlepaskan.