Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Langkah kaki Andkay masih terdengar berat menyusuri lorong sekolah. Genggaman tangannya pada pergelangan Lay sama sekali tidak mengendur, membuat gadis itu beberapa kali meringis menahan sakit.
"Kay! Lepasin gue!" teriak Lay sambil berusaha menarik tangannya.
Namun Andkay seolah tidak mendengar.
Tatapannya lurus ke depan. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal kuat.
Beberapa siswa yang melihat kejadian itu hanya bisa saling berpandangan.
"Itu bukannya Lay?"
"Iya."
"Yang tadi dipukul Ahber itu siapa?"
"Andkay."
"Astaga..."
Tak ada seorang pun yang berani menghentikannya.
Mereka hanya menyaksikan Lay terus diseret menuju halaman belakang sekolah.
Tak lama kemudian...
Langkah Andkay berhenti.
Kini mereka berada di tempat yang cukup sepi. Di belakang sekolah hanya ada beberapa pohon besar dan dinding pembatas yang tinggi. Suasana di sana jauh berbeda dibandingkan bagian depan sekolah yang masih ramai.
Andkay akhirnya melepaskan genggaman tangannya.
Lay langsung mengusap pergelangan tangannya yang memerah.
"Kay... kenapa kita ke sini?" tanyanya sambil mencoba mengatur napas.
Andkay membalikkan badan.
Tatapan matanya tertuju lurus kepada Lay.
"Lay..."
Suaranya terdengar pelan.
"Gue ini suka sama lo."
Lay menghela napas pelan.
"Tapi lo selalu nolak gue."
"Andai lo tau berapa kali gue nyoba bilang perasaan gue."
"Dan sekarang..."
"Lo malah nerima Ahber."
Lay menatap wajah Andkay dengan tenang.
"Kay."
"Gue juga suka kok sama Ahber."
"Dan gue anggap lo itu cuma abang yang selalu lindungi gue sama Basyer."
Mendengar kalimat itu, Andkay tersenyum tipis.
Namun senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.
"Gue nggak mau jadi abang."
"Gue mau lebih."
"Lay."
Tatapan Lay perlahan melembut.
"Maaf."
"Tapi gue nggak bisa."
Suasana kembali sunyi.
Suara angin terdengar berembus melewati pepohonan.
Andkay menundukkan kepalanya beberapa detik.
Kemudian kembali menatap Lay.
"Lo tetap abang gue, Andkay."
Kalimat itu justru membuat emosi Andkay semakin sulit dikendalikan.
Brak!
Dengan satu dorongan keras, tubuh Lay membentur dinding.
"Ah!"
Lay meringis kesakitan.
"Kay!?"
Napasnya mulai tidak beraturan.
Tatapan Andkay berubah.
Tidak ada lagi senyum di wajahnya.
"Lay."
"Lo itu milik gue."
"Gue suka sama lo."
"Lo juga harus suka sama gue."
"Gue nggak mau lo anggap gue abang."
"Lo harus nerima gue."
"Hah!? Kay!"
Lay mencoba mendorong tubuh Andkay yang kini semakin mendekat.
Namun tenaga mereka sangat berbeda.
"Lo... lo mau apa, Kay!?" tanya Lay.
Suara gadis itu mulai bergetar.
Wajah Andkay kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Kay..."
panggil Lay lirih.
"Lay..."
balas Andkay.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Namun...
Andkay tiba-tiba memejamkan matanya.
Ia menarik napas panjang.
Kemudian perlahan menjauh.
Beberapa langkah ia mundur hingga memberi jarak di antara mereka.
Tangannya mengusap wajah sendiri dengan kasar.
"Maaf."
Lay masih memandangnya dengan wajah pucat.
"Maaf, Lay."
"Gue cuma..."
"Gue nggak mau lo jadi milik orang lain."
Lay masih diam.
"Setelah yang lo lakuin barusan..."
"Sekarang lo minta maaf?"
Andkay menundukkan kepala.
"Gue nggak bermaksud."
"Gue cuma mau jagain lo."
Lay menggeleng pelan.
"Gak usah."
"Terima kasih."
"Tapi gue nggak akan membutuhkan lo lagi, Kay."
Kalimat itu membuat Andkay terdiam.
"Lo tetap abang gue."
"Tapi setelah hari ini..."
"Yang lo lakuin bikin gue sadar."
Lay menggigit bibir bawahnya.
"Lo pria brengsek."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Lay langsung berbalik.
Ia berlari meninggalkan halaman belakang sekolah tanpa sekali pun menoleh.
"Lay!"
Andkay tidak mengejarnya.
Ia hanya berdiri diam.
Pandangannya mengikuti sosok Lay yang semakin lama semakin menghilang.
"Maaf..."
gumamnya pelan.
"Gue salah."
"Cara yang gue lakuin ke lo salah."
"Andai lo tau hal penting itu..."
"Lo pasti nggak akan pergi dari gue."
"Andai lo tau..."
"Gue nggak akan pernah rela ngelihat lo sama orang lain."
Kedua tangan Andkay kembali mengepal.
"Lo..."
"Lo cuma milik gue, Lay."
Suara burung kembali terdengar.
Tempat itu kembali sunyi.
Di sisi lain.
UKS.
Ruangan kecil itu terasa sangat tenang.
Ahber masih terbaring di atas ranjang dengan mata yang masih tertutup rapat.
Di sampingnya duduk seorang gadis berambut cokelat dengan mata kuning terang yang tampak terus memperhatikan keadaan Ahber.
Gadis itu adalah Eskay Evertyna.
Ia mengembuskan napas pelan.
"Huh..."
Tangannya perlahan merapikan selimut Ahber yang sedikit bergeser.
Tak lama kemudian...
Krik.
Pintu UKS terbuka.
"Permisi, Nak Eskay."
Seorang petugas UKS masuk sambil membawa beberapa obat.
"Kamu bisa kembali ke kelas sekarang."
"Pelajaran akan dimulai lima menit lagi."
Eskay menoleh sebentar.
"Ibu."
"Biarkan saya menjaga Ahber sampai dia bangun."
Petugas UKS tersenyum kecil.
"Kamu dari tadi belum keluar."
"Nanti kamu kelelahan."
Eskay menggeleng pelan.
"Gak apa-apa, Bu."
"Saya tetap di sini."
Petugas UKS mengangguk pelan.
"Baiklah."
"Ibu izinkan."
"Tapi kalau Ahber sudah sadar, kalian harus kembali ke kelas."
"Iya, Bu."
Petugas UKS kemudian keluar dari ruangan.
Suasana kembali sunyi.
Eskay menatap wajah Ahber.
"Ahber..."
"Bangun."
bisiknya pelan.
Sementara itu...
Lay berlari sekencang mungkin melewati lorong sekolah.
Air matanya mulai menggenang.
"Gue minta maaf, Berr."
"Gara-gara gue..."
"Lo dipukul habis-habisan sama Kay."
"Maaf."
"Berr..."
"Semoga lo baik-baik aja."
"Lo nggak boleh terluka."
"Harusnya dari awal gue nggak kenal Andkay."
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Tanpa memedulikan tatapan siswa lain, Lay terus berlari menuju kelasnya.
Sesampainya di depan kelas...
Napasnya sudah tidak beraturan.
"Eeh? Lay."
"Nak, kamu dari mana?"
tanya Ibu Essy yang sedang mengajar Matematika.
"Ibu..."
"Ahber di mana?"
tanya Lay dengan wajah cemas.
Matanya menyapu seluruh isi kelas.
Namun bangku Ahber kosong.
"Ahber dibawa ke UKS tadi, Lay."
jawab salah satu teman sekelasnya.
"U-UKS?"
"Iya."
Lay langsung menatap Ibu Essy.
"Ibu."
"Saya izin menjaga Ahber."
Belum sempat Ibu Essy memberikan jawaban...
Lay sudah lebih dulu berlari meninggalkan kelas menuju UKS.
like + bunga biar semangat deh/Smile/