Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.
Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.
Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Dingin sang Dosen dan Rahasia yang Terbongkar
Naufal membeku di tempatnya berdiri, beberapa langkah dari meja kayu tempat Rebecca duduk. Jaket jins hitamnya yang longgar tampak sedikit bergeser ke bahu karena ia terburu-buru berlari dari toilet. Otot-otot lengannya yang kekar menegang saat insting protektif seorang abang berbenturan dengan rasa hormat mutlak kepada sang dosen. Di kampus, Doktor Adrian adalah sosok otoritas yang tak tersentuh; di sini, pria itu berdiri sedekat satu jengkal dari adik perempuannya yang berwajah boneka.
Gus Adrian membalikkan tubuhnya perlahan, membiarkan aroma wangi minyak oud premiumnya berputar di udara mall yang sejuk. Ekspresi wajahnya yang tegas dan kaku tidak berubah sedikit pun saat melihat mahasiswanya berdiri dengan raut wajah campur aduk antara panik dan bingung.
" Naufal ," suara bariton Gus Adrian terdengar datar namun berwibawa, menyebut nama belakang Naufal yang terdaftar di absensi kuliahnya. "Jadi gadis ini adalah adikmu?"
"I .., iya, benar, Pak. Maksud saya, Gus," gagap Naufal, buru-buru memosisikan dirinya di sebelah Rebecca. Tangan besarnya secara refleks memegang pundak sang adik, seolah ingin menegaskan kepemilikan dan perlindungan. "Maaf, ada apa ya, Pak? Apa adik saya membuat masalah saat saya ke toilet tadi?"
Gus Adrian tidak langsung menjawab. Sepasang mata hitam pekatnya melirik sekilas ke arah Rebecca yang masih duduk dengan tenang di kursinya. Gadis itu menatap interaksi kedua pria di depannya dengan iris abu-abu langkanya yang jernih tanpa riak. Siluet tubuh jam pasirnya yang sangat matang dengan lekuk dada super jumbo dan padat yang tertopang rapi di balik potongan leher persegi gaun floralnya membuat suasana di sudut restoran itu terasa semakin kontras. Rebecca tampak seperti sebuah lukisan porselen yang rapuh di antara dua pria bertubuh tegap.
"Tidak ada masalah," jawab Gus Adrian tenang, jemari tangannya yang memegang sebuah buku catatan kecil bercover kulit hitam bergerak merapikan letak manset kemeja kokonya. "Hanya saja, dua pemuda asing mencoba bertindak kurang sopan padanya tadi. Sebagai abang, jangan meninggalkan adik perempuanmu sendirian di tempat ramai seperti ini. Apalagi..." Gus Adrian menggantung kalimatnya, matanya menatap lurus ke arah Naufal, "...jika dia mengenakan busana yang menarik perhatian luar biasa dari pandangan buruk orang awam."
Naufal seketika menelan ludah. Wajah tampannya yang biasa sangar di sasana tinju kini merona tipis karena malu sekaligus jengkel. Ia melirik tajam ke arah koridor eskalator, mengumpat dalam hati pada dua bajingan yang berani mengincar adiknya saat ia lengah.
"Terima kasih banyak, Gus. Saya benar-benar teledor," ujar Naufal tulus, membungkukkan badannya sedikit sebagai bentuk rasa hormat yang mendalam. "Saya tidak tahu kalau Gus Adrian sedang berada di mall ini juga."
Gus Adrian hanya mengangguk sekali, sebuah gerakan yang sangat efisien. Namun, sebelum pria berhati dingin itu membalikkan badan untuk pergi, hidung tajamnya menangkap sesuatu. Di antara aroma pendingin ruangan mall dan wangi minyak oud miliknya sendiri, ada semburat aroma yang sangat familier menyeruak dari arah Rebecca. Itu adalah perpaduan antara wangi alami kelapa murni, sedap malam, dan semburat tipis minyak cabai kering yang gurih aroma khas yang melekat pada wadah bekal yang dibawa Naufal ke koridor kampus dua hari lalu.
Gus Adrian menghentikan langkahnya yang baru bergeser setengah senti. Pandangan matanya kembali tertuju pada Rebecca, kali ini dengan binar ketertarikan intelektual yang sangat tipis, nyaris tak terlihat di balik wajah kakunya.
"Wadah bekal yang kau bawa Kamis lalu, Naufal ," ucap Gus Adrian tiba-tiba, membuat Naufal menaikkan sebelah alisnya bingung. "Apakah tahu isi dengan potongan ayam suwir pedas itu adalah racikan adikmu ini?"
Naufal tertegun sejenak sebelum senyum bangganya kembali terbit. "Ah! Benar, Pak! Ini dia orangnya. Kyla Rebecca, adik bungsu saya. Dia yang meracik semua bumbu organik tingkat rendah kolesterol itu di dapur rumah kami. Jadi, tebakan Doktor kemarin di koridor itu benar, dia penyihir dapurnya."
Rebecca yang namanya disebut hanya bisa mendengus pelan dalam hati. Bibir alaminya mengatup rapat, membentuk garis lurus yang manis namun menunjukkan penolakan terselubung atas istilah penyihir dapur yang disematkan abangnya. Namun, tatapan mata tenangnya tetap mengunci pandangan Gus Adrian.
Gus Adrian menatap Rebecca dengan intensitas yang berbeda sekarang. Sebagai seorang pria yang menghargai presisi dan kualitas, ia tahu bahwa makanan yang ia cicipi tempo hari bukan sekadar masakan rumahan biasa itu adalah hasil karya seseorang yang memahami harmoni rasa dan kesehatan.
"Formulasinya bagus," ujar Gus Adrian, suaranya terdengar seperti seorang profesor yang memberikan penilaian akhir pada jurnal ilmiah. "Rendah asam urat dan kolesterol adalah opsi langka untuk makanan sejenis itu. Pertahankan bakatmu, Dek Rebecca."
Setelah mengucapkan kalimat yang cukup panjang untuk ukuran seorang dosen sedingin es, Gus Adrian membalikkan tubuhnya sepenuhnya, melangkah pergi membelah kerumunan mall dengan keanggunan yang kokoh. Meninggalkan Naufal yang melongo tak percaya karena adiknya baru saja mendapat pujian langsung dari dosen paling pelit nilai di fakultas, dan Rebecca yang masih terpaku, merasakan sisa kehangatan dari aroma oud sang Gus yang tertinggal di udara sore.
...----------------...
Sebelum langkah tegap Gus Adrian menjauh lebih dari tiga meter menembus kerumunan pengunjung mall, Rebecca mendadak bangkit dari kursi kayunya. Gerakan yang tiba - tiba itu membuat gaun kasual putih pualam nya bergoyang anggun, mempertegas kembali siluet jam pasir tubuhnya yang semok dan berisi. Dengan langkah yang tenang namun pasti, gadis berwajah boneka itu berjalan menyusul sang dosen, mengabaikan Naufal yang melotot bingung melihat tindakan adiknya.
"Gus Adrian," panggil Rebecca pelan. Suaranya yang jernih dan lembut berhasil menghentikan langkah sang pria berhati dingin.
Gus Adrian membalikkan badannya perlahan. Alisnya yang tebal sedikit bertaut saat melihat Rebecca sudah berdiri di depannya, mendongak kecil karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup kontras. Tangan kecil Rebecca yang halus terangkat, menyodorkan sebuah kantung serut kecil berwarna kain rami cokelat yang tampak estetik dari dalam tas belanjanya.
"Ini... sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolong saya tadi," ucap Rebecca jujur, sepasang mata abu - abu langkanya menatap lurus tanpa ada rasa takut pada aura kaku sang dosen. Bibir yang merah alami melengkung sangat tipis.
Gus Adrian menatap kantung kecil itu, lalu beralih ke wajah porselen di hadapannya. Sebagai seorang anak Kiai besar sekaligus akademisi yang menjaga jarak aman dengan lawan jenis yang bukan muhrim, insting pertamanya adalah menolak. "Tidak perlu, Dek Rebecca. Saya menolong tulus karena kewajiban sesama muslim. Simpan saja untukmu."
Naufal yang melihat penolakan halus itu langsung merangsek maju, berdiri di samping Rebecca sembari menyengir lebar tanpa dosa. "Aduh, Gus, tolong diterima saja. Saya mohon dengan sangat. Kalau ditolak, adiknya Naufal yang ini bakal menangis sesenggukan seperti gorila yang siap mengamuk di rumah. Nanti seisi rumah bisa gempar dan saya yang disalahkan Ayah," cerocos Naufal asal, sengaja melebih-lebihkan tabiat adiknya demi mencairkan suasana kaku.
"Mas Naufal!" cetus Rebecca tajam. Ia memberikan sabetan pandangan sedingin es dan cubitan maut pada lengan berotot Naufal, membuat abangnya itu mengaduh pelan tanpa suara sembari menahan tawa.
Melihat interaksi spontan kedua kakak beradik itu, sesuatu yang aneh mendadak menggelitik dada Gus Adrian. Pria yang di kampus dikenal tidak pernah tersenyum dan selalu menuntut kesempurnaan itu kini harus menahan kedutan di sudut bibirnya. Pandangannya terpaku pada Rebecca yang saat itu setelah mencubit Naufal kembali menatapnya dengan senyuman biasa yang dipaksakan agar terlihat sopan. Namun, bagi mata tajam Gus Adrian, ekspresi merajuk di balik wajah mungil berpola poni see-through itu justru terlihat sangat imut, polos, dan luar biasa menggemaskan.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya di luar lingkungan pesantren, Gus Adrian mengalah pada pemberian seorang gadis asing. Ia mengulurkan tangannya yang besar, mengambil alih kantung rami kecil itu dengan sangat hati-hati agar kulit mereka tidak saling bersentuhan.
"Baiklah, saya terima. Terima kasih," ujar Gus Adrian, suaranya melembut satu oktav, meski wajah tampannya kembali dipasang dalam mode formal.
"Tapi ada syaratnya, Gus," sela Rebecca cepat sebelum sang dosen memasukkan kantung itu ke dalam saku celananya.
Gus Adrian menaikkan sebelah alisnya yang tegas. "Syarat?"
"Hadiah kecil itu... tolong dibuka saat Gus sudah sampai di rumah saja. Jangan dibuka di sini," pinta Rebecca dengan nada yang sedikit misterius namun sarat akan kesungguhan.
Gus Adrian menatap kantung kecil yang terasa ringan namun mengeluarkan semburat aroma mistis perpaduan antara keasrian mawar hitam yang pekat dan kehangatan kayu cendana yang menenangkan. Sebuah produk racikan rahasia dari laboratorium bawah tanah Rebecca.
"Baik. Saya janji akan membukanya di rumah," jawab Gus Adrian dengan anggukan mantap. Pria itu memberikan satu tatapan dalam terakhir kepada Rebecca, sebelum akhirnya benar-benar berbalik dan melangkah pergi, membawa serta sebuah misteri wewangian di dalam saku kemeja kokonya dan sebuah senyuman imut yang mendadak mengacaukan konsentrasi risetnya sore itu.