Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kedatangan wanita yang berkuasa
Tepat pukul enam lewat sepuluh pagi hari ini. Hari ini jatuh pada hari Minggu, jadi sekolah diliburkan. Seperti kebiasaanku, aku mulai membereskan setiap sudut ruangan dan menyiapkan segala keperluan di dapur seorang diri. Tak lama kemudian, mataku tertuju pada Fara yang baru saja menuruni anak tangga. Penampilannya begitu rapi, memukau, dan memancarkan keanggunan yang terasa lembut namun tak bisa dipandang sebelah mata.
Ia mengenakan blus berwarna krem lembut dari bahan sutra halus yang jatuh indah di tubuhnya, dengan kerah yang bentuknya anggun dan lengan panjang yang terkulai rapi hingga menyentuh pergelangan tangannya. Dipadukan dengan rok panjang hingga lutut berwarna cokelat keemasan yang berkilau lembut seperti kain satin — terlihat mewah sekali, namun tetap menjaga kesopanan yang sempurna. Sebuah ikat pinggang tipis berwarna emas melingkar rapi di pinggangnya, membuat bentuk tubuhnya terlihat semakin anggun dan proporsional. Rambut panjangnya yang berwarna cokelat keemasan ditata rapi dikuncir rendah, menyisakan beberapa helai halus yang membingkai wajahnya, sementara sepasang anting mutiara kecil berkilau samar setiap kali ia menggerakkan kepalanya.
Setelah memastikan penampilannya sudah rapi, ia melangkah mendekat ke arahku dengan senyum yang hangat dan tatapan yang ramah sekali. “Selamat pagi, Zara. Terima kasih sudah bersiap sedini ini,” ucapnya dengan suara yang lembut dan menenangkan hati.
Aku membalas senyumnya dengan senyumku yang sederhana dan sopan, lalu mengangguk tanda hormat. Melihatnya melangkah keluar rumah, aku pun segera menyelesaikan sisa pekerjaanku. Setelah semuanya beres, aku kembali ke kamar untuk bersiap-siap, dan tak lama kemudian aku pun turun kembali dengan penampilan yang sudah rapi dan sopan.
Hari ini aku mengenakan gaun panjang berwarna krem keemasan yang terasa lembut di mata, dihiasi corak bunga-bunga kecil berwarna merah jingga dan hijau yang tersebar merata — membuatnya terlihat segar dan manis. Bahannya sangat ringan dan jatuh anggun saat melangkah, dengan potongan leher persegi yang diperindah pita halus, serta lengan pendek yang bentuknya seperti kelopak bunga yang lembut. Bagian pinggangnya terpas pas, lalu melebar perlahan ke bawah, sehingga terlihat anggun, alami, dan tetap terasa berkelas tanpa berlebihan. Hari ini aku berniat pergi menjenguk adikku di rumah sakit.
Setelah selesai menemani dan melihat keadaan Aslan, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di kota. Ini adalah kali pertamanya aku bisa berkeliling sendiri, dan tempat yang paling ingin kucari adalah perpustakaan besar yang terletak tepat di tengah kota.
Perpustakaan itu berdiri megah sekali, bangunannya bertingkat dua dengan bentuk yang indah dan rapi. Sejak pertama kali memandangnya, aku sudah bisa merasakan betapa tenang dan berwibawanya tempat ini. Di dalamnya ruangannya luas dan lapang, dipenuhi deretan rak buku yang tinggi menjulang hingga ke langit-langit, penuh dengan buku-buku yang tertata rapi dari lantai dasar sampai ke lantai atas. Meja dan kursi belajarnya terbuat dari kayu yang kokoh dan halus, berpadu dengan lantai berwarna biru tua yang terlihat bersih dan elegan. Tiang-tiang penyangganya berukuran besar dengan warna gelap yang tegas, sementara pagar pembatas di lantai atas terbuat dari kaca bening yang membuat ruangan terasa makin luas. Cahaya matahari masuk dengan leluasa lewat jendela-jendela besar di setiap sisi, membuat seluruh ruangan terang benderang namun tetap terasa sejuk dan damai. Tempat ini sungguh tempat yang paling indah untuk membaca, belajar, dan merenung dengan tenang.
Aku melihat banyak orang yang sedang duduk diam membaca dengan khidmat, lalu berjalan perlahan menyusuri lorong rak buku hingga menemukan satu buku yang menarik perhatianku. Waktu terasa berjalan begitu cepat saat aku tenggelam dalam bacaan itu, sampai aku baru tersadar ketika ruangan mulai terasa makin sepi dan suara petugas memberitahukan bahwa sebentar lagi pintu akan ditutup. Aku pun segera menyimpan kembali buku itu ke tempatnya, lalu berjalan keluar menuju mobil yang sudah menunggu bersamaku.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku terus berputar menyusun rencana untuk masa depanku. Dengan kepercayaan dan bantuan yang diberikan Kak Adrian, aku bertekad untuk segera mengikuti les tambahan, kursus bahasa Inggris tingkat lanjut, serta belajar keterampilan mengoperasikan komputer dengan baik. Semua ini sudah kupikirkan matang-matang, agar aku bisa tumbuh menjadi orang yang lebih pandai, bermanfaat, dan bisa berdiri tegak dengan kekuatanku sendiri.
Sesampainya di rumah, aku melihat bahwa Fara belum pulang. Aku pun melanjutkan kegiatanku sehari-hari sampai menjelang pukul sepuluh malam, tiba-tiba terdengar suara ketukan yang cukup keras di pintu kamarku, disusul suara panggilan seseorang.
“Zara, buka pintunya! Zara!” Suara itu adalah suara Fara, terdengar lelah namun tetap terdengar jelas di telingaku.
Saat itu aku sudah hampir terlelap. Aku mengenakan gaun tidur berwarna krem gading yang bahannya katun halus dan terasa sangat nyaman di kulit, diperindah dengan hiasan renda yang halus serta lipatan kecil di bahu dan lengan yang diikat pita kecil — sederhana namun tetap terasa manis dan anggun.
Aku membuka pintu pelan-pelan sambil mengusap mataku yang masih terasa berat karena kantuk. “Kak Fara, mengapa Kakak baru pulang sampai jam begini?” tanyaku dengan suara yang masih pelan.
Namun Fara tidak sempat menjawab pertanyaanku. Ia hanya melangkah masuk dengan langkah yang terlihat berat dan lelah, lalu langsung menuju tangga menuju kamarnya untuk beristirahat tanpa banyak bicara lagi.
Keesokan harinya, tepat saat aku sudah bersiap dengan seragam sekolah dan hendak melangkah keluar pintu, langkahku terhenti seketika. Mataku tertuju pada seorang wanita yang baru saja turun dari sebuah mobil mewah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Mobil siapa itu? Dan siapakah wanita ini? tanyaku dalam hati. Sosoknya menjulang tinggi, sekitar seratus tujuh puluh sentimeter, sehingga ia terlihat sangat berwibawa sejak berdiri saja.
Wajahnya memiliki garis yang tegas namun tetap terlihat halus dan cantik, kulitnya tampak kencang, bersih, dan bercahaya alami. Matanya berwarna cokelat jernih, tajam namun menyimpan kesan dingin yang membuat orang segan memandangnya lama. Alisnya berbentuk indah dan rapi, namun bibirnya terlihat selalu tertutup rapat seolah tak pernah ingin tersenyum — digantikan oleh raut wajah yang penuh percaya diri dan kekuasaan. Rambutnya berwarna cokelat keemasan yang berkilau indah, terurai bergelombang halus dan jatuh rapi hingga ke bahu, seolah setiap helainya terawat dengan sangat baik.
Ia mengenakan setelan pakaian berwarna biru langit yang lembut namun memancarkan keanggunan yang luar biasa. Bagian atasnya adalah jas pendek berbahan yang halus namun kokoh, dengan bentuk leher yang rapi, kancing ganda yang terpasang rapi, serta ikat pinggang tipis berwarna emas yang memperjelas bentuk tubuhnya. Dipadukan dengan rok panjang yang terbuat dari kain yang ringan dan lapang, melambai lembut setiap kali ia melangkah — membuatnya terlihat anggun, berkelas, namun juga menyimpan ketegasan yang tak bisa disangkal.
Namun saat matanya jatuh menatapku, tatapan itu berubah menjadi dingin dan penuh penghinaan. Supir yang menemaninya segera melangkah mendekat dan berkata dengan sopan namun tegas: “Maaf mengganggu, Nyonya. Izinkan saya memperkenalkan, ini adalah Nyonya Elina, bibi kandung Tuan Adrian yang telah merawat beliau sejak kecil, dan dianggap sebagai ibu kandungnya sendiri.”
Belum sempat aku membungkuk menyapa, Elina sudah melangkah cepat mendekat ke arahku. Tanpa peringatan ia langsung meraih leherku dengan cengkeraman yang kuat dan erat, hingga napasku terasa terhenti seketika. Ia mendekatkan wajahnya ke arahku, menatapku dengan pandangan yang tajam seolah ingin menembus hatiku, lalu berkata dengan nada yang penuh penghinaan: “Aku sungguh tak bisa mengerti apa yang dipikirkan Adrian sampai ia mau menikahi gadis semuda dan setingkatmu ini. Hal ini sungguh memalukan bagi keluarga kami!”
Setelah itu ia melepaskan tangannya secara kasar hingga aku terhuyung mundur. Aku terbatuk-batuk hebat sambil memegang leherku, berusaha keras mengatur napas yang masih terasa sesak. Tanpa mempedulikan keadaan yang kualami, Elina berjalan masuk ke dalam rumah seolah tempat ini adalah miliknya sendiri. Ia menyentuh permukaan meja, melihat ke arah ruang tamu, lalu menuju ke dapur dan memeriksa setiap sudutnya dengan teliti, seolah sedang mencari sesuatu yang salah atau kurang baik. Setelah merasa puas melihat sekeliling, ia kembali berdiri di hadapanku dengan wajah yang masih sama dinginnya.
“Mengapa hanya kau yang ada di sini? Di mana wanita yang satu lagi? Panggil dia segera ke hadapanku!” perintahnya dengan nada yang tak bisa dibantah sedikit pun.
Aku menunduk dalam, suaraku terasa sedikit bergetar saat menjawab: “Baik, Nyonya. Segera kupanggilkan.”
Tak lama kemudian aku kembali turun bersama Fara. Aku bisa melihat bahwa Fara pun tampak cemas dan menahan rasa takut di dalam hatinya. Elina memandang kami berdua dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang menyelidik sekaligus meremehkan, lalu berkata dengan nada yang dingin dan angkuh: “Kalian berdua harus bersiap dan ikut aku hari ini. Nanti akan kukirimkan kendaraan serta pakaian yang pantas untuk dipakai di acara yang akan kita hadiri — karena aku yakin, kalian yang berasal dari kalangan biasa tentu tidak mengerti bagaimana seharusnya wanita dari keluarga terhormat berpakaian dan berperilaku.”
Saat aku hendak membuka mulut untuk meminta penjelasan atau menyampaikan sesuatu, ucapanku langsung terpotong oleh suaranya yang terdengar lantang dan tegas: “Tak perlu banyak bicara! Lakukan saja apa yang sudah kukatakan!”
Kami hanya bisa menunduk dalam diam, tak berani mengangkat wajah sedikit pun sampai suara langkah kakinya menjauh dan pintu tertutup kembali. Baru setelah itu kami berdua berani menarik napas panjang untuk mengurangi rasa takut yang sempat memenuhi dada. Aku menyentuh leherku yang masih terasa perih dan terlihat ada bekas merah samar di sana. Melihat hal itu, Fara semakin tampak cemas dan takut akan sosok wanita yang begitu berkuasa namun juga begitu kejam itu.