Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Daftar yang Belum Selesai
Huang Shen menatap telapak tangannya. Tidak ada bekas luka ataupun darah, hanya kulit yang sedikit lebih pucat dari biasanya, dan di bawahnya, sesuatu berdegup seperti jantung kedua.
“Kau masih di sana?” tanyanya ragu.
Suara itu muncul, dalam dan jauh seperti gema dari dasar sumur yang tak berdasar. “Aku selalu di sini, Tuanku. Sejak kau lahir.”
“Kekuatan apa ini?” desisnya. “Dan siapa kau?”
“Pertanyaan bagus.” Ada nada senang di sana meski samar. “Tapi jawaban yang benar membutuhkan waktu yang belum kau miliki malam ini.”
Huang Shen mengepalkan tangan. “Berapa batasnya? Apa harga yang harus kubayar?”
“Batas?” Suara itu seolah mencecap kata tersebut. “Belum ada yang menemukannya. Adapun harganya, kau sudah mulai membayarnya tanpa sadar.” Lalu diam. Selesai. Tidak ada penjelasan lebih.
Maka Huang Shen berdiri sendiri di lorong gelap Kota Qingyun, dengan lebih banyak pertanyaan dari sebelumnya dan kekuatan yang belum dia pahami mengaliri setiap tulangnya. Matanya masih merah. Dia bisa melihat bayangannya sendiri di genangan lumpur, dan wajah yang menatap balik terasa seperti wajah orang lain.
Baiklah. Kalau suara itu tidak mau bicara, maka kaki ini yang akan bergerak.
Kota Qingyun tidak pernah benar-benar tidur, tapi malam menyembunyikan banyak hal yang siang hari enggan memperlihatkan. Lampu-lampu toko sekte yang mahal sudah padam. Yang tersisa hanya nyala obor di persimpangan jalan dan suara benturan arak dari warung-warung murahan di ujung lorong.
Huang Shen terus berjalan.
Tatkala melewati kolong Jembatan Batu Tiga Lengkung, langkahnya melambat. Di sinilah, selama dua tahun pertama di kota ini, dia tidur. Batu di bawah jembatan sudah hafal bentuk punggungnya. Dia masih ingat malam-malam di mana hujan masuk dari celah-celah dan dia harus meringkuk di pojok paling kering, menggigil, sambil membayangkan api unggun yang tidak ada.
Satu kali, seorang kultivator mabuk lewat dan menendang kakinya karena dianggap menghalangi jalan. Tidak ada yang menegurnya karena memang tidak ada yang peduli.
Tanpa berlama-lama Huang Shen meludah ke arah jembatan itu, lalu melanjutkan langkah.
Pasar Timur sudah tutup. Tapi bau sayuran busuk dan daging yang tidak habis terjual masih tertinggal. Di sudut pasar, dekat tumpukan peti kayu, ada sepetak tanah yang Huang Shen kenal seperti bekas luka di kulit sendiri. Di situlah dulu ibunya menggelar lapak tahu, sebelum segalanya berakhir. Tangan ibunya yang kasar dan cekatan, suaranya yang memanggil pembeli dengan semangat yang tidak pernah habis kendati dagangan sering tidak laku.
Sekarang tempat itu kosong.
Huang Shen tidak berhenti berjalan, tapi genggamannya mengencang.
Di gang belakang Distrik Pedagang, dia ingat bagaimana seorang pedagang pil bernama Bao Cheng pernah menjualnya tiga butir pil Qi dengan harga setengah bulan hasil memulung, mengklaim itu pil Pemurnian Qi kelas tiga. Alhasil, ketika dia menelannya malam itu, yang dia rasakan hanyalah mual dan keram perut selama dua hari. Pil palsu dari ampas yang dibungkus lilin wangi agar terlihat mahal.
Saat dia kembali ke toko Bao Cheng untuk protes, lelaki itu tertawa. “Buktimu mana? Pergi sebelum aku panggil kultivator penjaga!”
Dan ada preman bernama Hong, penguasa tidak resmi Pasar Timur, yang suka memungut “pajak” dari para pemulung. Huang Shen sudah membayarnya tiga kali sebelum suatu hari dia datang terlambat dan preman itu memukul tengkuknya dengan tongkat kayu sampai telinganya berdengung berhari-hari.
“Terlambat bayar, berarti bayar dua kali lipat!” cibir Hong sambil melempar uang logam ke tanah. “Ambil kalau mau, atau tinggalkan. Sama saja bagiku.”
Dari penderitaan satu ke penderitaan lain, semuanya mengalir malam ini seperti sungai yang bendungannya jebol. Dan di ujung semua aliran itu, ambisi Huang Shen tidak lagi berbentuk sebuah nama.
Liu Kun hanya satu orang. Sekte Iblis Hitam hanya satu sekte. Sedangkan yang rusak jauh lebih besar dari itu.
Seluruh dunia yang memutuskan bahwa orang seperti dia tidak berhak mendongak, tidak berhak bermimpi, tidak berhak hidup kecuali untuk melayani kepentingan mereka yang berkuasa. Kultivator yang meludahi rakyat biasa. Pedagang yang memangsa yang lemah. Sekte-sekte yang membangun kemewahan di atas tulang orang yang tidak pernah dihitung sebagai manusia.
Andaikata ada yang bisa mengubah semua itu, maka orang itu harus punya kekuatan yang melampaui semuanya.
Huang Shen menarik napas panjang. Tekadnya mengerucut, dingin dan tajam seperti bilah besi yang baru selesai ditempa.
Mulai dari yang paling dekat dulu.
Preman Hong masih terjaga.
Lelaki bertubuh lebar itu duduk di bangku kayu di depan warung arak, tertawa bersama dua anak buahnya, pipinya merah karena sudah minum banyak. Sementara di pinggangnya tersampir pentungan kayu yang sama, pentungan yang sudah Huang Shen kenal rasanya di tengkuk.
Tapi Huang Shen tidak terburu-buru.
Dia memperhatikan dari kejauhan, menghitung pernapasan, merasakan kekuatan di dalam dadanya yang mengalir tenang seperti sungai setelah banjir. Berbeda dari tadi malam, kali ini dia sadar penuh. Tidak ada amarah yang membutakan. Hanya kalkulasi.
Manakala kedua anak buah Hong pergi ke dalam untuk mengambil arak lagi, Huang Shen melangkah keluar dari bayangan.
Preman bernama Hong itu pun mendongak. “Hei, siapa ka—”
Tinju kanan Huang Shen menghantam rahangnya sebelum kalimat itu selesai.
Qi yang mengalir dari Gerbang membungkus kepalan itu, merah gelap, dan saat menghantam daging Hong terasa seperti batu yang menghantam tanah liat. Hong terlempar dari bangkunya, membentur dinding warung, lalu jatuh berdebam ke tanah.
“Kau… .” Preman itu mendongak, matanya belum fokus. “Bocah… siapa kau?! Berani-beraninya—”
“Kau tentu saja tidak mengingatku,” tukas Huang Shen dengan datar. “Tapi aku mengingatmu.”
Hong pun meraih pentungannya. Refleks seorang preman yang sudah bertahun-tahun mengandalkan otot. Tapi tangan Huang Shen lebih cepat, menangkap pergelangan tangannya dan mematahkan cengkeraman itu dengan mudah.
Preman itu meraung kesakitan seperti bayi. Sementara Huang Shen menyudahi semuanya dengan satu pukulan Darah Penghancur Batu terakhir, tepat di tengah dada, melepaskan Qi sepenuhnya. Dada Hong ambles ke dalam, suara retak tulang terdengar jelas di gang yang sepi itu, sampai tidak bergerak lagi.
Dan Gerbang di dadanya mulai bekerja.
Darah yang menggenang di bawah tubuh preman itu bergerak perlahan, mengalir menuju Huang Shen seperti ditarik benang tak kasat mata. Meresap ke telapak kakinya, naik melalui pembuluh darah, masuk ke dalam Gerbang. Hangat dan lebih padat dari yang tadi malam dia rasakan secara tidak sadar.
Di dalam tubuhnya, Qi bergetar dan mengisi ruang baru.
Pemurnian Qi: Tingkat Empat.
“Bagus, Tuanku,” dengus suara dari dalam dadanya. “Tapi ini hanya setitik.”
“Aku tahu itu,” sahut Huang Shen.
Dia melangkah pergi sebelum kedua anak buah preman itu kembali dari dalam.
Malam itu, Huang Shen duduk di atas atap gudang tua di Distrik Barat, menatap langit. Efek penyerapan masih terasa di seluruh tubuhnya, sedikit pusing, seperti minum terlalu banyak air sekaligus. Tapi di balik itu ada kejernihan yang aneh. Seperti kabut yang lama menggelapkan pandangan tiba-tiba tersapu angin.
“Setelah ini, aku perlu lebih banyak,” tutur Huang Shen, lebih kepada dirinya sendiri.
“Benar,” sahut suara itu. “Satu preman tidak cukup. Kau butuh ratusan sebelum Liu Kun bisa kau sentuh. Dan setelah Liu Kun, akan ada yang lebih besar lagi.”
Huang Shen mengulang nama-nama dalam kepalanya. Yang pertama sudah selesai. Bao Cheng pedagang pil palsu itu selanjutnya. Lalu kultivator Pemurnian Qi yang dulu menendangnya dari jembatan. Lalu naik, dan terus naik.
Liu Kun. Wang Bao. Zhang Wei.
Dan di atas semua itu, Sekte Iblis Hitam yang masih berdiri di suatu tempat sambil tidak tahu bahwa anak yang mereka biarkan hidup sudah bangkit.
Fajar datang dengan langit jingga yang cerah.
Huang Shen berdiri di tepi kolam kecil di taman yang sudah lama tidak dirawat di sudut Distrik Timur. Permukaan air memantulkan wajahnya dengan jelas. Rambut kusut, dagu penuh lumpur kering.
Dan dua mata merah yang menyala seperti bara di tengah abu.
Kendati wajah itu masih wajahnya, ada sesuatu di sana yang berbeda. Bukan remaja pemulung yang tadi pagi masih berharap menemukan ampas pil di selokan. Yang menatap balik dari permukaan air adalah sesuatu yang baru.
Sesuatu yang lapar.
Suara di Gerbang berbisik terakhir kali sebelum fajar benar-benar terang.
“Istirahatlah, Tuanku. Besok, kau akan mulai memahami arti sebenarnya dari Gerbang ini.”
Huang Shen tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis, untuk pertama kalinya sejak empat tahun berlalu begitu lambat.