NovelToon NovelToon
In Umbra Penitentiae

In Umbra Penitentiae

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.

Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.

Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 Penyesalan yang Terlambat

Malam semakin larut.

Hujan di luar rumah Ana masih turun pelan, meninggalkan suara tenang yang kontras dengan suasana di dalam rumah itu.

Semua orang kini berada di ruang tamu dalam diam masing-masing.

Sabine tertidur di pangkuan Ajeng setelah terlalu banyak menangis. Dylan duduk dekat jendela sambil memainkan ponselnya namun sesekali melirik ke arah Ana yang masih terlihat pucat.

Sementara Ana duduk diam di sofa tunggal dengan selimut tipis di tubuhnya.

Tatapannya kosong.

Damir memperhatikan anak perempuannya lama sekali sebelum akhirnya memberanikan diri bicara.

“Ela…”

Ana tidak menjawab.

Namun Damir tetap melanjutkan dengan suara pelan yang terdengar jauh lebih tua malam ini.

“Ayah tahu… ayah nggak pantas minta maaf.”

“Karena apa yang ayah lakukan ke kamu terlalu banyak.”

Ana menggenggam ujung selimutnya erat.

“Ayah cuma…”

Pria itu terdiam sebentar seperti sedang mencari keberanian.

“Takut.”

Semua orang perlahan menoleh ke arah Damir.

Bahkan Damar yang sejak tadi dingin mulai memperhatikan ayahnya.

Damir mengusap wajahnya lelah sebelum melanjutkan.

“Waktu kamu datang ke hidup ayah…”

“Ayah memang sayang sama kamu.”

Kalimat itu membuat mata Ana sedikit bergetar.

Damir tersenyum pahit kecil.

“Kamu anak pertama ayah.”

“Mana mungkin ayah nggak sayang.”

“Dulu tiap kamu manggil ayah… ayah seneng.”

“Pas kamu dapet medali skating pertama… ayah bangga banget.”

Suara Damir mulai serak.

“Tapi semuanya berubah waktu Bunda Lavanya hamil Ajeng.”

Lavanya langsung menunduk pelan sambil menangis lagi.

“Kehamilan Bunda waktu itu lemah.”

“Hampir keguguran beberapa kali.”

Damir mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Dan tiap ada masalah…”

“Oma kamu selalu bilang itu karena kamu.”

Ana perlahan mengangkat kepala.

Damir tertawa kecil pahit.

“Bodohnya ayah… ayah percaya.”

Ruangan kembali sunyi.

“Waktu Bunda hampir meninggal pas lahiran Ajeng…” suara Damir pecah, “ayah takut banget.”

Pria itu menatap Ana penuh rasa bersalah.

“Dan waktu itu…”

“Ayah mulai menjauh dari kamu.”

Air mata Ana akhirnya jatuh pelan.

Ia ingat semuanya.

Bagaimana dulu ayahnya perlahan berubah dingin.

Bagaimana perhatian itu mulai hilang sedikit demi sedikit.

Dan bagaimana dirinya mulai dianggap pembawa sial.

“Ayah pikir…”

“Kalau ayah dekat sama kamu…”

“Keluarga ayah bakal hancur.”

Kalimat itu terasa sangat menyakitkan.

Dylan sampai mengepalkan tangannya menahan emosi.

Namun Damir langsung menggeleng sambil menangis.

“Tapi ayah salah.”

“Salah banget.”

“Ayah terlalu fokus lindungi orang lain sampai lupa…”

“Kamu juga anak ayah.”

Tangisan Lavanya pecah mendengar ucapan suaminya.

“Aku juga salah…”

Wanita itu menatap Ana penuh penyesalan.

“Bunda terlalu sibuk sama rasa takut dan cemburu…”

“Sampai nggak sadar kamu cuma anak kecil yang pengen disayang.”

Ana menunduk lagi.

Dadanya terasa sesak mendengar semuanya.

Karena selama bertahun-tahun… yang paling ia inginkan sebenarnya cuma satu.

Penjelasan.

Kenapa semua orang tiba-tiba berubah membencinya.

Dan sekarang saat penjelasan itu akhirnya datang… rasanya justru lebih sakit dari yang ia bayangkan.

Damir menatap Ana lama sebelum akhirnya berkata lirih,

“Setelah kamu pergi…”

“Ayah diam-diam sering lihat kamu.”

Semua orang langsung terkejut.

Ana perlahan mengangkat wajahnya.

Damir tersenyum pahit kecil.

“Waktu kamu latihan skating…”

“Waktu kamu lomba…”

“Ayah sering datang.”

“Tapi ayah nggak pernah berani muncul.”

“Karena ayah takut…”

“Kehadiran ayah malah nyakitin kamu.”

Air mata Ana langsung jatuh semakin deras.

Ia tidak pernah tahu itu.

Tidak pernah tahu kalau ayahnya pernah datang diam-diam melihat dirinya.

“Dan pas kebakaran itu…”

Suara Damir mulai bergetar hebat.

“Waktu ayah dengar kamu masuk buat nyelametin Bunda…”

“Ayah sadar…”

“Kamu nggak pernah jadi pembawa sial.”

“Kamu justru anak paling tulus di keluarga ini.”

Ruangan benar-benar hening.

Hanya suara hujan dan isakan kecil yang terdengar malam itu.

Damir akhirnya berdiri perlahan lalu menundukkan kepalanya di depan Ana.

Sesuatu yang tidak pernah dilakukan pria setinggi dirinya kepada siapa pun.

“Maafin Ayah…”

“Ayah gagal jadi rumah buat kamu.”

Dan malam itu…

Untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun…

Dariela Atlanna Zavira Raespati melihat ayahnya hancur karena penyesalannya sendiri.

1
Agus Tina
bagus ceritanya ...
wulaniii: makasih kak like dan komen yah 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!