Author kembali dengan cerita lebih menantang,ingat ya dilarang meniru karya hasil buatan asli author. Up setiap hari dijam yang sama😍
Bagaimana jadinya jika kamu terjebak di dalam kisah tragis yang kamu tulis sendiri?
Anna, seorang penulis novel, mendadak terseret masuk ke dalam naskah terbarunya yang berjudul Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Kejam. Ia terbangun dalam wujud tokoh utama wanita—seorang istri yang diabaikan, dianggap buruk rupa, dan dibenci oleh tiga pangeran berdarah dingin.
Mengetahui plot mengerikan yang menanti di depan mata, Anna harus memutar otak. Bisakah sang penulis menjinakkan tiga pangeran kejam ciptaannya, atau justru ia akan mati di tangan karakter yang ia buat sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Istri yang Terbuang
"Nona Muda, bangunlah. Tuan Muda Kedua dan Tuan Muda Ketiga sudah menunggu di paviliun utama."
Terdengar samar, menembus kabut kesadaranku.
Kelopak mataku terasa berat.Saat akhirnya aku membuka mata. Rasa pusing langsung menghantam kepalaku.
Di sekelilingku terbentang tirai sutra merah yang megah, meski tampak usang. Ingatan asing mengalir deras membanjiri benakku.
Jantungku berdegup kencang saat potongan kehidupan pemilik tubuh ini mulai tersusun di kepalaku.
Hah... Ternyata aku benar-benar bertransmigrasi ke dalam novel buatanku sendiri. Gumamku yang tak percaya.
Aku hampir tersedak. Lebih buruk lagi, aku terjebak dalam tubuh tokoh wanita utama yang tragis; seorang istri yang diabaikan tepat di malam pengantin oleh ketiga suaminya sendiri. Ini plot yang gila, gumamku dalam hati, masih mencerna kenyataan ini. Di dunia ini, pemilik tubuh asli adalah gadis malang yang selalu merengek dan memohon kasih sayang, yang justru membuat ketiga suaminya merasa jijik dan muak.
"Nona Muda, akhirnya Anda bangun."
Seorang pelayan muda dengan wajah cemas berdiri di sisi tempat tidur. Itu Xiao Chu, satu-satunya pelayan yang masih setia menemani pemilik tubuh ini di tengah penghinaan keluarga.
Jika dulu tubuh ini menjadi beban bagi semua orang, mulai hari ini tubuh ini tak akan lagi menjadi sasaran ejekan.
Aku bangkit perlahan, membiarkan Xiao Chu membantuku mengenakan gaun berat nan mewah.
"Xiao Chu, ke mana Tuan Muda Pertama?" tanyaku dengan nada sedatar mungkin.
Xiao Chu tampak ragu.
Bahunya merosot. Kilatan takut tampak di matanya, khawatir aku akan meluapkan amarah seperti pemilik tubuh ini dulu.
"Nona Muda, Tuan Muda Pertama sudah lama tidak kembali ke kediaman utama," jawabnya dengan suara gemetar.
Ke mana dia? Paviliun Jinsheng?
Pikiranku langsung tertuju pada lokasi favorit sang tokoh utama pria dalam novelku—sebuah paviliun di mana ia sering menghabiskan waktu dengan wanita yang sengaja kuciptakan sebagai musuh bebuyutan tokoh utama.
"Nona Muda, sudah siap," bisik Xiao Chu sambil merapikan sanggul rambutku.
Aku menghela napas sambil menatap bayanganku di cermin perunggu.
Pertanyaan berikut mungkin terdengar konyol...bagi pelayanku, seolah aku adalah orang asing di rumah sendiri—memang benar begitu—tapi aku butuh konfirmasi untuk menyusun strategi.
"Xiao Chu, apa selama ini ketiga pangeran jarang pulang ke rumah?"
Xiao Chu menunduk dalam, hampir menyentuh lantai. "Nona Muda, Tuan Muda Mo memang jarang pulang, bahkan bisa dibilang tidak pernah benar-benar menemui Anda sejak malam pernikahan."
Tentu saja, batinku. Pelayan ini terlalu jujur. Aku tahu persis mengapa dia jarang pulang; dia lebih memilih menghabiskan malam di Paviliun Jinsheng, terbuai oleh pesona wanita penggoda yang memang aku ciptakan untuk menyiksa hatinya—atau lebih tepatnya, kini menyiksa hidupku.
"Sudah, biarkan saja. Sekarang, mari kita temui kedua pangeran lainnya," perintahku tegas.
Aku melangkah dengan anggun menuju halaman utama. Di balik cadar tipis, aku menyembunyikan senyum penuh arti. Mereka semua mengira pemilik tubuh ini adalah wanita buruk rupa dan tidak berpendidikan.
Mereka tak tahu wajah ini adalah mahakarya yang mampu meruntuhkan kota dan negara.
Setibanya di halaman utama, kedua suamiku sudah menunggu. Mereka berdiri di sana, dikelilingi oleh aura dingin yang menekan. Tuan Muda Kedua dan Ketiga tampak begitu gagah dengan jubah sutra berwarna gelap yang menonjolkan bahu bidang mereka.
Mereka bahkan tidak menoleh saat aku mendekat, seolah kehadiranku hanyalah debu yang lewat di angin lalu.
"Selamat pagi, Tuan Muda Kedua, Tuan Muda Ketiga," sapaku dengan nada yang tenang dan penuh hormat.
"Apakah begitu caramu menghormati suamimu dengan panggilan 'Tuan Muda'?"
Suara berat dan dingin menyambar, membuat suasana seketika mencekam. Itu Tuan Muda Shen, sang pria dengan watak paling kejam di antara ketiganya. Tatapannya setajam belati, seolah aku hanyalah kotoran di sepatunya.
Aku tidak gentar. Justru sebaliknya, aku balas menatapnya dengan tenang.
"Tenanglah, Tuan Muda Shen. Kita menikah hanyalah karena perjodohan yang dipaksakan oleh orang tua kita. Jadi, aku akan tetap memanggilmu dengan sebutan Tuan Muda. Ini bukan karena rasa cintaku yang tidak ada, melainkan sebagai cara untuk menjaga martabat kita masing-masing di depan para pelayan," jawabku dengan suara yang jernih dan berwibawa.
Detik itu juga hawa dingin menyusup ke kulitku. Kedua pria di depanku menatapku lekat-lekat, terkejut dengan perubahan nada bicaraku yang biasanya penuh rengekan. Seolah-olah mereka ingin menelanjangiku dengan tatapan mereka, mencoba mencari tahu apakah wanita di depan mereka ini benar-benar wanita yang sama dengan yang mereka benci selama ini.
Aku tidak membuang muka. Aku berdiri tegak, membiarkan angin pagi memainkan ujung cadarku. Jika mereka menginginkan sebuah sandiwara, maka aku akan memberikan pertunjukan yang tidak akan pernah mereka lupakan.
"Kau berani menjawab?" Tuan Muda Kedua, yang sedari tadi diam, kini melangkah maju. Matanya menyipit, meneliti gerak-gerikku.
"Kenapa tidak?" sahutku enteng. "Jika aku diam, kalian menganggapku bodoh. Jika aku bicara, kalian merasa terganggu. Sepertinya, tidak ada hal yang bisa aku lakukan untuk memuaskan hati kalian. Jadi, mengapa aku harus membuang energi untuk sekadar menyenangkan pria yang bahkan tidak sudi melirikku?"
Halaman seketika sunyi. Xiao Chu di belakangku sudah bergetar ketakutan, namun aku tetap tenang. Dalam novel yang kutulis, aku selalu membuat karakter wanita utama ini menjadi sosok yang lemah. Namun, sekarang aku adalah pengarangnya, dan aku tidak akan membiarkan karakter ini hancur begitu saja.
Dunia ini milikku. Aku yang menulis setiap baris takdir mereka, dan sekarang, aku akan menulis ulang masa depanku sendiri.
Tatapan tajam para suamiku tak lagi membuatku takut justru, ini adalah awal dari permainan kekuasaan yang sesungguhnya.
Aku tidak akan tunduk pada mereka. Aku akan menjadi diriku sendiri, bukan Tang Anning. Aku Anna, perempuan dari dunia modern tahun 2026.
Terimakasih yang sudah spam like.
author punya give away buat kalian sebagai pembaca setia.
author akan masukin nama kalian sebagai karakter didalam novel author.
bagaimana? jika kalian setuju like komen author atau balas komen author "Setuju".
pastinya seru nama kalian jadi karakter dinovel author🥰🥰
ditunggu ya😍
Terima kasih sudah membaca Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Dingin. Semoga kalian menikmati setiap bab yang Author tulis.
Jika kalian menyukai cerita ini, jangan lupa beri dukungan dengan like, komentar, dan vote agar Author semakin semangat melanjutkan kisah Tang Anning dan para tokohnya. 💖
Mohon maaf ya kalau untuk saat ini Author hanya bisa update 2 bab per hari. Bukan karena tidak ingin update lebih banyak, tetapi karena Author menulis cerita ini terlebih dahulu di buku tulis, lalu menyalinnya satu per satu ke aplikasi. Jadi prosesnya memang membutuhkan waktu.
Terima kasih atas kesabaran, dukungan, dan semangat yang selalu kalian berikan. Semoga kita bisa terus menikmati perjalanan cerita ini bersama. 🤗✨
Salam manis,
Author Diah Nation29 🌸