Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Pagi berganti dengan cepat, membilas sisa-sisa jeritan dan ketegangan di Mansion Ford dengan pancaran sinar matahari gugur yang tipis dan dingin. Namun bagi Parrie, pagi tidak pernah benar-benar membawa kesegaran baru.
Tubuhnya terasa pegal, sudut bibirnya yang sedikit robek akibat tamparan Maeve tadi malam masih menyisakan rasa perih dan kebas saat ia menggerakkan bibirnya.
Dengan sweater berleher tinggi berwarna krem pudar yang menutupi leher serta menyamarkan bekas luka, Parrie melangkah melintasi gerbang utama kampus. Kompleks universitas ternama itu sudah dipenuhi oleh lalu lalang mahasiswa dengan pakaian bermerek dan gaya hidup serba mewah.
Parrie melangkah terburu-buru, mendekap buku catatannya rapat-rapat di dada, berharap ia bisa membaur dengan latar belakang dan tak menjadi pusat perhatian siapa pun.
Namun, harapan sederhana untuk menjalani hari yang tenang menguap begitu saja saat Parrie baru saja menginjakan kakinya ke arah lorong Fakultas Hukum.
"Berhenti di situ!"
Sebuah suara nyaring, tajam, dan sarat akan nada perintah memotong langkah Parrie.
Parrie menghentikan langkahnya di tengah lorong yang mulai ramai. Ia perlahan memutar tubuh, menatap tiga orang mahasiswi yang berdiri memblokir jalan di depannya.
Di barisan paling depan, berdiri seorang gadis berambut merah muda menyala yang ditata bergelombang sempurna. Penampilannya sangat modis—mengenakan jaket tweed perancang busana ternama, kacamata hitam yang disangkutkan di atas kepala, dan riasan wajah yang sempurna tanpa cela.
Dua orang temannya berdiri di kiri dan kanan bagaikan pengawal setia.
Gadis berambut merah muda itu melipat kedua tangannya di dada, menatap Parrie dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang sangat merendahkan. Tanpa basa-basi, ia memajukan wajahnya dan melemparkan pertanyaan yang cukup sensitif di hati Parrie.
"Dari keluarga mana kau?"
Parrie terdiam sejenak. Sorot mata gadis berambut merah muda itu dipenuhi aura dominasi khas para pewaris tahta konglomerat yang terbiasa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan.
Parrie teringat pada ucapan staf administrasi kemarin pagi di ruang pendaftaran—staf itu sempat memperingatkannya tentang jajaran mahasiswa-mahasiswi yang tidak boleh diusik, dan gadis berambut merah muda ini jelas berada di urutan teratas daftar wanita yang wajib dijauhi jika Parrie ingin bertahan hidup di kampus ini.
Namun, Parrie bukanlah gadis lemah yang bisa digertak begitu saja oleh status atau gertakan kosong. Penderitaan hidup dan kepahitannya menghadapi keluarga Ford serta Kaetos Ashford telah menjadikannya sosok yang kebal rasa takut.
"Bukan dari keluarga atas. Aku hanya mahasiswi penerima beasiswa," jawab Parrie lugas, menatap lurus mata gadis itu tanpa ada getaran sedikit pun di suaranya.
Gadis berambut merah muda itu mengangguk-angguk lambat dengan senyum meremehkan yang mengembang di bibirnya, seakan-akan jawaban Parrie baru saja mengonfirmasi dugaan terburuknya tentang derajat seseorang.
"Begitu rupanya... pantas saja," gumam gadis berambut merah muda itu sinis. Ia memiringkan kepalanya, lalu melangkah satu tindak mendekati Parrie, mengikis jarak hingga aroma parfum mahal beraroma mawar menusuk indra penciuman Parrie.
"Aku dengar kau duduk di sebelah Kaetos kemarin saat kuliah umum," ucapnya langsung pada intinya, tidak membuang waktu dengan pembicaraan basi.
Kaetos.
Satu nama itu terlempar ke udara, membuat jantung Parrie berdenyut nyeri secara refleks. Namun, raut wajah Parrie tetap datar tanpa ekspresi. Ia mengerti betul ke mana arah pembicaraan ini.
Dunia kampus ini rupanya dipenuhi oleh orang-orang yang mengagungkan sosok Kaetos Ashford. Parrie bukan wanita bodoh yang gampang ditindas atau dipancing emosinya oleh gertakan antar-mahasiswa.
"Kaetos? Siapa dia?" tanya Parrie berpura-pura tidak tahu. Ia mengerutkan keningnya dengan raut wajah polos yang dibuat-buat.
Teman wanita di sebelah kanan si rambut merah muda—seorang gadis tinggi berkacamata hitam—melangkah maju dan mendengus sebal. "Dimitriou Kaetos Ashford! Pria tampan yang duduk persis di sebelahmu kemarin! Jangan bertingkah sok tidak tahu!"
"Oh..." Parrie bergumam pelan, berpura-pura baru saja teringat. "Pria dingin yang tidak bicara sepatah kata pun itu?"
Gadis berambut merah muda itu menyipitkan matanya tajam, menatap Parrie seolah hendak menguliti kebohongan di wajah gadis itu.
"Jauhi dia!" ucap temannya yang satu lagi dengan nada menekan yang sangat tegas. "Jangan pernah berpikir untuk mendekatinya, mengajaknya bicara, atau bahkan sekadar berada dalam radius satu meter di sekitarnya!"
Parrie menatap ketiga gadis di depannya. Di dalam hatinya, ia ingin tertawa miris. Jika saja mereka tahu betapa hancurnya Parrie karena pria bernama Kaetos Ashford itu, dan betapa Parrie sendiri sangat ingin lari ke ujung dunia agar tak perlu melihat wajah pria brengsek itu lagi, mereka tidak perlu membuang energi berharga mereka pagi-pagi begini untuk mengancamnya.
Namun demi keselamatan posisi beasiswanya, dan lebih penting lagi demi menghindari masalah baru yang tidak perlu di kampus, Parrie memilih untuk mengalah secara taktis. Dusta adalah perisai terbaiknya saat ini.
Parrie menyunggingkan senyum patuh yang sangat manis—sebuah senyuman palsu yang terukir sempurna di wajahnya.
"Jangan khawatir," kata Parrie santai, menyuarakan nada penyesalan yang dibuat-buat. "Aku bahkan akan menusuk mataku sendiri jika aku berani meliriknya lagi nanti. Pria itu terlihat sangat menyeramkan dan membosankan bagiku."
Mendengar jawaban Parrie yang begitu pasrah dan tampak sangat patuh, ketiga gadis itu tertegun sejenak. Gadis berambut merah muda itu mendengus pelan, lalu menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya yang dihiasi cincin berlian.
"Bagus kalau kau sadar diri," desis si rambut merah muda itu dingin. "Ingat kata-katamu. Jika aku melihatmu mencoba menarik perhatiannya... beasiswamu bukan satu-satunya hal yang akan lenyap dari universitas ini."
Tanpa menunggu balasan dari Parrie, gadis berambut merah muda itu membalikkan badannya dengan kibasan rambut yang dramatis, melangkah pergi menyusuri lorong diikuti oleh kedua temannya yang berjalan dengan dagu terangkat tinggi.
Parrie menghela napas panjang yang terhalang di tenggorokannya. Ia memutar bola matanya malas, lalu membenarkan posisi tali tasnya yang merosot. Dasar drama anak-anak kaya, batin Parrie sinis.
"Tidak usah didengarkan."
Sebuah suara tenang, bergelombang halus namun tegas tiba-tiba terdengar dari arah belakang Parrie.
Parrie tersentak kaget dan refleks menoleh. Berdiri beberapa langkah di belakangnya, seorang gadis dengan rambut hitam sebahu yang dipotong rapi gaya bob sedang menyandarkan tubuhnya di loker besi.
Gadis itu mengenakan kemeja denim longgar dan celana kain kasual, memegang dua cangkir kopi karton di kedua tangannya.
Gadis asing itu menyesap kopinya pelan, lalu menunjuk ke arah ujung lorong tempat tiga gadis tadi menghilang.
"Jessica hanya wanita yang terobsesi berat," lanjut gadis itu santai, lalu berjalan mendekati Parrie. "Dia sudah mengejar Kaetos sejak semester pertama, tapi jangankan disapa... dilirik pun tidak pernah oleh Kaetos. Jadi melihat mahasiswi baru duduk di sebelah pria impiannya kemarin membakar habis harga dirinya yang setinggi langit itu."
Parrie mengangkat sebelah alisnya, menatap gadis di depannya dengan rasa ingin tahu yang samar. Siapa gadis ini? Dan kenapa dia berbicara seolah-olah mengenalku?
Melihat raut bingung Parrie yang bertanya-tanya, gadis berambut hitam itu terkekeh pelan dan menepuk dahinya sendiri secara ringkas.
"Oh, aku lupa mengenalkan diri," ucapnya ramah, menyodorkan salah satu cangkir kopi karton yang masih hangat ke arah Parrie. "Namaku Allenatore. Panggil saja Allen. Kita satu kelas di mata kuliah Hukum Perdata kemarin. Aku duduk dua baris di belakangmu."
Parrie menatap cangkir kopi hangat yang diulurkan padanya sejenak, lalu menatap wajah Allen. Wajah Allen tampak bersih, ramah, dan tidak memancarkan tatapan menilai atau kebencian seperti kebanyakan mahasiswa lain yang ditemui Parrie sejak kemarin.
Parrie menerima cangkir kopi itu perlahan. "Parrie," balaknya singkat. "Terima kasih kopinya, Allen."
"Sama-sama. Aku lihat kau membutuhkan kafein untuk menghadapi kebiasaan beracun para pewaris tahta di kampus ini," ujar Allen seraya tertawa kecil. Ia lalu mengibaskan tangannya mengajak Parrie berjalan bersama menyusuri lorong menuju ruang kelas mereka.
Parrie melangkah di samping Allen. Ada kenyamanan aneh yang terpancar dari kehadiran Allen—sesuatu yang sangat langka dirasakan Parrie selama berbulan-bulan terakhir.
"Jadi... gadis berambut merah muda tadi namanya Jessica?" tanya Parrie, membuka percakapan sambil menyesap kopi hangatnya yang manis.
"Ya. Jessica Vance," jawab Allen santai.
Langkah Parrie mendadak terhenti seketika. Makanan di dalam mulutnya seolah tertahan. Vance?
"Vance?" ulang Parrie dengan raut wajah berkerut tajam. "Apakah dia... ada hubungannya dengan Julian Vance?"
Allen menoleh ke arah Parrie, tampak sedikit terkejut namun kemudian mengangguk mengerti. "Wah, kau cepat juga mencari tahu. Ya, Jessica Vance adalah adik sepupu dari Julian Vance—ketua Lembaga Bantuan Hukum Kampus kita yang berkacamata itu. Keluarga Vance punya pengaruh besar di Fakultas Hukum. Itu sebabnya Jessica bertindak seolah-olah dia pemilik universitas ini."
Parrie mengepalkan jemarinya di sekeliling cangkir kopi kartonnya. Nama 'Julian Vance' kembali berdentang di kepalanya seperti lonceng bahaya. Peringatan Kaetos kemarin sore tentang air minum yang dibius, ditambah status Jessica sebagai sepupu Julian, mulai merangkai benang-benang kerumitan baru yang saling berhubungan di sekitar Parrie.
"Tapi saranku, Parrie..." Allen melanjutkan langkahnya, raut wajahnya berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya saat ia menatap Parrie. "...jauhi si rambut merah muda itu setenang mungkin. Jessica bukan cuma sekadar gadis sombong. Kalau dia tahu kau punya ketertarikan ataupun keterikatan apa pun dengan Kaetos—entah itu sekadar ketidaksengajaan atau hal lain—dia bisa membuat hidupmu di universitas ini menjadi seperti neraka."
Parrie tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang menyembunyikan rasa pahit di hatinya.
Neraka? Hidupku sudah berada di dalam neraka semenjak aku bertemu dengan Dimitriou Kaetos Ashford, batinnya kelam.
"Tenang saja, Allen," ujar Parrie pelan namun tegas. "Seperti yang kukatakan pada Jessica tadi... aku tidak punya niat sedikit pun untuk mendekati Kaetos Ashford. Pria itu adalah hal terakhir yang ingin kulihat di dunia ini."
Allen menatap Parrie selama beberapa detik, seakan berusaha membaca kebenaran di balik matanya yang memerah samar. Namun akhirnya, Allen tersenyum lebar dan menepuk bahu Parrie pelan.
"Baguslah kalau begitu! Pria seperti Kaetos Ashford memang cuma membawa penderitaan untuk wanita," seloroh Allen santai saat mereka berdua sampai di depan pintu ruang kuliah. "Ayo masuk, Dosen Miller terkenal sangat galak kalau ada yang terlambat semenit saja!"
Parrie mengangguk dan melangkah masuk ke dalam kelas bersama Allen, berusaha fokus pada lembaran baru hidupnya. Namun di dasar hatinya yang paling dalam, Parrie tahu betul... badai di universitas ini baru saja dimulai.
update terusss😍😍😍