NovelToon NovelToon
Pewaris Dalam Sangkar Emas

Pewaris Dalam Sangkar Emas

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:20.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.

​Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.

​Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26

****

Matahari siang terasa begitu menyengat di atas Mansion Elard, membiaskan cahaya terik yang memantul di atas pagar besi tempa hitam menjulang tinggi. Angin berembus membawa keheningan yang mencekam di halaman depan kawasan elit tersebut.

​Di luar gerbang utama, seorang gadis berantakan dengan pakaian seragam sekolah melangkah terseok-seok. Mutiara berdiri mencengkeram jeruji besi dingin dengan napas memburu dan mata yang memerah akibat tumpukan amarah dan rasa jijik yang membakar dadanya sepanjang jalan.

​"Buka! Buka gerbangnya!" teriak Mutiara histeris seraya menggedor besi tempa itu dengan telapak tangannya. "Panggil cewek murahan itu keluar! Panggil Alana Adhijaya!"

​Dua orang satpam berseragam hitam berbadan tegap segera menghampiri dari pos penjagaan. "Nona, tolong jaga sikap Anda! Ini area privat kediaman Keluarga Elard! Jika Anda tidak pergi, kami akan menghubungi pihak kepolisian!"

​"Aku nggak peduli!" raung Mutiara seraya menunjuk ke arah kediaman megah di balik taman. "Aku mau ketemu sama cewek licik yang tinggal di dalam sana! Panggil dia keluar!"

​Pada saat yang bersamaan, Alana yang baru saja berjalan pelan melintasi selasar kaca lantai satu untuk menghirup udara segar, mendengar kegaduhan di gerbang depan. Langkah kakinya yang berselimut flatshoes lembut terhenti. Wajah porselen Alana tampak begitu tirus dan pucat pasi, namun matanya yang redup menangkap sosok adik bungsunya yang sedang mengamuk di balik pagar besi.

​Alana menatap satpam yang tampak bersiap mengusir Mutiara secara paksa. Dengan gerakan perlahan, Alana melangkah mendekat menuju gerbang depan, membalut gaun santai katun berwarna krem yang membungkus tubuh kurusnya.

​"Buka gerbangnya," perintah Alana dengan nada suara yang amat tenang, datar, dan tanpa intonasi emosi sedikit pun kepada para petugas keamanan.

​Satpam tersebut terperanjat ragu. "Tapi Nyonya Muda... Nona ini sangat agresif dan bisa mengancam keselamatan Anda—"

​"Saya bilang buka," ulang Alana pelan namun mutlak. "Biarkan dia masuk ke halaman."

​Petugas keamanan akhirnya menempelkan kartu akses. Pintu gerbang besi yang berat itu terdorong terbuka secara perlahan dengan decitan halus.

​Mutiara tidak membuang waktu. Begitu ada celah, gadis muda itu menerobos masuk ke dalam halaman depan mansion, mengikis jarak hingga ia berdiri tepat di hadapan kakaknya. Bukannya merasa iba melihat tubuh Alana yang kian kurus dan wajahnya yang pucat usai gelombang mual kehamilan yang parah, Mutiara justru menyunggingkan senyuman paling jijik dan penuh racun.

​"Wah... luar biasa ya Nyonya Muda Elard," caci Mutiara dengan nada suara melengking tajam, menunjuk wajah pucat Alana dengan jari bergetar. "Anggun banget ya berdiri di halaman rumah mewah hasil jualan rahim! Kamu senang, Mbak?! Kamu puas bisa tinggal di istana ini sementara orang tua kita di rumah bertindak kayak pemula yang rakus harta?!"

​Alana berdiri tegap di tengah terik matahari. Tidak ada keraguan, tidak ada getaran panik, dan tidak ada raut terluka di wajahnya. Wanita itu menatap adiknya dengan iris mata yang benar-benar hampa—bagaikan cermin retak yang tak lagi dapat memantulkan gejolak emosi apa pun.

​"Tahu nggak, Mbak?!" amuk Mutiara lagi, melangkah makin maju hingga jarak mereka hanya tersisa dua jengkal. "Semalam aku nonton siaran langsungmu di TV! Gaya bicaramu tinggi banget! Senyummu simetris banget! Tapi di balik semua topeng itu, kalimatmu bau amis! Kamu ngaku di depan ratusan pers kalau kehamilanmu cuma demi tuntasin kontrak jual-beli!"

​Mutiara mencondongkan tubuhnya, menatap Alana tepat di matanya dengan caci maki yang kian merobek udara halaman depan.

​"Kamu cewek murahan tanpa harga diri, Mbak Alana!" caci Mutiara tanpa belas kasihan, air mata kemarahannya menetes di pipi. "Kamu rela ditiduri, rela hamil, rela diperlakukan kayak barang belian sama keluarga kaya ini asal kamu dapat uangnya! Kamu licik! Kamu perdaya Tuan Kenzo dan keluarganya demi menutup utang Ayah dan mengamankan hidup mewahmu sendiri!"

​Kata-kata 'cewek murahan', 'jualan rahim', dan 'tanpa harga diri' berhamburan di udara, disaksikan oleh para pelayan dan satpam yang menunduk kaku di kejauhan.

​Namun, di hadapan badai cacian yang teramat kejam itu, Alana tidak membela diri. Ia tidak menangis, tidak menunduk ketakutan, dan tidak membalas dengan bentakan seperti Alana yang dulu.

​Alana justru menyunggingkan sebuah senyuman—senyuman formalistis yang amat kaku, simetris, dan benar-benar hampa.

​"Sudah selesai bicaramu, Mutiara?" tanya Alana dengan nada suara yang sangat tenang, begitu dingin bagaikan hembusan angin di dasar jurang.

​Mutiara membelalakkan matanya, napasnya memburu kaget melihat tidak ada raut terluka atau penyesalan sedikit pun dari sang kakak. "Mbak... kamu... kamu nggak nyesel sedikit pun?! Kamu nggak malu dibilang cewek murahan?!"

​"Untuk apa Mbak malu, Mutiara?" sahut Alana pelan, matanya menatap Mutiara lurus tanpa berkedip. "Bukankah uang dari 'penjualan rahim' yang kamu sebut murahan ini yang membayar sekolah mewahmu, melunasi utang Ayah, dan membelikan baju-baju mahal yang ada di lemarimu sekarang?"

​Kata-kata tenang namun menghantam tepat di pusat kesadaran itu membuat Mutiara tersentak kaku di tempatnya. Gadis muda itu bergidik, dadanya naik turun tak teratur. Ketenangan hampa, senyuman kaku, dan tatapan dingin Alana justru membuat Mutiara merasa asing, merinding, dan ketakutan sendiri. Kakaknya yang dulu lembut, penyayang, dan selalu menangis untuk keluarganya... kini tampak seperti sosok asing tanpa jiwa yang tak tersentuh oleh caci maki apa pun.

​"Kamu... kamu bukan Mbak Alana-ku lagi..." bisik Mutiara dengan suara gemetar, melangkah mundur perlahan dengan wajah pucat. "Kamu cuma cewek dingin tanpa jiwa yang rakus harta! Aku jijik punya pertalian darah sama kamu! Aku jijik!"

​Mutiara berbalik dan berlari keluar dari pintu gerbang sambil menangis histeris, meninggalkan halaman mansion yang kembali hening.

​Alana tetap berdiri mematung di tempatnya. Senyuman formalistis di bibirnya perlahan memudar, menyisakan tatapan kosong yang menembus kepergian adiknya.

​Malam pun jatuh memeluk Mansion Elard. Hujan deras mengguyur atap bangunan megah itu, menciptakan simfoni gemuruh yang menyelimuti kamar utama dalam keheningan yang menyiksa.

​Kenzo sedang tertahan di gedung pusat Elard Corporation bersama tim pengacara untuk menandatangani berkas akuisisi saham darurat, meninggalkan Alana seorang diri di dalam kamar yang gelap tanpa lampu utama—hanya dibantu oleh pendar redup dari lampu tidur di atas nakas.

​Alana terbaring miring di atas tempat tidur king-size. Selimut tebal membungkus tubuh kurusnya yang kaku.

​Sepi. Teramat sepi.

​Di dalam kegelapan itu, benteng ketenangan dan topeng mati rasa yang dibangun Alana seharian ini mendadak retak secara tak kasat mata.

​Bayangan caci maki Mutiara di halaman depan yang menyebutnya "cewek murahan tanpa harga diri", ingatan bentakan Kakek Hendra yang menuntut bayi laki-laki, serta ingatan saat orang tuanya sendiri menandatangani berkas pelunasan utang dengan menukarkan raganya... berkelebat beruntun menghantam kepala Alana bagaikan badai belati.

​Cetes.

​Setetes air mata yang sangat hangat akhirnya jatuh dari sudut mata kiri Alana, membasahi kain bantal sutra yang dingin.

​Tubuh kecil Alana mulai bergetar pelan. Ia menarik selimutnya tinggi-tinggi hingga menutupi seluruh dadanya, meremas kain tebal itu dengan jemarinya yang dingin dan lemas.

​Isak tangis yang selama beberapa bulan ini ia kunci rapat di dasar jiwanya mendadak pecah tanpa bisa ditahan lagi.

​"Hhh... hiks... hh..."

​Alana membendung mulutnya sendiri dengan punggung tangan, berusaha tidak mengeluarkan suara. Namun, rasa sakit yang meremas dadanya terlalu dahsyat. Air matanya mengalir deras tanpa henti, membasahi pipinya yang tirus.

​Ibu jari Alana bergerak pelan, mengusap bagian bawah perutnya yang masih terasa rata—tempat di mana janin berusia beberapa minggu itu bersembunyi di dalam rahimnya.

​"Apakah... apakah aku bisa bertahan...?" bisik Alana sangat lirih, suaranya pecah oleh tangisan pilu yang menyayat malam. "Tuhan... aku tidak punya siapa-siapa lagi... Aku tidak punya sandaran untuk berteduh..."

​Air mata Alana makin deras membakar kelopak matanya. Kehancuran batinnya meluap sepenuhnya. Keluarganya telah menganggapnya sebagai alat pemeras uang, adiknya membencinya hingga ke dasar tulang dan mencacinya sebagai cewek murahan, keluarga suaminya menganggapnya sebagai wadah rahim penentu harga saham, dan Kenzo... Kenzo mengurungnya dalam kurungan rasa bersalah yang tak tertembus.

​"Ibu... Ayah... Mutiara... kalian semua yang menjualku..." ratap Alana berbisik dalam kegelapan, dadanya naik turun tersengal-sengal menahan napas yang menyesakkan. "Lalu kenapa... kenapa sekarang kalian menyalahkanku karena aku tidak lagi memiliki jiwa...?"

​Alana meringkuk seperti bayi di atas ranjang yang terlalu besar itu. Ia mencengkeram dadanya yang terasa begitu sempit dan sakit, meratapi nasibnya yang tak lagi memiliki tempat bersandar di dunia ini. Di dalam kamar mewah yang megah bagaikan sangkar emas tersebut, sang Nyonya Muda Elard menangis sendirian dalam kehampaan malam—mempertanyakan apakah raganya yang rapuh sanggup bertahan hingga hari persalinan itu tiba.

​Bersambung

1
imel
makasih buat cerita kerennya😍
Mia Camelia
puas 😊 akhirnya happy ending.
thor sklian dong bikin cerita nya Kalila x lucas 🤭😂
Gita ayu Puspitasari
cerita Lukas sama Kalila dong kak
Anonim
crazy up thor
merry
mereka Alana dan kenzo bnr bnr membangun rumh tangga yg manis tnp ada kebohongan,, keegoisan dan sm sm berjuang dan berakhir indah,,,
Heresnanaa_: 😚❤️❤️🫶
total 1 replies
merry
asal Damai, tenang saling suport mky mslh berat pun terasa ringan,,, kejayaan di kejar gk bkln hbs di msa tua yg plg penting menikmati msa tua dengan tenang
aku
penisirin sama mantan kluarga alana tor kyk mana 😖
aku
oke, bikin pengalaman, baca novel mending malam aja 😌😌 gk siang2 gini 😭😭😭
Heresnanaa_: kenapa kak ?😭
total 1 replies
merry
ya tamat hrs ya jgn dulu🤭🤭🤭soalnya blm liat aki aki itu nyesel ap lg ank ken kembar cwo lg blm liat lila yg polos lucu gemes pintar ngoceh gt,,, blm minta maaf sm Alana jg atas perbuatan y,, blm lg di mutiara itu blm tau x gmn dulu Alana yg dijual orgtua ya
Gita ayu Puspitasari
ada extra part ga kak, trs kbr kakek Kenzo gmn
merry
akhirnya bhgia mrk tnp di gangu sm aki aki,, moga al hamil lg ank cwo 🤭🤭🤭
guest1053527528
Akhirx thor semoga bahagia selalu dan sukses thor mereka
merry
pengen suatu saat di Muti Muti itu tau kenyataan pahit bhwa al tdk seperti pikiran picik ya klo untuk orgtua kn dh tau y krn mrk tukang bhong,, moga Helena ksh tau
merry
syukur bgtt y tu nenk sihir dh sdr trs aku aku gk gangguin usha mrk justru tnp kenzo perusahaan kebanggaan mrk mulai runtuh, gantian tu aki aki yg sujud sm ken dan al
Mia Camelia
kapan lahirannya thor🤭🤭🤭
aku sih berharap baby nya berubah jadi cowo🤣🤣🤣
guest1053527528
ngitundoong hehehe
Mia Camelia
suka banget ngliat mereka berdua bahagia😍😍😍
Heresnanaa_: kann, author aja happ kaliii🤭😚
total 1 replies
merry
moga berkembang kue y Alana dan pyn tko kua jg,,
merry
yg plg penting komunikasi semua mslh yg terasa berat pun psti jdi ringan,, cm takut dech ush klian tu atau al y bkln diganggu sm aki aki tua bangka dan nenek lampir,, cb pindah ajj keluar kota gt alana
Gita ayu Puspitasari
tambah dong kak🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!