NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Untuk Kedua Kalinya.

Sampai tiba-tiba oppa melepaskan pelukannya dan bertanya padaku, "Kamu baik-baik saja, Seolhwa?"

Ketika mendengar pertanyaannya itu, oppa seakan tahu bahwa adiknya ini sedang memikirkan banyak hal.

"Aku baik-baik saja, Oppa," jawabku berbohong.

"Kalau ada masalah, cerita ya, sayang? Jangan dipendam sendiri. Oppa akan selalu ada untukmu," sahutnya lagi.

Aku hanya bergumam dalam hati. Bagaimana aku bisa menceritakan semuanya? Bagaimana aku bisa memberitahunya bahwa aku sedang mencari orang tua kandungku, dan bahwa aku sudah mengetahui perasaannya padaku?

Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Aku menepati janjiku untuk makan malam bersama Bora eonnie. Kami sudah berada di tempat makan yang direkomendasikan olehnya.

"S-Seolhwa, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanyanya ragu-ragu.

"Tanya apa, Eonnie?" sahutku penasaran.

"Hmm... a-apa Hwi Sol sudah punya pacar?" tanyanya lagi.

"Oppa? Mana mungkin dia punya pacar. Oppa hanya sibuk dengan pekerjaannya dan mengurusku. Memangnya kenapa, Eonnie?" balasku.

Sendok dan garpu yang berada di kedua tangannya ia letakkan terlebih dahulu sambil menatapku penuh harap.

"S-sebenarnya, aku menyukai oppamu sejak kami masih sekolah dulu, Seolhwa..." ucapnya dengan wajah yang tersipu malu.

Mendengar hal itu, aku tidak terlalu terkejut karena memang dari dulu sudah banyak teman wanita oppa yang mengatakan hal yang sama padaku dan memintaku membantu mereka agar bisa dekat dengannya. Namun, tidak ada satu pun wanita yang berhasil mendapatkan balasan perasaannya.

Sebenarnya ini adalah hal yang baik untuk kami bertiga. Jika oppa bisa menyukai Bora eonnie dan berhenti menyukaiku, aku tidak perlu merasa bersalah dan terbebani lagi oleh perasaannya.

Namun, di sisi lain, entah mengapa ada perasaan tidak rela jika oppa bersama wanita lain. Padahal kemarin aku sendiri yang menyuruhnya untuk memiliki pasangan.

Apa sebenarnya perasaan aneh ini?

Aku selalu menyangkalnya. Aku tidak ingin menjadi egois. Aku juga ingin melihat oppa bahagia dan melupakan perasaannya padaku.

"Bukankah dulu Eonnie dan Oppa pernah digosipkan dekat?" tanyaku.

"Ah, iya memang. Tapi itu hanya gosip, Seolhwa," jawabnya.

"Kenapa Eonnie menyukai Hwi Sol oppa? Apa yang membuat Eonnie jatuh cinta padanya?"

"Hwi Sol adalah pria yang baik. Dia memiliki hati yang tulus. Dia juga selalu memikirkan orang lain lebih dahulu daripada dirinya sendiri. Aku merasa jika aku bisa dicintai oleh pria seperti dia, aku akan menjadi wanita yang sangat beruntung," ujarnya.

Aku hanya bisa terdiam setelah mendengar perkataannya.

Aku adalah wanita beruntung itu.

Gumamku dalam hati.

Bora eonnie meminta bantuanku agar bisa lebih dekat dengan oppa. Dan aku pun menyetujui hal itu, meskipun ada rasa yang mengganjal di hati dan aku tidak tahu apa arti perasaan yang tidak biasa itu.

Sepulang dari makan malam bersama Eonnie, aku melihat seorang pria tampan dengan tubuh proporsional berdiri di depan rumahku.

"Eoh? Eun Dam?" ujarku kaget.

"Selamat malam, Tuan Putri," sahutnya sambil membungkukkan badan dan menyilangkan satu kaki ke belakang seolah sedang menyambut seorang putri kerajaan.

Aku yang melihat tingkah menggemaskannya hanya bisa terkekeh.

Sampai akhirnya ia memberikan sebuket bunga mawar merah muda yang sejak tadi disembunyikannya di belakang punggung.

"Bunga yang cantik untuk wanita yang jauh lebih cantik," katanya sambil menyerahkan bunga itu kepadaku.

"Wah! Indah sekali!" balasku dengan senang. "Terima kasih ya..."

"Apa kamu menyukainya?" tanyanya untuk memastikan.

"Iya! Aku suka sekali!" sahutku sambil mengangguk dan tersenyum bahagia.

"Maaf ya, aku datang tanpa mengabarimu terlebih dahulu. Aku sengaja ingin memberimu kejutan," katanya sambil tertawa kecil.

"Iya, tidak apa-apa. Aku justru sangat se—"

Namun, sebelum sempat melanjutkan ucapanku, cahaya lampu mobil Hwi Sol oppa menyinari wajahku dan Eun Dam.

Oppa turun dari mobil dengan tatapan sedikit terkejut. Pandangannya bergantian menatap Eun Dam dan bunga yang berada dalam genggamanku.

Situasi macam apa ini?

Mengapa rasanya begitu tidak nyaman?

Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aku bingung.

Aku tahu bahwa aku adalah wanita yang oppa cintai. Namun, aku juga sadar bahwa Eun Dam menyukaiku.

Aku berada dalam situasi yang sulit.

Mungkin jika aku tidak pernah membaca buku rahasia oppa, aku masih bisa bersikap seperti biasa. Namun sekarang, semuanya sudah berbeda.

"H-Hyung sudah pulang..." ucap Eun Dam menyapanya.

Oppa hanya tersenyum getir tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu masuk ke dalam rumah.

Eun Dam melirik jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam.

"Sudah malam. Aku pamit pulang ya, Seolhwa. Aku juga harus mengejar bus malam. Yang penting aku sudah melihatmu hari ini," pamitnya.

"Iya. Hati-hati ya. Kabari aku kalau sudah sampai di rumah. Dan terima kasih untuk bunganya," balasku.

"Iya, baik, Tuan Putri," jawabnya dengan senyuman sebelum melangkahkan kaki pergi.

Dia datang ke sini pada malam hari dengan kakinya yang masih sulit berjalan, membawa sebuket bunga, lalu naik bus hanya untuk menemuiku?

Aku terus memandangi punggungnya yang perlahan menghilang dari pandangan.

Setelah Eun Dam benar-benar pergi, aku masuk ke dalam rumah.

Hwi Sol oppa sedang membaca sebuah buku di ruang keluarga. Ia sama sekali tidak menoleh ke arahku saat itu. Fokusnya hanya tertuju pada buku yang sedang dibacanya.

Aku memandanginya sesaat.

Entah kenapa, ia terlihat lebih tampan saat membaca sambil mengenakan kacamata.

Aku memilih bergegas masuk ke kamar setelah beberapa saat memandanginya.

Di sisi lain, Eun Dam membuka sedikit jendela bus malam yang ditumpanginya. Ia menyandarkan tubuhnya sambil menikmati angin malam yang sejuk.

Mengapa begitu sulit mengungkapkan perasaanku?

Eun Dam berbohong ketika mengatakan bahwa ia hanya ingin melihat Seolhwa sebentar.

Tujuan sebenarnya datang ke rumah Seolhwa malam-malam sambil membawa bunga adalah untuk mengutarakan perasaannya.

Namun, seolah takdir belum merestuinya.

Karena sudah dua kali Eun Dam gagal menyatakannya.

Pertama, gagal karena kecelakaan.

Kedua, gagal karena kedatangan Hwi Sol.

***

Kupandangi cermin di malam itu sambil menyisir helai demi helai rambut hitam panjangku yang tebal.Namun, pikiran itu kembali datang dan membuatku meletakkan sisir di atas meja rias yang mewah dan elegan.

Siapa dirimu sebenarnya, Seolhwa?

Siapa orang tua kandungmu?

Siapa keluargamu?

Apa yang sedang mereka lakukan di sana tanpamu?

Apakah mereka pernah sekali saja mencari dan memikirkan keadaanmu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Aku hanya bisa menatap bayanganku sendiri di cermin dengan tatapan kosong.

Menjalani hidup dengan begitu banyak tanda tanya terasa seperti membawa beban yang tak pernah selesai. Aku berjalan di jalan yang gelap, meraba-raba arah tanpa tahu ke mana harus melangkah, tanpa seorang pun yang datang untuk menuntunku.

Mungkinkah aku bisa keluar dari kegelapan ini?

Apakah ada seseorang yang akan datang dan menyinari jalanku?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!