NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi seperti Mimpi

Nayla Putri tidak pernah menyangka bahwa tidur terbaik dalam hidupnya justru terjadi setelah malam paling traumatis yang pernah dia alami. Ketika dia membuka mata, sinar matahari pagi sudah menerobos masuk melalui sela-sela gorden jendela kamarnya, membentuk garis-garis cahaya keemasan di atas lantai keramik.

Sesaat, Nayla mengerjap-erjap. Otaknya masih berada dalam mode setengah sadar. Dia meregangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku, lalu menatap langit-langit kamar kontrakannya yang bercat putih sedikit mengelupas di sudut kanan. Segala ingatan tentang omelan Januar, tumpukan berkas revisi jamu herbal, dan ojek daring larut malam terlintas di benaknya.

("Ah, cuma mimpi buruk,") pikir Nayla sambil menghela napas lega. Dia menarik selimutnya lebih tinggi, berniat untuk memejamkan mata kembali selama lima menit sebelum bersiap mandi untuk berangkat ke kantor.

Namun, sedetik kemudian, sebuah memori lanjutan menghantam otaknya bagai gada besi: lampu senter bapak-bapak ronda, wajah panik Pak RT, kalimat ijab kabul yang diucapkan dengan sangat lancar oleh suara bariton asing, dan sebuah jam tangan perak yang berpindah tangan.

Nayla langsung terduduk tegak di atas kasurnya. Matanya membelalak sempurna. Jantungnya berdegup kencang secara instan.

"Itu ... bukan mimpi?!" bisik Nayla pada diri sendiri, suaranya terdengar mencicit panik.

Dia segera memeriksa pergelangan tangan kirinya sendiri, lalu melirik ke arah meja rias kecil di sudut kamar. Di sana, di atas permukaan meja kayu tripleks, tergeletak sebuah buku catatan kecil bersampul cokelat milik Pak RT yang semalam dijadikan pengganti sementara akta nikah, lengkap dengan tanda tangan coret-coret di atas meterai sepuluh ribu rupiah yang tintanya bahkan masih terasa baru.

Nayla menepuk jidatnya dengan keras. "Gusti Allah ... aku benar-benar sudah menikah!"

Ketakutan dan kepanikan yang mendadak kembali itu membuat Nayla langsung melompat turun dari kasur. Dia berjalan dengan langkah berjingkat menuju pintu kamarnya. Dengan sangat perlahan dan hati-hati, seolah-olah sedang mengendap-endap di sarang singa, Nayla memutar kenop pintu dan membukanya sedikit, menyisakan celah sempit untuk mengintip ke arah ruang tamu sekaligus ruang tengah rumah kontrakannya yang mungil.

Pemandangan di luar kamar langsung membuat napas Nayla tertahan.

Di atas sofa panjang berbahan kain murah sewarna cokelat tanah, sesosok tubuh jangkung sedang meringkuk dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Pria itu Gibran Mahardika, alias suaminya yang sah sejak empat jam yang lalu masih mengenakan kemeja flanel kotak-kotak biru semalam.

Kemejanya kini makin kusut, dan karena sofa itu terlalu pendek untuk ukuran tubuhnya yang diperkirakan mencapai seratus delapan puluh sentimeter, kedua kakinya terpaksa menekuk dengan lutut yang menyembul ke atas, sementara sebelah lengannya menutupi matanya dari silau cahaya pagi.

Nayla bersandar di balik pintu, memegangi dadanya yang bergemuruh. ("Sekarang apa yang harus aku lakukan?") pikirnya frustrasi. ("Apakah aku harus membangunkan dia dan membuatkan kopi seperti di sinetron? Atau aku harus mengusir dia dari rumah ini? Tapi secara hukum agama dan negara,eh, negara belum tahu sih kalau dia itu suamiku!")

Saat Nayla sedang sibuk berdebat dengan batinnya sendiri, terdengar suara lenguhan berat dari arah sofa. Nayla kembali mengintip lewat celah pintu.

Gibran tampak bergerak gelisah. Lengannya yang menutupi mata perlahan turun. Pria itu mengerang pelan, memegangi kepalanya yang tampaknya masih didera efek sakit kepala luar biasa akibat mabuk semalam. Dia membuka matanya dengan lambat, mengerjap-erjap menatap langit-langit ruang tamu yang asing, lalu menatap dinding yang dihiasi kalender promosi toko bangunan setempat.

"Aduh ... kepalaku mau pecah ..." Gibran bergumam dengan suara serak khas bangun tidur. Dia mencoba mendudukkan tubuhnya, namun karena ruang yang sempit, lututnya membentur ujung meja kopi kayu dengan cukup keras. "Plak!"

"Sial!" umpat Gibran spontan sambil memegangi lututnya yang kesakitan.

Dia memandang berkeliling dengan ekspresi wajah yang berubah dari menahan sakit menjadi kebingungan yang teramat sangat. Detik berikutnya, ingatan Gibran tampaknya mulai kembali pulih satu per satu. Dia menatap pakaiannya sendiri, lalu menatap pergelangan tangan kirinya yang kini polos tanpa jam tangan perak kesayangannya.

Wajah tampan itu mendadak memucat. Gibran langsung berdiri tegak, membuat sofa tua di bawahnya berdecit nyaring.

"Ini bukan mimpi ..." Gibran berbisik lirih, mengulangi kalimat yang persis sama dengan yang diucapkan Nayla beberapa menit lalu di dalam kamar. "Gue ... gue beneran nikah malam-malam di rumah bapak-bapak ronda?!"

Melihat pria itu sudah bangun dan tampak sangat panik, Nayla tahu dia tidak bisa bersembunyi selamanya di dalam kamar.

Dia menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, menegakkan bahu, lalu mendorong pintu kamarnya hingga terbuka lebar.

Krieeet.

Suara engsel pintu yang bergesekan langsung menarik perhatian Gibran. Pria itu menoleh dengan cepat, matanya bertatapan langsung dengan mata Nayla

Krieeet.

Suara engsel pintu yang bergesekan langsung menarik perhatian Gibran. Pria itu menoleh dengan cepat, matanya bertatapan langsung dengan mata Nayla.

Suasana di dalam rumah kontrakan berukuran minimalis itu mendadak menjadi sangat canggung dan hening, menyisakan suara kicauan burung gereja di luar rumah dan deru motor tetangga yang mulai berangkat kerja.

Nayla berdeham kecil, melipat kedua tangannya di depan dada untuk menutupi rasa gugupnya. "Sudah bangun, Mas?" sapanya dengan nada sedatar mungkin, mencoba terdengar ketus padahal hatinya bergetar hebat.

Gibran menatap Nayla dari ujung kepala sampai ujung kaki. Nayla saat ini hanya mengenakan kaus oblong longgar berwarna abu-abu dan celana kulot hitam, rambut panjangnya diikat asal-asalan ke atas dengan jepitan badai. Sangat jauh dari kesan perempuan anggun yang biasa ditemui Gibran di kelab malam atau lingkungan kantornya. Namun, anehnya, dalam keremangan cahaya pagi tanpa riasan wajah sedikit pun, mata bulat Nayla terlihat sangat jernih dan tegas.

"Kamu ..." Gibran berdeham, mencoba mengembalikan wibawa suaranya yang serak. "Kamu cewek yang semalam, kan? Yang punya rumah ini?

"Pertama, nama saya Nayla Putri. Bukan kamu atau cewek yang semalam," koreksi Nayla dengan ketajaman lidah seorang desainer yang biasa menghadapi revisi klien. "Kedua, ini bukan rumah saya, ini rumah kontrakan bulanan. Dan ketiga, selamat pagi, Mas Gibran. Bagaimana rasanya bangun tidur dengan status baru sebagai suami orang?"

Sindiran telak itu membuat Gibran mati kutu. Pria itu mengusap tengkuknya dengan canggung, wajahnya memerah samar antara rasa malu dan rasa bersalah yang mendalam. "Nayla ... dengar, soal semalam ... gue benar-benar minta maaf. Gue ... gue enggak bermaksud bikin hidup lu hancur begini."

"Gue-lu?" Nayla menaikkan sebelah alisnya.

"Oh, jadi gaya bicara anak Jakarta Selatan aslinya begini kalau efek alkoholnya sudah hilang? Semalam waktu ijab kabul perasaan bahasa Indonesianya baku sekali, Saya terima nikahnya ..

1
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
SANG
Hadi💪👍
falea sezi
lanjut q kasih nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!