NovelToon NovelToon
Terjebak Perjodohan

Terjebak Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mamoruuu

Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.

Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.

Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taman Bunga

Setelah selesai sarapan, Rara mengikuti langkah Michi yang perlahan menuju pintu belakang rumah. Udara pagi yang segar menyapa wajahnya begitu pintu dibuka, membuatnya sedikit tenang setelah serangkaian peristiwa tadi.

"Taman ini dibuat Tuan sendiri, Nona," ujar Michi sambil membukakan gerbang besi yang diukir dengan pola bunga. "Ia suka menghabiskan waktu di sini saat ingin tenang."

Rara terpana melihat taman yang luas di depannya. Rumput hijau yang rapi membentang sejauh mata memandang, diselingi dengan hamparan bunga berwarna-warni – mawar, melati, bahkan bunga kembang sepatu ada di sana.

Di pojok paling dalam, ada sebuah rumah-rumahan kecil yang terlihat terawat khusus. Rumahan-rumahan yang tidak memiliki dinding, hanya tiang kokoh yang menyangganya, hingga dari luar dapat Rara lihat terdapat kursi, meja, serta rak-rak buku tersusun rapi.

"Ini tempat apa?" Tanya Rara dengan mata membesar.

"Ini perpustakaan kecil yang memang Tuan siapkan untuk Nona. Kata Tuan, Nona sangat suka membaca. Sengaja dibangun di sini agar Nona bisa merasa nyaman dan tetap merasakan keasrian seperti berada di desa." Michi menjelaskan. "Coba Nona perhatikan, disana bahkan ditanam beberapa tumbuhan khas desa Anda. Tanamannya Tuan bawa langsung dari sana dengan membawa tukang kebun lokal untuk membantunya merawatnya."

Rara berjalan mendekati rumah-rumahan itu, ia melihat sekelilingnya yang memang banyak ditanami tumbuhan khas desanya. Yang paling menonjol—bunga cempaka, aroma cempaka yang khas menyengat hidungnya, sama seperti aroma yang selalu mengiringi paginya di desa. Rasa rindunya akan desa dan orang tuanya muncul.

Kaki Rara perlahan menaki beberapa anak tangga pada rumah-rumahan itu. Tidak bisa dipungkiri, di lubuk hatinya yang paling dalam menyimpan kekaguman. Hal-hal seperti ini pun Aksara persiapkan untuk dirinya.

Tangan Rara secara tidak sengaja menyentuh sebuah buku yang seperti album foto. Buku berukuran besar dan bersampul biru. Rara duduk pada sofa yang empuk, dan kemudian jarinya mulai berselancar membuka lembar demi lembaran.

"Isi foto ini... semuanya tempat-tempat yang ada di desaku, bahkan sekolah ku juga ada." Bisik Rara menatap pada setiap lembaran foto di buku album itu.

"Percayalah Nona, Tuan selalu ingin melakukan yang terbaik agar Nona tidak merasa kehilangan dunia Nona." Jelas Michi dengan senyum lembut.

Rara merasa ada sesuatu yang menyentuh hatinya. Ia menatap buku album itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. "Tidak kusangka, ternyata dia sangat terniat sekali melakukan semua ini." Gumamnya pelan.

"Ternyata kamu berada disini." Suara yang sudah tidak asing membuat Rara terkejut dan segera menoleh. Aksara berdiri di belakangnya dengan tangan membawa seikat bunga mawar segar yang masih basah oleh embun pagi. Senyum hangat terpampang di wajahnya.

"Tuan..." Michi menundukkan pandangan, dan segera mengatur jarak.

"Ka—kamu? Kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu ada rapat penting?" Tanya Rara heran, wajahnya mulai memerah.

"Aku mengambil jalan pintas agar bisa bertemu kamu lagi," jawab Aksara sambil mendekat dan memberikan bunga itu di tangan Rara. "Ini untukmu. Aku tahu kamu selalu menyukainya karena warna merahnya yang seperti hati yang hangat."

Rara menerima bunga mawar itu dengan hati-hati. Bau harum bunga itu membuatnya merasa tenang. Tidak! Aku tidak boleh terbuai dengan perlakuan lelaki ini. Bisa saja ini pencitraan, kan? Dia melakukan semua ini hanya untuk membuatku luluh. Benak Rara. Ia lantas memberikan bunga mawar itu kembali pada Aksara. "Ambil kembali. Jangan coba membujukku dengan perlakuan manismu."

Aksara terseyum kecil. "Aku tidak pernah ingin membujukmu." Suaranya lembut namun tegas. Ia menahan bunga yang diberikan kembali, lalu menaruhnya dengan hati-hati di meja dekat sofa.

"Aku tahu kamu masih sulit menerimaku, dan aku tidak akan memaksamu." Aksara mengambil kursi kecil di hadapan Rara, menjaga jarak yang tetap sopan namun cukup dekat untuk membuatnya merasa nyaman.

"Aku tidak melakukan semua ini untuk membuatmu luluh," lanjut Aksara menatap Rara yang masih memasang wajah tak acuh. "Aku melakukannya karena kamu adalah istriku. Tentu tidak ada yang salah, kan?"

Wajah Rara semakin memerah. Ia memalingkan wajah untuk menyembunyikannya. "Astaga! Jantungku seakan mau copot. Tapi—tapi aku tidak boleh terlihat lemah. Benteng pertahanan hatiku harus tetap kokoh!"

"Sampai kapan kita harus berdebat setiap kali bertatap muka? Percayalah, aku tidak seperti yang kamu pikirkan."

"Dengan caramu menghindari rapat saja aku sudah bisa menilai seperti apa dirimu. Kamu akan melakukan segala cara asal keinginan mu bisa terpenuhi. Bahkan jika itu mengabaikan tanggung jawabmu!" Ucap Rara tajam. Kemudian ia berjalan turun dari rumah kecil itu meninggalkan Aksara yang terdiam.

Tangan Aksara secara tidak sengaja menyentuh lembar album foto yang masih terbuka di meja. Ia menyunggingkan senyum kecil. "Semakin kamu bersikap dingin, semakin bersemangat aku mengejarmu."

"Jangan biarkan dia sendirian." Ucap Aksara pada Michi. Michi mengangguk dan segera undur diri mengikuti langkah Rara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!