Judul lama : Diagnosis: Falling For You
dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.
dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Honeymoon
Sinar matahari pagi menyelinap lembut di balik celah tirai tipis penthouse, membiaskan pendar keemasan yang hangat di atas tempat tidur king-size. Suasana kamar tidur utama terasa begitu tenang, hanya diisi oleh suara deru napas teratur dari dua insan yang terlelap dalam dekapan hangat.
Nayla terbangun lebih dulu. Kelopak matanya terbuka perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang mulai terang. Sensasi hangat dan kokoh langsung menyapa lengannya—sebuah lengan tegap berotot milik Narendra dilingkarkan erat di sekeliling pinggangnya, mengunci tubuh mungil Nayla rapat-rapat di dada bidang pria itu.
Nayla memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah suaminya yang tertidur lelap dari jarak sangat dekat. Tanpa kacamata dan tanpa raut wajah dingin khas pimpinan operasional rumah sakit, Narendra tampak begitu polos, tampan, dan sangat menggemaskan. Rambut hitamnya jatuh berantakan di dahi, dan deru napas hangatnya menyapu lembut leher Nayla.
Nayla menyunggingkan senyum manis. Hatinya berdesir hebat oleh rasa syukur yang mendalam. Kejadian semalam—kehangatan, kelembutan, dan bisikan janji cinta di bawah pendar lampu temaram—kembali berputar di benaknya, membuat rona merah hangat seketika menyapu kedua pipinya.
Dengan gerakan sangat pelan agar tidak membangunkan suaminya, jemari mungil Nayla terulur mengusap helai rambut di dahi Narendra, lalu turun menyusuri alis tebal dan rahang tegas pria itu.
Namun, sebelum jemari Nayla sempat ditarik kembali, tangan kekar Narendra bergerak cepat menangkap pergelangan tangannya.
Narendra tidak membuka matanya, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat memikat. Dengan satu tarikan lembut, ia menarik Nayla makin rapat ke dadanya, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher hangat sang istri.
"Pagi, Nyonya Adiwijaya," bisik Narendra. Suara baritonnya saat baru bangun tidur terdengar sangat serak, berat, dan memabukkan.
Nayla terkekeh pelan, mengusap punggung tangan suaminya yang melingkar di perutnya. "Pagi, Dokter Bedah. Ternyata kamu udah bangun dari tadi, ya?"
Narendra membuka sepasang mata elangnya. Kilatan kehangatan dan rasa cinta yang begitu pekat memancar di sana saat matanya bertatapan langsung dengan manik mata bening Nayla. Narendra menunduk, mendaratkan kecupan hangat yang cukup lama di bibir manis Nayla, membuat istrinya tersenyum di dalam pertautan bibir mereka.
"Bagaimana aku bisa tidur kalau ada wanita tercantik di dunia yang memandangi aku dari dekat?" goda Narendra rendah, menyusuri garis leher Nayla dengan ibu jarinya, menikmati bekas kecupan hangat semalam yang menghiasi kulit mulus istrinya.
Pipi Nayla makin memerah. "Naren... geli," desah Nayla pelan, menepuk dada bidang suaminya. "Ini udah jam delapan pagi. Katanya hari ini kita mau ke rumah Mama Widya sama Mama Citra buat pamitan sebelum terbang honeymoon?"
Narendra menghembuskan napas berat, menyandarkan dagunya di bahu telanjang Nayla. "Harus berangkat hari ini? Aku masih mau di kamar sama kamu seharian."
"Narendra Adiwijaya..." panggil Nayla dengan nada memperingatkan yang manis, menatap mata suaminya. "Nanti Mama-Mama kita nungguin. Tiket penerbangan kita ke Swiss kan besok pagi jam enam."
Narendra tertawa rendah—suara tawanya begitu lepas dan bahagia. Ia mengepalkan jemarinya di jemari Nayla yang mengenakan cincin pernikahan mereka, lalu mencium punggung tangan istrinya.
"Iya, Sayang. Apapun yang Nyonya Adiwijaya perintahkan, aku turuti," ujar Narendra, melonggarkan pelukannya lalu bangkit duduk di ranjang. Otot-otot dada dan punggungnya yang tegap terpapar bebas di bawah sinar fajar, membuat Nayla seketika membuang muka karena malu.
Narendra terkekeh melihat kepolosan istrinya. Ia merengkuh bahu Nayla dari belakang, berbisik tepat di telinga wanita itu, "Kenapa menunduk, hm? Semalam kamu sudah lihat semuanya."
"Naren! Mandi sana!" seru Nayla panik sambil melempar bantal kecil ke arah suaminya, membuat tawa Narendra membahana di seluruh kamar.
Pukul dua siang, suasana di ruang makan kediaman utama Adiwijaya berlangsung hangat dan penuh gelak tawa.
Mama Widya, Mama Citra, Papa Arsenio, dan Papa Arga duduk mengelilingi meja makan besar yang penuh dengan hidangan lezat. Gibran juga ikut bergabung, sibuk mengunyah buah sambil terus menjahili pasangan pengantin baru di depannya.
"Coba lihat deh, Pa," celetuk Gibran sambil menunjuk ke arah Naren dan Nayla memakai sendoknya. "Naren yang biasanya kalau di rumah sakit mukanya kusam kayak kanebo kering, sekarang mukanya cerah banget kayak lampu LED 50 watt. Beda banget ya efek setelah sah!"
"Gibran," tegur Papa Arsenio tegas tapi tersenyum geli. "Jangan godain sepupumu terus."
Mama Widya tertawa gembira sambil menuangkan teh hangat untuk Nayla. "Biarin aja, Mas. Aku malah seneng banget lihat Naren digodain gini, kapan lagi es batu ini bisa malu - malu kucing. Nayla... kalau Naren nakal selama di Swiss nanti, langsung telepon Mama ya, Sayang."
Nayla tersenyum manis, melirik suaminya yang duduk tegap di sampingnya. "Siap, Mama Widya. Naren janji kok bakal jadi tour guide yang baik."
"Bukan cuma tour guide, Nayla," sahut Mama Citra sambil mengedipkan mata. "Pulang dari Swiss dua minggu lagi, Mama sama Widya sudah nyiapin kamar bayi di rumah ini, loh."
Nayla yang sedang menyesap tehnya seketika tersedak pelan. Narendra dengan sigap mengusap punggung istrinya, lalu memberikan tisu dapur dengan raut wajah sangat perhatian.
"Mama..." gumam Nayla malu-malu, pipinya merona merah.
Narendra menatap para orang tua dengan ketenangan mutlak, lalu merengkuh jemari Nayla di atas meja. "Soal anak, biarkan kami menikmati masa-masa berdua dulu, Ma, Pa. Tapi kalau Tuhan kasih cepat... tentu kami sangat bersyukur."
Pernyataan dewasa dan protektif dari Narendra seketika disambut senyuman haru dan anggukan setuju dari kedua keluarga.
**
Malam harinya, di dalam jet pribadi yang telah disiapkan oleh Adiwijaya Healthcare Group untuk membawa mereka dalam penerbangan menuju Zurich, Swiss.
Lampu kabin telah redup. Di area sofa santai yang luas, Nayla bersandar nyaman di dada bidang Narendra. Selimut bulu lembut membungkus tubuh mereka berdua. Di luar jendela, awan-awan malam membentang luas di bawah pendar sinar bulan.
Narendra mengusap lembut lengan istrinya, membiarkan jemari mereka saling bertaut erat.
"Naren..." panggil Nayla pelan.
"Ya, Sayang?"
"Terima kasih ya," bisik Nayla, mendongak menatap rahang tegas suaminya. "Terima kasih sudah berjuang melewati semua rumitnya masalah kemarin, sudah selalu ada buat melindungi aku, dan sudah memilih aku jadi istri kamu."
Narendra menunduk, mendaratkan ciuman lembut di bibir Nayla, lalu menempelkan kening mereka. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam jiwa Nayla.
"Aku yang harusnya berterima kasih, Sayang," suara bariton Narendra bergetar oleh emosi yang amat dalam. "Kamu adalah jawaban dari seluruh doa aku. Di mana pun kita berada, sebesar apa pun badai di depan nanti... rumah aku adalah kamu."
Nayla tersenyum bahagia, memejamkan mata dan menikmati setiap detik kehangatan di dalam dekapan suaminya.