NovelToon NovelToon
LOOP ZERO

LOOP ZERO

Status: tamat
Genre:Action / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:792
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
​Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
​Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
​Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
​Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: JALUR CEPAT

07:18:05

Vero membuka mata. Tidak ada basa-basi.

Dia langsung menoleh ke belakang, menatap Sarah.

"Kemas barangmu. Kita turun di stasiun berikutnya," perintah Vero tajam.

Sarah, yang baru saja hendak menyalakan laptopnya, ternganga. "Hah? Siapa kamu?"

"Vero. Teman masa depanmu. Kita akan mengejar teroris di Stasiun Pusat, tapi kita tidak bisa naik kereta ini karena kereta ini akan meledak tepat saat sampai. Kita harus lewat jalan darat. Sekarang, tutup laptop itu dan ikut aku ke pintu."

Sikap Vero yang otoriter dan sorot matanya yang tak terbantahkan membuat Sarah bergerak secara refleks. Dia menutup laptopnya, memasukkannya ke tas selempang, dan berdiri.

"Ini penculikan ya?" bisik Sarah panik.

"Ini penyelamatan," koreksi Vero.

Mereka berdiri di depan pintu gerbong, berdesakan dengan penumpang lain yang hendak turun di Stasiun Manggarai.

Vero melihat jam tangannya.

07:30:00.

Kereta mengerem, masuk ke peron Stasiun Manggarai.

Pintu terbuka.

Lautan manusia tumpah ruah. Stasiun Manggarai di jam segini adalah medan perang. Ribuan orang berdesakan pindah peron.

Vero menggenggam tangan Sarah erat-erat. "Jangan lepaskan. Kita terjang."

Vero tidak berjalan mengikuti arus. Dia membelah arus. Dia menggunakan bahunya untuk menabrak siapa saja yang menghalangi jalan.

"Minggir! Darurat! Minggir!"

Mereka menaiki tangga eskalator dengan berlari, menerobos gate keluar dengan melompati palang tiket (Sarah terpaksa merangkak di bawahnya karena ditarik Vero), dan akhirnya keluar dari gedung stasiun menuju area pangkalan ojek dan drop-off.

Panas matahari Jakarta pagi hari langsung menyengat kulit. Suara klakson bersahutan. Asap knalpot menyesakkan dada.

Macet total. Jalanan di depan stasiun adalah parkiran massal.

"Kita mau naik apa?" Sarah terengah-engah. "Gojek? Nggak bakal gerak di macet ini!"

Vero memindai area parkir liar di trotoar.

Matanya mencari kuda besi yang layak. Bebek matik terlalu lambat. Motor sport terlalu lebar untuk nyelip.

Matanya terkunci pada sebuah motor Trail Kawasaki KLX yang diparkir di dekat pos polisi. Motor itu tinggi, ramping, dan bisa melibas trotoar atau separator busway.

Seorang pria berjaket kulit sedang duduk di atasnya sambil merokok, helm full-face tergantung di spion.

Vero berjalan cepat ke arahnya.

"Sarah, pegang tasmu erat-erat."

"Vero, jangan bilang kau mau..."

Vero sampai di depan pemilik motor.

tanpa aba-aba, Vero menarik kerah jaket pria itu dan membantingnya jatuh ke aspal.

"Woy! Bangsat!" Pria itu kaget, rokoknya terlempar.

Vero menaiki motor itu, menyalakan mesin. Kuncinya masih tergantung. Rejeki anak soleh—atau rejeki orang nekat.

"Naik!" teriak Vero pada Sarah.

Sarah ragu sedetik, melihat pemilik motor yang mulai bangkit dengan wajah merah padam mau memukul.

"Maaf Pak!" teriak Sarah, lalu melompat naik ke jok belakang.

Vero menarik gas. Motor trail itu meraung, ban paculnya mencakar aspal, lalu melesat pergi meninggalkan pemiliknya yang berteriak-teriak maling.

07:35:00.

Mereka punya 25 menit untuk menempuh jarak dari Manggarai ke Stasiun Pusat (Kota Tua). Dalam kondisi normal, ini butuh 45 menit sampai satu jam.

Tapi Vero tidak berkendara dengan normal.

"Pegangan!"

Vero memacu motor itu menaiki trotoar, membuat pejalan kaki melompat minggir sambil memaki.

"Gila! Turun ke jalan woy!"

Vero mengabaikan mereka. Dia memotong jalan tikus, masuk ke gang-gang sempit di daerah Menteng Tenggulun, memacu motor melewati jemuran warga dan gerobak bakso.

"Vero! Awas kucing!" jerit Sarah di telinganya.

Vero memiringkan motor, menghindari kucing, lalu kembali gas pol keluar ke jalan raya Cikini.

Macet parah di lampu merah Tugu Tani. Mobil-mobil terkunci bumper ke bumper.

Vero tidak berhenti. Dia melihat celah sempit di antara bus Kopaja dan separator Busway.

Niiiingggg!

Motor trail itu melesat di celah sempit itu, spionnya nyaris menyenggol bodi bus. Sarah memejamkan mata, memeluk pinggang Vero erat-erat, berdoa pada tuhan yang dia ingat.

"Kita kejar waktu, Sarah!" teriak Vero melawan angin. "Kita harus sampai sebelum jam 8!"

"Kenapa?! Kenapa jam 8?!"

"Karena jam 8:01, seseorang di Ruang Kontrol Stasiun akan menekan tombol yang meruntuhkan stasiun itu ke dalam tanah! Kita harus menghentikan bajingan itu!"

Vero memotong jalur masuk ke Harmoni. Polisi lalu lintas meniup peluit, mencoba memberhentikan mereka.

Vero justru menambah gas, mengangkat roda depan sedikit (wheelie) saat melintasi polisi tidur, dan kabur.

Suara sirine polisi terdengar di belakang.

"Bagus," gumam Vero. "Sekarang kita dikejar polisi."

07:50.

Mereka sampai di kawasan Glodok. Lima menit lagi.

Jalanan di sini lebih padat karena pasar pagi.

"Lewat mana?!" teriak Sarah. Jalan di depan buntu oleh truk bongkar muat.

Vero melihat ke kiri. Ada tangga penyeberangan orang (JPO) yang landai.

"Lewat atas!"

"JANGAN GILA!"

Vero membelokkan setang ke kiri, menaiki tangga JPO dengan motor trail itu. Motor melompat-lompat menaiki anak tangga beton.

Orang-orang di atas jembatan penyeberangan berteriak histeris, menempel ke pagar jembatan.

Vero memacu motor di atas jembatan penyeberangan, lalu menuruni tangga di sisi seberang dengan cara meluncur. Suspensi motor bekerja keras meredam hentakan.

Brak!

Mereka mendarat di aspal Jalan Hayam Wuruk yang lebih lengang.

Stasiun Pusat terlihat di depan mata. Gedung tua bergaya Art Deco itu berdiri megah, menyembunyikan kiamat di bawah fondasinya.

07:55.

Vero memacu motor ke pelataran stasiun. Dia tidak mencari parkir. Dia menabrakkan motor itu ke tong sampah di dekat pintu masuk utama, membiarkannya jatuh.

"Turun!"

Sarah melompat turun, kakinya gemetar, rambutnya kusut masai, wajahnya pucat pasi. Dia mual, tapi adrenalin menahannya untuk tidak muntah.

"Ruang Kontrol ada di mana?" tanya Vero sambil berlari masuk ke lobi stasiun.

"Lantai 2! Sayap Barat! Ada tulisan 'Staff Only'!" jawab Sarah, mengingat denah yang pernah dia lihat saat liputan.

Mereka berlari menaiki tangga. Satpam mencoba menahan.

"Pak! Dilarang masuk!"

Vero tidak berhenti. Dia mengeluarkan Glock 19 (yang dia ambil dari Pria Jaket Hitam di loop imajiner—tunggu, di loop ini dia belum mengambil senjata!).

"Sial!" umpat Vero. Dia lupa.

Di loop ini dia turun di Manggarai. Dia tidak pernah melumpuhkan Pria Jaket Hitam. Dia tidak punya pistol.

Dia hanya punya tangan kosong.

"Minggir!" Vero menabrak satpam itu dengan bahu.

Mereka sampai di depan pintu baja bertuliskan RUANG KONTROL OPERASIONAL (OCC).

Pintu itu terkunci elektronik.

Vero melihat jam dinding.

07:58.

Dua menit.

Di dalam sana, si Pengawas sedang bersiap menekan tombol.

Di bawah tanah, Bom Alpha sedang menunggu sinyal.

Di rel, Kereta Kargo Omega sedang mendekat.

Vero mundur, lalu menendang pintu itu sekuat tenaga.

Brak! Tidak bergeming.

"Sarah! Kode akses! Kau tahu cara membobol ini?"

Sarah melihat panel kunci digital itu. "Ini RFID card. Aku butuh kartu staff!"

Vero menoleh ke satpam yang tadi dia tabrak dan sekarang sedang berlari mengejar mereka sambil memegang pentungan.

"Hey! Berhenti!" teriak satpam itu.

Vero tersenyum. "Itu kuncinya."

Vero berbalik, menyongsong satpam itu. Bukan untuk memukul, tapi untuk memeluk dan merogoh saku kemejanya.

Vero menarik kartu ID yang tergantung di leher satpam itu hingga talinya putus.

"Pinjam!"

Vero menempelkan kartu itu ke panel pintu.

Bip. Klik.

Lampu berubah hijau.

Vero mendorong pintu terbuka.

07:59:00.

Satu menit terakhir.

Vero dan Sarah menyerbu masuk ke dalam Ruang Kontrol.

Ruangan itu dingin, penuh dengan layar monitor raksasa yang menampilkan setiap sudut stasiun dan jalur kereta.

Di tengah ruangan, duduk seorang pria dengan kemeja putih rapi, membelakangi mereka. Dia sedang menatap layar utama yang menampilkan Kereta Kargo masuk ke Jalur 10.

Tangannya melayang di atas sebuah tombol di meja konsol.

"Jangan sentuh tombol itu!" teriak Vero.

Pria itu memutar kursi kerjanya perlahan.

Wajahnya tenang. Kacamata membingkai mata yang dingin.

Dia tidak kaget. Dia tersenyum.

"Tamu tak diundang," katanya lembut. "Tepat waktu untuk pertunjukan kembang api."

Vero berlari menerjang.

Pria itu menekan tombol di mejanya.

Bukan tombol bom. Tapi tombol interkom.

"Unit Delta. Bersihkan ruangan."

Dari pintu samping ruangan, dua orang pria berseragam taktis hitam muncul dengan senjata laras panjang. Penjaga pribadi si Pengawas.

Vero berhenti mendadak.

Dia tangan kosong. Jarak 5 meter. Musuh bersenjata lengkap.

"Ah..." desah Vero.

Pria berkemeja putih itu melirik jam tangannya.

08:00:00.

"Sampai jumpa," kata si Pengawas.

Dia menekan tombol lain di mejanya.

Tombol Kiamat.

Di layar monitor, Vero melihat Kereta Kargo di peron bawah meledak.

Dan sedetik kemudian, lantai tempat mereka berdiri berguncang hebat. Bom fondasi meledak.

Ruang Kontrol itu miring. Lantai retak.

Vero melihat Sarah tergelincir jatuh ke arah jendela yang pecah.

"SARAH!"

Gedung itu runtuh.

Sentakan kasar.

Vero membuka mata.

Napasnya tertahan.

"Stasiun Pusat. Pemberhentian terakhir..."

Vero melihat jam tangannya.

07:19:05.

Dia kehilangan satu menit lagi.

Tapi dia tahu wajahnya. Dia tahu lokasinya.

Dan dia tahu kesalahannya: Dia datang tanpa senjata.

"Ruang Kontrol," bisik Vero, matanya menyala dengan dendam. "Ada dua penjaga. Satu Bos. Pintu butuh kartu akses."

Strategi "Jalur Cepat" berhasil membawanya ke sana tepat waktu.

Tapi untuk menang di dalam ruangan itu, dia butuh senjata.

Dan satu-satunya tempat mendapatkan senjata adalah... dari Pria Jaket Hitam di Gerbong 4.

Jadi, rencana untuk Loop ke-18 adalah:

 * Lumpuhkan Pria Jaket Hitam di kereta (ambil pistolnya).

 * Turun di Manggarai.

 * Curi motor.

 * Ngebut ke Stasiun Pusat.

 * Serbu Ruang Kontrol dengan pistol.

Semuanya harus dilakukan dalam 40 menit.

Vero tertawa kecil.

"Misi Impossible," gumamnya. "Tapi siapa peduli? Aku punya nyawa tak terbatas."

Dia bangkit berdiri.

"Sarah. Kita akan kerja lembur lagi."

...****************...

...****************...

1
yumin kwan
keren.... serasa menonton film. ga kebayang mengulang waktu terus, matinya kena bom pula. Terima kasih Kak author....
Ai Emy Ningrum
Vero yg mati berkali kali..aku yg capek 😅😅 time loop kek di pilem Hollywood...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
masih loading kejadian yg menimpa vero
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mati berulang kali ver
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!