Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.
Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.
Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.
Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEBASAN TULANG HITAM
Dua prajurit melangkah maju, pedang mereka berkilau dingin di bawah cahaya lilin. Aura mereka berat bukan sekadar kekuatan fisik, melainkan aliran Qi yang terkondensasi di ranah Pembersihan Jasad tingkat akhir. Bagi kebanyakan orang biasa, satu orang saja sudah cukup untuk menaklukkan satu desa. Sekarang ada dua belas dari mereka.
Xuanyuan tidak mundur. Ia melangkah satu langkah ke depan, menempatkan dirinya di antara Lian Yue dan musuh. Pedang Tulang Hitam yang patah di tangannya terasa hangat seakan tulang kuno itu mengenali aroma darah yang akan tumpah malam ini.
Prajurit di kanan mengayun lebih dulu. Tebasan cepat, tajam, dan terlatih.
Xuanyuan tidak berusaha menangkis. Ia tidak punya kekuatan yang cukup untuk menahan serangan langsung. Sebaliknya, matanya yang terbuka sedikit menyipit. Pupil Gandanya berputar seketika ia melihat celah. Bukan pada pedang itu, tapi pada pergelangan tangan yang sedikit terbuka saat tebasan mencapai titik terjauh.
Ia memiringkan kepala satu inci. Pedang musuh membelah udara tepat di samping telinganya. Di saat yang sama, ujung pedang patahnya menyapu ke arah pergelangan tangan musuh.
Darah memancar. Pedang musuh jatuh berdentang ke lantai batu.
Prajurit itu mundur sambil mencengkeram pergelangannya, matanya membelalak kaget. Dia... dia melihat gerakanku!
Prajurit kedua menyerang dari sisi kiri, serangan beruntun yang bertujuan menekan. Xuanyuan berputar, punggungnya hampir bersentuhan dengan dinding batu. Setiap kali pedang menghantam tempat yang ia tinggalkan sepersekian detik sebelumnya. Ia tidak menang ia hanya bertahan. Napasnya mulai memburu. Keringat dingin mengalir di punggungnya.
"Kau tidak bisa terus menghindar, Xuanyuan. Mereka berkoordinasi. Setiap serangan mengunci dua arah sekaligus. Dalam tiga menit, kau akan kelelahan." suara Lang Wuyan mendesak.
"Aku tahu," desis Xuanyuan dalam hati. "Tapi aku tidak butuh tiga menit. Aku hanya butuh satu kesalahan."
Dan kesalahan itu datang.
Prajurit yang terluka tadi menyerang dengan amarah yang membabi-buta gerakannya terlalu lebar, terlalu terbuka. Xuanyuan menunduk, membiarkan pedang itu melintas di atas punggungnya, lalu ia mengayunkan Pedang Tulang Hitam ke bawah dengan sekuat tenaga.
Bukan ke arah musuh tapi ke arah lantai batu tepat di depan kaki prajurit kedua.
Batu pecah. Serpihan tajam melesat ke wajah musuh. Prajurit itu menutup mata refleksif. Itu cukup. Xuanyuan melesat masuk, siku kanannya menghantam ulu hati musuh, lalu ujung pedang patah menekan ke leher prajurit yang terbatuk itu.
"Diam," bisiknya dingin. "Atau kau mati."
Prajurit itu gemetar, tapi tetap diam. Xuanyuan mendorongnya mundur hingga bergabung dengan rekan-rekannya yang terkejut. Dua orang sudah tertahan dalam hitungan detik bukan dengan kekuatan, tapi dengan ketajaman mata yang tidak wajar.
Pangeran Xuan Hao tertawa dingin. Cukup main-main. Kalian sepuluh orang sisanya, serang bersama. Aku ingin melihat berapa lama dia bisa menari di atas jarum.
Sepuluh prajurit maju sekaligus. Ruangan itu sempit, tidak ada ruang untuk menghindar. Xuanyuan merasakan jantungnya berpacu begitu cepat hingga telinganya berdenging. Ia menyadari satu hal: ia tidak bisa menang. Bahkan dengan Pupil Ganda yang melihat setiap celah, tubuhnya hanya di ranah Pembersihan Jasad awal. Batasnya sudah terlihat.
Lian Yue di belakangnya menarik lengan bajunya pelan. Xuanyuan... lompat ke jendela. Aku tahu jalan keluar rahasia di bawah menara. Kita bisa lari.
Xuanyuan menggeleng pelan, tidak menoleh. Jika aku lari sekarang, mereka akan mengejar kita sampai ke ujung negeri. Dan di mana pun kita bersembunyi, kau akan selalu hidup dalam ketakutan. Malam ini... aku harus membuat mereka takut. Takut sampai mimpi buruk mereka dipenuhi bayanganku.
Ia membalikkan telapak tangannya. Di sana, di permukaan kulit yang bergetar, muncul nama pertama yang ditulis bukan dengan darah musuh tapi dengan darahnya sendiri yang menetes dari luka di telapak tangannya.
XUAN HAO
Nama itu terbakar di atas kulitnya, lalu menghilang seakan terserap ke dalam gulungan yang tidak terlihat.
"Kau memanggilnya sekarang? Itu hanya janji, Xuanyuan. Itu tidak akan membantumu bertarung sekarang." Lang Wuyan terdengar cemas.
Aku tahu. Tapi janji ini adalah satu-satunya hal yang membuatku tidak menyerah.
Xuanyuan mengangkat pedang patahnya. Darah dari telapak tangannya mengalir menuruni gagang, membasahi tulang hitam kuno itu. Dan di detik itu, sesuatu berubah. Cahaya merah redup dari dalam pedang memancar keluar lemah, tidak stabil, tapi nyata.
Serangan pertama datang. Xuanyuan tidak menghindar kali ini. Ia menangkis dengan cara yang salah membiarkan pedang musuh meluncur ke bawah, lalu memutar bilah patahnya ke arah pergelangan. Teknik yang kasar, berbahaya, dan seharusnya tidak mungkin berhasil. Tapi Pupil Gandanya melihat detak jantung musuh, aliran Qi, bahkan ketegangan otot sebelum bergerak.
Tiga tebasan berturut-turut. Tiga prajurit mundur terluka. Tidak ada yang mati Xuanyuan tidak membunuh tanpa kebutuhan tapi setiap luka ia berikan adalah pada titik yang membuat mereka tidak bisa lagi memegang pedang dengan kuat.
Tubuhnya dipukul samping. Nyeri tajam meledak di rusuknya. Ia terhuyung, darah memuncrat dari mulutnya. Pedang musuh lain menghantam bahunya luka yang baru saja sembuh kembali terbuka.
Lian Yue berteriak namanya, suaranya gemetar ketakutan.
Xuanyuan berlutut satu kaki. Darah menetes dari bibirnya ke lantai batu. Napasnya terengah-engah. Matanya kabur, tapi Pupil Gandanya masih berputar, masih melihat.
Pangeran Xuan Hao melangkah maju, tangannya memegang gagang pedang panjang yang baru terhunus pedang perak berukir naga emas. Kau bertarung dengan baik untuk sampah dari Sekte Awan Langit. Tapi ini berakhir sekarang. Aku akan memenggalmu di depan pengantinku, lalu aku akan memastikan dia tahu betapa berharganya nyawamu yang sia-sia ini.
Xuan Hao mengangkat pedangnya. Qi yang jauh lebih kuat dari prajurit lainnya berkumpul di bilah senjata itu ranah Lautan Qi tingkat akhir. Cahaya terang menyilaukan mata di ruangan itu.
Xuanyuan tidak melihat pedang itu turun. Ia melihat sesuatu yang lain. Di balik pundak Xuan Hao, di luar jendela yang terbuka, langit malam retak sejenak. Bukan langit yang sebenarnya tapi bayangan yang hanya bisa dilihat oleh Pupil Ganda. Sebuah bayangan raksasa yang berdiri di luar waktu, menatap ke bawah dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
Dan dalam detik kematiannya itu, Xuanyuan berbisik bukan pada musuh, tapi pada pedang di tangannya.
Aku tahu kau patah. Aku tahu kau tidak sempurna. Tapi kita sama. Mari kita tunjukkan pada mereka... bahwa yang patah masih bisa memotong langit.
Ia tidak menangkis. Ia tidak menghindar. Ia melompat ke depan tepat ke arah tebasan maut itu.
Pangeran tertawa. Bunuh diri yang indah.
Tapi di saat terakhir, Xuanyuan memiringkan tubuhnya. Pedang perak itu menebas udara tepat di samping jantungnya, membelah kain jubah dan kulit di rusuknya. Dan dalam jarak yang kurang dari satu jengkal dari wajah Xuan Hao, Xuanyuan mengayunkan Pedang Tulang Hitam bukan ke arah leher, tapi ke arah mata Pangeran.
Xuan Hao refleks menutup matanya dan memundurkan kepala. Itu satu inci. Satu inci yang cukup.
Ujung pedang patah itu melukai pipi kanan Pangeran goresan dangkal, darah merah segar muncul.
Xuan Hao mundur terkejut, tangannya menyentuh darah di pipinya. Matanya membelalak bukan karena sakit, tapi karena tidak percaya. Kau... kau melukai aku? Seorang sampah di ranah terendah melukai aku?
Xuanyuan berdiri goyah, darah menetes dari luka di rusuknya yang dalam. Ia tersenyum tipis, senyum yang dingin dan mengerikan. Hanya permulaan, Pangeran. Malam ini... kau belum mati. Tapi kau sudah terluka oleh tangan yang kau anggap tidak berharga. Ingat rasa sakit ini. Ingat wajah ini. Karena mulai malam ini... setiap kali kau menutup mata, kau akan melihatku.
Ia berbalik, meraih tangan Lian Yue yang gemetar, dan dengan sisa tenaga terakhirnya, ia menendang jendela kaca lebar-lebar. Kaca pecah berhamburan ke bawah menara.
Ikut aku. Jangan lepaskan.
Sebelum Xuan Hao atau prajuritnya sempat pulih dari keterkejutan, Xuanyuan melompat ke bawah jatuh ke dalam kegelapan malam bersama satu-satunya harta yang paling berharga baginya.