JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Denting lonceng di atas pintu kaca ruko menandai kepergian Arlo dan Kevin yang kelaparan menuju warung soto mie di sebelah ruko. Sementara itu, Emilia baru saja pamit melangkah ke toilet lantai bawah setelah menyelesaikan input data manifes ratusan album K-Pop. Dalam sekejap, riuh rendah suara lakban dan kesibukan menyortir barang di lantai satu mereda, menyisakan keheningan yang tenang di bawah embusan pendingin ruangan.
Haura masih duduk di balik meja kerjanya, jemarinya bergerak lambat merapikan tumpukan kertas manifes yang sedikit berantakan. Namun, konsentrasinya buyar seketika saat sebuah bayangan jangkung melangkah mendekat, lalu sepasang tangan kekar bertumpu di atas permukaan meja kayunya.
"Makan bareng yuk."
Haura mendongak. Sepasang matanya langsung berbenturan dengan mata cokelat gelap Marco yang sedang menatapnya lekat. Pemuda itu sudah melepas kemeja flanelnya, menyisakan kaos hitam polos yang membungkus dada bidangnya dengan pas. Rambutnya yang sedikit berantakan akibat terlalu sering diacak sendiri selama bekerja justru membuatnya terlihat makin maskulin.
Haura mengerjapkan matanya, mencoba bersikap biasa saja meski detak jantungnya langsung berkhianat. "Kamu... ngajak aku?"
Marco mendengus geli, seulas senyum miring yang tipis terukir di sudut bibirnya. Ia memundurkan tubuhnya sedikit, menegakkan punggung sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Nggak, gue ngajak angin. Ya lo lah, Tan. Memangnya di ruangan ini yang sisa selain kita berdua siapa lagi?"
Haura memutar bola matanya jengah, menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang mendadak muncul lagi. "Dih, apaan sih. Dasar bocah nggak jelas."
"Gue jelas banget ya, Haura. Jelas lagi nungguin jawaban dari lo," sahut Marco, suaranya merendah, berubah menjadi berat dan serak—nada suara khasnya yang selalu berhasil membuat bulu kuduk Haura meremang halus.
Haura menghela napas pasrah, menaruh pulpennya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kerja. Gengsinya kali ini mengalah karena perutnya memang sudah mulai menyuarakan rasa lapar sejak setengah jam yang lalu. "Mau makan apa?" tanya Haura akhirnya.
"Lo sukanya apa?" Marco balik bertanya. Ia menarik sebuah kursi plastik kosong di dekat meja packing, memutarnya, lalu mendudukinya secara terbalik dengan kedua tangan bertumpu di sandaran kursi—menatap Haura dengan posisi yang sangat kasual namun penuh intimidasi posesif.
Haura tampak berpikir sejenak, mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja. "Apa aja, yang penting nggak manis. Aku lagi ngurangin makanan atau minuman yang terlalu banyak gula. Takut lambung aku sensitif lagi kayak kemarin."
Marco menaikkan sebelah alisnya, mengangguk-angguk paham. "Oke, nggak manis. Jadi lo sukanya yang asin, gurih, atau yang pedes kayak mulut lo kalau lagi ngomelin gue?"
"Marco!" tegur Haura dengan tatapan melotot tajam, yang justru dibalas dengan tawa cekikikan dari pemuda berusia dua puluh tahun itu. "Aku serius ya. Jangan nyari perkara siang-siang begini."
"Iya, iya, Tante Bos," sahut Marco, sisa tawanya masih terdengar seksi di telinga Haura. Ia merogoh ponsel dari saku celana kargonya, membuka aplikasi ojek daring untuk mencari menu makan siang mereka. "Gimana kalau ayam bakar taliwang? Pedes, gurih, asin, gak ada manis-manisnya sama sekali. Cocok kan buat selera Ratu Jastip kita yang jaim ini?"
Haura tampak menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Boleh. Tolong pesenin ya. Level pedesnya yang sedang aja, jangan terlalu pedes. Nanti uangnya aku ganti pakai transfer."
"Gak usah diganti," potong Marco cepat, jarinya bergerak taktis di atas layar ponsel, memesan dua porsi ayam taliwang. "Uang jastip gue kemarin kan belum lo potong. Anggap aja ini modal awal cowok lo buat traktir lo makan siang."
"Kita belum pacaran, Marco Permana! Berapa kali harus aku bilang, hah?!" protes Haura dengan wajah yang mulai memanas sempurna hingga ke daun telinganya. Kalimat "cowok lo" yang keluar dari mulut Marco selalu berhasil menghancurkan dinding pertahanan umurnya yang sudah 38 tahun.
"Iya, tahu, belum diresmiin aja di atas kertas," balas Marco santai, menaruh ponselnya di atas meja Haura setelah menyelesaikan pembayaran digital. Ia kembali mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam manik mata Haura dengan kilat mata yang mendadak berubah menjadi sangat dalam dan intens. "Tapi tindakan kita berdua sejak semalam... apa itu masih bisa disebut cuma sebatas hubungan bos sama anak magang, Haura?"
Haura tertegun, lidahnya mendadak mendadak kaku untuk membalas kalimat telak dari Marco. Kilasan kejadian semalam di bawah pohon palem mansion—bagaimana ia menangis tergugu di dada Marco, bagaimana tangan besar pemuda itu mendekapnya begitu erat seolah ia adalah hal paling berharga di dunia—kembali berputar di benaknya.
"Marco... tolong," bisik Haura, suaranya melemah, kehilangan seluruh keangkuhannya sebagai pemilik ruko. "Jangan bahas itu di sini. Nanti kalau Emilia keluar dari toilet dan denger—"
"Emilia gak bakal denger, dia masih di bawah," potong Marco lembut. Ia mengulurkan tangan kanannya di atas meja, perlahan meraih jemari tangan kanan Haura yang bebas. Ibu jari Marco yang sedikit kapalan karena sering memegang kuas dan pensil gambar bergerak mengusap punggung tangan halus Haura dengan gerakan yang teramat lembut dan menenangkan. "Gue gak bakal maksa lo buat ngakuin hubungan kita di depan anak-anak sekarang, Ra. Gue cuma mau lo jujur sama diri lo sendiri. Lo... udah mulai terbiasa kan sama keberadaan gue?"
Sentuhan hangat di punggung tangannya membuat seluruh tubuh Haura mendadak meremang. Ia menatap tangannya yang tenggelam di dalam genggaman tangan besar Marco yang terasa begitu pas dan kokoh. Gengsi setinggi langit yang ia miliki perlahan-lahan mulai terkikis, digantikan oleh rasa nyaman yang sudah sangat lama tidak ia rasakan dari seorang pria.
Haura tidak menarik tangannya. Ia hanya membuang pandangannya ke arah tumpukan album K-Pop di samping meja, menyembunyikan rona merah yang sudah menjalar hingga ke lehernya. "Kamu... kamu bener-bener berandalan tengil yang keras kepala, Marco."
Marco tersenyum miring, senyuman penuh kemenangan yang kali ini terlihat begitu tulus dan tampan. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya, justru sedikit mempereratnya, menyalurkan kehangatan yang sama seperti semalam. "Gue emang keras kepala. Apalagi kalau tujuannya buat dapetin hati Tante-tante galak yang aslinya cengeng kayak lo."
"Marco!! Aku gak cengeng ya!" pekik Haura menoleh cepat, mencubit punggung tangan Marco dengan tangan kirinya yang bebas, membuat pemuda itu mengaduh pelan namun tetap tertawa cekikikan menolak untuk melepaskan genggamannya.
Di dalam ruko yang sepi itu, di antara tumpukan barang jastip dan album lagu, Haura akhirnya menyadari satu hal. Menu makan siangnya mungkin sama sekali tidak manis, namun kehadiran berondong nekat di hadapannya ini telah berhasil memberikan rasa manis baru yang perlahan mulai menjajah seluruh ruang di dalam hidupnya.
semangattt