NovelToon NovelToon
Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Terlarang
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wandhansari

Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Harga Dari Sebuah Pilihan

Di bab ini kita flashback ke belakang ya guys?. Waktu dimana Pak Atmo kebingungan, dan salah ambil benda milik Kaelric. Dimana benda itu adalah hidup dan matinya Kaelric bahkan semua aset perusahaan baik yang bersih maupun yang usaha gelap. Kaelric murka, Pak Atmo harus mendekam di penjara. Nah, simak ceritanya ya? 

@@@@@@@@@

Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Lampu di ruang tamu kecil itu redup.

Hanya suara kipas tua yang berputar pelan dan napas berat yang berusaha ditahan.

Di sudut ruangan, anaknya terbaring lemah.

Selang kecil terpasang di tangannya.

Wajahnya pucat, tapi tetap mencoba tersenyum setiap kali mata mereka bertemu.

“Pak… besok kita ke rumah sakit lagi, ya?”

Suaranya pelan. Hampir seperti bisikan.

Pak Atmo tidak langsung menjawab.

Tangannya menggenggam ponsel yang layarnya masih menyala, sebuah pesan dari rentenir itu belum hilang.

“Besok terakhir. Kalau tidak bayar, jangan salahkan kami.”

Jarinya gemetar.

“Bapak!"

Suara itu memanggil lagi. Ia  pun menoleh.

Memaksakan senyum yang terasa asing di wajahnya sendiri.

“Iya, nanti kita ke sana.”

Anaknya tersenyum kecil. Percaya dengan apa yang didengarnya. Tanpa ragu. Dan justru itulah yang membuat dadanya terasa semakin sesak.

Sementara, itu di luar rumah, malam terasa dingin. Pak Atmo berdiri sendirian di teras yang sempit. Rokok di tangannya sudah habis sejak tadi tapi ia tidak sadar.

Pikirannya kembali berputar. Rumah sakit. Biaya. Tagihan. Ancaman.

Semuanya menumpuk tanpa jeda. Ia sudah mencoba semuanya. Meminjam ke sana-sini.

Menjual apa yang bisa dijual. Tapi tetap saja itu tidak cukup. Selalu tidak cukup.

Ponselnya kembali bergetar. Masih nomor yang sama. Ia tidak mengangkatnya. Bahkan, dia tidak punya nyali sama sekali.

Namun pesan suara itu tetap masuk. Nada kasarnya tidak perlu didengar ulang untuk dimengerti. Pak Atmo menutup mata. Untuk sesaat saja. Ia berharap semuanya berhenti.

Tapi tidak bisa

Karena di dalam rumah itu ada satu nyawa yang bergantung padanya. Yaitu anaknya sendiri.

Dan saat itulah sebuah pikiran yang selama ini bahkan tidak pernah terlintas dalam benaknya. Akhirnya muncul juga.

Satu-satunya cara bahkan satu kesempatan juga suatu kesalahan.

Tangannya mengepal pelan napasnya menghembus berat. Ia tahu risikonya. Ia tahu akibatnya. Ia tahu juga ini bukan jalan yang benar.

Tapi untuk pertama kalinya Pak Atmo tidak memikirkan benar atau salah. Ia hanya memikirkan satu hal, yaitu  anaknya harus hidup.

Penyakit yang sudah lama diidap anaknya yang masih kecil itu. Dia tak berdaya dengan keadaan dirinya saat ini.

Akhirnya, setelah mengumpulkan keberanian, ia membuka mata. Tatapannya mulai berubah.

Tidak lagi ragu juga tidak lagi goyah.

Dan malam itu, keputusan yang seharusnya tidak pernah diambil akhirnya dipilih.

"Ya, aku harus mengambil sesuatu milik Tuan Kaelric. Bukankah, Tuan menyimpan batangan di ruang tengah belakang televisi?. Baiklah malam ini juga aku akan kerjakan."

Tanpa banyak bicara, dia pun melangkah pergi. Sebelumnya, dia pamit pada istrinya juga anak-anaknya. Juga si kecil, yang berbaring tak berdaya.

Airmatanya meleleh... Anaknya terheran melihat ayahnya.

"Mengapa ayah menangis?". Sambil mengusap pipi ayahnya.

" Tidak apa-apa, ayah hanya teringat sesuatu saja. Malam ini ayah mau ke rumah Tuan. Ayah harus mengantar Tuan ke kantor."

"Bukankah, ini sudah malam ayah?. Apakah, Tuan Kaelric kalau malam masih bekerja?"

"Iya, nak. Namanya lembur. Tuan Kaelric adalah orang yang suka bekerja keras."

Akhirnya, mereka berpelukan erat. Seolah, akan berpisah selamanya.

Pak Atmo seperti biasanya, dia berangkat menuju Mansion Kaelric.

Di Mansion terlihat sepi. Veliora belum ada di Mansion waktu itu. Jadi, Mansion terlihat tidak berpenghuni sama sekali. Setelah, Veliora hadir barulah Mansion nampak hidup. Meski, Veliora bukan terbilang gadis yang suka banyak bicara. Tapi, kata-kata dan sikap manjanya itulah yang membuat Kaelric tak tentu arah.

Pak Atmo bergerak menuju rak besar. Disitu tempat televisi dan benda lain berada.

Dia geser perlahan. Dia tekan beberapa nomor. Kebetulan, dia tahu nomor sandi kotak itu. Waktu itu tanpa sengaja dia melihat Kaelric yang membuat beberapa sandi tertentu untuk semua keamanan aset yang dimilikinya.

Sebenarnya sudah lama dia tahu, tapi karena dia termasuk orang yang jujur, maka dari itu dia mengabaikannya. Bahkan terkesan acuh.

Hingga pada malam itu, dimana dia terdesak oleh keadaan akhirnya berani nekat.

Senyumnya melebar, ketika melihat beberapa kotak batangan. Benda itu lebih dari cukup untuk membayar lunas rentenir. Sementara, untuk sisanya. Dia akan gunakan untuk melanjutkan pengobatan anaknya yang sakit.

Ruang tengah, memang tidak dipasang CCTV. Karena, ruang itu adalah ruang bebas area. Ya, seperti kemarin diceritakan. Banyak sekali adegan-adegan yang dilakukan Kaelric dan Veliora disitu. Apalagi, Veliora sering memanfaatkan ruang tengah untuk bersantai atau sekedar ngobrol dengan Kaelric.

Setelah, semua masuk ke dalam sebuah karung, dia pun menyelinap melalui dapur belakang.

"Eeh.. Pak Atmo." Tiba-tiba sebuah suara tepat di belakangnya.

Pak Atmo pun menghentikan langkahnya. Kemudian membalikkan badannya.  Nampak Joni dan Anton, anak buah Kaelric berkeliling sedang berjaga malam itu.

"Kalian?. Bikin kaget saja!".

Pak Atmo tertawa lebar. Agar mereka tidak curiga. " Apa itu, Pak?"

"Oh, ini sampah yang lupa aku buang tadi siang. Di kamar belakang sudah numpuk banyak. Apalagi, Bik Isa tadi sore nitip. Ya, aku ambil sekalian. Aku mau pulang saja. Bos kan tidak suruh antar malam ini."

"Ya, istirahat Pak. "

"Anaknya bagaimana?. Sudah baikan belum?"

Tanya si Joni. Semua anak buah Kaelric tahu kalau anak Pak Atmo sedang sakit.

"Harus perawatan, Jon."

"Kalau butuh bantuan, bisa bilang Bos, lho Pak!".

" Jangan dipendam sendiri. Kasihan anaknya."

Mendengar kata bantuan, sebenarnya Pak Atmo ingin menghentikan niatnya. Tapi, begitu ingat semua pesan pendek rentenir itu. Pikirannya jadi kacau.

"Ya, kapan-kapan saya mau bicara sama Bos."

Hanya itu yang  bisa dikatakannya. Lalu bergegas pamit pulang.

Sesampainya di rumah, dia langsung memindahkan semua barang yang diambil dari Mansion ke tempat yang agak kecil. Besok rencananya dia tidak masuk kerja. Dia akan menyerahkan beberapa batangan pada rentenir. Untuk melunasi hutangnya. Dia pikir, dengan dibayar beberapa batangan emas itu akan lunas pinjamannya.

Hingga tangannya menyentuh sebuah benda yang tidak tahu apa itu. Benda kotak warna hitam dan berukuran kecil.

"Apa ini?

Kemudian dibukanya kota hitam itu. Didalamnya terdapat beberapa benda lagi. Berukuran kecil juga. Ada lima buah benda.

" Ini kan seperti yang ditancapkan Bos ke laptopnya?. Apa ini?."

"Benda penting kah ini?"

Disimpannya kotak hitam itu. Akan dia kembalikan ke Mansion kalau situasi sudah aman. Takutnya benda itu penting untuk Bosnya. Dia hanya mengharapkan batangan emas dan lembaran uang.

*****

Di Mansion, kebetulan hari itu waktunya Kaelric untuk memeriksa semua aset kepemilikannya. Apalagi, yang di dunia hitam. Karena, aset terbesar miliknya ada disitu.

Dia berjalan ke ruang tengah. Lalu menarik rak besar yang menempel pada dinding.

Tadinya, belum curiga. Tapi, setelah dia melihat ke dalam kotak, dia terkejut bukan main.

Dia pun memanggil semua yang bertugas malam itu. Tak kalah terkejutnya Si Joni dan Anton. Karena, malam itu mereka yang bertugas.

"Adakah dari kalian berdua melihat sesuatu yang mencurigakan malam ini?"

Akhirnya, mereka berdua menceritakan perihal Pak Atmo yang tadi membawa karung berukuran besar lewat dapur belakang.

Mendengarkan cerita mereka berdua, murkalah Kaelric. Karena, dia tahu siapa Pak Atmo yang mereka ceritakan.

Pak Atmo adalah sopir lama keluarganya. Ikut Papi Kaelric sudah lama, semenjak Papi Kaelric masih ada. Setelah, beliau meninggal dibawa Kaelric ke Mansion. Karena, Kaelric menyukai karakter Pak Atmo.

"Tahu akibatnya kalau kalian berbohong!.  Kalian tahu siapa yang kalian bicarakan?"

"Iya, Bos. Saya tahu. Saya pun rela dipecat jika berkata bohong."

"Maafkan kami Bos, kami tidak berniat menuduh Pak Atmo. Hanya kami berpikir, Jangan-jangan benda yang dicari Bos, ikut terbawa Pak Atmo."

"Baiklah, aku percaya pada kalian berdua. Oke, sekarang pergi dari hadapanku."

Sepanjang malam itu, Kaelric tak bisa tidur. Sesuatu telah mengganggu pikirannya. Dan dia tidak akan tenang kalau flashdisk-nya tidak ditemukan.

Karena, semua rahasia keuangan dan seluruh aset miliknya tersimpan disitu.

Matahari belum terbit pagi itu. Tanpa minum kopi pahitnya terlebih dahulu, dia segera keluar rumah. Dia tinggalkan Mansion-nya di pagi buta.

Mobilnya dia lajukan perlahan. Dia menyetir sendirian. Sebenarnya, selain Pak Atmo ada sopir yang lain. Tapi, hari itu Kaelric ingin sendirian.

Hingga mobilnya berhenti tepat di depan  rumah sederhana.

"Hmmm.. Kenapa dia tidak mau memperbaiki rumahnya?. Bukankah gaji yang dia terima sudah lebih dari cukup buatnya."

Kata Kaelric dalam hati.

Dia pun melangkah ke halaman rumah, ada anak kecil dengan muka pucat. Menyapanya dengan senyum tulus tak dibuat.

"Om, selamat pagi."

Agak terkejut Kaelric. "Ayah kamu mana?"

Tanyanya dengan nada dingin sambil melihat sekeliling.

"Ayah di dalam. Katanya nanti mau keluar. Mau ambil obat buat saya, Om."

"Kamu sakit apa?"

Kata Kaelric, lalu dia berjongkok di depan anak itu.

"Kepala saya sakit, Om. Pusing, tapi gak sembuh-sembuh."

"Begitu?" Kaelric manggut-manggut sebentar.

Tak berapa lama, Pak Atmo keluar dari rumahnya. Terkejut melihat kedatangan Bosnya.

"Tuan Kaelric?"

"Ya, ini aku. Pak Atmo. Ikut aku sebentar!"

"Kamu yang membawa mobil! "

Kaelric melemparkan kunci mobil ke arah Pak Atmo.

Belum juga masuk ke dalam mobil, datang dua orang suruhan lintah darat. Mereka membentak Pak Atmo. Menagih janji.

Tak tahan sikap mereka, Kaelric pun mendatangi dua orang itu.

"Kalian, berapa hutang Pak Atmo? "

"Sekitar 150 juta. Baru diangsur dua kali. Bosku marah sekali dengannya."

"Besok.. Temui aku di jembatan seberang sana. Akan aku lunasi berikut bunganya. Kalau sudah lunas, kalian pergi dan jangan ganggu mereka lagi. Atau kalau tidak, kalian hancur ditanganku.'

Kata Kaelric dengan wajah datar tanpa ekspresi sama sekali.

Akhirnya, mereka berdua pergi dari tempat itu.

"Kita kemana, Bos?"

"Ke kantor."

Tanpa banyak bertanya, Pak Atmo melajukan Mercedes-Benz S-class milik Kaelric. Dia mengarahkan mobil ke Vorn Aegis Tower. Gedung pencakar langit milik Kaelric Vorn.

Mereka berdua langsung menuju ruangan Kaelric di lantai atas.

Seperti diceritakan di bab sebelumnya. Kaelric murka dengan ulah Pak Atmo.

"Pak Atmo kemarin malam ke rumah?. Pak Atmo melihat kotak hitam kecil milikku tidak?"

Kaelric langsung menanyakan kotak hitam itu. Yang lain tidak.

Pak Atmo nampak mulai menangis.

"Kenapa kamu menangis?. Bukankah kau sudah tahu, aku tidak ingin seorang pun menyentuh barang yang memang bukan miliknya. Dan juga bukan urusannya!"

"Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak tahu."

"Seharusnya, kamu mati!"

Pak Atmo menangis sejadi-jadinya.

"Anak-anak, Tuan. Juga istriku. Saya punya hutang yang harus saya tanggung tiap bulannya. Anak saya yang nomor dua harus menjalani perawatan yang tidak sedikit biayanya. Saya harus membayar angsuran tiap bulannya sekitar 20 juta per bulan."

"Maksudmu, kamu punya hutang ke rentenir?"

Pak Atmo menganggukkan kepalanya.

"Tapi, kamu sudah mengambil benda yang bukan milikmu, Pak Atmo."

Pak Atmo masih menangis tersedu.

Tak berselang, datanglah beberapa anggota Kepolisian masuk ke ruangan itu. Karena, sebelum keberangkatan ke rumah Pak Atmo, Kaelric menelpon kepolisian untuk menangani kasus pencurian di rumahnya.

Pak Atmo menangis sejadi-jadinya. Meraung-raung suaranya memenuhi ruangan Kaelric.

"Ini sudah terjadi, Pak Atmo. Dan aku tidak akan mencabut laporan ku. Kamu harus  tanggungjawab."

"Bagaimana dengan istri saya Bos?. Anak saya yang butuh perawatan?"

"Apalagi hutang lintah darat itu?".

" Bukankah tadi aku udah bilang langsung ke orang suruhannya?. Untuk anakmu, biar aku yang melanjutkan perawatannya. Kamu jangan khawatir."

"Keluarga saya bagaimana, Bos?. Mereka selalu berkelanjutan di sekitar rumah. Saya takut, Bos. "

"Keluarga kamu akan aman di tanganku. Aku akan menaruh beberapa orang kepercayaanku untuk memantau rumahmu."

"Lalu, apa nanti yang akan saya sampaikan pada anak dan istri saya?"

"Bilang saja, ada tugas luar kota yang gak bisa kamu hindari."

Pak Atmo terdiam pasrah. Sebelum dibawa polisi, dia memberitahu dimana menyimpan karung batangan emas dan uang yang dia ambil dari Mansion.

Setelah Pak Atmo pergi, Kaelric memanggil Ravian.

"Iya Bos."

"Kita ke rumah Pak Atmo sekarang."

"Baik Bos."

Mereka berdua segera pergi ke rumah Pak Atmo hari itu juga. Kaelric menyerahkan batangan emas dan uang untuk dirupiahkan.

"Terus bagaimana Bos?"

"Besok pagi kamu ikut aku, serahkan uang ke lintah darat yang memberi pinjaman ke Pak Atmo."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!