Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Cerita Arif
Ge berdiri di ruang tamu rumah besar itu dengan kedua tangan di saku celana. Matanya masih berkeliling mengamati interior rumah yang terlihat mahal. Lantai marmer mengilap, lukisan besar tergantung di dinding, dan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan. Namun meskipun tempat itu jelas bukan rumah biasa, Ge tetap memasang ekspresi santai.
“Jadi ini rumah yang katanya punya bokapku?” tanya Ge sambil menoleh ke Arif.
Arif menggeleng pelan. “Bukan.”
Ge mengangkat alis.
“Ini hanya salah satu rumah milik beliau,” lanjut Arif dengan tenang. “Pak Romy memiliki banyak properti. Rumah yang kita datangi ini hanya tempat singgah.”
Ge tertawa kecil. “Om… jangan lebay," cibirnya.
Arif tetap berbicara dengan nada serius. “Rumah utama keluarga Armansyah adalah sebuah mansion besar di kawasan elit kota. Saat ini tempat itu masih ditempati oleh istri baru Pak Romy… dan anak tirinya.”
Ge bersandar pada sandaran kursi sambil melipat tangan. “Berapa banyak rumahnya emang?”
Arif menjawab tanpa ragu. “Puluhan.”
Ge langsung mendecak pelan. “Buset… kalau ini cerita bohong, Om niat banget.”
Arif tidak menanggapi komentar itu. Dia justru berjalan ke meja dan menuangkan air minum ke dalam gelas.
“Sampai sekarang,” lanjut Arif, “belum ada yang mengetahui tentang isi wasiat terakhir Pak Romy.”
Ge memiringkan kepala. “Belum ada yang tau?”
Arif mengangguk. “Saya sengaja merahasiakannya.”
Ge menatapnya lebih serius sekarang. “Kenapa?”
“Karena sebelum wasiat itu diumumkan, saya harus menemukanmu dulu.”
Ge terdiam beberapa detik. Namun kemudian dia kembali menggeleng kecil. “Om, cerita Om makin panjang aja.”
Ge berjalan mondar-mandir di ruangan itu sambil berpikir. “Aku cuma mau tanya satu hal," imbuhnya.
Arif menatapnya.
“Jika aku bukan anak kandung, siapa orang tuaku? Siapa Tarno dan Marni?” tanya Ge.
Nama itu membuat Arif terdiam sejenak.
Ge melanjutkan dengan nada lebih serius. “Mereka yang ngerawatku dari kecil.” Dia menatap Arif tajam. “Kalau kata Om aku anak orang kaya… terus mereka siapa?”
Arif menarik napas panjang sebelum menjawab. “Ibu kandungmu meninggal saat melahirkanmu.”
Ge tidak bergerak. Tatapannya tetap tajam.
Arif melanjutkan, “Saat itu keadaan di kota sedang kacau. Ada banyak kasus penculikan bayi yang terjadi di rumah sakit.”
Ge mengernyit. “Penculikan bayi?”
Arif mengangguk perlahan. “Kamu… salah satu korbannya.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa sunyi. Ge langsung tertawa kecil, tapi tawanya kali ini terasa dipaksakan. “Om… serius?”
Arif tetap melanjutkan ceritanya. “Banyak bayi yang diculik saat itu. Mereka dijual secara ilegal kepada orang-orang yang ingin memiliki anak.”
Ge berhenti berjalan.
Arif menatap langsung ke matanya. “Kemungkinan besar Tarno dan Marni… membeli kamu dari para penculik itu.”
Kalimat itu membuat Ge benar-benar diam. Untuk pertama kalinya sejak tadi dia tidak langsung menertawakan cerita Arif. Namun beberapa detik kemudian dia menggaruk kepalanya dengan kasar.
“Gila…” Ge berjalan beberapa langkah lagi sambil tertawa kecil. “Plotnya makin dramatis.”
Namun Arif tetap tenang. “Selama bertahun-tahun Pak Romy mencari anaknya yang hilang.”
Ge berhenti lagi. Arif melanjutkan dengan suara pelan. “Dia menyewa detektif. Menyebarkan pencarian ke berbagai kota. Bahkan sampai ke luar negeri.”
Ge menatap lantai marmer yang mengilap. ⁿ“Dan dia… nggak pernah nemuin aku?”
Arif menggeleng pelan. “Nggak...”
Ge menatapnya lagi. “Berarti dia mati sebelum menemukanku? Gitu?”
Arif mengangguk. “Pak Romy meninggal tanpa sempat bertemu denganmu.”
Ruangan itu kembali sunyi beberapa detik.
Arif kemudian berkata, “Karena itu dia mengubah seluruh surat warisan sebelum meninggal.”
Ge menyeringai kecil. “Warisan triliunan itu ya?”
Arif tidak menjawab dengan nada bercanda. “Semua asetnya ditinggalkan untukmu.”
Ge menghembuskan napas panjang sambil menatap langit-langit ruangan. “Gila…” Dia kemudian tertawa lagi, meskipun tidak terlalu keras.
“Om tau nggak… kalau ini beneran kejadian di hidupku…”
Ge menunjuk kepalanya sendiri. “Aku bisa langsung jadi bahan meme internet.”
Arif tidak ikut tertawa. Dia hanya menatap Ge dengan serius. “Untuk menemukanmu, saya melakukan banyak hal.”
Ge menoleh. “Emang bener?” tukasnya, menurutnya cerita Arif agak berlebihan. Membuat Ge semakin sulit untuk percaya.
Arif menjawab pelan. “Saya bahkan meminta bantuan orang-orang yang… tidak biasa.”
Ge menyipitkan mata. “Maksudnya?”
Arif menatapnya tanpa berkedip. “Saya meminta bantuan beberapa anggota kelompok kriminal untuk membantu mencari jejakmu.”
Ge langsung mendengus kecil. “Wah… sekarang masuk mafia segala," komentarnya.
Arif tetap tenang. “Pencarian itu berlangsung bertahun-tahun.”
Ge menatap pria itu lama. Lalu dia menghela napas panjang.
“Om…”
Arif menunggu.
Ge menunjuk dirinya sendiri. “Jadi menurut Om… aku ini anak orang kaya yang diculik waktu bayi, dibesarin sama rentenir, terus sekarang tiba-tiba jadi pewaris triliunan?”
Arif mengangguk pelan. “Ya.”
Ge terdiam beberapa detik. Lalu dia menepuk dahinya sendiri. “Anjir…”
Dia menatap Arif sambil menyeringai tipis. “Cerita Om makin gila sih.”
"Jadi kau masih nggak percaya?" tanggap Arif.
Ge menggeleng mantap.
"Oke, kalau begitu lakukan tes DNA dengan orang tuamu sekarang. Saya yakin itu cukup untuk membuatmu percaya pada semua ucapan saya," tantang Arif.