NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

Rasa nyeri di persendianku masih menyengat saat matahari membakar penuh di atas langit puri. Tubuhku terasa sangat lelah, seperti sengaja diremukkan lalu disatukan kembali hanya untuk tunduk pada kehendak satu orang. Ketika aku mencoba menggeser tubuhku, lengan kekar yang melingkari pinggangku mendadak makin mengetat, menarikku lebih dalam ke dada bidang Gabriel yang hangat.

"Mau pergi ke mana, *Cara mia*?" suara Gabriel terdengar serak khas bangun tidur, bergema tepat di atas ubun-ubunku.

Aku menghentikan pergerakanku, menghela napas panjang yang terasa berat. "Tubuhku sakit semua, Gabriel. Aku butuh kamar mandi."

Pria itu bukannya melepaskanku, malah terkekeh rendah—sebuah suara bernuansa gelap yang selalu berhasil mengirimkan getaran aneh di sepanjang tulang belakangku. Gabriel membuka matanya. Manik hitam pekat itu langsung terkunci pada wajahku, tidak menunjukkan sedikit pun rasa penyesalan atas ketidakberdayaanku pagi ini.

"Itu konsekuensi karena kau mencoba menantangku di hadapan Isabella semalam," ujarnya tenang, jemarinya yang kasar mengusap garis punggungku yang terbuka, menelusuri setiap inci kulit yang telah ia tandai. "Kau harus belajar bahwa setiap tatapan membangkang dari mata indahmu ini ada harganya."

"Kau gila," bisikku pelan, menatapnya dengan sisa kekuatan yang kupunya. "Kau membawaku ke depan calon istri sahmu hanya untuk menjadikanku tontonan. Kau sengaja memancing kemarahannya, Gabriel."

Gabriel membungkuk, menempelkan bibirnya di ceruk leherku, menyesap kulit halus di sana hingga aku mengerang pelan antara benci dan kepasrahan.

"Isabella bukan siapa-siapa. Dia hanya pion yang disodorkan oleh para tetua untuk mengikatku," bisik Gabriel dingin, suaranya berubah tajam seketika. "Tapi kau... kau adalah hal yang kupilih sendiri. Dan tidak ada seorang pun di puri ini—termasuk Isabella atau ayahnya—yang boleh menyentuh atau merendahkan milikku."

Ia kemudian melepaskan cengkeramannya, mengizinkanku duduk meski dengan bersusah payah. Aku menarik selimut sutra untuk menutup tubuhku, menatap Gabriel yang kini sudah duduk di tepi ranjang, menampilkan punggung tegapnya yang penuh luka tembak dan sabetan pedang masa lalu. Pria ini adalah definisi mara bahaya yang nyata. Namun di balik dinding-dinding tempat ini, aku terjebak dalam sangkarnya.

---

Pukul sebelas siang, setelah membersihkan diri dengan berendam air hangat yang sedikit meredakan pegal di tubuhku, aku memutuskan untuk keluar menuju perpustakaan pribadi puri di lantai dua. Aku butuh pengalihan. Berada di dalam kamar megah itu terlalu lama hanya membuatku merasa makin terisolasi dan seperti barang simpanan yang menunggu tuan pemiliknya kembali.

Dua pengawal pribadi berbadan tegap tetap mengikutiku dari jarak lima langkah. Langkah kakiku terhenti di lorong panjang berpintu kayu mahoni. Namun sebelum jemariku menyentuh gagang pintu perpustakaan, sebuah suara melengking penuh penghinaan terdengar dari arah taman dalam.

"Dia hanya wanita murahan yang dibeli untuk melunasi utang judi ayahnya! Bagaimana bisa Gabriel membawanya ke meja makan utama semalam?!"

Aku terpaku. Itu suara Lady Isabella.

Aku bergerak perlahan mendekati ambang jendela besar yang menghadap ke atrium indoor. Di bawah sana, Isabella sedang berdiri anggun namun wajahnya dipenuhi amarah. Di depannya berdiri seorang pria paruh baya bersetelan mahal dengan kumis tebal—Baron Vance, ayah Isabella sekaligus salah satu petinggi mafia yang berpengaruh di dewan Moretti.

"Tenanglah, Isabella," jawab Baron Vance dengan suara berat yang diperhitungkan. "Gabriel hanya sedang bermain-main dengan mainan barunya. Wanita itu tidak punya latar belakang keluarga, tidak punya pengaruh, dan tidak punya hukum yang melindunginya. Dia hanya selir sementara."

"Tapi Gabriel memulangkanku dengan rasa malu semalam, Ayah! Pria itu bahkan mengecupnya di depanku!" bentak Isabella, meremas gaun cantiknya dengan jemari yang gemetar karena cemburu dan dendam. "Aku adalah calon Ratu Moretti. Aku tidak akan membiarkan seorang selir tak berharga mengambil perhatian Gabriel!"

"Wanita itu akan kita singkirkan pada saat yang tepat," timpal Vance dingin, matanya berkilat penuh ancaman. "Setelah pernikahanmu dan Gabriel terlaksana, selir itu bisa hilang tanpa jejak. Di dunia ini, wanita tanpa nama sangat mudah lenyap di dalam sungai."

Darahku mendadak berdesir dingin. Jantungku berdegup kencang hingga suaranya bergema di telingaku sendiri. Aku tahu dunia mafia itu kejam, namun mendengar rencana pembunuhanku diucapkan secara terbuka seperti itu membuat lututku lemas.

"Nona Aurora?" suara pelan Elena dari belakang membuatku tersentak. Kepala pelayan itu berdiri membawa baki teh, menatapku dengan sorot mata khawatir.

Aku dengan cepat mundur dari jendela, mencoba menguasai rasa panik yang merayap naik ke dada. "Elena... aku ingin kembali ke kamar."

---

Sore harinya, kegelapan mulai menelan langit puri. Aku duduk di tepi jendela kamar, memeluk lututku sendiri. Rasa sakit fisik dari malam sebelumnya kini kalah jauh dibanding ketakutan mendalam akan nyawaku sendiri. Aku terjebak di antara obsesi gila Gabriel dan ancaman pembunuhan dari Isabella serta ayahnya.

Pintu kamar terbuka. Gabriel melangkah masuk. Ia melepaskan jasnya dan melemparkannya ke kursi seperti biasa, namun matanya yang tajam langsung menangkap perubahan aura di dalam ruangan. Ia menyadari kegelisahanku.

"Ada apa, Aurora?" tanya Gabriel seraya mendekat. Ia berlutut di hadapanku, meletakkan kedua tangan besarnya di atas lututku yang terlipat.

Aku menatap mata hitamnya yang dalam. "Gabriel... lepaskan aku."

Alis pria itu bertaut seketika. Kehangatan yang baru saja ingin ia tunjukkan mendadak menguap, berganti dengan atmosfer intimidasi yang pekat.

"Apa yang kau katakan?" suaranya menjadi sangat rendah dan berbahaya.

"Isabella dan ayahnya... mereka ingin membunuhku," bisikku dengan suara bergetar, tidak bisa lagi menyembunyikan rasa takut ini. "Aku bukan bagian dari duniamu, Gabriel. Aku tidak punya nama, tidak punya kuasa. Tempat ini akan membunuhku sooner or later! Biarkan aku pergi, utang ayahku..."

"Cukup!"

Suara Gabriel memotong ucapanku bagai sabetan pedang. Ia berdiri tegak, memotong jarak dan mencengkeram rahangku, memaksaku mendongak menatapnya. Matanya menyala oleh amarah yang membakar—bukan kepada Isabella, melainkan kepada kenyataan bahwa aku masih berpikir untuk meninggalkannya.

"Tidak ada yang bisa menyentuhmu di bawah atap ini, Aurora! Tidak Isabella, tidak pula ayahnya!" bentak Gabriel, suaranya menggelegar memenuhi kamar. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan? Kau pikir aku akan membiarkan mereka menyakitimu?!"

"Tapi aku hanya selir bagimu, Gabriel! Aku cuma barang pajangan yang kau kunci di kamar ini!" seruku, air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya menetes membasahi pipiku. "Kau membawaku ke jamuan itu hanya untuk membuktikan kekuasaanmu pada mereka, tanpa peduli bahwa aku yang harus menanggung bahayanya!"

Gabriel terpaku sejenak menatap air mataku. Cengkeramannya di rahangku perlahan melonggar, berubah menjadi usapan lembut ibu jarinya yang menghapus jejak air mata di pipiku. Wajahnya mendekat hingga jarak di antara hidung kami tersisa beberapa sentimeter.

"Kau salah, *Cara mia*," bisiknya dengan nada yang begitu intens hingga menghentikan napas hatiku. "Kau bukan sekadar barang pajangan. Jika kau hanya wanita biasa, aku sudah melemparkanmu ke sungai sejak hari pertama ayahmu gagal membayar utangnya."

Ia menarik tubuhku rapat-rapat ke dalam pelukannya yang protektif dan mengikat, mengunci pinggangku dengan kedua tangannya yang kuat.

"Kau adalah satu-satunya kelemahanku yang tidak berani diuji oleh siapa pun di kota ini," sambung Gabriel tepat di telingaku, suaranya bergetar oleh obsesi yang teramat dalam. "Isabella dan ayahnya akan membayar mahal karena telah membuatmu takut. Malam ini, aku akan memastikan seluruh dewan tahu... siapa pun yang mencoba menyentuh selir favoritku, berarti menantang perang mati dengan Gabriel Moretti."

Aku terpejam di dalam dekapan dadanya yang keras, merasakan detak jantung pria itu yang teratur dan penuh dominasi. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa melarikan diri dari sangkar emas ini. Gabriel telah mengurungku, tidak hanya dengan dinding puri yang megah, tetapi juga dengan bahaya dan obsesi gila yang mengikat takdirku dengan takdirnya selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!