"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."
Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.
Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?
Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10: Rahasia Obat Penenang Viona
Malam semakin larut di kediaman keluarga Oliver.
Jam dinding marmer di lobi utama telah berdentang sebelas kali, mengantarkan seluruh sudut mansion ke dalam keheningan yang pekat.
Yoyo sudah tertidur pulas di kamarnya setelah sore yang melelahkan, dengan Goldie yang mendengkur halus di atas karpet bulu di sisi tempat tidurnya.
Di lantai dua, kamar Viona tampak temaram.
Ia hanya menyalakan lampu tidur kecil di sudut meja rias.
Setelah mandi air hangat, Viona duduk di tepi ranjang berukuran king-size tersebut, memeluk kedua lututnya sendiri.
Tubuhnya yang rapuh tampak bergetar kecil.
Malam hari selalu menjadi waktu yang paling menakutkan bagi seorang penderita gangguan kecemasan dan depresi berat seperti dirinya.
Ketika dunia luar berhenti bersuara, suara-suara di dalam kepalanya justru terdengar semakin bising.
Memori tiga tahun dikurung di kamar gelap oleh keluarga Lin, makian bertubi-tubi dari mantan suaminya yang menyebutnya wanita gila tak berguna, hingga bayang-bayang kegagalan masa lalu mendadak bangkit, menyerang dinding pertahanan mentalnya yang sudah ia bangun dengan susah payah sepanjang siang bersama Yoyo.
Napas Viona mulai memburu.
Dadanya terasa menyempit, seolah-olah pasokan oksigen di kamar mewah itu mendadak habis.
Ini adalah tanda-tanda awal dari serangan panik (panic attack) yang sudah sangat ia kenali.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Viona melangkah menuju meja rias.
Ia meraih tas ransel kainnya yang usang, merogoh bagian dasarnya, dan mengeluarkan sebuah botol plastik kecil berwarna jingga dengan label apotek yang sudah agak pudar.
Di dalamnya hanya tersisa dua butir tablet putih—obat penenang dosis rendah yang menjadi talian hidupnya selama ini.
Viona memutar tutup botol itu dengan susah payah karena jarinya yang terus gemetar.
Ketika tutupnya terbuka, karena tangannya yang terlalu lemas, botol itu terlepas dari genggamannya.
"Klotak."
Dua butir obat penenang itu menggelinding di atas lantai marmer, dan botol plastiknya jatuh menimbulkan suara benturan kecil yang memecah keheningan malam. Viona panik.
Ia langsung berlutut di lantai, meraba-raba kegelapan di bawah meja rias untuk mencari obatnya yang terjatuh.
Air mata kecemasan mulai menetes membasahi pipinya yang pucat. Ia merasa sangat tidak berdaya.
Tepat pada saat itu, daun pintu kamarnya yang tidak terkunci rapat perlahan terdorong terbuka.
"Krieeet."
Sesosok tubuh tegap berdiri di ambang pintu.
Oliver, yang kebetulan baru saja turun dari lantai tiga untuk mengambil air minum, menghentikan langkahnya saat mendengar suara benda jatuh dari kamar Viona.
Pria itu masih mengenakan celana rumahan hitam dan kaos oblong senada yang santai.
Tatapan mata elangnya langsung menangkap sosok Viona yang sedang berlutut di lantai dengan tubuh bergetar hebat dan napas yang tersengal-sengal.
Kebekuan di wajah Oliver runtuh seketika, digantikan oleh rasa cemas yang mendalam.
Tanpa memedulikan batasan kontrak di antara mereka, Oliver melangkah lebar memasuki kamar, lalu berlutut di atas lantai tepat di depan Viona.
"Viona? Ada apa denganmu?"
tanya Oliver, suaranya yang biasanya dingin kini bergetar oleh kepanikan yang jarang ia tunjukkan.
Viona mendongak dengan tatapan mata yang blur karena air mata.
Wajahnya seputih kertas, dan bibirnya membiru.
Ia tidak bisa mengeluarkan suara, tangannya hanya menunjuk dengan gemetar ke arah kolong meja rias, tempat dua butir obatnya menggelinding.
"O-obat... obatku..."
bisik Viona dengan sisa-sisa tenaganya.
Oliver mengikuti arah pandangan Viona.
Dengan cepat, ia meraih dua butir tablet putih tersebut dari bawah meja, lalu mengambil botol minum air putih yang ada di atas meja rias.
Ia kembali ke samping Viona, menyodorkan obat dan air tersebut.
Dengan tangan yang dibantu ditopang oleh tangan kokoh Oliver, Viona menelan obat penenang itu dan meminum airnya hingga tandas.
Namun, obat penenang membutuhkan waktu setidaknya lima belas hingga dua puluh menit untuk meresap dan menenangkan sistem saraf yang sedang bergejolak.
Tubuh Viona masih bergetar hebat, dan napasnya masih pendek-pendek.
Rasa takut seolah-olah sedang mencengkeram jantungnya erat-erat.
Melihat wanita di depannya sedang mengalami serangan mental yang hebat—kondisi yang sangat ia pahami karena ia sendiri sering mengalaminya di lantai tiga—Oliver tahu bahwa obat saja tidak akan cukup.
Viona membutuhkan jangkar nyata untuk menariknya kembali dari kegelapan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Oliver mengulurkan kedua lengannya yang kekar.
Dengan satu gerakan lembut namun penuh otoritas yang protektif, ia menarik tubuh rapuh Viona ke dalam pelukannya.
"Deg."
Viona tersentak kecil, namun ia terlalu lemas untuk memberontak.
Wajahnya terbenam di dada bidang Oliver yang hangat.
Aroma kayu cendana yang maskulin, dingin, namun menenangkan langsung menyeruak, membungkus indra penciumannya.
Untuk pertama kalinya, Viona merasakan detak jantung seseorang yang begitu kuat dan konstan di dekat telinganya.
Detak jantung Oliver seolah menjadi ritme baru yang memaksanya untuk menyamakan tempo napasnya yang berantakan.
"Tarik napas perlahan, Viona,"
bisik Oliver tepat di pucuk kepala wanita itu. Suaranya rendah, berat, dan begitu menenangkan—jauh dari kesan tirani bisnis yang kejam.
"Ikuti napasku. Hembuskan perlahan. Kau aman di sini. Tidak ada yang bisa menyakitimu lagi di rumah ini."
Tangan besar Oliver bergerak naik turun di punggung Viona, memberikan usapan-usapan lambat yang menyalurkan kekuatan dan rasa aman yang absolut.
Pria itu memeluk Viona erat-erat, seolah sedang menahan sepotong kaca yang retak agar tidak pecah berkeping-keping.
Mendengar bisikan Oliver dan merasakan kehangatan pelukan pria itu, air mata Viona mengalir semakin deras, namun kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena rasa lega yang luar biasa.
Selama tiga tahun pernikahannya yang hancur, setiap kali ia mengalami serangan panik, Lin akan memakinya, menyebutnya drama, atau menguncinya di kamar mandi agar tidak mengganggu tidurnya.
Tidak pernah ada satu orang pun yang mau memeluknya di tengah kegelapan, memberi tahu bahwa ia aman.
Perlahan tapi pasti, getaran di tubuh Viona mulai mereda.
Napasnya yang semula memburu kini mulai teratur, mengikuti irama napas Oliver yang stabil.
Obat penenang di dalam tubuhnya juga mulai bekerja, membawa rasa kantuk yang berat akibat kelelahan emosional yang luar biasa.
Setelah memastikan Viona benar-benar tenang, Oliver melonggarkan pelukannya sedikit.
Ia memegang kedua bahu Viona, menatap langsung ke dalam mata jernih wanita itu yang kini masih basah oleh sisa air mata.
"Apakah sudah lebih baik?"
tanya Oliver lembut, jemarinya tanpa sadar bergerak menghapus sisa air mata di pipi Viona dengan ibu jarinya.
Sentuhan itu begitu hangat, membuat jantung Viona berdegup dengan alasan yang berbeda.
Viona mengangguk pelan, wajahnya agak merona karena menyadari posisi mereka yang begitu dekat.
"Iya... sudah jauh lebih baik. Maafkan saya, Oliver. Saya... saya telah menunjukkan sisi memalukan ini di depan Anda. Status saya di sini seharusnya—"
"Cukup, Viona,"
potong Oliver tegas namun tidak ketus. Ia membantu Viona berdiri dari lantai dan menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang yang empuk.
Oliver kemudian duduk di kursi rias yang terletak di hadapan Viona, matanya menatap botol obat jingga yang kini ia pegang.
Oliver memutar botol obat itu di tangannya, membaca label dosisnya, lalu menatap Viona dengan pandangan yang sarat akan rasa ingin tahu sekaligus kepedulian yang mendalam.
"Ini adalah rahasiamu, bukan?"
tanya Oliver pelan.
"Rahasia di balik senyuman energik yang kau tunjukkan pada Yoyo sepanjang siang."
Viona menundukkan kepalanya, jemarinya saling bertautan dengan gugup di atas pangkuannya.
"Iya. Saya menderita major depressive disorder akibat tekanan masa lalu. Siang hari, saya bisa menahannya demi Yoyo karena melihat senyumnya memberi saya energi positif.
Tapi saat malam tiba, ketika semuanya sunyi... ingatan-ingatan buruk itu sering kali datang menyerang kembali tanpa bisa saya kendalikan.
Saya mohon... jangan pecat saya, Oliver. Obat ini selalu bekerja dengan baik, dan saya berjanji kondisi saya ini tidak akan pernah membahayakan Yoyo."
Oliver terdiam selama beberapa saat, memperhatikan ketakutan yang nyata di wajah Viona.
Wanita ini takut dibuang kembali.
Ia takut dicap gila dan kehilangan satu-satunya tempat di mana ia merasa berguna.
Oliver menghela napas panjang.
Ia meletakkan botol obat jingga itu di atas meja rias, lalu menatap Viona dengan mata elangnya yang kini memancarkan ketulusan yang mutlak.
"Aku tidak akan memecatmu, Viona,"
ujar Oliver, membuat Viona mendongak dengan mata melebar karena terkejut.
"Bagaimana mungkin aku memecat wanita yang baru saja mengembalikan tawa putriku? Dan yang paling penting... bagaimana mungkin aku menghakimi seseorang yang sedang bertarung dengan iblis yang sama denganku?"
Oliver menunjuk ke arah botol obat penenang milik Viona, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman sarkastik khas dirinya namun terasa begitu hangat.
"Di lantai tiga, aku punya botol yang persis seperti itu, bahkan dengan dosis yang jauh lebih tinggi. Kita berdua adalah dua orang hancur yang sedang mencoba membangun kembali kehidupan yang retak di rumah ini. Jadi, jangan pernah merasa bersalah atau malu atas penyakitmu di depanku."
Mendengar pengakuan Oliver, dinding kecemasan di hati Viona runtuh sepenuhnya.
Rasa terisolasi yang selama ini menyiksanya menguap begitu saja.
Di rumah mewah yang awalnya ia anggap sebagai tempat kerja kontrak yang dingin, ia justru menemukan seorang belahan jiwa psikologis—pria yang memahami lukanya tanpa perlu ia jelaskan panjang lebar.
"Terima kasih, Oliver..."
bisik Viona, air mata haru kembali menggenang di sudut matanya. "
Terima kasih karena telah memelukku tadi."
Oliver berdiri dari kursinya, berjalan mendekati tempat tidur, dan menarik selimut tebal hingga ke batas dada Viona, memastikan wanita itu merasa hangat dan nyaman.
"Sekarang, tidurlah,"
perintah Oliver, kembali dengan nada otoritasnya yang protektif.
"Mulai malam ini, jika kau merasakan serangan itu datang kembali dan obatmu tidak cukup... kau tidak perlu berlutut sendirian di kegelapan lantai dua ini. Kau tahu persis di mana kamar kerjaku di lantai tiga berada. Pintu itu... akan selalu terbuka untukmu."
Oliver memberikan satu tatapan dalam yang sarat akan emosi yang mulai tumbuh di lubuk hatinya, sebelum akhirnya berbalik, mematikan lampu tidur di sudut meja rias, dan melangkah keluar dari kamar Viona dengan sangat perlahan, menutup pintu tanpa menimbulkan suara.
Di dalam kamar yang kini sepenuhnya gelap, Viona merebahkan tubuhnya.
Ia menarik selimut tebalnya erat-erat. Kali ini, rasa cemas itu tidak kembali lagi.
Di bawah perlindungan kata-kata dan kehangatan pelukan sang tirani dingin yang baru saja ia rasakan, Viona akhirnya bisa memejamkan matanya dengan damai, membiarkan rahasia obat penenangnya menjadi ikatan batin baru yang tak kasatmata yang mengikat hatinya dan hati Oliver lebih erat daripada lembaran kertas kontrak mana pun.