Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: JALAN MENUJU ISTANA
Tiga minggu. Itu waktu yang dimiliki Namgung Jin sebelum harus berangkat ke Istana Kekaisaran.
Tiga minggu untuk mempersiapkan diri menghadapi permainan politik di tingkat tertinggi. Tiga minggu untuk memulihkan kekuatan, mengumpulkan informasi, dan menyusun strategi. Tiga minggu yang terasa sangat singkat.
Pagi setelah kedatangan Pejabat Hwang, Namgung Jin duduk di kamarnya, merenung. Di hadapannya, terbentang peta kuno Istana Kekaisaran—salinan yang ia minta dari Tetua Pyo semalam. Peta itu tidak detail, tapi cukup memberi gambaran tentang kompleksitas istana yang luasnya setara kota kecil.
"Istana ini punya sembilan gerbang, tiga istana utama, dan ratusan paviliun." Ia menelusuri peta dengan jarinya. "Di sinilah para pejabat tinggal. Di sini tempat Kaisar. Dan di sini..." Jarinya berhenti di sebuah area tertutup di belakang istana utama. "...Kediaman Para Selir."
Nyonya Hwa Ryun masuk tanpa mengetuk, membawa nampan berisi teh. Ia sudah berhenti berpura-pura sebagai pelayan—setidaknya di depan Namgung Jin.
"Kau sudah mempelajari peta itu sejak subuh." Ia meletakkan nampan di meja. "Apa kau tidak lelah?"
"Lelah adalah kemewahan yang tidak bisa ku beli."
Nyonya Hwa Ryun duduk di seberangnya, ikut menatap peta itu. "Aku pernah ke istana sekali. Dulu, saat Sekte Bunga Mekar diundang untuk menari di acara ulang tahun Kaisar."
"Oh?" Namgung Jin menatapnya tertarik. "Ceritakan."
"Tidak banyak yang bisa diceritakan. Istana itu seperti labirin. Setiap orang tersenyum, tapi di belakang mereka menyembunyikan belati. Para pejabat saling menjatuhkan, para selir saling membunuh, dan Kaisar..." Ia menghela napas. "...Kaisar duduk di atas singgasana, melihat semuanya seolah itu tontonan."
"Kaisar yang seperti apa?"
"Tua. Lelah. Mungkin bosan." Nyonya Hwa Ryun mengingat. "Ia tidak terlihat seperti penguasa kejam. Lebih seperti boneka yang dikendalikan orang di belakangnya."
"Orang di belakangnya?"
"Ibunya, Janda Permaisuri. Konon, dialah yang sebenarnya memerintah."
Namgung Jin mengangguk. Informasi berharga.
"Siapa lagi yang berpengaruh?"
"Beberapa pejabat tinggi. Menteri Utara, Menteri Selatan, dan Kepala Pengawal Istana. Tiga orang ini bersaing memperebutkan pengaruh."
"Dan siapa yang mungkin menginginkanku ke sana?"
Nyonya Hwa Ryun menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi jika aku harus menebak, mungkin salah satu dari mereka."
---
Di paviliun utama, Namgung Cheon mengadakan pertemuan darurat dengan para tetua.
"Kita semua tahu situasinya." Suara kepala klan berat. "Namgung Jin dipanggil ke istana. Ini adalah kehormatan besar, tapi juga bahaya besar."
Tetua Kang—yang masih menjalani hukuman—angkat bicara. "Apa yang bisa kita lakukan?"
"Kita bisa mendukungnya. Memberinya sumber daya, informasi, apa pun yang ia butuhkan." Namgung Cheon menatap para tetua. "Karena jika ia berhasil, nama Klan Namgung akan harum. Jika ia gagal..."
Ia tidak melanjutkan. Semua mengerti.
Tetua Pyo menambahkan, "Aku sudah mengirim surat ke kontakku di istana. Mereka akan membantu sebisanya."
"Bagus." Namgung Cheon menghela napas. "Sekarang, kita hanya bisa berdoa."
---
Di paviliun reot, Nyonya Yoon menangis.
Bukan tangis histeris, tapi tangis diam-diam yang lebih menyayat hati. Ia duduk di sudut kamar, menatap putranya yang sedang berkemas.
"Ibu..."
"Jangan bilang apa-apa." Suaranya parau. "Ibu tahu kau harus pergi. Ibu tahu ini perintah Kaisar. Tapi..." Air matanya jatuh. "...ibu takut."
Simma di dada Namgung Jin berdenyut—sakit, hangat, rindu. Emosi Namgung Jin asli yang masih melekat.
Ia berlutut di depan ibunya, meraih kedua tangannya.
"Ibu, dengarkan aku."
Nyonya Yoon menatapnya.
"Aku akan kembali. Aku janji."
"Janji?" Ia tersenyum getir. "Kau selalu bilang begitu. Tapi kau selalu pergi."
"Kali ini berbeda."
"Kenapa?"
Namgung Jin diam sejenak. Lalu ia berkata, "Karena aku punya sesuatu yang harus kulindungi di sini. Ibu."
Kata-kata itu keluar dengan tulus—tulus yang tidak pernah ia rasakan selama ribuan tahun sebagai Iblis Murim.
Nyonya Yoon menatapnya lama. Lalu ia memeluk putranya erat.
"Bocah bodoh. Ibu cinta padamu."
"Aku juga, Ibu."
---
Dua minggu tersisa.
Namgung Jin menghabiskan waktunya dengan kultivasi intensif. Setiap malam, ia duduk bersila hingga subuh, memaksakan tubuhnya menyerap energi sebanyak mungkin. Meridian ketujuh terbuka. Kedelapan. Kesembilan.
Pada akhir minggu kedua, ia telah membuka dua belas meridian—setara dua belas tahun kultivasi normal. Tubuhnya mulai beradaptasi dengan aliran energi yang lebih kuat. Ia bisa merasakan perbedaannya: gerakannya lebih cepat, indranya lebih tajam, dan yang paling penting, ia bisa menggunakan jurus-jurus Kitab Sembilan Jurang dengan lebih efektif.
Suatu malam, ia pergi ke hutan belakang untuk menguji kekuatannya.
Ia berdiri di tengah clearing, memejamkan mata. Di tangannya, Mawanggeom—pedang yang ia ambil kembali dari persembunyiannya—bergetar pelan.
"Jurus pertama: Mageukchan, Tebasan Iblis."
Ia membuka mata. Pedangnya menyambar.
Cahaya hitam melesat, membelah udara. Pepohonan di depannya—setidaknya sepuluh batang—tumbang dalam satu tebasan.
Namgung Jin mengamati hasilnya. "Cukup. Tapi masih jauh dari kekuatan dulu."
Dulu, satu tebasan bisa meratakan setengah gunung. Sekarang, hanya sepuluh pohon.
Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk bertahan hidup di istana.
Ia menyimpan pedangnya, kembali ke paviliun.
Di sana, Nyonya Hwa Ryun menunggu dengan wajah tegang.
"Ada kabar dari Magyo."
"Apa?"
"Cheon Wu-gun ingin bertemu. Katanya penting."
"Kapan?"
"Sekarang. Aku sudah siapkan kuda."
---
Perjalanan ke Geumseong kali ini hanya ditempuh dalam dua hari.
Markas Magyo masih dalam keadaan waspada. Para penjaga berjaga di setiap sudut, dan lorong-lorong gelap dipenuhi prajurit bersenjata. Tapi mereka semua mengenali Namgung Jin dan memberinya jalan.
Cheon Wu-gun menunggunya di ruang yang sama. Kali ini, ia sendirian—tanpa Roh Perang atau Roh Rahasia (yang sedang ada di Klan Namgung).
"Akhirnya kau datang."
"Ada apa?"
Cheon Wu-gun menghela napas. "Aku dengar kau dipanggil ke istana."
"Benar."
"Itu masalah."
"Kenapa?"
Cheon Wu-gun berdiri, berjalan ke dinding. Ia menekan sebuah panel rahasia, memperlihatkan sebuah kotak kecil.
"Ini."
Ia membuka kotak itu. Di dalamnya, sebuah gulungan tua—lebih tua dari yang pernah dilihat Namgung Jin di Magyo.
"Apa ini?"
"Surat dari pendiri Magyo. Cheon Ma-ryong."
Namgung Jin berusaha tidak bereaksi. Tapi di dalam, ia terkejut.
"Isinya?"
"Tentang istana. Tentang seseorang di sana yang harus ia bunuh, tapi gagal."
"Siapa?"
Cheon Wu-gun membuka gulungan itu, membaca. "Namanya... tidak disebut. Tapi jabatannya disebut: Penasihat Rahasia Kaisar. Orang ini tahu tentang Iblis Murim. Tahu tentang kelemahannya."
"Kelemahan?"
"Konon, Iblis Murim punya satu kelemahan. Sesuatu yang bisa membunuhnya meskipun ia sudah mencapai Hwasin."
Jantung Namgung Jin berdetak kencang. Ia tidak ingat punya kelemahan. Tapi mungkin... mungkin ada sesuatu yang ia lupakan.
"Apa kelemahan itu?"
"Tidak disebut. Tapi Penasihat Rahasia itu tahu. Dan ia masih hidup—atau setidaknya, keturunannya masih ada di istana."
Cheon Wu-gun menatapnya serius.
"Kau harus berhati-hati, Namgung Jin. Jika mereka tahu siapa kau sebenarnya..."
"Aku tahu."
---
Kembali di Klan Namgung, waktu tersisa tiga hari.
Namgung Jin merenungkan apa yang ia dengar dari Cheon Wu-gun. Ada seseorang di istana yang tahu kelemahannya—kelemahan yang bahkan ia sendiri tidak ingat. Itu berbahaya. Sangat berbahaya.
Tapi di sisi lain, itu juga peluang. Jika ia bisa menemukan orang itu, ia bisa menghancurkannya sebelum ia menggunakan informasinya.
"Tapi bagaimana caranya?"
Pintu diketuk. Nyonya Hwa Ryun masuk.
"Ada seseorang yang ingin bertemu."
"Siapa?"
"Pejabat Hwang."
---
Pejabat Hwang duduk di ruang tamu paviliun utama, ditemani Namgung Cheon. Begitu melihat Namgung Jin, ia tersenyum tipis.
"Namgung Jin. Kau siap berangkat?"
"Masih tiga hari lagi, Paduka."
"Aku tahu. Tapi aku datang lebih awal untuk memberimu... nasihat."
"Nasihat?"
Pejabat Hwang memberi isyarat pada Namgung Cheon, yang mengerti dan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Duduk."
Namgung Jin duduk di hadapannya.
"Kau tahu, aku sudah lama mengamati Murim. Tapi baru kali ini aku melihat seseorang sepertimu."
"Maksud Paduka?"
"Bocah tanpa kekuatan yang bisa mengalahkan pendekar. Bocah yang menjadi pusat perhatian Delapan Sekte. Bocah yang..." Ia mencondongkan tubuh. "...berhubungan dengan Magyo."
Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa dingin.
Namgung Jin tidak bereaksi. "Aku tidak tahu apa maksud Paduka."
"Tentu kau tahu. Tapi tidak apa. Aku bukan musuhmu." Pejabat Hwang tersenyum. "Bahkan, aku bisa jadi sekutu."
"Kenapa aku harus percaya?"
"Karena aku tahu siapa yang menginginkanmu di istana. Dan aku tahu, orang itu bukan temanmu."
"Siapa?"
Pejabat Hwang diam sejenak. Lalu ia berkata, "Janda Permaisuri."
Namgung Jin mengerutkan kening. "Janda Permaisuri?"
"Ia mendengar tentang 'utusan iblis'. Ia percaya bahwa kau adalah kunci untuk sesuatu—sesuatu yang berhubungan dengan Iblis Murim. Ia ingin menggunakanmu."
"Untuk apa?"
"Untuk memperkuat kekuasaannya. Atau mungkin..." Mata Pejabat Hwang berkilat. "...untuk membangkitkan sesuatu."
---
Setelah Pejabat Hwang pergi, Namgung Jin duduk lama di kamarnya.
Janda Permaisuri. Nama itu terus berputar di kepalanya. Apa hubungannya dengan Iblis Murim? Apa yang ia cari?
Nyonya Hwa Ryun masuk, melihat ekspresinya yang serius.
"Ada apa?"
"Kita punya masalah besar."
"Apa?"
"Janda Permaisuri mungkin tahu tentang Iblis Murim. Mungkin bahkan tahu tentang kelemahannya."
Nyonya Hwa Ryun terkejut. "Itu... itu berbahaya."
"Itu sebabnya aku harus ke istana. Bukan sebagai calon Pendekar Kekaisaran, tapi sebagai penyusup."
Ia berdiri, menatap ke luar jendela.
"Aku harus mencari tahu apa yang ia ketahui. Dan jika perlu..." Matanya berkilat dingin. "...aku harus menghentikannya."
---
Tiga hari kemudian, pagi keberangkatan tiba.
Seluruh Klan Namgung berkumpul di gerbang utama. Namgung Cheon berdiri di depan, diikuti para tetua. Nyonya Kim ada di sampingnya, dengan ekspresi rumit. Namgung So-ho bersembunyi di belakang, tidak berani menatap.
Nyonya Yoon memeluk putranya erat-erat.
"Jin-ah... hati-hati."
"Aku janji, Ibu."
Ia melepas pelukan, menatap ibunya sekali lagi. Lalu ia berbalik, menaiki kuda yang sudah disiapkan.
Di sampingnya, Nyonya Hwa Ryun—yang memutuskan ikut sebagai "pengawal pribadi"—juga menaiki kuda. Ia telah melepaskan penyamarannya sebagai pelayan, kembali ke identitas aslinya sebagai pemimpin Sekte Bunga Mekar. Kehadirannya di sisi Namgung Jin akan memberi legitimasi—setidaknya, itu alasannya.
"Kau siap?" tanya Nyonya Hwa Ryun.
"Tidak." Namgung Jin tersenyum tipis. "Tapi aku akan pergi."
Ia memacu kudanya. Rombongan kecil itu bergerak maju, meninggalkan Klan Namgung di belakang.
Di gerbang, Nyonya Yoon menangis dalam pelukan Namgung Cheon.
"Dia akan kembali," bisik kepala klan itu. "Anak kita akan kembali."
Di kejauhan, Namgung Jin tidak menoleh. Matanya tertuju ke depan—ke arah Istana Kekaisaran, tempat intrik dan bahaya menanti.
Simma di dadanya berdenyut hangat, mengingatkan pada rumah yang ia tinggalkan.
"Aku akan kembali, Ibu."
Janji itu menggema di hatinya.
---