Demi rasa iba, Arhan menikahi Dira, seorang gadis yatim piatu yang baru kehilangan kedua orang tuanya. Dira mengira pernikahan itu adalah awal dari kehidupan yang penuh kasih sayang. Nyatanya, ia hanya dijadikan istri untuk mengurus rumah, melayani suami, dan merawat ibu mertuanya.
Lima tahun berlalu tanpa kehadiran buah hati. Dira terus menyalahkan dirinya karena dianggap mandul. Ia tak pernah tahu bahwa setiap hari Arhan memberinya pil KB yang dikemas sebagai obat penyubur agar ia tak pernah mengandung.
Ketika alasan "mandul" itu digunakan Arhan untuk menikahi wanita yang sejak dulu dicintainya, hati Dira hancur. Lebih menyakitkan lagi, ia tak sengaja mendengar percakapan yang mengungkap bahwa selama ini dirinya hanyalah seorang babu yang sengaja dipertahankan sampai wanita pujaan Arhan kembali.
Namun, semua kebohongan memiliki waktunya untuk terbongkar. Saat rahasia pil KB akhirnya terungkap, penyesalan mulai menghantui Arhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pil Penyubur
Nadhira berdiri diruang tengah, sorot matanya yang sayu tertuju pada foto pernikahannya dengan Arhan lima tahun yang lalu. Bukan waktu yang sebentar, kini pernikahan Dira dan Arhan sudah menginjak usia lima tahun. Tapi Nadhira mulai merasakan keanehan dalam rumah tangganya.
Sikap Arhan yang selalu dingin padanya, tidak ada ungkapan cinta, ciuman mesra sebelum berangkat kerja, atau pelukan hangat sebelum tidur kegiatan itu tidak pernah Arhan lakukan selama lima tahun menikah dengan Dira.
Menurut Dira Arhan ini tidak sehangat ketika Arhan sebelum mengucap ijab. Dira kira mungkin ini hanyalah sikap Arhan yang sangat cuek padanya. Karena walaupun tidak ada ungkapan cinta, tapi Arhan tetap memberi Dira nafkah lahir maupun batin, tidak pernah membentak dira dan selalu memperhatikan asupan nutrisi setiap pagi untuk Dira. Mungkin perhatian kecil itu adalah sebuah bentuk kasih sayang yang Arhan berikan untuk Dira.
"Ra..." Arhan yang sudah memakai kemeja kerjanya keluar dari kamar sambil menggulung lengan kemejanya.
"Iya mas...?" jawab Dira lembut, wanita mungil yang kini berusia dua puluh lima tahun itu tersenyum hangat pada Arhan.
"Vitamin buat kamu sudah mas siapkan diatas nakas, diminum ya. Biar apa yang sedang kita usahakan cepet terkabul. kita bisa secepatnya memiliki keturunan." ucap Arhan dengan senyum yang terkesan dipaksakan. Tapi Dira tidak menyadari itu.
"Makasih ya mas, nanti Dira minum vitamin nya. Oh ya, Dira sudah siapkan sarapan di meja makan."
Kemudian Dira pergi ke kamar dan meminum pil vitamin berwarna putih, kata Arhan itu adalah pil untuk penyubur rahim agar Dira cepat dikaruniai anak.
Semburat senyuman menghiasi wajah cantiknya dengan polesan makeup sederhana. Kemudian Dira berjalan menyusul suaminya untuk sarapan pagi.
"Kapan kamu akan memiliki keturunan Han, usia pernikahan kamu dengan Nadhira sudah menginjak lima tahun. Ibu mau cucu, apa kamu gak ada niatan buat ajak istri kamu periksa ke dokter, takutnya ada masalah dengan rahim istri kamu." ucap Bu Rena yang sedang menyantap sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh Nadhira. Mereka sarapan tanpa nunggu Nadhira terlebih dahulu.
Nadhira menghentikan langkahnya dibalik tangga rumah, ia ingin mendengar jawaban dari Arhan.
"Sabar ya Bu Arhan sedang usaha dengan Dira, mungkin belum waktunya buat kita untuk memiliki momongan."
"Cepatlah ibu sudah tidak sabar Han.."
Nadhira tampak menghela nafasnya pelan, tangannya kini berada diatas perutnya yang masih rata. Kini tangan itu bergerak mengelus perutnya.
"Ya Allah karuniakanlah seorang anak untuk aku dan mas Arhan." gumam Dira lalu berjalan menuju meja makan.
"Ibu, mas. Gimana masakannya enak? Maaf sekali Dira hanya masak soup ayam dan telur dadar, tadi Dira bangunnya kesiangan." ucap Dira seraya duduk disamping Arhan.
"Gapapa Ra, masakan kamu memang selalu enak." ucap Bu Rena.
Sarapan berjalan tanpa banyak obrolan, semua sibuk dengan fikiran masing-masing. Arhan yang sudah terbayang dengan hadiah yang berada disaku celananya, hadiah untuk seseorang yang teramat istimewa di hati nya.
"Mas..hati-hati ya, kalau mas pulang telat jangan lupa buat hubungi Dira." ucap Dira dengan lembut. Senyum manis selalu terukir pada wajahnya yang sangat manis.
Arhan hanya menganggukkan kepalanya, senyum datar dengan menatap sekilas pada Raya. Senyuman yang terasa hambar untuk ukuran seorang suami.
"Mas berangkat Ra, mas titip ibu. Jangan lupa buat bantu ibu minum obat." ucap Arhan seraya melangkah kearah mobil yang sedang ia panaskan.
Lagi-lagi Raya hanya menatap punggung Arhan yang begitu menjauh darinya. Bahkan Dira belum sempat untuk mencium punggung tangan Arhan, tidak ada lagi kecupan hangat diatas jidat seperti yang Dira harapkan.
Dira melambaikan tangannya saat mobil Arhan melaju keluar dari garasi, tapi Arhan tidak membalas lambaian tangan Dira, mobilnya terus melaju. Senyum Arhan mengembang sepanjang perjalanan menuju kantornya, selain hatinya sedang berbunga-bunga, ia juga bahagia karena posisi ia akan naik satu tingkat di kantornya. satu Minggu lagi Arhan akan diangkat menjadi direktur diperusahaanya.
Dira kembali berkata dengan pekerjaan rumah yang sangat banyak, mulai dari menyapu mengepel mencuci pakaian semuanya Dira lakukan seorang diri tanpa adanya bantuan tangan dari asisten rumah tangga, ditambah lagi Dira harus mengurus Bu Rena yang kadang tidak bisa berjalan dan harus didorong di kursi roda.
Diruang loundry Dira sedang menggosok pakaian yang sudah menggunung, pakaian dirinya, Arhan dan Bu Rena. Semua Raya kerjakan dengan seorang diri. Peluh mengucur membasahi dahinya, bahkan sampai Dira tidak ada waktu untuk merawat dirinya saking sibuk dengan pekerjaan rumah yang sangat banyak.
"Cepek sekali.." keluh Dira. Ia hanya bisa mengeluh seorang diri, karena jika mengeluh didepan Arhan itu hanyalah percuma. Pasti ada saja alasan yang Arhan layangkan pada Dira.
Satu Minggu yang lalu.
"Mas badan Dira pada sakit semua, tulang-tulangnya terasa sangat ngilu. Mungkin ini disebabkan karena Dira terlalu banyak gerak untuk membersihkan rumah sebesar ini, ditambah lagi Dira harus mengurus ibu, bantu angkat badan ibu kalau ibu mau ke air. Mas, Dira boleh ga minta sesuatu?" Dira sambil bersandar pada sandaran ranjang kayu. Sementara Arhan sedang sibuk dengan ponselnya.
"Apa?" Arhan tanpa menoleh ke arah Dira.
"Gaji mas kan sekarang mungkin udah cukup untuk sewa asisten rumah tangga, setidaknya bisa sedikit meringankan pekerjaan rumah Dira. Mas tau ga, Dira keteteran banget ngurus rumah yang lumayan luas ini, ditambah harus masak."
"Kamu gak ikhlas melakukan itu semua Ra, kamu gak mikirin mas juga, kalau cari uang itu capek, lelah dan energi terkuras banyak. Dan bukan masalah gaji mas besar atau kecil, tapi mas juga punya kebutuhan yang banyak. Buat nabung, berobat ibu, pajak rumah, mobil siapa yang urus? Semuanya mas yang urus Ra. Mas minta kerja samanya sama kamu. Kamu urus pekerjaan rumah, sementara mas cari uang dengan tenang."
Sejak saat itu Dira tidak mau lagi meminta sesuatu pada suaminya. Dira meras tidak enak dengan jawaban suaminya, Dira merasa hidupnya ini adalah beban bagi suaminya.
"Ra..." Bu Rena tiba-tiba datang.
"Iya Bu.."
"Kamu tau gak, si Resi anaknya Bu Ratih baru tiga bulan menikah sekarang sudah isi lagi. Kamu kapan, sudah lima tahun loh Ra, apa gak mau coba ajak Arhan buat cek ke dokter takutnya ada masalah pada rahim kamu Ra?"
Pertanyaan itu lagi, awalnya Dira tidak merasa tersinggung dengan omongan seperti itu. Tapi lama kelamaan Dira juga merasa tidak nyaman dan membuat hatinya nyelekit.
"Iya Bu, nanti Dira coba buat ajak mas Arhan, tapi semoga saja rahim Dira sehat. Sejauh ini mas Arhan dan Dira juga sedang mengusahakan."