Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perisai Sang Ibu dan Air Mata Penguasa Bayangan
Setetes darah segar merembes dari ujung belati emas itu, menodai kemeja putih sutra yang dikenakan Xander. Napas Dea terengah-engah, dadanya naik-turun dengan ritme yang menyakitkan. Tangannya yang bergetar hebat mencengkeram gagang belati dengan sekuat tenaga, seolah seluruh penderitaan, tamparan, cacian, dan rasa lapar yang ia derita selama enam belas tahun hidupnya terkumpul di ujung logam tajam tersebut.
Di sekeliling mereka, keheningan terasa mencekik. Pasukan elite pembunuh bayaran yang biasanya tak ragu menghabisi satu batalyon musuh kini hanya berdiri mematung, menahan napas melihat junjungan tertinggi mereka, sang Dominus Umbrae, menyerahkan nyawanya tanpa perlawanan pada seorang gadis remaja.
"Lakukan, Dea," bisik Xander, suaranya parau namun penuh ketulusan. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang tegas. "Biarkan darahku menghapus sebagian kecil dari rasa sakitmu."
Dea memejamkan mata. Ingatan tentang ibunya yang sekarat, wajah Paman Hendra yang menyeringai saat memukulnya, dan tawa licik Baskoro berputar-putar layaknya badai di dalam kepalanya. Jari-jarinya mengerat. Ia hanya butuh mendorong belati itu sedikit lagi. Satu dorongan kecil, dan pria yang telah meninggalkannya ini akan mati.
Namun, sebelum Dea sempat menggerakkan tangannya, sebuah sentuhan hangat dan lembut membungkus jemarinya yang dingin.
Dea membuka mata dan menoleh. Di sampingnya, Tania berdiri dengan tatapan yang memancarkan kelembutan lautan sekaligus ketegasan karang. Tidak ada sedikit pun keraguan di wajah wanita muda itu. Perlahan, namun dengan tenaga yang pasti, Tania menarik jemari Dea, melepaskan cengkeraman gadis itu dari gagang belati.
"Lepaskan, Sayang," bisik Tania parau namun menenangkan.
Tania mengambil belati berlapis emas itu dari tangan Xander, lalu dengan satu gerakan melemparnya jauh hingga menancap ke dinding kayu di sudut ruangan. Bunyi logam yang menembus kayu itu menyentak kesadaran semua orang.
Xander mendongak, menatap Tania dengan dahi berkerut, seolah tidak percaya ada seseorang yang berani menginterupsi hukuman yang ia jatuhkan pada dirinya sendiri.
Tania melangkah maju, memosisikan tubuhnya tepat di depan Dea, bertindak sebagai perisai mutlak antara sang gadis dan ayah kandungnya. Sorot mata Tania tidak memancarkan ketakutan sedikit pun pada pria penguasa dunia bawah tanah itu. Yang ada hanyalah kemurkaan seorang ibu yang tengah melindungi anaknya.
"Kau pikir menebus dosa semudah menancapkan belati ke jantungmu sendiri?" suara Tania mengalun tajam, menyayat ego pria di depannya. "Mati adalah jalan keluar seorang pengecut, Tuan Xander. Jika kau mati malam ini di depan mata Dea, kau tidak sedang menebus dosa. Kau hanya memindahkan beban trauma baru ke pundaknya. Kau ingin dia hidup seumur hidup dengan bayangan bahwa tangannyalah yang telah mencabut nyawa ayah kandungnya sendiri?!"
Xander tertegun. Kata-kata Tania menghantamnya lebih keras dari peluru mana pun yang pernah menembus tubuhnya.
"Dia bukan lagi sekadar darah dagingmu yang hilang," lanjut Tania, suaranya kini bergetar oleh emosi yang tertahan. Ia menoleh sedikit, mengulurkan tangannya ke belakang dan menggenggam erat tangan Dea yang masih gemetar. "Selama enam belas tahun, dia adalah korban dari keegoisan dunia orang dewasa. Dan ketika aku menemukannya di jalanan yang dingin, aku telah bersumpah untuk melindunginya. Aku menikah dengan monster seperti Baskoro, merelakan masa mudaku, dan bertarung melawan iblis di rumah itu bukan untuk melihatnya menjadi pembunuh malam ini."
Tania kembali menatap Xander lurus di matanya. "Aku memang ibu tirinya. Aku tidak melahirkannya. Tapi Dea adalah putriku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan ayah kandungnya sendiri, merusak jiwanya yang murni."
Mendengar kata-kata itu, pertahanan Dea hancur sepenuhnya. Belati kemarahan yang tadi ia genggam kini melebur menjadi air mata kelegaan. Dea menjatuhkan dirinya ke pelukan Tania, memeluk pinggang wanita itu dengan sangat erat dan menangis sejadi-jadinya.
"Ibu... Ibu..." isak Dea di ceruk leher Tania. Panggilan itu meluncur begitu saja, tulus dan penuh keputusasaan.
Tania membalas pelukan itu dengan tak kalah erat. Ia mengusap rambut panjang Dea, mencium puncak kepalanya berulang kali, membisikkan kata-kata penenang layaknya mantra pelindung. "Tidak apa-apa, Sayang. Menangislah. Ibu ada di sini. Kau aman sekarang. Tidak ada yang akan memaksamu melakukan hal yang tidak kau inginkan. Ibu tidak akan pernah meninggalkanmu."
Pemandangan itu begitu kontras dan menyayat hati. Di satu sisi, Xander—sang penguasa bayangan yang tak terkalahkan—berlutut tak berdaya dalam penyesalan. Di sisi lain, Tania—seorang mantan guru tari desa yang sederhana—berdiri kokoh sebagai pilar kekuatan yang tak tergoyahkan, merengkuh Dea dengan cinta tanpa syarat.
Xander menundukkan kepalanya dalam-dalam. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, pria yang ditakuti oleh para raja itu merasa begitu kecil. Ia menyadari satu kebenaran mutlak: takhta, harta, dan pasukan elite tidak ada artinya di hadapan ketulusan kasih sayang seorang ibu.
Dengan perlahan, Xander bangkit berdiri. Ia menyeka sisa air mata dan darah di dadanya. Pria itu merapikan kemejanya, lalu membungkuk sembilan puluh derajat tepat di hadapan Tania—sebuah gestur penghormatan tertinggi yang bahkan tidak pernah ia berikan kepada kepala negara mana pun.
"Terima kasih," ucap Xander, suaranya berat dan bergetar. "Terima kasih telah melakukan apa yang gagal aku lakukan. Terima kasih telah menjadi ibu yang luar biasa untuk putriku, dan melindungi serpihan terakhir dari jiwa Diana. Aku berutang nyawa padamu, Nyonya Tania."
Tania melonggarkan pelukannya pada Dea, memastikan gadis itu sudah lebih tenang, sebelum membalas tatapan Xander dengan raut wajah yang lebih melunak namun tetap waspada.
"Dea tidak butuh kematianmu untuk menyembuhkan lukanya," kata Tania pelan. "Dia butuh waktu. Dia butuh melihat bahwa ayahnya bukanlah sekadar mitos atau bayangan pembawa petaka, melainkan seorang pria yang nyata, yang bersedia berjuang memperbaikinya."
Dirga, yang sejak tadi berdiri diam menyimak percakapan epik tersebut, perlahan menyarungkan kembali pistolnya. Ia melangkah maju mendekati Xander.
"Pernyataan yang sangat bijak dari pewaris darah Mawar Hitam," gumam Dirga. "Namun sayangnya, waktu adalah kemewahan yang belum kita miliki saat ini."
Xander menoleh ke arah Dirga, auranya kembali berubah menjadi dingin dan penuh perhitungan. "Ada apa, Dirga?"
Sebelum Dirga menjawab, Freya, pengawal pribadi Xander, melangkah maju sambil menyodorkan sebuah sabak digital. "Tuan, intelijen kami berhasil menyadap komunikasi jaringan gelap di Jakarta. Hendra dan istrinya, Rika, berhasil membobol salah satu rekening lepas pantai milik mendiang Baskoro yang belum sempat dibekukan kepolisian. Mereka menarik dana tunai sebesar dua ratus miliar rupiah."
Dea tersentak di dalam pelukan Tania. Nama pamannya itu masih menjadi mimpi buruk baginya.
"Di mana mereka sekarang?" geram Xander, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Jika ia tidak bisa menebus dosanya dengan mati, ia akan menebusnya dengan menghancurkan siapa pun yang pernah menyakiti putrinya.
"Mereka tidak mencoba kabur ke luar negeri, Tuan," lapor Freya. "Mengetahui bahwa bandara dan pelabuhan dikawal ketat, Hendra menyewa sekelompok serdadu bayaran sisa dari sindikat Teratai Merah. Mereka saat ini sedang menuju ke sebuah rumah sakit swasta terpencil di pinggiran kota."
Tania mengerutkan kening. "Rumah sakit? Untuk apa mereka bersembunyi di rumah sakit?"
Dirga menghela napas panjang, menatap Tania dan Dea dengan pandangan suram. "Bukan untuk bersembunyi. Mereka menyandera seseorang. Intelijenku baru saja mengonfirmasi... Ayah asuhmu, Tania. Orang tua angkat yang merawatmu sejak bayi di desa, baru saja didatangkan ke rumah sakit itu untuk perawatan jantung, dan Hendra mengetahuinya."
Darah di tubuh Tania serasa berhenti mengalir. Jantungnya berdentum keras seolah menabrak tulang rusuknya. Ayah angkatnya, pria tua renta yang telah menyelamatkan nyawanya dari hutan, kini berada di bawah cengkeraman Hendra dan Rika yang putus asa.
"Mereka menjadikan ayah angkatmu sebagai jaminan agar kau mau menyerahkan Dea dan akses brankas Mawar Hitam kepada mereka," tambah Dirga getir.
Kemarahan yang jauh lebih besar dari apa pun kini meledak di dalam dada Tania. Jika tadi ia adalah seorang ibu yang lembut dan protektif, kini matanya menyala layaknya harimau betina yang sarangnya diusik. Tania melepaskan pelukannya dari Dea, menoleh ke arah meja, dan mengambil kembali kedua pisau lemparnya.
Xander melangkah ke samping Tania, menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras.
"Kau tidak perlu mengotori tanganmu, Tania. Biarkan pasukanku meratakan rumah sakit itu dan membawa kepala Hendra ke hadapanmu," tawar Xander dengan nada mematikan.
"Tidak," potong Tania tegas, suaranya sedingin baja. Ia menoleh pada Xander. "Ini adalah urusan keluargaku. Hendra telah menyiksa putriku, dan kini dia menyentuh ayah yang membesarkanku. Aku yang akan mencabut jantungnya dengan tanganku sendiri."
Xander menatap wanita di sebelahnya, merasakan gelombang kekuatan dan tekad yang luar biasa. Ia mengangguk pelan, sebuah rasa hormat yang mendalam kembali tumbuh di dadanya.
"Kalau begitu," ucap Xander sambil menarik sepucuk pistol taktis dari balik jasnya dan mengokangnya dengan suara klik yang mematikan. "Izinkan aku ikut bersamamu. Sebagai seorang ayah yang ingin melindungi keluarganya."
Tania menatap Dea yang berdiri dengan wajah cemas namun berani. Dea mengangguk pelan pada Tania, memberikan persetujuan tanpa kata bahwa ini adalah pertempuran yang harus diselesaikan. Tiga kekuatan besar—sang ibu sambung yang penuh kasih, sang penguasa bayangan yang menebus dosa, dan sang pelindung klan Mawar Hitam—kini bersatu malam itu, bersiap menjemput badai darah yang akan segera turun.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor