NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: GUDANG NOMOR 7

Gudang pelabuhan utara Yucheng jam 3 pagi.

Hujan masih turun, tapi tidak sederas di Crown Tower. Di sini hujan bercampur kabut asin laut dan bau solar kapal.

Gudang nomor 7 berdiri paling ujung, paling tua, paling berkarat. Catnya mengelupas, pintunya setengah terbuka, lampunya mati. Dari luar terlihat kosong.

Di dalamnya, Paman Luo sudah menunggu 4 jam.

Pria tua berusia 60 tahun itu duduk di kursi kayu reot, memakai jas hujan hitam mahal. Rambutnya putih rapi, kacamata bulat, wajahnya seperti kakek yang baik hati. Di tangannya ada termos teh panas dan sebuah pistol tua yang sudah berkarat.

Di belakangnya, terbaring di atas tandu medis berdebu, sesosok pria kurus kering, pucat, kaki lumpuh, terpasang selang oksigen. Wajahnya mirip Chen, tapi versi dewasa yang sudah 10 tahun tidak kena matahari.

Li Wei. Ayah Chen. Masih hidup.

"Paman, dingin," bisik Li Wei lemah.

"Sabar, Wei. Sebentar lagi anakmu datang. Anak pintar itu pasti datang sendiri. Dia mirip kau," jawab Paman Luo sambil menuang teh, suaranya tetap hangat seperti kakek.

Ia melirik jam tangannya. Jam 3:12 pagi.

Seharusnya bocah itu sudah sampai jam 11 malam tadi setelah telepon walkie-talkie.

Tapi tidak ada yang datang.

Hanya hujan dan suara tikus pelabuhan.

Paman Luo mulai gelisah. Ia menekan walkie-talkie cadangan di sakunya.

"Vane, status?"

Tidak ada jawaban. Hanya statis.

Vane sudah diserahkan Chen dan Shen Mo ke polisi 2 jam lalu, dengan dua mayat Blackwood sebagai bukti. Polisi Yucheng sekarang mengepung Crown Tower, bukan gudang 7.

Paman Luo tidak tahu itu. Ia pikir Vane masih berhasil kabur.

"Anak sialan itu... apa dia tidak peduli ayahnya?" geram Paman Luo pelan, topeng kakek baik hatinya mulai retak.

Li Wei yang terbaring lemah, mendengar itu, tiba-tiba membuka mata lebar. "Chen... Chen tidak akan datang sendiri... dia pintar seperti ibunya... dia pasti..."

Paman Luo menampar pipi Li Wei pelan, tapi dingin.

"Diam."

Di luar gudang, 200 meter dari pintu, di dalam sebuah kontainer kosong yang bau ikan, dua sosok kecil dan besar sedang mengintip lewat teropong malam.

Chen dan Shen Mo.

Mereka tidak datang lewat pintu depan. Mereka datang jam 1 pagi, 2 jam lebih awal dari yang Paman Luo kira, lewat jalur air pelabuhan menggunakan perahu nelayan yang disewa Leo.

Chen memakai jas hujan kuning kebesaran milik Suster Lian, yang ia pinjam dari panti. Shen Mo memakai jaket hitam biasa, tanpa jas mahalnya, agar tidak mencolok.

"Dia di dalam," bisik Chen, matanya menempel di teropong. "Satu orang tua, satu orang terbaring. Sesuai dugaan. Ayahku masih hidup. Kaki lumpuh, pakai oksigen. Paman Luo bawa pistol tua, bukan pistol modern. Berarti dia tidak berniat baku tembak, dia berniat negosiasi."

Shen Mo mengangguk. "Di dalam gudang ada 3 orang lagi. Bayangan di balik kontainer minyak. Pengawal Paman Luo. Mereka pakai sepatu boots Blackwood, tapi jasnya jas Yucheng. Orang dalam."

"Otaknya memang Paman Luo," gumam Chen. "Vane cuma pion."

Shen Mo melirik Chen. "Rencana tetap?"

"Rencana tetap," jawab Chen. Ia mengeluarkan walkie-talkie Vane yang sudah ia perbaiki baterainya. "Kita tidak masuk. Kita buat dia keluar."

Chen menekan tombol bicara. Mengubah suaranya jadi sedikit panik, seperti bocah 7 tahun yang ketakutan dan kehujanan.

"P-Paman Luo? Paman Luo, ini Chen... aku... aku sudah di luar gudang 7... tapi... tapi ada polisi di depan... banyak polisi... aku takut..."

Di dalam gudang, Paman Luo langsung berdiri, matanya membelalak. Ia mengintip dari celah pintu berkarat.

Dari celahnya, ia memang melihat lampu biru merah polisi berkedip-kedip di kejauhan pintu masuk pelabuhan. Itu memang polisi yang dipanggil Chen 1 jam lalu dengan laporan anonim "ada penyelundupan di pelabuhan utara".

Bukan untuk tangkap Paman Luo. Tapi untuk buat Paman Luo panik.

"Polisi? Kenapa ada polisi?!" Paman Luo panik beneran. Rencananya berantakan. Kalau polisi masuk dan temukan Li Wei yang disekap 10 tahun, tamat riwayatnya sebagai penasihat Yucheng.

"Chen, masuk cepat! Masuk lewat pintu belakang! Jangan lewat depan!" teriak Paman Luo lewat walkie-talkie.

"Belakang terkunci, Paman... aku takut... ayah... ayah di mana?" suara Chen dibuat menangis.

"Ayahmu di dalam! Masuk lewat jendela samping! Cepat!"

Itu yang Chen tunggu.

Jendela samping.

Chen menatap Shen Mo dan mengangguk.

Shen Mo langsung bergerak. Cepat. Senyap. Seperti bayangan hitam di tengah hujan.

Dalam 10 detik, ia sudah di jendela samping gudang 7, mencongkelnya dengan pisau lipat.

Di dalam, Paman Luo masih sibuk di pintu depan, mengintip polisi, tidak sadar jendela belakang sudah terbuka.

Shen Mo masuk duluan, lalu mengangkat Chen masuk.

Mereka mendarat di belakang tumpukan karung beras.

Di depan mereka, 5 meter, Li Wei terbaring di tandu, sendirian. Paman Luo masih di pintu depan.

Ayah dan anak, jarak 5 meter setelah 7 tahun.

Chen ingin lari. Ingin teriak Ayah.

Tapi ia tahan. Otaknya yang jenius menahan hatinya yang bocah.

Ia memberi isyarat ke Shen Mo: _Sshh._

Shen Mo mengangguk, pistol peraknya sudah mengarah ke tiga bayangan pengawal di balik kontainer minyak.

Chen berjalan pelan, sangat pelan, mendekati tandu ayahnya.

Li Wei membuka mata. Mata yang sudah 10 tahun tidak melihat matahari, sayu, lelah.

Ia melihat bocah kecil berjas hujan kuning di depannya.

Bocah yang wajahnya sangat mirip dengan wajah istrinya yang ia tinggalkan 10 tahun lalu.

"...Chen?" bisik Li Wei, air mata langsung menggenang. Suaranya parau karena 10 tahun tidak bicara banyak. "Anakku...?"

Chen tidak bisa tahan lagi. Ia memeluk tangan ayahnya yang kurus kering itu. Dingin.

"Ayah..."

Baru satu kata itu keluar, Paman Luo berbalik.

Ia melihat Chen sudah di dalam, memeluk Li Wei. Dan melihat Shen Mo berdiri di belakangnya, pistol mengarah ke kepalanya.

Wajah kakek baik hati itu langsung berubah. Topengnya jatuh total.

Mata baiknya menjadi mata ular yang dingin dan penuh kebencian.

"Jadi... kau pilih Shen Mo, ya, Chen?" kata Paman Luo, suaranya tidak lagi hangat. Dingin seperti es pelabuhan. "Padahal Paman sudah bilang jangan percaya dia."

Ia mengangkat pistol tuanya, mengarah ke Chen dan Li Wei sekaligus.

"Sayang sekali. Kalau begitu, biar Paman kirim kalian berdua susul ibumu malam ini juga. Biar keluarga kecil kalian kumpul lagi di neraka."

Jarinya menarik pelatuk.

KLIK.

Pistol tua itu macet karena karat dan hujan.

Itu 1 detik yang Chen butuhkan.

"PAMAN LUO!" teriak Chen keras, bukan takut, tapi memerintah. "LIHAT BELAKANG!"

Paman Luo refleks menoleh ke belakang.

Tidak ada apa-apa. Hanya tumpukan karung beras.

Tapi itu tipuan klasik bocah jenius.

Saat Paman Luo menoleh, Shen Mo sudah melompat dan menghantam pistol itu hingga terlepas.

Dan Chen... Chen sudah menekan tombol kecil di walkie-talkie Vane yang ia pegang.

Tombol yang terhubung ke...

WEEEEEUUUU... WEEEEEEUUUU...

Sirene polisi yang tadi di pintu masuk pelabuhan, tiba-tiba meraung kencang dan mendekat ke gudang 7. Lampu sorot polisi menyorot langsung ke dalam gudang lewat pintu depan.

Polisi yang Chen panggil dengan laporan anonim, datang tepat waktu.

Paman Luo terkurung. Di depan polisi, di belakang Shen Mo, di tengah ada Chen yang memeluk ayahnya.

Game over.

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!