Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Keesokan harinya, Nathan baru saja menyelesaikan sarapan ketika ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari Pak Ardi.
Doni ditemukan.
Tatapan Nathan langsung berubah. Ia membuka pesan berikutnya.
Orang kami menemukannya bersembunyi di sebuah rumah kosong milik kerabat jauhnya di pinggiran kota. Saat diamankan, dia membawa sebuah ponsel dan beberapa lembar bukti transaksi.
Nathan membaca pesan itu dua kali.
Akhirnya.
Pria yang selama beberapa hari terakhir menghilang itu berhasil ditemukan sebelum sempat benar-benar menghapus jejaknya.
Nathan segera berdiri. "Pak Ardi."
Panggilan langsung tersambung. "Ya, Tuan."
"Bawa Doni ke tempat yang aman."
"Sudah, Tuan."
"Aku ingin berbicara dengannya."
"Baik."
Nathan mematikan panggilan. Namun sebelum memasukkan ponselnya ke dalam saku, sebuah pikiran melintas di benaknya.
Ia tidak lagi ingin sekadar mendengar pengakuan.
Ia ingin melihat bukti yang selama ini disembunyikan.
☘️☘️☘️
Beberapa jam kemudian, Nathan berada di ruang pribadinya.
Doni duduk di hadapannya dengan wajah pucat. Kali ini pria itu tidak lagi berusaha mengelak. Di atas meja sudah terdapat sebuah ponsel, beberapa lembar bukti transaksi, serta salinan percakapan yang berhasil diamankan dari perangkat tersebut.
Nathan mengambil ponsel itu dan membuka salah satu percakapan. "Ini nomor Alicia?"
Doni mengangguk pelan. "Ya, Tuan."
Nathan menggeser layar ponsel ke arah Doni.
"Sejak kapan kau berhubungan dengannya?"
Doni menelan ludah. "Sudah beberapa waktu, Tuan."
"Beberapa waktu?"
Doni menundukkan kepala. "Sekitar dua bulan."
Tatapan Nathan langsung berubah. "Dua bulan?"
"Iya."
Nathan membuka percakapan lain yang sudah diperiksa anak buahnya. "Jadi selama ini kau bukan hanya mengatur kendaraan itu masuk ke mansion."
Doni terdiam. "Kau juga memberikan informasi mengenai keadaan di dalam mansion kepada Alicia."
Doni semakin menundukkan kepala. "Benar, Tuan."
Nathan meletakkan ponsel tersebut di atas meja. "Dan uang lima juta yang diterima Beni?"
"Itu bukan uang yang saya berikan kepadanya."
Nathan mengangkat wajah. "Lalu siapa?"
"Alicia."
Jawaban itu membuat ruangan seketika sunyi. Doni menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Saya hanya diminta memastikan Beni menerima uang tersebut."
"Setelah itu, saya mengatur kendaraan yang akan masuk."
Nathan menatapnya tajam. "Untuk apa?"
Doni tampak ragu. "Untuk mengambil sesuatu."
"Apa?"
"Saya tidak tahu pasti, Tuan."
Nathan menyipitkan mata. "Kau sudah bekerja untuk mereka selama dua bulan, tetapi kau tidak tahu apa yang mereka cari?"
Doni menggeleng cepat. "Saya benar-benar tidak tahu."
Ia kemudian menunjuk ponsel di atas meja. "Tapi ada beberapa percakapan yang mungkin bisa menjawabnya."
Nathan segera mengambil kembali ponsel tersebut. "Apa maksudmu?"
Doni menelan ludah. "Alicia beberapa kali meminta saya memastikan keadaan Nyonya Naomi."
Nathan hanya terdiam memastikan satu persatu pernyataan dari anak buahnya itu.
"Dia ingin tahu kapan Nyonya berada di mansion, kapan keluar, dan siapa saja yang berada di sekitarnya."
Rahang Nathan mengeras. "Jadi sejak awal..."
Doni menundukkan kepala. "Naomi memang sudah menjadi sasaran mereka, Tuan."
☘️☘️☘️
Kembali di ruang kerjanya, Nathan berdiri di depan layar besar. Foto Adrian muncul di satu sisi. Foto Alicia di sisi lainnya.
Di tengahnya terdapat berbagai bukti yang telah dikumpulkan selama beberapa hari terakhir. Nathan memandangi semuanya dalam diam.
Alicia dan Adrian bertemu selama berbulan-bulan. Naomi melihat mereka secara tidak sengaja.
Setelah itu Alicia langsung mengetahui bahwa Naomi melihatnya dan k emudian Naomi menerima ancaman.
Tidak lama kemudian, kendaraan asing bisa masuk ke mansion dengan bantuan orang dalam.
Doni menerima uang. Dan sekarang ditemukan bukti bahwa perintah tersebut berasal dari pihak Alicia.
Satu demi satu kejadian yang sebelumnya terlihat terpisah mulai menyatu. Nathan mengembuskan napas panjang. Selama ini ia sibuk mencari siapa yang berada di belakang Adrian. Padahal jawabannya perlahan sudah berdiri di depan matanya.
Alicia.
Bukan berarti Adrian tidak terlibat. Pria itu jelas memiliki kepentingannya sendiri. Namun ada seseorang yang jauh lebih dekat dengan kehidupan Nathan.
Seseorang yang mengetahui kebiasaan keluarganya dan mengetahui bagaimana cara memanfaatkan orang-orang di sekitarnya.
Nathan mengepalkan tangan. Tiba-tiba sebuah kesadaran menghantam pikirannya.
Naomi.
Sejak awal, perempuan itu bukanlah bagian dari permainan. Naomi adalah orang yang pertama kali menjadi korban.
Ia dijebak. Dipaksa masuk ke dalam pernikahan yang seharusnya menjadi milik Alicia. Kemudian ketika tanpa sengaja melihat Alicia bersama Adrian, ia kembali dijadikan sasaran. Dan ketika Naomi mencoba memahami apa yang terjadi... Alicia kembali mengancamnya.
Nathan menutup mata sesaat. Ada rasa bersalah yang perlahan memenuhi dadanya.
Selama ini ia terlalu sibuk mencari kesalahan di sekitar Naomi. Padahal perempuan itu hanya berusaha bertahan hidup di tengah permainan yang dibuat orang lain.
"Naomi..."
Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya. Nathan benar-benar memahami posisi perempuan itu. Bukan sebagai pengganti Alicia. Akan tetapi sebagai seseorang yang sejak awal tidak pernah memilih berada di dalam kekacauan ini.
Dan justru karena itu... Nathan semakin ingin melindunginya.
☘️☘️☘️
Sementara itu, di rumah keluarga Eric dan Merry... Suasana ruang keluarga mendadak berubah tegang.
Eric dan Merry duduk berhadapan dengan beberapa lembar dokumen yang berserakan di atas meja.
Di antara dokumen tersebut terdapat foto Alicia bersama Adrian, bukti transaksi, serta salinan percakapan yang berkaitan dengan Doni.
Merry masih menatap seluruh bukti itu dengan wajah tidak percaya. "Tidak mungkin."
Eric mengangkat wajahnya. "Kita sudah melihat semuanya, Merry."
"Tapi Alicia tidak mungkin melakukan semua ini."
Suara Merry bergetar. "Dia memang keras kepala."
"Kadang dia mengambil keputusan tanpa berpikir panjang."
"Tapi menjebak Naomi sampai sejauh ini?"
Merry menggeleng berkali-kali. "Aku tidak percaya."
Eric menarik napas panjang. Ia sendiri masih berusaha menerima kenyataan yang terpampang di hadapannya.
"Aku juga berharap semua ini tidak benar."
Tangannya mengambil salah satu lembar bukti. "Tapi berapa banyak bukti lagi yang harus kita lihat sebelum kita berhenti membelanya?"
Merry terdiam. Tatapannya kembali jatuh pada foto Alicia. Selama bertahun-tahun, Alicia adalah anak yang paling mereka lindungi.
Apa pun yang diinginkannya, hampir selalu mereka berikan. Ketika Alicia berselisih dengan Naomi, Merry dan Eric lebih sering mencari alasan untuk memahami putri sulung mereka daripada bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Bahkan ketika Naomi terluka oleh sikap Alicia, mereka kerap menganggapnya sebagai masalah kecil di antara saudara.
Karena di mata mereka... Alicia adalah anak yang lebih membutuhkan perhatian.
Namun sekarang... Semua keyakinan itu perlahan runtuh. Merry menggenggam erat salah satu foto.
"Dia benar-benar melakukan semua ini?"
Eric tidak menjawab. Bukan karena tidak tahu.
Melainkan karena, ia sendiri merasa sulit mengucapkan kebenaran tentang putrinya.
Merry mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Aku ingin bicara langsung dengan Alicia."
Suaranya terdengar lirih. "Aku ingin mendengar penjelasan dari mulutnya sendiri."
Eric mengangguk pelan. Kalau dia memang tidak bersalah, biarkan dia menjelaskan semuanya."
Merry menatap foto Alicia cukup lama. Wajah perempuan itu masih terlihat seperti anak yang selama ini ia kenal.
Namun untuk kali ini. Sebuah berita membuat hatinya benar-benar tidak tenang.
Bersambung
terus semangat berkarya thor ❤️🥰❤️🥰