NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17: Pertarungan di Balik Layar

Berita buruk itu menyebar lebih cepat dari kilat. Dalam hitungan jam, nama Arkan Adhitama menjadi pembicaraan utama di seluruh kota. Media massa memajang wajahnya dengan judul-judul besar yang menghakimi: "Anak Durhaka atau Kecelakaan Tragis? Fakta Kelam Keluarga Adhitama Terungkap!", "Arkan Adhitama Tersangka Kematian Orang Tuanya, Kirana Hadir Menjadi Saksi Kunci?". Di media sosial, hujatan dan makian berdatangan, orang-orang yang dulu memuji dan menghormati nama besar Adhitama kini dengan mudah berbalik menjatuhkannya, percaya sepenuhnya pada cerita yang disusun rapi oleh Kirana.

Di rumah sederhana milik orang tua Nara, suasana tegang mencekam. Arkan duduk di kursi kayu ruang tamu, wajahnya tegar namun terlihat sangat lelah. Di sekelilingnya berkumpul Nara, Pak Haris, Bu Ibu, dan Bu Inah, serta Pak Wijaya yang baru saja tiba membawa berkas-berkas penting dari kantor pusat.

Nara duduk di samping Arkan, tangannya menggenggam erat tangan pria itu, memberinya kekuatan tanpa kata. Matanya menatap layar ponsel yang terus memutar berita buruk itu, hatinya sakit melihat Arkan difitnah sekejam ini.

"Mereka semua percaya omong kosong itu..." gumam Arkan pelan, suaranya berat. "Dia memutarbalikkan fakta dengan sangat sempurna. Dia membuat dirinya tampak seperti pahlawan yang rela diam demi menjaga nama baik keluarga, sementara aku digambarkan sebagai penjahat yang tidak punya hati."

Pak Wijaya meletakkan tumpukan dokumen di meja, kacamatanya sedikit melorot, wajahnya serius dan penuh tekad.

"Tapi kita punya kebenaran, Tuan Muda. Berkat catatan lama yang tersembunyi di arsip, saya menemukan sesuatu yang sangat penting. Laporan polisi asli, sebelum diubah, dan juga hasil pemeriksaan teknis kendaraan yang pertama kali dilakukan. Lihat ini..." Pak Wijaya menunjuk satu halaman penuh tulisan teknis.

"Dalam laporan awal tertulis jelas: sistem pengereman kendaraan mengalami kerusakan akibat ulah manusia. Ada jejak pemotongan pada kabel rem yang tidak bisa terjadi karena benturan atau keausan biasa. Dan yang paling penting... ada tanggal dan waktu laporan ini diubah. Penandatangan perubahannya adalah... Kirana Alvian."

Mata Arkan membelalak. Seperti ada cahaya terang yang menembus kegelapan di benaknya. Potongan-potongan memori yang hilang mulai berusaha menyatu. Ia ingat malam itu, sebelum berangkat, ada Kirana yang berada di garasi, ada sesuatu yang disembunyikannya saat Arkan mendekat. Dulu Arkan tidak memikirkannya, tapi sekarang... semuanya masuk akal.

"Dia melakukannya..." bisik Arkan, suaranya bergetar karena marah yang luar biasa. "Dia yang merusak mobil itu. Dia yang membunuh Ayah dan Ibu. Dia yang membuatku menderita, hidup dengan rasa bersalah, dan menguasai segalanya. Semua ini rencananya sejak lama."

"Tapi bukti ini saja belum cukup untuk membuktikan dia bersalah di pengadilan," kata Pak Wijaya jujur, menghela napas berat. "Kirana sudah terlalu lama menyiapkan segalanya. Dia punya saksi bayaran, dia menguasai banyak orang di kepolisian dan kejaksaan yang sudah dia suap. Kalau kita cuma membawa dokumen ini, dia akan bilang ini palsu, atau memanipulasi lagi ceritanya. Kita butuh bukti yang lebih kuat. Bukti yang tidak bisa dia sangkal."

Bu Inah yang sedari tadi diam mendengarkan, tiba-tiba berdiri dan berlari kecil menuju sudut ruangan, seolah mengingat sesuatu. Ia membuka tas kain lusuh yang selalu dibawanya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu tua kecil, lapuk dimakan usia. Ia meletakkannya di meja dengan tangan gemetar.

"Ibu Arkan... mendiang Nyonya, beliau pernah memberikannya padaku. Waktu itu beliau merasa curiga pada Kirana, tapi tidak ada bukti. Beliau bilang, 'Bu Inah, simpan ini baik-baik. Kalau nanti ada apa-apa, ini satu-satunya hal yang bisa membuktikan kebenaran'. Beliau berpesan agar baru memberikannya kepada Tuan Arkan saat Tuan sudah cukup dewasa dan kuat untuk menghadapi kebenaran pahit ini."

Arkan membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat sebuah pita kaset kecil dan sebuah buku harian milik ibunya. Arkan mengambil kaset itu, matanya berkaca-kaca.

"Apa ini?"

"Rekaman suara," jawab Bu Inah pelan. "Dulu Nyonya suka merekam percakapan penting. Dia curiga Kirana sering berbuat curang di belakang Tuan dan keluarga, jadi dia memasang alat perekam kecil di ruang kerja. Di dalam sana... ada percakapan Kirana berbicara dengan seseorang tentang rencananya menguasai harta keluarga Adhitama, dan menyebutkan persiapan 'perjalanan terakhir' Ayah dan Ibu. Saat itu aku tidak mengerti, tapi sekarang... semuanya jadi jelas."

Hati Arkan bergetar hebat. Ini adalah senjata terbesar mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa kejahatan Kirana sudah direncanakan jauh sebelumnya.

"Kita harus dengar ini sekarang," kata Arkan tegas. Nara segera mengambil pemutar kaset tua yang ada di lemari, dan dengan hati-hati memutar rekaman itu.

Suara berdesing terdengar, lalu muncul suara wanita muda yang sangat dikenal—suara Kirana, namun nada bicaranya dingin, kasar, dan penuh kebencian, sangat berbeda dari suara manis yang biasa ia pakai.

"Tunggu saja, tidak akan lama lagi. Mereka terlalu lama memegang kekuasaan itu. Arkan cuma anak manja yang mudah dikendalikan, tapi orang tuanya terlalu cerdas. Selama mereka ada, aku tidak akan bisa mengambil semuanya. Semuanya akan selesai saat perjalanan pulang besok malam. Mobil itu... sudah diurus. Dan Arkan? Dia akan selamat, tapi dia akan hancur. Dia akan berpikir dialah pembunuhnya, dan selamanya dia akan bergantung padaku. Dia akan menjadi bonekaku seumur hidup."

Diiringi suara tawa dingin dan mengerikan, rekaman itu berhenti.

Keheningan mencekam menyelimuti ruangan itu. Pak Haris memegang meja agar tidak gemetar, Bu Ibu menutup mulutnya sambil menangis mendengar kejahatan yang begitu kejam itu, dan Arkan... Arkan hanya diam, matanya kering namun tatapannya berubah menjadi tajam dan dingin. Sakit yang ia rasakan telah berubah menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan.

"Dia membunuh mereka demi uang... demi kekuasaan..." suara Arkan rendah namun bergetar. "Dia membunuh orang tuaku, menghancurkan hidupku, dan menyakiti semua orang yang aku cintai... hanya karena ambisinya yang gila itu."

"Sekarang kita punya bukti, Arkan," kata Nara lembut namun tegas, memegang bahu Arkan. "Tapi kita harus berhati-hati. Dia pasti sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dia tidak akan diam saja saat kita membawa rekaman ini ke publik."

Pak Wijaya mengangguk setuju. "Benar. Kalau kita serahkan ini sembarangan, dia bisa saja menghilangkan bukti itu atau menuduh kita yang memalsukannya. Kita harus main cerdas. Kita harus memojokkannya di tempat yang dia tidak bisa berbuat apa-apa, di depan saksi banyak, dan membuat dia mengaku sendiri."

Arkan berdiri, matanya menatap tajam ke luar jendela, ke arah kota besar tempat Kirana sedang bersiap merayakan kemenangannya.

"Besok siang akan diadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa di gedung pusat. Kirana sudah mengumumkan bahwa dia akan resmi ditunjuk sebagai direktur utama dan pemegang kuasa penuh atas seluruh aset keluarga Adhitama, dengan alasan saya 'tidak layak dan terlibat kasus kriminal'. Dia mengundang semua pemegang saham, pers, dan pejabat penting. Dia ingin melengkapi kemenangannya di sana."

Arkan berbalik menatap semua orang di ruangan itu, senyum tipis namun penuh tekad terukir di bibirnya.

"Di situlah kita akan bertemu. Di depan semua orang yang dia bodohi, di depan semua orang yang dia suap dan kendalikan... aku akan bongkar siapa dia sebenarnya. Aku akan kembalikan nama baikku, dan aku akan pastikan dia membayar setiap tetes darah yang telah dia tumpahkan."

 

Keesokan harinya, gedung pencakar langit Adhitama Group tampak lebih megah namun juga lebih dingin dari biasanya. Di lantai paling atas, ruang rapat besar sudah penuh sesak. Para pemegang saham, pengusaha, jurnalis, dan pejabat berkumpul, berbisik-bisik membicarakan skandal yang mengguncang kota ini.

Di kursi utama, duduk Kirana dengan pakaian putih bersih, cantik dan anggun, wajahnya terlihat sedih namun tegas, seolah ia adalah satu-satunya orang yang berjuang menyelamatkan perusahaan dari kehancuran akibat "dosa" Arkan. Di sampingnya berdiri pengacara-pengacaranya dan orang-orang kepercayaannya yang berwajah keras.

"Hadirin sekalian," ucap Kirana dengan suara lembut namun terdengar jelas di seluruh ruangan, mikrofon di depannya menangkap setiap kata. "Saya tahu berita kemarin sangat mengejutkan dan menyedihkan. Saya berusaha merahasiakannya selama ini demi menjaga nama baik almarhum Bapak dan Ibu Adhitama, serta demi masa depan perusahaan ini. Tapi kebenaran tidak bisa dikubur selamanya. Arkan... dia adalah teman masa kecil saya, orang yang sangat saya cintai. Tapi saya tidak bisa membiarkan kejahatan tertutup. Kecelakaan lima tahun lalu bukan musibah semata. Dan sekarang, demi kelangsungan perusahaan dan keadilan hukum, saya harus mengambil alih kendali penuh agar aset keluarga tidak jatuh ke tangan seseorang yang tidak bertanggung jawab dan berbahaya."

Tepuk tangan terdengar samar-samar, bercampur dengan bisikan setuju dari orang-orang yang sudah dibujuk atau disuap oleh Kirana. Kirana tersenyum puas. Segalanya berjalan sesuai rencana. Tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang. Segalanya akan menjadi miliknya sepenuhnya.

Namun, tepat saat Ketua Rapat akan mengetuk palu untuk menyahkan keputusan, pintu besar ruang rapat itu terbuka lebar.

Langkah berat namun tegas terdengar bergema. Arkan masuk, mengenakan setelan jas hitam sederhana namun rapi, wajahnya pucat namun matanya menyala penuh keberanian. Di samping kanannya berjalan Nara, tenang dan tegar, mengenakan pakaian sederhana namun berwibawa, diikuti Pak Wijaya, Bu Inah, dan beberapa petugas kepolisian yang sudah berhasil Pak Wijaya hubungi—petugas yang masih memegang prinsip kebenaran dan tidak dibeli oleh uang Kirana.

Suasana seketika hening. Semua mata tertuju pada mereka. Kirana tertegun, senyumnya langsung lenyap. Ia tidak menyangka Arkan berani muncul di sini, di sarang singa, saat posisinya seolah sudah di ujung jurang.

"Maaf saya terlambat," ucap Arkan tenang, berjalan menuju podium di seberang Kirana, matanya tak lepas menatap wajah wanita itu. "Tapi saya tidak bisa membiarkan penobatan seorang penjahat berlangsung tanpa menyapa, bukan?"

"Arkan..." desis Kirana, berusaha menguasai kembali keadaan, suaranya bergetar karena marah. "Kau berani datang ke sini? Kau lihat semua orang ini? Mereka sudah tahu kebenaran aslimu. Kau pembunuh orang tuamu, kau perusak nama baik keluarga. Polisi bahkan sedang mencarimu! Kau pikir kau bisa berbuat apa saja lagi?"

Arkan tersenyum dingin. Ia menoleh ke arah hadirin, lalu berbicara lantang, suaranya bergema memenuhi ruangan.

"Hadirin sekalian! Selama ini kalian diberitahu satu versi cerita—versi yang dibuat oleh wanita ini, Kirana Alvian. Dia bilang dia malaikat penyelamat, dia bilang dia berkorban segalanya, dia bilang akulah penjahat yang menghancurkan segalanya. Tapi hari ini, saya berdiri di sini untuk memberitahu kalian semua: Semua yang kalian dengar adalah kebohongan besar! Kebohongan yang dibangun di atas darah dan air mata keluarga saya, dan di atas penderitaan orang-orang jujur seperti Nara dan keluarganya!"

Kirana tertawa sinis, meski keringat dingin mulai membasahi tengkuknya. "Bukti? Kau mau bicara bukti? Bukti ada di tangan saya! Dokumen, rekaman pengakuanmu sendiri... semua sudah diserahkan ke penyidik. Kau cuma mengigau karena takut!"

"Benar, ada rekaman," sahut Arkan cepat. "Rekaman yang kau potong, kau sunting, dan kau manipulasi agar terdengar seperti aku mengaku bersalah saat sedang linglung pasca koma. Tapi aku punya rekaman lain. Rekaman yang kau tidak sempat hancurkan. Rekaman yang berisi kebenaran murni tentang siapa sebenarnya yang merencanakan kematian orang tuaku, siapa yang merusak mobil itu, dan siapa yang mengincar harta ini sejak awal."

Arkan memberi isyarat pada Pak Wijaya yang segera menyalakan proyektor dan sistem suara di ruangan itu. Di layar besar muncul dokumen asli laporan kecelakaan yang belum diubah, lengkap dengan tanda tangan saksi asli, dan suara rekaman dari kaset peninggalan ibunya mulai terdengar jelas, bergema di setiap sudut ruangan.

Suara Kirana dari lima tahun lalu, dingin dan penuh kejam, terdengar jelas di telinga semua orang: "...mobil itu sudah diurus. Arkan akan selamat tapi hancur... dia akan jadi bonekaku..."

Wajah Kirana menjadi putih pucat pasi. Kakinya lemas, ia mundur selangkah menahan keterkejutan luar biasa. Bagaimana mungkin rekaman itu masih ada? Ia pikir sudah menghancurkan semuanya!

Di layar juga ditampilkan bukti transaksi keuangan yang mencurigakan, di mana uang perusahaan mengalir ke rekening pribadi Kirana dan ke orang-orang yang disewanya untuk memalsukan bukti.

"Kau... kau memalsukan semuanya! Itu tidak benar!" teriak Kirana histeris, mencoba merobek kabel pengeras suara, namun ditahan oleh orang-orang yang kini mulai sadar dan menjauhinya.

Arkan berjalan mendekatinya perlahan, menatap mata wanita itu tepat, tanpa rasa takut, tanpa rasa bersalah, hanya penuh rasa jijik.

"Kau bilang aku pembunuh, Kirana? Kau yang membunuh mereka. Kau yang mengubah nasibku. Kau yang membuatku menderita bertahun-tahun. Dan kau pikir uang dan kekuasaan bisa membuatmu selamanya lolos dari hukuman? Kau salah. Dunia mungkin mudah ditipu, tapi waktu tidak akan pernah berhenti sampai kebenaran terungkap."

Nara melangkah maju, berdiri di samping Arkan, berbicara pada para wartawan dan hadirin yang kini ternganga menyaksikan kebenaran terkuak.

"Kirana bukan hanya berniat menguasai kekayaan. Dia juga mengancam, memeras, dan berusaha menghancurkan nyawa kami sekeluarga hanya karena kami berani dekat dengan Arkan. Dia pikir dia pemilik tunggal segalanya, tapi dia lupa... bahwa kebenaran punya kekuatan yang jauh lebih besar daripada semua uang di dunia ini."

Petugas kepolisian yang dibawa Arkan segera bergerak maju, menghampiri Kirana yang kini bersandar lemah di dinding, tangannya gemetar hebat, air mata bukan lagi sedih, tapi karena ketakutan dan kemarahan yang meledak.

"Kirana Alvian, kami menahan Anda atas tuduhan pembunuhan berencana, pemalsuan dokumen, penggelapan aset, dan pemerasan," ujar perwira polisi itu tegas sambil memegang surat perintah yang baru saja mereka dapatkan berkat bukti lengkap yang dikumpulkan Arkan.

Kirana menatap Arkan dengan pandangan gila dan penuh dendam, saat tangannya diborgol ke belakang punggungnya. Ia tidak menangis, ia tidak memohon. Ia hanya tersenyum sinis, senyum yang mengerikan.

"Kau pikir kau menang, Arkan? Kau pikir dengan memenjarakanku, semuanya berakhir? Kau pikir kau bisa hidup bahagia bersamanya?" suaranya parau namun tajam. "Kau belum tahu segalanya. Masih ada satu rahasia terakhir... rahasia yang akan membuatmu berlutut dan berharap kau tidak pernah lahir ke dunia ini. Rahasia tentang siapa sebenarnya ayahmu... dan siapa darah yang mengalir di tubuhmu."

"Bawa dia pergi!" perintah Arkan dingin, tidak lagi tergoyahkan oleh ancaman kosong wanita itu. Ia tidak peduli rahasia apa lagi yang tersisa. Saat ini, yang penting adalah iblis itu sudah tidak lagi punya kuasa untuk menyakiti siapa pun.

Saat Kirana diseret keluar dari ruangan itu, diiringi gemuruh suara orang-orang yang mulai menyadari betapa besar penipuan yang telah terjadi, Arkan berbalik menghadap Nara. Ia meraih kedua tangan wanita itu, menatap mata indah yang selalu menjadi cahaya di tengah kegelapan hidupnya.

"Kita berhasil, Nara. Kita bebas. Terima kasih... terima kasih sudah percaya padaku saat seluruh dunia memusuhiku. Terima kasih sudah bertahan."

Nara tersenyum, air mata bahagia menetes di pipinya. Ia memeluk Arkan erat di depan semua orang.

"Aku selalu percaya padamu, Arkan. Dan sekarang... perjuangan kita belum selesai sepenuhnya, kan? Masih ada rahasia terakhir yang dia sebutkan. Tapi apa pun itu, selama kita bersama, kita akan hadapi semuanya."

Arkan mengangguk. Di luar jendela gedung tinggi itu, matahari bersinar terang menembus awan kelabu. Badai besar telah berlalu, namun samar-samar, di balik cakrawala, tersembunyi teka-teki baru yang lebih besar. Kata-kata terakhir Kirana masih berdengung di telinga Arkan, membuatnya sadar bahwa masa lalu keluarga Adhitama menyimpan rahasia yang jauh lebih gelap dan lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!