NovelToon NovelToon
SI IMUT MAFIA

SI IMUT MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saerin853

Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.

Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.

Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.

"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."

Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Keheningan di ruang makan itu begitu pekat hingga suara dentingan sendok perak yang jatuh dari tangan Isabella terdengar seperti bunyi gong.

Wajah cantik wanita berambut pirang itu pucat pasi. Matanya yang kebiruan menatap horor pada gadis berambut wolf-cut di seberang meja yang baru saja mengancam seorang Tetua. Di dunia Isabella, wanita mafia diajari untuk menunduk, tersenyum simpul, dan merajut koneksi lewat pesta teh. Bukan mengancam akan menendang gigi palsu seseorang.

Paman Arthur, yang wajahnya kini sewarna tomat busuk, menggebrak meja hingga gelas-gelas kristal berdenting.

"KURANG AJAR!" raungnya, urat-urat di leher tuanya menonjol. "Kaelan! Apa kau sudah gila membawa hewan liar ini ke rumah kita?! Dia tidak punya tata krama, tidak punya asal-usul, dan berani menghina darah Obsidian!"

Dua pengawal bertubuh raksasa di belakang Paman Arthur secara refleks menyentuh gagang pistol di pinggang mereka.

Suasana langsung membeku. Kaelan yang baru saja akan duduk, menghentikan gerakannya. Mata elangnya yang tadinya terlihat sedikit terhibur, seketika berubah segelap malam tanpa bintang. Ia melirik tajam ke arah dua pengawal itu.

"Tarik tangan kalian dari senjata itu dalam hitungan ketiga, atau aku yang akan memotongnya dan menjadikannya makanan anjing peliharaanku," suara Kaelan pelan, nyaris berbisik, namun menggemakan aura mematikan yang membuat nyali siapa pun ciut.

Kedua pengawal itu langsung menunduk pucat dan menjauhkan tangan mereka.

Kaelan perlahan duduk di kursi utama, menatap Paman Arthur dengan dingin. "Dia bukan hewan liar, Arthur. Dia istriku. Dan di meja ini, statusnya sama denganku. Siapa pun yang menghinanya, menghinaku. Kau ingin menguji kesabaranku malam ini?"

Arthur menggeram tertahan, namun ia tahu lebih baik daripada memancing amarah Kakek Kaelan—Pemimpin Tertinggi—yang sedang tidak hadir, dengan memicu pertumpahan darah di meja makan.

Isabella, yang sedari tadi gemetar, mencoba memperbaiki situasi. Ia memaksakan senyum anggun, meski bibirnya bergetar. "K-Kaelan... mungkin ini hanya salah paham. Gadis ini... mungkin dia tidak tahu aturan klan kita. Lagipula, perjodohan kita sudah disetujui oleh kedua belah pihak keluarga. Aliansi Vivaldi dan Obsidian sangat penting untuk bisnis di Eropa."

Isabella menoleh ke arah Anya, menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang disembunyikan di balik kelembutan palsu. "Nona, aku tidak tahu berapa Kaelan membayarmu untuk sandiwara konyol ini, tapi dunia kami terlalu berbahaya untuk gadis... biasa, sepertimu. Pulanglah sebelum kau terluka."

Anya yang baru saja menyuapkan sepotong daging panggang ke mulutnya, berhenti mengunyah. Ia menatap Isabella, lalu menatap garpu perak di tangannya. Perlahan, ia meletakkan garpu itu, mengambil serbet, dan mengelap sudut bibirnya dengan gaya preman pasar yang disamarkan oleh gaun mahalnya.

"Dengar, Nona Vivaldi atau siapalah namamu," ucap Anya santai, menyandarkan sikunya di atas meja. "Pertama, aku memang dibayar. Satu miliar, tepatnya."

Kaelan nyaris tersedak anggur merahnya. Sialan, gadis ini tidak bisa menjaga rahasia sedikit pun! batin Kaelan frustrasi, tapi anehnya ia malah ingin tertawa.

Para Tetua tersentak. Arthur menyeringai kemenangan. "Tuh, kan! Dia sendiri yang mengaku! Ini hanya kontrak palsu!"

"Eits, tunggu dulu," potong Anya cepat, mengangkat satu jarinya. "Kedua, suamiku tersayang di sana—" Anya menunjuk Kaelan dengan dagunya, "—memilih membayar preman pasar sepertiku satu miliar daripada harus menikahimu secara gratis. Kalau aku jadi kau, aku sudah menangis di pojokan karena harga diriku hancur lebur."

Wajah Isabella langsung berubah memerah menahan malu dan amarah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Dan ketiga," suara Anya tiba-tiba merendah, kehilangan nada santainya. Ia menatap lurus ke arah para Tetua dan Isabella secara bergantian. Matanya yang tajam berkilat berbahaya, mengingatkan Kaelan pada serigala betina yang melindungi wilayahnya. "Kalian pikir aku takut pada dunia kalian? Aku besar di jalanan, makan dari sisa sampah, dan berkelahi dengan preman berpisau setiap malam untuk bertahan hidup. Dunia kalian yang penuh aturan dan sembunyi di balik jas mahal ini... hanyalah arena bermain yang membosankan bagiku."

Anya meraih gelas anggur merah Kaelan yang belum tersentuh, mengangkatnya ke udara seolah bersulang.

"Jadi, dengar baik-baik, para orang tua bangka dan putri manja. Mulai malam ini, aku adalah Nyonya Obsidian. Jika ada satu saja dari kalian yang berani menyentuhku, atau memaksa suamiku menikahi wanita ular ini..." Anya menyeringai miring, menenggak anggur merah itu dalam satu tegukan, lalu membanting gelas kristal kosong itu ke atas meja hingga retak.

"...aku sendiri yang akan meruntuhkan mansion sialan ini ke tanah."

Hening yang tercipta kali ini lebih mencekam dari sebelumnya. Anya benar-benar telah mendeklarasikan perang pada seluruh klan.

Kaelan menatap gadis di seberang meja itu. Jantungnya bergemuruh hebat. Sial, ia memang berniat menggunakan Anya sebagai tameng untuk membuat kekacauan, tapi ia tidak menyangka gadis itu akan menjelma menjadi pedang yang mengacungkan dirinya sendiri ke leher para musuhnya.

Bagi Kaelan yang hidupnya selalu dipenuhi kalkulasi dingin dan strategi kotor, keberanian Anya yang meledak-ledak dan murni ini... sangatlah memabukkan. Jauh lebih memabukkan dari anggur vintage mana pun.

Kaelan berdiri perlahan. Ia berjalan mengitari meja, mengabaikan tatapan horor keluarganya, dan berhenti di belakang kursi Anya. Dengan gerakan posesif yang mengejutkan dirinya sendiri, Kaelan meletakkan kedua tangan besarnya di pundak telanjang Anya yang terekspos gaun halter-neck-nya.

Anya sedikit tersentak oleh sentuhan hangat yang tiba-tiba itu, tapi ia menahan diri untuk tidak menepisnya.

"Kalian sudah mendengarnya," suara Kaelan mengalun dalam, bergetar dengan peringatan mutlak. "Makan malam selesai. Jika ada yang masih berani membahas aliansi Vivaldi setelah malam ini, kalian akan berurusan langsung denganku. Dan istriku."

Kaelan menarik kursi Anya, membantunya berdiri. "Ayo pulang, Sayang. Udara di sini terlalu busuk untukmu."

Anya menurut, meski perutnya masih lapar. Ia membiarkan Kaelan menggandeng tangannya—kali ini lebih erat dari sebelumnya—dan menuntunnya keluar dari ruang makan yang terasa seperti medan perang yang baru saja mereka menangkan.

Saat pintu kayu jati raksasa itu tertutup di belakang mereka, Anya akhirnya menghela napas panjang dan melepaskan pegangan tangan Kaelan. Lututnya seketika lemas, dan ia nyaris merosot ke lantai marmer jika Kaelan tidak dengan sigap menangkap pinggangnya.

"S-sial," gumam Anya dengan suara bergetar, wajah tengilnya sirna, digantikan kepucatan luar biasa. "Aku baru saja mengancam bos mafia beneran, ya? Ya Tuhan, umurku tidak akan panjang."

Kaelan menatap gadis tomboy di pelukannya yang kini terlihat pucat pasi dan gemetar. Seringai tipisnya yang langka akhirnya merekah menjadi senyum simpul yang tulus. Sang mafia es itu tertawa pelan, suara tawanya berat dan serak, menyapu telinga Anya bagai sihir.

"Kau luar biasa gila, Anya," bisik Kaelan, menatap bibir gadis itu yang masih beraroma anggur merah. "Dan aku mulai berpikir... satu miliar itu terlalu murah untuk membelimu."

1
supermine
💪
supermine
🤭
supermine
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!