"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Pesta ulang tahun pak wahyu wirawan yang ke 66 tahun, malam ini cukup mewah, walau hanya di rayakan dirumah kediaman keluarga wirawan.
hanya teman-teman dekat dan kolega dari orangtua kala dan juga beberapa teman kala dan sakha yang terlihat menghadirinya.
Acaranya cukup sederhana, mengingat bahwa keluarga wirawan juga merupakan keluarga konglomerat yang cukup berpengaruh di dunia bisnis Indonesia, beberapa kali foto dan kegiatan kala sebagai direktur utama dari grup wiravana nangkring di cover dan berita utama majalah bisnis.
Malam itu seluruh anggota keluarga mengenakan pakaian dresscode, tak terkecuali kanaya. Kanaya cukup kagum melihat nyonya yola sempat memikirkan pakaian dan ukuran yang pas untuk dirinya, ternyata tanpa sepengetahuan kanaya ukuran baju kanaya sudah ada ditangan desainer keluarga wirawan.
Pakaian mereka terlihat begitu indah malam itu, dengan bahan dasar silk satin premium berwarna mahogany, nyonya yola dan kanaya terlihat begitu elegan.
Potongan yang kanaya kenakan, slimfit dengan fokus beberapa permata indah bertaburan di sekitar pinggang rampingnya yang dipadu heels setinggi 10 cm, membuat kanaya terlihat elegan dan anggun.
Warna mahogany juga mewarnai pakaian dari para pria, tidak begitu menonjol, tetapi tetap membuat tampilan maskulin mereka tetap terjaga, selera nyonya yola memang bagus.
Acara ulang tahun berjalan santai, karena memang pak wahyu minta acaranya lebih ke acara keluarga saja, jauh dari kesan glamour dan formal.
Para tamu dibebaskan, mau langsung makan, menyanyi atau hanya ngobrol-ngobrol sambil minum, kebetulan acara ulang tahun pak wahyu dilaksanakan di taman samping dekat kolam renang.
Kanaya sangat menyukai kesederhanaan keluarga wirawan, dia yang datang dari keluarga miskin saja tidak merasa minder sedikitpun berada di keluarga kala.
Suara musik mengalun syahdu, ketika pak wahyu menyanyikan sebuah lagu tembang nostalgia, yang ia persembahkan untuk istri tercintanya.
Semua mata memandang pak wahyu yang sedang menyanyi, sementara nyonya yola menautkan kedua tangannya menatap kagum suaminya, ketika lagu berakhir, tepuk tangan para tamu dan suitan usil sakha membuat ramai suasana.
Kanaya ikut bertepuk tangan dan tertawa melihat aksi sakha.
"Naya...!", panggil seseorang, yang membuat kanaya berbalik.
"Kak ferdi!...", seru kanaya terkejut melihat pria yang menyapanya.
"Kamu...,"
Ucapan dari pria itu menggantung, belum lagi pria itu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba kanaya mengalihkan pandangannya dari pria itu.
Kanaya melihat syafira baru saja tiba dengan beberapa anggota keluarganya.
Hati kanaya berdesir, melihat syafira menyalami pak wahyu, nyonya yola, dan kala. Terutama ketika syafira bersalaman dengan kala, dan mencium pipi kala.
"Kamu kenal mereka?"
Pertanyaan dari pria yang berdiri di sampingnya, menyadarkan kanaya, bahwa ada orang lain bersamanya saat itu.
"Ahh, anu..ehhh"
tergagap kanaya, menatap pria itu dengan senyum, pria yang sedang berdiri di sampingnya.
"Kak ferdi, apa kabar?", tanya kanaya mengalihkan pembicaraan, mengulurkan tangannya, yang dengan cepat disambut pria itu.
"Sehat..dek" sahut pria itu lembut, kanaya tersenyum, pria itu masih saja memanggilnya adek, seperti panggilan yang biasa pria itu berikan kepada kanaya, sejak mereka di bangku kuliah.
Obrolan hangat mengalir di antara mereka, dania banyak tertawa dan tersenyum, pria bernama ferdian ini, bercerita banyak hal, hingga tanpa kanaya sadari sepasang mata memandangi mereka dengan sorot mata yang tajam, marah dan cemburu.
Syafira menyadari jika kala teralihkan darinya, dia menatap kearah mata kala menatap. Disana syafira melihat kanaya sedang asyik ngobrol dan tertawa lepas dengan seorang pria. bibir syafira tersenyum licik, sebuah siasat licik terpikir dalam otaknya.
"Mungkin itu mantan pacar kanaya kak", bisik syafira ke telinga kala, dia melihat rahang kala semakin mengeras, syafira senang sekaligus iri dan benci.
syafira senang karena sepertinya hasutannya masuk kedalam hati kala, tapi ia iri dan benci melihat tatapan kala yang menatap ke arah kanaya penuh rasa cemburu.
Syafira ingin menyangkalnya, dia selalu berharap, kala menatapnya dengan mata seperti itu. Kala melangkah mendekati kanaya, dan syafira menyejajari langkah pria itu, mengaitkan tangannya dilengan kala.
Kanaya menyadari jika kala dan syafira mendatanginya, tapi dia pura-pura tak melihat dan masih asyik tertawa dengan candaan ferdi.
"Naya..", panggil kala, memutus cerita dan suara tawa kanaya dan ferdi.
Ferdian menoleh kearah kala dan syafira yang masih menggandeng tangan kala.
Kanaya juga ikut memandang kala dengan mimik biasa saja, di wajah kanaya masih ada sisa-sisa tawa. Sekilas ia melirik tangan syafira yang masih merangkul lengan kala erat.
Kala yang sadar kalau lengannya masih digandeng syafira, dengan cepat ia melepas gandengan tangan wanita itu.
"Ayuk kita pulang" ajak kala, meraih pergelangan tangan kanaya tanpa permisi dan berlalu dari hadapan ferdian dan syafira.
Kanaya terhuyung akibat hentakan tangan kekar kala, ia hanya memberikan senyum manis ke arah ferdi yang menatap keheranan.
Kala berjalan cepat kearah orangtuanya, pamit pulang, sementara kanaya yang mengikuti langkah panjangnya terpaksa berlari kecil untuk bisa mengikuti langkah kala yang panjang.
"Kamu kenapa sih?" tanya kanaya sesampainya mereka dirumah. Di sepanjang perjalanan pulang tadi kanaya tidak berani bertanya, karena kala mengemudi dengan kesetanan.
Kala menatap kanaya dengan sorot mata marah. Kanaya tidak mau kegeeran, dia tidak mau merasa bahwa kala cemburu, kanaya menepis kemungkinan itu.
"Siapa laki-laki tadi?" tanya kala tanpa basa basi, masih memandang kanaya dengan sorot marahnya.
"Ohhh.., kak ferdi"
Jawaban singkat kanaya, yang ia ucapkan dengan senyum dibibirnya, membuat kala semakin tak suka dan marah, tapi dengan sabar ia menunggu kelanjutan penjelasan kanaya.
"Kak ferdi tuh senior aku waktu kuliah,...eh gak nyangka sekarang jadi pengusaha, kak ferdi keren", puji kanaya dengan mimik bangga.
Kala tak suka melihat kanaya memuji pria itu, ada rasa panas dan membara di dadanya.
"Ada hubungan apa kau dan dia", tanya kala langsung, tanpa perduli apakah dia kelihatan normal atau tidak saat menanyakan pertanyaan itu.
Kala sudah tak perduli, ada rasa membara di hatinya ketika melihat kanaya tadi tertawa ramah dengan pria tersebut.
Kanaya menatap kevin serius, dia ingin meyakinkan kalau saat ini kala sedang cemburu. Tapi kanaya tak mau berharap, dia takut, ketika harapannya tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Kanaya akan seperti dihempaskan dari ketinggian, dan ia yakin pasti rasanya akan sangat sakit. Hatinya pasti sakit.
Kanaya takut hatinya akan patah, terus terang ia tidak siap melihat hatinya akan porak poranda. Kanaya belum mempersiapkan sebuah tameng atau apapun, untuk melindungi hatinya.
"Jawab...naya!" sentak kala mengagetkan kanaya dari pikirannya, dia terkejut, reaksi kala saat ini benar-benar diluar nalar kanaya.
'Apakah dia cemburu?'
"Kenapa aku harus menjelaskannya padamu", jawab kanaya akhirnya, jawaban yang membuat bukan hanya kala kaget, tapi kanaya sendiripun kaget akan jawabannya.
Mungkin tanpa sadar, otak dan mulut kanaya memberikan perlindungan agar hatinya tidak semakin jatuh dan berharap akan cinta kala.
"Kamu sendiri tidak pernah mau terus terang siapa syafira" sambung kanaya menatap kala lekat.
"Jadi jangan paksa aku untuk jujur, kalau kamu saja tidak mau jujur padaku", jawaban menohok kanaya cukup membungkam amarah kala, pria itu terdiam seribu bahasa.
"Kalau kamu mau aku jujur, kamu juga harus jujur padaku",
"Aku tanya sekarang ke kamu kala",
"Apakah kamu cemburu?, apakah kamu menyukai aku?"
Tanya kanaya, menatap kala yang terkejut mendengar pertanyaannya.
"Tuhkan, kamu gak bisa jawab, tidak,..bukan tak bisa tapi tak mau"
lirih suara kanaya berbisik, meninggalkan kala sendirian termenung di ruang tengah.
"Kumohon kala, jujurlah", batin hati kanaya menatap sendu dari atas tangga kearah kala, dan kemudian melangkah menuju kekamarnya yang terletak dilantai dua.
'Jujurlah akan perasaan, jangan pernah berusaha untuk menampik perasaan yang mulai berkembang'
Bersambung...