TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

Janji Di Ujung Lembah

Terbentang sebuah desa kecil yang tersembunyi di lembah pegunungan tinggi, jauh dari hiruk-pikuk kota yang berisik. Di antara hamparan padang rumput hijau luas yang dihiasi bunga liar berwarna kuning, berdiri deretan rumah kayu sederhana beratap papan. Bangunan-bangunannya tampak sudah tua, namun tetap kokoh berdiri menahan terpaan angin dan hujan tahun demi tahun. Jalan tanah beraspal tipis berkelok membelah padang, dibatasi pagar kayu dan kawat sederhana yang menandai batas lahan milik warga.

Di kejauhan, menjulang gagah gunung-gunung besar dengan puncaknya yang selalu terselimuti kabut tipis, seolah menyembunyikan rahasia alam yang tak terjamah. Udara di sini terasa dingin, segar, dan sangat tenang — benar-benar jauh dari keramaian. Sesekali saja kendaraan melintas, tidak terlalu sering; kadang terdengar suara mesin motor yang melewati jalan berbatu, membawa sayuran segar dari ladang lalu berhenti di setiap sudut untuk menawarkannya. Tidak jauh dari barisan rumah itu, ada sebuah warung kayu sederhana, tempat warga berkumpul, membeli kebutuhan sehari-hari, sekaligus berbincang santai melepas lelah setelah seharian bekerja.

Di ujung jalan desa, tidak jauh dari aliran sungai yang airnya jernih hingga terlihat kerikil-kerikil halus di dasarnya, terdapat air terjun yang tidak terlalu tinggi namun airnya mengalir lembut dan bening, turun perlahan dari sela-sela bebatuan. Tepat di sampingnya berdiri rumah tempat tinggalku, dibangun dari susunan batu alam dan kayu yang kokoh, seolah tumbuh dan menyatu dengan alam sekitarnya.

Halaman depannya memiliki tangga batu yang tersusun kasar namun rapi, sedikit meninggi, ditumbuhi rumput halus dan bunga liar berwarna merah muda serta ungu yang tumbuh subur menjalar di sisi dinding dan tepi jalan. Beberapa tiang kayu besar menopang atap teras, menciptakan tempat berteduh yang teduh dan sejuk. Di belakangnya terlihat rimbunnya pepohonan dan lereng gunung yang menghijau, sementara suara gemericik air terjun terdengar lembut sepanjang hari — seperti irama alami yang menenangkan hati.

Rumah itu sendiri berupa bangunan kayu sederhana, papan dindingnya sudah memudar warnanya dimakan waktu dan angin pegunungan. Di sebelah kanan ada pintu utama dari kayu tua, terlihat agak usang namun masih kuat dan kokoh jika disentuh. Di sebelah kiri terpasang jendela berukuran sedang dengan bingkai kayu yang serasi, daun jendelanya bisa dibuka-tutup dengan gerakan tangan yang ringan. Di depan teras dipasang pagar dari balok kayu kasar, lantainya terbuat dari semen yang sudah dipadatkan bertahun-tahun, terasa halus dan rata saat dipijak. Di ambang jendela tergantung pot tanah liat berisi bunga merah yang tumbuh lebat, memberi percikan warna segar pada bangunan yang terasa alami dan sederhana.

Di depan teras itu, duduk sepasang suami istri berdampingan, beralaskan tikar plastik tipis yang sudah dipakai berulang kali — sederhana, tapi cukup kuat, tidak panas meski diterpa sinar matahari sore. Mereka duduk bersila dengan tenang, seolah menikmati setiap hembusan angin dan setiap detik ketenangan yang terbentang di hadapan mata.

Sang ibu memiliki wajah yang sangat lembut dan anggun. Kulitnya putih bersih bagaikan porselen halus, terlihat bersih dan bercahaya meski jarang menggunakan krim atau minyak apa pun. Rambut hitamnya sangat panjang, jatuh melampaui siku, disisir rapi lalu diikat longgar ke belakang sehingga terlihat berkilau lembut terkena cahaya senja. Wajahnya berbentuk lonjong, dahinya mulus tanpa kerutan, alisnya melengkung halus seperti lukisan alami. Matanya berukuran sedang, jernih dan hangat, menatap segala sesuatu dengan pandangan yang menenangkan — seolah ia menyimpan kelembutan yang takkan pernah habis. Hidungnya mancung kecil, bibirnya berwarna merah alami, dan saat tersenyum, terlihat tulus dan tenteram, memancarkan kebahagiaan yang sederhana namun terasa dalam. Tubuhnya ramping namun kokoh, gerakan tangannya halus dan terlatih, mencerminkan hati yang puas menjalani hidup apa adanya.

Ia duduk di sisi kanan suaminya. Dengan gerakan jari yang terampil dan lembut, ia menuangkan air bening dari teko tanah liat ke dalam cangkir kayu yang agak kasar permukaannya. Senyum tipis tak pernah hilang dari bibirnya — senyum yang mengatakan bahwa meski memiliki sedikit, ia merasa sudah cukup dan bahagia.

Di sampingnya duduk sang ayah. Wajahnya tampan dengan kulit berwarna sawo matang yang terkena sinar matahari ladang, terukir garis-garis halus di dahi dan di sudut matanya sebagai tanda kerja keras. Matanya terlihat tajam namun menyimpan kelembutan mendalam saat menatap istri dan anak-anaknya, hidungnya mancung dan sedikit lebar, ciri khas lelaki desa yang tangguh. Rambutnya cokelat kehitaman, lebat namun agak berantakan, seolah baru saja menyeka keringat lalu langsung duduk bersama keluarga. Ia hanya mengenakan kemeja katun biru yang warnanya sudah pudar, lengan bajunya digulung hingga siku, dipadukan celana panjang kain berwarna cokelat yang sudah agak lusuh di bagian lutut. Namun meski begitu, ia terlihat bersih, kokoh, dan memancarkan rasa aman — tempat berteduh bagi seluruh keluarganya.

Tidak jauh dari kaki ayahnya, berdiri seorang gadis kecil bernama Zara, usianya baru menginjak tujuh tahun. Kulitnya putih bersih cerah bagaikan susu segar, terasa halus jika disentuh. Rambut cokelat kehitamannya diikat menjadi dua sanggul kecil di kedua sisi kepala, dihiasi pita kain sederhana berwarna kuning dan hijau — pemberian ibu yang ia jaga dengan baik. Matanya besar dan jernih, berwarna cokelat gelap, menatap sekeliling dengan pandangan polos namun tenang, kadang terlihat sedikit waspada dan ragu, seolah ia sudah terbiasa mengamati sebelum bergerak. Hidungnya mungil, bibir tipisnya terkatup rapat, jarang sekali tersenyum lebar kecuali saat hatinya benar-benar senang. Tubuhnya mungil dan agak kurus, kedua tangannya sering menggenggam erat ujung kain roknya, seolah mencari pegangan saat merasa canggung. Hari itu ia mengenakan atasan tanpa lengan berwarna biru langit pudar, dipadukan celana pendek berwarna cokelat polos, pakaian yang sudah dicuci berkali-kali namun tetap rapi dan bersih.

Di sampingnya, duduk adik laki-lakinya yang berusia enam tahun, bernama Asland. Ia bersandar nyaman di pangkuan ayahnya, memainkan sebatang ranting kayu halus sambil sesekali mengoceh hal-hal polos yang hanya dimengerti anak kecil. Suasana itu terasa hangat, sederhana, dan penuh kebahagiaan tanpa kepura-puraan apa pun.

Tak lama kemudian, gadis kecil itu lupa akan rasa canggungnya, lalu mulai bermain dan tertawa riang bersama adiknya di halaman berumput. Setelah lelah berlari dan berlarian, ia melangkah perlahan mendekati ibunya, wajahnya berseri-seri, matanya berbinar penuh keyakinan. Ia berdiri tegak, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke atas seolah sedang membuat janji yang paling penting di dunia. Dengan suara lantang dan tulus, ia mengucapkan kata-kata yang keluar langsung dari hatinya:

“Ibu, dengarkan aku ya! Nanti kalau aku sudah besar dan kuat, aku pasti akan bekerja keras. Aku akan punya banyak uang, lalu membeli rumah yang besar dan indah, dengan banyak jendela yang menghadap ke gunung, supaya Ayah dan Ibu bisa hidup nyaman, tidak perlu lagi lelah bekerja di ladang!”

Mendengar ucapan polos itu, Ayah dan Ibu tertawa lembut, bercampur rasa haru yang perlahan menggenang di sudut mata. Ibu segera merentangkan tangannya, menarik tubuh mungil putrinya ke dalam pelukan hangat yang membungkus seluruh tubuhnya, lalu mencium keningnya lembut:

“Anakku sayang… boleh saja, apa pun yang kau cita-citakan, Ibu akan selalu mendukungmu. Tapi ingat, sebesar apa pun rumah nanti, setinggi apa pun kedudukanmu, bagimu tetaplah putri kesayangan Ibu dan Ayah — tidak akan pernah berubah.”

Saat itu, keluarga kecil ini terlihat begitu damai dan bahagia, seolah dunia di luar sana tak pernah ada. Namun tak ada satu pun dari mereka yang tahu: kebahagiaan manis itu hanya akan bertahan sebentar. Semua kehangatan, harapan, dan kedamaian itu perlahan-lahan akan terhempas, berubah menjadi ujian berat yang menguji keteguhan hati, tepat saat gadis itu menginjak usia tujuh belas tahun.

Episodes
1 Janji Di Ujung Lembah
2 Beban Yang Terlalu Berat
3 Penolakan Yang Mengubah Segalanya
4 Pertemuan Yang Mengubah Segalanya
5 Pilihan Terberat Di Ujung Waktu
6 Keputusan Yang Di Teguhkan
7 Rahasia Yang Terbongkar
8 Permintaan Terakhir Sebelum Ikrar
9 Ikrar Di Sisi Tempat Tidur
10 Kemewahan Yang Terasa Sepi
11 Saat Adrian Memilih Tetap Menemani
12 Cincin, Masakan Sederhana Dan Awal Yang Baru
13 Cincin Yang Pas Dang Kedatangan Fara
14 Izin Berkunjung, Kertu Emas Dan Rahasia Masa Lalu
15 Dari Rindu Keluarga Hingga Harapan Sekolah
16 Semangat Yang Baru Dan Hari Pertama Di Sekolah Elit
17 Perasnagka Pembelaan Dan Rahasia Tersembunyi
18 Di Balik Kemewahan: Kedatangan Elina Dan malam penyiksaan
19 Tuduhan Buta ,Luka tersembunyi dan kebanggaan penuh kebohongan
20 Hari Tanpa Beban Dan Pertemuan Tak Terduga
21 Sore Di Cafe ,Ramalan Tak Terduga
22 Senyum Palsu & Tamparan Kenyataan
23 Di Balik Senyum Ada Luka & Bahaya Mengintai
24 Racun Cemburu & Kedatangannya Yang Tak Terduga
25 Antara Syukur , Niat Dan Tanda Tanya Di Hati
26 Rutinitas Pagi,niat tersembunyi Dan Tanda Tanya Di Hati
27 Hari Yang Penuh Kesibukan,Malam Yang Membawa Rasa
28 Antara Rasa Penasaran , Rencana Tersembunyi Dan Sore Yang Penuh Kenyamanan
29 Rahasia Yang tersembunyi
30 Godaan Yang Berujung Pada Ancaman Dingin
31 Kejadian Semalam Yang Tak Terucapkan
32 Penghindaran Bukan Karena Membenci , Tapi Karena Terlalu Malu
33 Kecelakaan Doa Penuh Harap , Dan Larangan Dingin Yang Mendadak
34 Larangan Tegas Dari Adrian
35 Perintah Cepat Pulang Dari Adrian
36 Di Bawah Tatapan Adrian Dan Teman Lamanya
37 Cincin Yang Harus Di Sembunyikan
38 Antara Isu, Tunangan, dan Kebenaran Yang Tersembunyi
39 Asal Mula Pernikahan Yang Di Paksakan
40 Topeng Mesra Di Pesta Mewah
41 Penolakan Yang Memicu Amarah
42 Di Bawah Bayang Keluarga Romanov
43 Pelajaran Berdarah
44 Harga Yang Harus Di Bayar
45 Hujan Dan Salah Sangka
46 Rahasia Di Balik Kamar Tertutup
47 Malu Dan Curiga
48 Perhatian yang membingungkan
49 Di Balik Sikap Dinginnya
50 PENUTUP
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Janji Di Ujung Lembah
2
Beban Yang Terlalu Berat
3
Penolakan Yang Mengubah Segalanya
4
Pertemuan Yang Mengubah Segalanya
5
Pilihan Terberat Di Ujung Waktu
6
Keputusan Yang Di Teguhkan
7
Rahasia Yang Terbongkar
8
Permintaan Terakhir Sebelum Ikrar
9
Ikrar Di Sisi Tempat Tidur
10
Kemewahan Yang Terasa Sepi
11
Saat Adrian Memilih Tetap Menemani
12
Cincin, Masakan Sederhana Dan Awal Yang Baru
13
Cincin Yang Pas Dang Kedatangan Fara
14
Izin Berkunjung, Kertu Emas Dan Rahasia Masa Lalu
15
Dari Rindu Keluarga Hingga Harapan Sekolah
16
Semangat Yang Baru Dan Hari Pertama Di Sekolah Elit
17
Perasnagka Pembelaan Dan Rahasia Tersembunyi
18
Di Balik Kemewahan: Kedatangan Elina Dan malam penyiksaan
19
Tuduhan Buta ,Luka tersembunyi dan kebanggaan penuh kebohongan
20
Hari Tanpa Beban Dan Pertemuan Tak Terduga
21
Sore Di Cafe ,Ramalan Tak Terduga
22
Senyum Palsu & Tamparan Kenyataan
23
Di Balik Senyum Ada Luka & Bahaya Mengintai
24
Racun Cemburu & Kedatangannya Yang Tak Terduga
25
Antara Syukur , Niat Dan Tanda Tanya Di Hati
26
Rutinitas Pagi,niat tersembunyi Dan Tanda Tanya Di Hati
27
Hari Yang Penuh Kesibukan,Malam Yang Membawa Rasa
28
Antara Rasa Penasaran , Rencana Tersembunyi Dan Sore Yang Penuh Kenyamanan
29
Rahasia Yang tersembunyi
30
Godaan Yang Berujung Pada Ancaman Dingin
31
Kejadian Semalam Yang Tak Terucapkan
32
Penghindaran Bukan Karena Membenci , Tapi Karena Terlalu Malu
33
Kecelakaan Doa Penuh Harap , Dan Larangan Dingin Yang Mendadak
34
Larangan Tegas Dari Adrian
35
Perintah Cepat Pulang Dari Adrian
36
Di Bawah Tatapan Adrian Dan Teman Lamanya
37
Cincin Yang Harus Di Sembunyikan
38
Antara Isu, Tunangan, dan Kebenaran Yang Tersembunyi
39
Asal Mula Pernikahan Yang Di Paksakan
40
Topeng Mesra Di Pesta Mewah
41
Penolakan Yang Memicu Amarah
42
Di Bawah Bayang Keluarga Romanov
43
Pelajaran Berdarah
44
Harga Yang Harus Di Bayar
45
Hujan Dan Salah Sangka
46
Rahasia Di Balik Kamar Tertutup
47
Malu Dan Curiga
48
Perhatian yang membingungkan
49
Di Balik Sikap Dinginnya
50
PENUTUP

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!