"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gimana Tunangan Dulu Aja?
Hari itu, Aryan, Arshaf, dan Kafa sedang menikmati hari libur mereka di apartemen.
Tak ada jadwal kuliah, tak ada pekerjaan sampingan, juga tak ada kegiatan penting lainnya.
Aryan duduk santai di sofa sambil menikmati cemilan dan menonton televisi.
Arshaf sibuk di dapur, bereksperimen dengan resep baru seperti biasa. Laki-laki itu memang paling jago soal memasak.
Sementara Kafa tengah berolahraga di ruang tengah dengan kaus hitam dan celana training.
Suasana apartemen awalnya terasa santai.
Sampai— “Seorang artis bernama Fiona Anastasia mengalami kecelakaan maut di kawasan Tugu Tani subuh tadi.”
Gerakan Kafa seketika terhenti.
Aryan yang sedang memegang remote perlahan menoleh ke belakang.
Begitu pula Arshaf yang langsung berhenti memotong bahan makanan.
“Beruntung nyawa korban masih berhasil diselamatkan. Namun korban mengalami cedera cukup parah dan saat ini tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Diduga korban mengalami kelelahan usai menjalani syuting.”
Ruangan mendadak sunyi.
Tatapan Kafa terpaku pada layar televisi.
Rahangnya mengeras.
Namun beberapa detik kemudian, laki-laki itu justru tertawa kecil hambar sambil mengambil handuk di sofa.
“Gue gak peduli,” ucapnya dingin. “Jadi jangan berharap gue bakal lihat kondisi dia.”
“Tapi, Kaf—”
“Udah, Shaf.” Kafa memotong cepat tanpa menoleh. “Gue gak mau denger apa-apa.”
Arshaf terdiam.
Aryan pun memilih diam.
Mereka tau, Kafa bukan tidak peduli.
Justru karena terlalu peduli, luka itu masih terasa sampai sekarang.
Tiba-tiba ponsel Kafa berdering.
Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya sedikit berubah.
Abi Azzam.
Kafa mengembuskan napas panjang sebelum mengangkat panggilan itu. “Assalamu’alaikum, Bi.”
“Wa’alaikumussalam, Nak,” jawab suara hangat Azzam dari seberang sana. “Kamu di mana?”
“Di apartemen.”
“Kamu sudah lihat berita?”
Kafa memejamkan mata sebentar. “Sudah.”
Hening sesaat.
“Kamu harus ke sana,” ucap Azzam lembut. “Setidaknya tau keadaan ibu kamu.”
Kafa tersenyum tipis pahit. “Untuk apa? Dia punya keluarga, kan?”
“Tapi bagaimanapun juga...” suara Azzam terdengar sabar, “dia tetap ibu kamu, Kafa... Ingat kan kata bunda apa? Jangan memendam kebencian. Maafkan untuk diri kamu sendiri bukan untuk siapa-siapa."
Kalimat itu membuat dada Kafa kembali terasa sesak.
Ia menunduk sambil mengusap wajah kasar.
“Oke,” jawabnya lirih akhirnya. “Aku ke sana... cuma karena Abi yang minta.”
“Iya.” Suara Azzam terdengar lega. “Hati-hati di jalan.”
“Iya, Bi.”
Panggilan pun terputus.
Kafa menurunkan ponselnya perlahan.
Aryan dan Arshaf saling berpandangan sekilas.
Mereka tau satu hal—Kafa mungkin bisa menolak semua orang di dunia ini.
Tapi tidak dengan Azzam.
Laki-laki yang sudah menyelamatkan hidupnya dan membesarkannya seperti anak kandung sendiri.
Panggilan terputus.
Kafa menurunkan ponselnya perlahan.
Aryan bangkit dari sofa. “Gue anter.”
“Gak usah.”
“Lo yakin?”
Kafa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Iya.”
Namun Arshaf tiba-tiba melepas celemek masaknya lalu mengambil kunci motor di meja. “Gue ikut.”
“Shaf—”
“Lo lagi gak stabil.” Arshaf menatapnya datar. “Kalau di jalan pikiran lo kemana-mana gimana?”
Kafa ingin membantah. Tapi akhirnya menyerah. “Yaudah.”
Aryan berjalan mendekat lalu menepuk pundak sahabatnya pelan. “Mau sejahat apa pun masa lalu dia...” ucap Aryan tenang, “jangan sampai hati lo ikut jadi keras, Kaf.”
Kafa tersenyum tipis hambar. “Gue masih belajar.”
Sementara itu...
Di tempat lain.
Zaskia yang sedang berada di kamarnya ikut terpaku melihat berita yang sama di televisi.
Nama Fiona Anastasia langsung membuat pikirannya tertuju pada satu orang.
Kafa.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya pelan sambil meraih ponsel.
Ia tau bagaimana rumitnya hubungan Kafa dengan ibu kandungnya.
Zaskia ragu beberapa saat sebelum akhirnya membuka kontak Kafa.
Jarinyanya menggantung di atas layar.
Ingin menghubungi. Tapi takut.
Bukankah sekarang mereka sudah menjaga jarak?
Namun di sisi lain, ia khawatir.
Sangat khawatir.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Zaskia memberanikan diri mengirim pesan singkat.
"Kak, aku udah lihat berita tentang ibu kandung kakak.
Aku gak tau harus ngomong apa, tapi semoga kakak kuat ya. Hati-hati di jalan kalau Kakak ke rumah sakit. Semoga semuanya dimudahkan sama Allah."
Usai mengirim pesan itu, Zaskia langsung memeluk bantal di pangkuannya erat.
Jantungnya berdegup tidak tenang menunggu balasan.
***
Ketika Kafa tiba di rumah sakit, suasana di sana masih sangat ramai.
Beberapa wartawan berdiri di depan lobby sambil membawa kamera. Para karyawan agensi Fiona juga terlihat mondar-mandir menunggu kabar terbaru mengenai kondisi artis mereka.
Kafa yang baru turun dari mobil langsung memasukkan kedua tangannya ke saku hoodie hitamnya.
Tatapannya datar.
Namun sorot matanya tampak lelah.
Aryan dan Arshaf berjalan di sampingnya sambil memperhatikan keadaan sekitar.
“Masih rame banget,” gumam Arshaf pelan.
Kafa menghembuskan napas kasar. “Lo berdua pulang aja.”
Aryan menoleh. “Kaf—”
“Gue pengen sendiri dulu.” Potong Kafa pelan tanpa melihat mereka. “Tolong.”
Arshaf dan Aryan saling pandang sesaat.
Mereka tau kapan harus memaksa. Dan kapan harus memberi ruang.
Akhirnya Arshaf mengangguk kecil.
“Yaudah.” Ia menepuk pundak Kafa pelan. “Jaga diri lo baik-baik.”
“Kalau butuh sesuatu...” sambung Aryan tenang, “ingat ya, kita selalu ada.”
Kafa tersenyum tipis samar. “Iya.” Suaranya lirih. “Thanks.”
Setelah memastikan Kafa baik-baik saja, Aryan dan Arshaf akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit.
Kini Kafa benar-benar sendiri.
Laki-laki itu memilih duduk di salah satu bangku lorong rumah sakit yang mulai sepi.
Ia menunduk sambil memainkan ponselnya.
Sampai matanya tertuju pada satu pesan.
Zaskia.
Entah kenapa, hanya melihat nama itu saja sudah cukup membuat dadanya sedikit lebih hangat.
Kafa membuka pesan gadis itu perlahan.
Perhatian sederhana dari Zaskia justru membuat pertahanannya runtuh sedikit demi sedikit.
Jarinya bergerak pelan di atas layar.
Dan tanpa banyak berpikir, ia mengetik— "Kakak lagi butuh kamu."
Pesan itu terkirim.
Kafa menatap layar beberapa detik.
Ia bahkan tidak yakin kenapa mengirim kalimat itu.
Mungkin karena lelah.
Atau mungkin... Karena memang hanya Zaskia yang selalu bisa membuatnya merasa tenang.
Tak sampai satu menit, balasan masuk. "Aku kesana sekarang."
***
Langkah Kafa mendadak terhenti tepat beberapa meter sebelum ruang rawat Fiona.
Zaskia yang berjalan di sampingnya ikut berhenti ketika melihat ekspresi laki-laki itu berubah tegang.
Lampu lorong rumah sakit tampak redup dan dingin. Aroma obat-obatan menusuk samar di indera penciuman. Dari balik sudut dekat pintu ruang VIP, terdengar suara percakapan beberapa orang.
“Pokoknya jangan sampai media tau soal alkohol sama obat itu.” Suara laki-laki paruh baya terdengar tegas dan penuh tekanan.
“Kalau berita itu bocor, habis karier Fiona. Sponsor bisa cabut semua.”
“Kami ngerti, Pak. Tapi hasil tes darahnya—”
“Manipulasi aja sebisanya! Bilang karena kelelahan syuting.”
Deg!
Tubuh Kafa membeku.
Tatapannya perlahan berubah kosong.
Di dekat pintu ruangan itu berdiri seorang laki-laki berpenampilan rapi dengan wajah tegang. Di sampingnya ada gadis remaja cantik yang tampak menangis sambil memeluk tas mahalnya. Sementara dua orang lain yang memakai pakaian formal sepertinya merupakan pihak manajemen atau rumah sakit.
Zaskia menoleh pelan ke arah Kafa. Ia bisa melihat jelas perubahan wajah laki-laki itu.
Rahangnya mengeras. Sorot matanya terluka. Kafa tertawa kecil.
Namun tawanya terdengar hambar. “Hebat...” gumamnya lirih. “Bahkan di keadaan kayak gini... yang dipikirin tetap karier.”
Zaskia langsung merasa dadanya ikut sesak mendengar nada bicara itu.
Kafa menunduk sambil mengusap wajahnya kasar. “Kenapa sih...” suaranya pelan sekali. “Kenapa hidup dia harus sehancur ini?”
Zaskia diam. Ia tau Kafa marah.
Tapi lebih dari itu—Kafa kecewa. Sangat kecewa.
Bukan karena Fiona bukan ibu yang baik. Melainkan karena jauh di dalam dirinya... Kafa sebenarnya masih berharap wanita itu berubah.
Walau sedikit.
Walau cuma sekali.
Tangan Zaskia perlahan menggenggam ujung lengan hoodie Kafa.
“Kak...”
Kafa menoleh.
Tatapannya terlihat lelah.
“Aku di sini,” ucap Zaskia lembut.
Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat dada Kafa terasa hangat sekaligus nyeri.
Laki-laki itu menghembuskan napas panjang lalu tersenyum tipis. “Kalau bukan karena Abi... mungkin aku gak bakal datang.”
“Gapapa, itu sudah lebih dari cukup."
“Kakak bingung harus marah... sedih... atau biasa aja.”
“Kalau sakit ya sakit aja, Kak. Gak usah pura-pura kuat terus.”
Ucapan Zaskia membuat Kafa terdiam.
Untuk beberapa detik, lorong rumah sakit terasa sunyi.
Hingga—
Brak!
Pintu ruangan terbuka dari dalam.
Seorang dokter keluar bersama perawat.
Suami Fiona langsung menghampiri dengan wajah panik. “Dokter, istri saya gimana?”
“Pasien sudah sadar sebentar tadi, tapi kondisinya masih lemah. Tolong jangan terlalu banyak orang masuk.”
***
Kafa dan Zaskia masih berada di taman kecil rumah sakit. Suasananya cukup sepi, hanya terdengar suara gesekan daun tertiup angin malam dan langkah samar beberapa orang yang berlalu-lalang.
Zaskia menatap Kafa yang sejak tadi terlihat lebih banyak diam. “Kak, are you okay?”
Kafa menoleh lalu tersenyum tipis. “Iya.”
Padahal jelas terlihat kalau senyum itu dipaksakan.
Zaskia menghela napas pelan. “Kalau kakak butuh cerita... aku selalu siap dengerin.”
Tatapan Kafa melunak. “Makasih.”
Beberapa detik hening.
Lalu tiba-tiba—“Tapi kalau kakak butuh peluk gimana?”
Zaskia langsung menoleh cepat dengan mata membulat. “Kak!”
Kafa tertawa kecil melihat reaksinya. “Bercanda, Kia.”
Tangannya refleks terangkat lalu mengusap pelan pucuk kepala Zaskia yang tertutup hijab, kebiasaan yang dulu sering ia lakukan saat mereka masih berpacaran.
Namun sesaat setelah itu, gerakan tangannya perlahan terhenti.
Kafa seperti baru sadar.
Senyumnya memudar tipis sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali.
“Eh... maaf.”
Zaskia ikut terdiam.
Entah kenapa suasana mendadak terasa canggung.
Padahal dulu hal kecil seperti itu terasa biasa saja. Tapi sekarang, setelah mereka memilih mengakhiri hubungan dan mencoba menjaga batas, sentuhan sederhana tadi justru membuat jantung keduanya berdebar aneh.
Kafa berdeham pelan lalu menyandarkan tubuhnya ke bangku taman.
“Sulit ya ternyata...” gumamnya lirih.
“Apanya?”
“Berusaha biasa aja sama orang yang masih kita suka.”
Zaskia langsung menunduk gugup.
Pipinya perlahan menghangat.
Sementara Kafa hanya tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri.
“Tapi tenang aja,” lanjutnya pelan. “Kakak bakal belajar jaga diri.”
Zaskia menggigit bibir bawahnya pelan sebelum akhirnya ikut duduk di samping Kafa. “Aku juga.”
“Yuk, pulang. Udah siang,” ucap Kafa, berusaha mengalihkan suasana yang mulai terasa canggung.
“Iya, ayo, Kak.”
“Pulang bareng yuk.”
Zaskia menoleh sekilas. “Kakak naik apa?”
“Motor.”
“Kakak bawa motor juga kan?”
Kafa mengangguk kecil.
Barulah Zaskia merasa lega. Setidaknya laki-laki itu tidak berniat memboncengnya lagi seperti kemarin.
Keduanya mulai berjalan berdampingan meninggalkan taman rumah sakit menuju area parkiran.
“Kia.”
“Ya?”
Kafa tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya membuka suara lagi. “Kalau ternyata kita gak jodoh gimana?”
Langkah Zaskia sedikit melambat.
Ia menoleh heran. “Kenapa tiba-tiba bahas itu? Kakak lagi deket sama cewek lain ya?”
Kafa langsung menggeleng cepat. “Jangan overthinking.” Ia tertawa kecil. “Kakak cuma nanya... gimana kalau ternyata kita memang bukan jodoh.”
Zaskia terdiam sesaat.
Tatapannya lurus ke depan, menyoroti lantai yang mereka pijak seolah sedang membayangkan sesuatu yang jauh.
“Kalau kakak gimana?”
“Jawab pertanyaan kakak dulu, Kia.”
Zaskia mengembuskan napas pelan. “Ya nggak gimana-gimana.” Bahunya terangkat kecil. “Manusia kan gak bisa ngelawan takdir. Kalau emang bukan jodoh... paling yang bisa aku lakuin ya menerima.”
“Pasrah banget.”
“Emang harus gimana?” Zaskia menoleh. “Kalau ternyata aku jadi jodoh orang lain, apa kakak bakal minta aku dari suami aku?”
Kafa menyeringai tipis. “Kalau ternyata kakak ngelakuin itu gimana?”
Zaskia langsung melotot. “Kakak gak takut dosa rebutin istri orang?”
Kafa tergelak kecil. “Ya takut.” Ia memasukkan kedua tangan ke saku hoodie. “Tapi mau gimana lagi? Namanya juga sayang.”
Zaskia mendecih pelan sambil menahan malu. “Kalau sayang ya diperjuangin dari awal sebelum Zaskia jadi jodoh orang lain, Kak.”
Kafa langsung terdiam.
Ucapan itu membuatnya spontan menoleh pada Zaskia.
Tatapannya cukup lama sampai gadis itu salah tingkah sendiri.
“Kak...” Zaskia menunduk malu. “Jaga pandangan.”
Kafa buru-buru mengalihkan wajah ke depan sambil menahan senyum kecil. “Iya, Ustadzah.”
Zaskia mendelik kesal, tapi pipinya mulai memerah.
Beberapa langkah kemudian, Kafa kembali bersuara.
“Kalau gitu...”
“Hm?”
“Gimana kalau kita tunangan dulu aja?”
Deg!