Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.
Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.
Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.
"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Pintu ruangan kerja yang luas dan beraroma wangi itu terbuka perlahan. Alvin melangkah masuk dengan langkah tegap, tangan kanannya memegang buku catatan tebal dan berkas-berkas laporan yang sudah disusun rapi. Wajahnya serius, siap menyampaikan rincian pekerjaan dan jadwal pertemuan untuk hari itu.
Namun, begitu dia menatap ke arah meja kerja besar di ujung ruangan itu, Alvin sejenak mengerutkan kening bingung.
Zeffrano duduk disana, bersandar santai di kursi kerjanya yang berputar. Tangan kanannya menopang dagu, sementara matanya menatap kosong ke arah jendela kaca besar yang memandang ke pemandangan kota. Di bibirnya, tersungging senyum tipis yang sangat jarang terlihat.
Alvin melangkah lebih dekat.
"Tuan, ini laporan perkembangan proyek ekspansi di wilayah utara, beserta rincian penawaran kerjasama dari beberapa kontraktor. Dan juga, jadwal pertemuan dengan tim hukum pukul sepuluh nanti," lapor Alvin, sambil meletakkan berkas-berkas itu di atas meja kerja, tepat di hadapan majikannya.
Zeffrano tidak menjawab, tidak juga menoleh. Dia masih terpaku pada pandangannya sendiri, pikirannya jelas-jelas tidak ada di ruangan itu, melainkan melayang jauh kembali ke kenangan malam tadi. Kenangan saat Aruna tersenyum malu, saat Aruna tertawa lepas, atau saat tatapan mata wanita itu menatapnya. Aroma wangi rambut Aruna, kehangatan genggaman tangannya... semuanya masih terasa nyata dan hidup di ingatannya.
"Tuan?" panggil Alvin sekali lagi, sedikit menaikkan nada suaranya karena heran. "Laporannya sudah saya letakkan disini. Apakah ada instruksi tambahan?"
Zeffrano berkedip pelan, seolah baru tersadar dari lamunannya yang panjang. Dia menoleh perlahan ke arah asistennya, tatapannya masih sedikit samar dan belum sepenuhnya kembali.
"Eh... ah, baik. Terimakasih, Alvin," jawab Zeffrano sedikit gugup, dia berdeham pelan untuk menata kembali wibawanya yang sempat hilang sejenak. Dia meluruskan punggungnya, berusaha terlihat serius kembali, meski sorot matanya masih berkilat aneh. "Biar aku baca nanti. Tinggalkan saja di situ."
Alvin mengangguk siap, namun dia tidak segera beranjak. Dia berdiri diam di tempatnya, menatap majikannya itu dengan pandangan menyelidik. Sudah bertahun-tahun dia bekerja untuk Zeffrano, belum pernah sekalipun dia melihat pria sedingin, sekeras, dan sefokus ini melamun di tengah jam kerja. Apalagi dengan senyum yang begitu lembut.
"Alvin, ada satu hal lagi," ucap Zeffrano berat, nadanya terdengar sedikit ragu namun juga penuh penasaran.
"Silakan, Tuan. Apa yang ingin Anda tanyakan?" jawab Alvin siap siaga.
Zeffrano berdeham sekali lagi, membetulkan kemejanya seolah sedang menyiapkan diri untuk pembicaraan paling penting dalam hidupnya. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
"Menurutmu... apa yang biasanya disukai oleh wanita muda? Wanita seusia... dua puluh tiga, dua puluh empat tahun?" tanya Zeffrano pelan, suaranya sedikit merendah seolah tidak ingin didengar orang lain.
Alvin mengerutkan keningnya dalam-dalam. Matanya membulat sedikit karena keterkejutan yang nyata. Dia menatap majikannya itu dari atas ke bawah, memastikan apakah dia salah dengar atau tidak.
"Maaf, Tuan... apa pertanyaan Anda tadi?" tanya Alvin memastikan, pikirannya berputar cepat. Wanita muda? Sejak kapan Tuan Zeffrano tertarik membahas selera wanita?
"Apa yang kamu dengar itu benar, Alvin," jawab Zeffrano sedikit ketus karena gugup. Dia memalingkan wajah sedikit, berusaha menyembunyikan rasa malunya. "Aku bertanya, apa kesukaan mereka? Apa yang biasanya membuat mereka senang? Apa yang pantas diberikan sebagai kejutan atau hadiah? Jangan lihat aku seperti itu! Aku hanya... ingin tahu. Untuk keperluan tertentu."
Alvin menahan senyumnya agar tidak merekah lebar. Dia akhirnya paham sekarang. Keanehan ini, senyum-senyum sendiri, dan lamunan majikannya pasti berhubungan dengan satu orang saja, yaitu Nona Aruna.
"Tuan, wanita muda zaman sekarang selera mereka beragam, tapi umumnya mereka menyukai hal-hal yang indah, bermakna, dan tulus. Mereka biasanya suka bunga, cokelat, barang-barang bermerek yang elegan, perhiasan sederhana tapi cantik, atau sekedar waktu berkualitas bersama orang yang mereka sayangi. Banyak juga yang suka tempat-tempat indah, pemandangan bagus, atau hal-hal yang berkesan."
Zeffrano mendengarkan dengan saksama, matanya berkedip-kedip mencoba mencerna jawaban itu. Dia mengerutkan kening, terlihat bingung dan sedikit... kewalahan.
"Bunga? Cokelat? Perhiasan?" gumam Zeffrano pelan. Dia menggelengkan kepalanya pelan. "Bunga cepat layu, cokelat mudah basi... perhiasan? Bukankah itu hal yang biasa? Barang-barang itu... rasanya terlalu umum. Terlalu kuno. Apa tidak ada yang lain? Sesuatu yang lebih... spesial?"
Dia menatap Alvin dengan tatapan meminta penjelasan lebih lanjut.
"Kamu tahu, kan, Aruna itu... dia pernah menolak lamaranku hanya untuk pria muda seperti Rafael. Aku takut kalau aku memberikan hal-hal dasar seperti itu, dia menganggapku kaku atau kuno,"
Alvin benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Dia menatap majikannya itu dengan tatapan yang bercampur antara hormat dan rasa geli yang mendalam.
"Tuan..." ucap Alvin pelan namun tegas. "Anda baru berusia 32 tahun. Anda masih sangat muda, sangat tampan, sangat kaya, dan sangat berkuasa. Anda adalah definisi pria idaman bagi siapa saja. Tapi... jujur saja, cara berpikir Anda dalam hal ini... pikiran Anda ini sudah seperti orang yang berumur enam puluh tahun ke atas,"
"Maksudmu apa?" tanya Zeffrano bingung, alisnya terangkat tinggi. "Aku berpikir terlalu serius? Terlalu rumit?"
"Lebih tepatnya terlalu kaku dan terlalu... jadul, Tuan," jawab Alvin terus terang, "Hal-hal yang Anda anggap sederhana ini, justru biasanya membuat wanita terkesan."
Zeffrano terdiam. Dia menyandarkan punggungnya kembali ke kursi besarnya, menatap Alvin dengan ekspresi tak percaya.
"Aku... kuno?" tanyanya pelan, seolah tidak terima.
Belum sempat Alvin menjawab, suara ketukan pintu terdengar jelas.
"Masuk," ucap Zeffrano tegas, suaranya berat dan berwibawa, jauh berbeda dari nada bingungnya beberapa detik yang lalu.
Pintu terbuka perlahan. Sekretaris pribadi Zeffrano melangkah masuk dengan sopan, dia berhenti sejenak di ambang pintu, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat.
"Maaf mengganggu, Tuan," ucapnya lembut namun jelas. "Ada Nona Aruna di ruang tunggu. Beliau menyampaikan ingin bertemu dengan Anda, katanya ada hal penting yang ingin disampaikan secara langsung. Apakah Anda bersedia menerima kedatangannya?"
Hati Zeffrano seolah berhenti berdetak sepersekian detik. Matanya yang sedingin es itu seketika berkilat cerah, napasnya tertahan sejenak sebelum akhirnya dia menegakkan tubuhnya sepenuhnya.
"Suruh dia masuk."
"Baik, Tuan," jawab sekretaris itu singkat, lalu berbalik keluar menutup pintu kembali.
Tak beberapa lama, pintu ruangan itu kembali terbuka. Aruna melangkah masuk dengan tenang, gerakannya anggun namun terasa tegas.
Alvin yang sedari tadi diam memperhatikan, segera menangkap kode halus berupa kedipan mata dan gerakan kepala kecil dari tuannya. Tanpa perlu diperintah dua kali, Alvin mengangguk hormat, merapikan berkas-berkas di tangannya, lalu berjalan mundur perlahan menuju pintu.
"Maaf, Tuan. Nona Aruna, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Alvin sopan sambil menundukkan kepalanya sedikit, sebelum akhirnya dia keluar dan menutup pintu ruangan itu rapat-rapat, meninggalkan keduanya dalam keheningan yang terasa tebal namun bermakna.
Begitu suara pintu tertutup terdengar, Zeffrano perlahan bergerak. Dia berjalan memutari meja kerja panjangnya dengan langkah santai, dan berhenti tepat di sisi depan meja tersebut. Tubuhnya bersandar pelan pada pinggiran meja, kedua tangannya disilangkan di dada.
"Ada apa? Hal penting apa yang ingin kamu katakan?"
Aruna melangkahkan kakinya mendekat, dia berdiri tepat di hadapan pria itu, jarak di antara keduanya kini tersisa hanya beberapa inci, cukup dekat hingga Aruna bisa merasakan hangatnya aura tubuh Zeffrano dan mencium aroma wangi khas yang selalu melekat padanya.
"Aku datang kesini karena Rafael," ucap Aruna, suaranya tenang, rendah, namun tegas tanpa ada keraguan sedikit pun. Dia menatap lekat wajah tampan di depannya, menangkap sedikit kerutan halus yang muncul di kening Zeffrano begitu nama itu disebut. "Tadi pagi dia minta bertemu. Dia memohon padaku untuk membantunya."
Aruna berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Dia tahu kalau aku sedang dekat denganmu, dan dia memintaku membujukmu agar perusahaan tempat dia bekerja dilibatkan dalam proyek ekspansi wilayah utara milik Mahesa Grup."
Wajah Zeffrano yang dingin dan kaku itu seketika berubah kelam. Kerutan di keningnya semakin dalam, rahangnya mengeras, dan tatapan matanya yang sedingin es kini berubah tajam seolah siap membunuh. Dia menurunkan tangannya dari posisi bersilang di dada, lalu dengan gerakan cepat namun penuh kendali, menarik pinggang Aruna mendekat hingga tubuh wanita itu menempel rapat di antara kedua kakinya. Tak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka, cukup dekat hingga Aruna bisa merasakan getaran amarah yang tertahan mengalir dari tubuh tegap itu.
"Jadi kamu datang kesini demi memohon untuk pria itu. Berani sekali kamu menyebut nama pria lain didepanku, Aruna. Apa kamu tahu apa konsekuensinya?"
-
-
-
Bersambung...
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍