NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Romansa pedesaan / Cewek Gendut / Cerai / Tamat
Popularitas:165k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.

Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.

Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.

Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.

Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.

Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.

"Kita menikah!"

Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.

Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Ditinggal Tidur

Malam harinya, rumah keluarga Zarreti kembali tenang.

Elden sudah tertidur di dalam pelukan Mireya.

Arven yang tidak tahu, terus menunggu Mireya di ruang makan. Ia duduk sendirian di ujung meja. Di hadapannya tersedia makan malam yang masih lengkap.

Mireya tak kunjung datang menemaninya makan, membuat nafsu makannya menghilang.

Pelipisnya berdenyut pelan.

Ia mengambil gelas yang berisi air putih dan meminumnya satu teguk, kemudian meletakkannya kembali.

Matanya menyapu kursi-kursi kosong di sekeliling meja. Sepi. Suasana rumah ini terlalu serlalu sepi untuk jam makan malam.

Arven mengembuskan napas. “Aku memintanya untuk tidak bertanya mengenai pekerjaanku.”

Ia menatap kursi kosong di sebelahnya.

“Bukan berarti dia harus membiarkanku makan sendirian begini.”

Tidak ada jawaban. Tentu saja, tak ada satu pun yang menemaninya. Arven mengusap pelipisnya.

'Semakin dipikirkan, semakin kesal rasanya.'

Sejak pulang sore tadi, Mireya hanya menyapanya sekali.

Setelah itu, perempuan tersebut kembali sibuk dengan Elden. Seolah kepulangan Arven sama sekali bukan sesuatu yang penting.

Padahal dia suaminya. Arven mendengus pelan. “Kontrak macam apa yang kubuat sendiri?”

Ia akhirnya mengangkat kepala. “Pak Can.”

Tidak lama kemudian, Pak Can datang. “Ada apa, Tuan?”

“Panggil Mireya.”

“Baik.”

Pak Can hendak berbalik.

“Dan Elden.”

Pak Can berhenti. “Sekalian Elden?”

“Ya.”

“Baik, Tuan.”

Beberapa menit berlalu. Arven masih duduk di meja makan. Ia bahkan sudah mulai mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.

Akhirnya Pak Can kembali. Namun kali ini wajahnya terlihat aneh.

Arven langsung menatapnya. “Mana mereka?”

Pak Can menggeleng. “Mereka tidak bisa datang, Tuan.”

Pelipis Arven kembali berdenyut. “Kenapa?”

Pak Can menunduk sebentar, berusaha menyembunyikan sesuatu. “Mereka sudah tidur.”

Arven mengernyit tak percaya. Waktu masih menunjukkan pukul delapan malam. “...Tidur?”

“Iya.”

“Sore begini?”

“Iya, Tuan.”

Arven menatap Pak Can dengan tatapan datar. “Elden tidur?”

“Iya.”

“Mireya juga?”

“Iya.”

“Bersama?”

Pak Can mengangguk. “Mereka tidur berdua.”

Arven perlahan meletakkan garpunya. “Bisa-bisanya mereka meninggalkanku sendirian hanya untuk tidur.”

Pak Can menggigit bibir bawahnya. Ia tidak berani tertawa.

Namun melihat wajah majikannya yang tampak kesal karena ditinggalkan makan sendirian, sungguh bukan pemandangan yang biasa ia lihat.

“Tuan…”

“Apa?”

“Mungkin Nyonya kelelahan.”

“Aku tahu.”

“Dan Elden juga—”

“Aku tahu.”

Pak Can mengangguk cepat. “Baik, Tuan.”

Arven menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia menatap meja makan sekali lagi. “Tidak ada satu pun yang menungguku.”

Pak Can buru-buru memalingkan wajah. “Pak Can.”

“Ya, Tuan?”

“Kau menertawaiku?”

“Tidak, Tuan.”

“Wajahmu kelihatan seperti sedang menahan tawa.”

Pak Can langsung menegakkan wajah. “Saya sedang batuk. Uhuk uhuk ..."

Arven menyipitkan mata. “Batuk? Sakit apa?”

Pak Can terdiam. “...tiba-tiba batuk aja, Tuan.”

Arven memijat pelipisnya. “Keluar.”

“Baik, Tuan.” Pak Can segera pergi.

Begitu keluar dari ruang makan, barulah ia menutup mulutnya sendiri agar tawanya tidak terdengar.

Sementara Arven masih duduk sendirian. Ia menatap kursi kosong di depannya.bKemudian berdiri.

“Baiklah.”

Ia merapikan lengan bajunya. “Kalau begitu, aku juga tidak perlu menunggu siapa pun.”

Namun langkahnya justru tidak menuju kamar sendiri. Melainkan menuju kamar Mireya. Lorong lantai atas sudah sepi.

Arven berhenti di depan pintu kamar Mireya. Tangannya terangkat. Namun sebelum mengetuk, ia berhenti.

Ia teringat isi kontrak yang mereka sepakati. Tidak saling mencampuri urusan pribadi. Ia menghela napas.

“Sepertinya aku harus mengubah isi kontrak kemarin.”

Tangannya akhirnya memutar gagang pintu. Pintu terbuka perlahan. Ruangan gelap. Cahaya dari lorong masuk sedikit melalui celah pintu.

Arven melangkah masuk. Dua suara napas terdengar teratur.bIa mendekati ranjang.

Elden tidur di salah satu sisi, memeluk boneka gajah kecilnya. Sementara Mireya tidur di sisi lain.

Wajah perempuan itu terlihat jauh lebih tenang daripada saat bekerja di kebun. Tidak ada kerutan di dahinya. Tidak ada tangan yang menggenggam cangkul.

Hanya ketenangan.

Arven berdiri beberapa saat. Ia memandang putranya. Kemudian Mireya.

“Hmmm…”

*bersambung*

1
Erna Masliana
Pak Can bijak 👍
Erna Masliana
salahkan dirimu sendiri tidak mau jujur
Erna Masliana
tinggal bilang apa susahnya.. palingan jadi majikan lagi.. jangan buat orang yang menampung dan membela mu kelihatan bego di mata mantan keluarga bejatmu
Erna Masliana
jujur aku gak ngerti..masa Iddah itu di hitung setelah ketok palu atau kata talak?? terus yang namanya sidang perceraian setauku tidak ada yang sehari beres..sepupuku aja perlu 6bulan 3 kali sidang sampe ketok palu..kalo dalam Islam ya dihitung dari kata talaknya suami bukan dari ketok palu deh kayaknya
SoVay: boleh dbaca sampai selesai y kak, ceritanya udah tamat 🙏🍅
total 1 replies
Erna Masliana
ih hayang nga geplak s Mireya.. bertele tele..aku orangnya gak sabaran 😛
Erna Masliana
ya banyak.. karena kamu gak cari tau..gak nanya dg benar..kamu juga punya rahasia... jangan marah
Erna Masliana
greget ih...Mireya terlalu lemah.. sampe harus di bela anak kecil
Erna Masliana
rumah s Arven tipe terbuka y .. tapi waktu masuk ada penjaga kok enteng banget masukin orang
Erna Masliana
ya gak bisa udah ketok palu meski ada masa Iddah kalo ceweknya gak mau rujuk ya gak bisa maksa kembali.. apalagi untuk hidup menderita.. lagian itu pas ketok palu bukannya harusnya prosesnya lama..s syahzan sekaya apa sih atau seberpengaruh apa sampe dapat surat cerai tanpa mediasi langsung sidang putusan.. terus alasan cerai yang diajukan apa?
Erna Masliana
karena butuh itu fakta kenapa takut.. memang saat itu kamu benar benar lagi terpuruk kan.. makanya lihat peluang langsung ambil itu realistis untuk bertahan hidup bukan matre
Erna Masliana
ini tidak di apa apain s Syahzannya?? minimal bikin drama di begal gitu??
Erna Masliana
kalo dg trik licik syahzan aja kalah maka Zareti memang tidak sekuat itu
Erna Masliana
🤣🤣🤣🤣ngeles biar gak kena amuk
Erna Masliana
kenapa berharap dicari gitu 😛
Erna Masliana
gantung kamu di pohon itu merepotkan karena kamu berat😁✌️.. lebih praktis di dor atau racun ✌️✌️
Aji Priatun
suka karyanya Author
Yulvita Darnel
waw... masa dari 50% turun bebas menjadi 35% ada-ada saja mireya.
Dewi Habibah
bagus ceritanya
SoVay: terima kasih kk 🍅🍅🙏
total 1 replies
Yulvita Darnel
gara-gara kelaparan akhirnya lolos jadi kandidat ibu tiri, bagus juga tuh taktik.
Yulvita Darnel
ada-ada aja Thor masa iya ada pekerjaan jadi ibu tiri, boleh daftar nggak 🤣🤣🤣🤣
SoVay: tapi lowongan sudah teriso 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!