Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab¹¹
Satu minggu berlalu.
Program yang dibuat Alaska benar-benar mengubah rutinitas Naura. Setiap pukul lima pagi, ponselnya pasti berbunyi. Kadang berupa panggilan telepon atau hanya sebuah pesan singkat.
>Bangun, Naura! Jangan pura-pura mati— (Dokter Iblis)
Dokter Iblis, begitulah Naura menamai Alaska di ponselnya. Awalnya Naura selalu membalas dengan berbagai protes. Lama-kelamaan, Naura justru terbiasa. Meski mulutnya masih sering menggerutu, ia tak pernah lagi melewatkan jadwal olahraga.
Hasilnya memang belum terlalu terlihat, berat badannya baru turun beberapa kilogram. Namun wajahnya mulai tampak lebih segar, tubuhnya juga terasa jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Yang paling terasa adalah kepercayaan dirinya perlahan kembali.
Pagi itu, Naura berdiri di depan cermin kamar. Ia mengenakan setelan jas berwarna putih gading dipadukan dengan celana panjang hitam. Rambutnya yang dulu selalu diikat sederhana kini ditata rapi, wajahnya hanya menggunakan riasan tipis yang membuatnya terlihat lebih cerah.
Ia memang belum kembali selangsing dulu, tetapi penampilannya jauh lebih elegan.
Tok...
Tok...
Tok...
"Kau siap?" Suara Kakek Guntur terdengar dari luar.
"Sebentar, Kek."
Naura merapikan kerah jasnya sekali lagi sebelum membuka pintu.
Begitu melihat cucunya, Kakek Guntur mengangguk puas. "Begini lebih cocok."
"Masih gemuk loh ini, kek..." Naura tersenyum kecil.
"Tapi kamu terlihat jauh lebih sehat."
Naura terkekeh pelan. "Kalau Alaska yang dengar, pasti dia langsung bilang targetnya masih jauh."
"Kamu sudah hafal sifatnya itu. Dia keras kepala, sama sepertimu."
Mereka berdua tertawa kecil.
Satu jam kemudian...
Mobil memasuki kawasan pusat bisnis paling bergengsi di kota. Sebuah gedung pencakar langit dengan puluhan lantai berdiri megah di hadapan mereka. Tulisan besar di bagian depan membuat Naura mengangkat kepalanya, ARDYNATA GROUP.
Begitu mobil berhenti, puluhan karyawan yang telah berbaris rapi langsung membungkukkan badan.
"Selamat pagi, Tuan Besar."
"Selamat pagi, Nona Naura."
Naura sempat terkejut, Ia tidak pernah menyukai penyambutan yang berlebihan seperti ini.
"Mulai sekarang, kamu harus terbiasa. Kalau tidak, mereka malah bingung." Kakek Guntur seolah memahami isi pikiran cucu itu.
Naura hanya mengangguk pelan.
Begitu memasuki lobi utama, hampir semua karyawan diam-diam memperhatikan dirinya.
"Itu Nona Naura?"
"Putri kandung keluarga Ardynata?"
"Katanya beliau baru kembali."
"Orangnya cantik."
Bisik-bisik itu terdengar samar, Naura tidak menggubrisnya sedikit pun. Ia tetap berjalan dengan tenang mengikuti langkah Kakek Guntur.
Di ruang rapat utama, seluruh direksi telah menunggu. Begitu Naura masuk, mereka langsung berdiri.
"Selamat pagi, Tuan Besar."
"Selamat pagi."
Kakek Guntur duduk di kursi paling depan.
"Saya tidak akan berbasa-basi. Hari ini saya memperkenalkan cucu saya, Naura Ardynata. Mulai hari ini... ia resmi menjabat sebagai Direktur Strategi Ardynata Group."
Beberapa orang langsung bertepuk tangan, namun tidak semuanya. Di sudut meja, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun tampak menyandarkan tubuhnya sambil menyilangkan tangan. Namanya Bastian, salah satu direktur senior. Tatapannya mengarah kepada Naura dengan jelas penuh keraguan.
"Maaf, Tuan Besar. Saya ingin bertanya." Ucap Bastian.
"Silakan." Kakek Guntur mengangguk.
"Apakah keputusan ini tidak terlalu terburu-buru?“
"Nona Naura memang pewaris keluarga." Bastian melanjutkan. "Tapi dunia bisnis... bukan soal garis keturunan. Dia sudah delapan tahun meninggalkan perusahaan. Bagaimana kami bisa yakin cucu Anda ini masih memiliki kemampuan memimpin strategi bisnis sebesar ini?"
Beberapa direktur saling berpandangan, mereka sebenarnya memiliki pertanyaan yang sama.
Naura tidak terlihat tersinggung, Ia justru tersenyum tipis. "Pak Bastian."
"Ya?"
"Boleh saya bertanya balik?"
"Silakan."
"Menurut Bapak, apa aset terbesar sebuah perusahaan?"
"Modal." Bastian menjawab tanpa berpikir lama.
"Kurang tepat." Naura menggeleng.
"Jaringan?"
"Masih kurang."
"Teknologi?"
Naura kembali tersenyum. "Aset terbesar perusahaan adalah manusianya."
Seluruh ruangan mulai memperhatikan.
"Karena modal bisa dicari, teknologi bisa dibeli. Tetapi orang yang tepat, tidak mudah ditemukan." Naura melanjutkan dengan tenang, tatapannya mengarah pada semua orang di ruangan. "Selama delapan tahun terakhir saya memang tidak bekerja di Ardynata Group, tapi bukan berarti saya berhenti belajar. Saya mengikuti perkembangan industri, saya membaca laporan pasar. Dan saya pernah membantu seseorang membangun sebuah perusahaan dari nol."
"Perusahaan apa?" Bastian mengernyit.
"Suatu hari nanti Bapak akan tahu." Naura hanya tersenyum.
Tentu saja ia tidak mungkin mengatakan bahwa perusahaan itu adalah Gentala Group. Perusahaan yang justru dibangun dengan ide-idenya sendiri.
Kakek Guntur memperhatikan cucunya dengan mata berbinar, jawaban Naura jauh lebih matang daripada yang ia bayangkan.
Naura kemudian membuka map yang telah dibawanya. "Sebelum rapat dimulai, saya sudah membaca laporan keuangan tiga tahun terakhir."
Ia mengangkat satu lembar grafik. "Divisi properti mengalami penurunan laba bersih dua belas persen. Divisi logistik kehilangan tiga klien besar. Dan biaya operasional rumah sakit, meningkat delapan belas persen."
Semua direksi langsung membelalak, Naura bahkan baru sehari mempelajari laporan perusahaan. Namun wanita itu sudah menemukan titik-titik masalah yang selama ini mereka perdebatkan berbulan-bulan.
Bastian yang tadinya tampak meremehkan kini mulai duduk tegak.
Naura menutup mapnya perlahan. "Saya tidak datang ke sini karena nama belakang saya, tapi saya datang untuk bekerja. Kalau nanti saya gagal... saya sendiri yang akan mengundurkan diri. Tapi sebelum itu, berikan saya kesempatan membuktikan kemampuan saya."
Ruangan seketika hening.
Beberapa saat kemudian, tepuk tangan terdengar dari ujung meja. Orang pertama yang bertepuk tangan Kakek Guntur, lalu disusul satu direktur dan yang lain. Tak lama kemudian, seluruh ruang rapat dipenuhi suara tepuk tangan.
Sementara di tempat lain...
Di ruang kerjanya, Erwin baru saja menerima laporan bahwa Ardynata Group mengadakan rapat besar dengan pewaris sebenarnya yang baru muncul ke publik.
Ia membaca berita singkat itu tanpa terlalu memperhatikan. Sama sekali tidak terpikir olehnya, bahwa pewaris yang dimaksud adalah mantan istrinya sendiri. Dan ketika hari itu tiba, penyesalan Erwin akan menjadi jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂