Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Kemewahan: Kedatangan Elina Dan malam penyiksaan
Pagi hari Minggu pukul enam lewat sepuluh. Sekolah libur, jadi seperti biasa aku bangun lebih awal, membereskan rumah dan menyiapkan sarapan sendirian. Tak lama, Fara turun dari tangga — tampak sangat anggun. Dia memakai blus sutra krem lembut, dipadukan rok cokelat keemasan yang mengkilap seperti satin, ditambah ikat pinggang emas kecil. Rambutnya dikuncir rapi, hanya beberapa helai yang terurai membingkai wajahnya, dan anting mutiara kecil berkilau lembut.
“Selamat pagi, Zara. Terima kasih sudah bersiap sedini ini,” sapanya lembut. Aku hanya tersenyum mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaan sampai selesai, sebelum kembali ke kamar bersiap juga. Aku memakai gaun panjang krem keemasan bermotif bunga kecil, bahannya ringan dan jatuh indah, terasa nyaman tapi tetap terlihat manis dan berkelas. Aku membawa kotak bekal, hari ini ingin menjenguk ayah, ibu, dan adikku di rumah sakit.
Setelah dari rumah sakit, aku memutuskan mampir ke perpustakaan besar di pusat kota untuk pertama kalinya. Tempatnya megah, luas, dan sangat tenang — cahaya matahari masuk lewat jendela kaca besar, rak bukunya menjulang tinggi, suasananya damai sekali untuk membaca. Aku tenggelam dalam bacaan sampai lupa waktu, baru bergegas keluar saat petugas mengumumkan tempat itu akan ditutup.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku melayang: aku bertekad nanti akan ikut bimbingan belajar, kursus bahasa Inggris, dan pelatihan komputer — supaya suatu hari nanti bisa berdiri sendiri dan tidak selamanya bergantung pada orang lain.
Sesampainya di rumah, Fara belum pulang. Aku terus melakukan kegiatanku sampai hampir pukul sepuluh malam, ketika terdengar ketukan keras dan suaranya memanggil: “Zara, buka pintu!” Aku membukanya dalam keadaan masih mengantuk, mengenakan gaun tidur krem gading yang lembut dengan hiasan renda halus. Fara hanya terlihat lelah, tidak banyak bicara, lalu langsung naik ke kamarnya beristirahat.
Keesokan harinya, saat hendak berangkat sekolah, aku terhenti melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan pintu. Turunlah seorang wanita tinggi sekitar 170 cm, tegap dan berwibawa — wajahnya indah tapi tatapannya dingin dan tajam, rambutnya cokelat keemasan berombak rapi, memakai setelan biru langit yang terlihat sangat mahal.
Supirnya segera memperkenalkan: “Ini Nyonya Elina, bibi Tuan Adrian yang merawatnya sejak kecil.” Belum sempat aku menyapa, dia melangkah cepat dan mencengkeram leherku dengan kuat sampai napasku terhenti. “Aku tak mengerti kenapa Adrian mau mengambil gadis semuda dan setingkatmu — sungguh memalukan!” katanya dengan nada menghina, lalu melepaskannya kasar. Aku terbatuk-batuk hebat sambil memegang leher yang mulai terasa panas.
Dia berjalan memeriksa seluruh rumah seolah itu miliknya sendiri, lalu memerintahkan: “Panggil wanita yang satunya itu sekarang!” Segera Fara datang, terlihat waspada dan ketakutan. Elina menatap kami berdua dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan: “Hari ini kalian ikut aku. Nanti akan dikirimkan pakaian dan kendaraan — sepertinya kalian butuh diajari cara bersikap layaknya wanita terhormat.” Saat aku ingin menjawab, suaranya langsung memotong: “Tak perlu banyak bicara! Lakukan saja!”
Setelah dia pergi, aku mengusap leherku yang terasa perih dan sudah ada bekas merah samar. Fara menatapku dengan wajah pucat — jelas dia juga merasakan betapa menakutkannya wanita itu.
Tak lama kemudian, kami dibawa ke sebuah kediaman megah bergaya Eropa, dindingnya dari marmer putih, taman luas dengan air mancur indah di tengahnya. Aku turun memakai gaun malam merah anggur pekat, bahannya berkilau seperti sutra terbaik, pas memperlihatkan lekuk tubuh tapi tetap anggun. Fara juga turun dengan gaun senada, bagian depannya dihias butiran kristal halus yang berkilau lembut. Meskipun tampak cantik, di dalam hati kami berdua merasa kaku dan asing mengenakan pakaian semewah itu.
Di sana sudah berkumpul banyak wanita bangsawan, dan Elina berdiri di tengah dengan wibawa yang mendominasi. Dia menyambut kami dengan senyum yang terasa palsu, lalu mempersilakan duduk. Salah satu tamu bertanya dengan rasa ingin tahu: “Nak, mengapa kau bersedia menjadi istri kedua Adrian?” Jantungku berdegup kencang, bingung harus menjawab apa, tapi Elina segera menyela dengan halus untuk menutupi kekhawatiranku.
Namun saat Fara hendak ke kamar kecil, lengannya tanpa sengaja menyenggol gelas minuman, isinya tumpah membasahi bahu jas hitam Elina. Wajahku langsung memucat. Fara segera meminta maaf dengan suara gemetar dan berusaha menyekanya, tapi Elina hanya memaksakan senyum dingin sambil menahan amarahnya — menunggu sampai semua tamu pulang.
Begitu pintu tertutup, topeng keramahan itu hilang seketika. Elina melayangkan tamparan keras ke pipi Fara sampai tubuhnya terhuyung mundur. “Berani mempermalukan aku di depan orang banyak!” teriaknya lantang. Tanpa peduli permohonan kami yang terus memohon ampun, dia memerintahkan mengambil cambuk itu sendiri. Satu kali ayunan menyambar punggung Fara, disusul jeritan kesakitan yang menusuk telinga, membuat tubuhnya membungkuk dan gemetar hebat menahan rasa perih yang luar biasa.
Aku berusaha melangkah mendekat tapi ditahan kuat oleh dua pelayan. Air mataku mengalir deras, hatiku terasa remuk dan tak berdaya melihat Fara menderita seperti itu.
Sesampainya kembali di rumah, suasana terasa sunyi dan berat. Fara langsung berjalan perlahan menaiki tangga, menutup pintu kamarnya rapat-rapat tanpa berkata apa-apa. Aku hanya berdiri mematung di bawah, merasa sedih sekaligus bersalah, tidak mampu melakukan apa pun untuk melindunginya.
Di tempat yang jauh, di Rusia, Adrian baru saja menyelesaikan pertemuan penting. Saat Yamal membisikkan laporan tentang apa yang terjadi, raut wajahnya berubah seketika menjadi tegang dan dingin. Tanpa ragu dia memerintahkan: “Segera pesan tiket pulang. Aku harus kembali secepat mungkin.” Dia duduk kembali menatap keluar jendela, hatinya sudah merasa gelisah, seolah tahu ada hal buruk yang menimpa di rumahnya.