Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan
Saat ini Sultan dan keluarganya sudah berada di dalam pesawat pribadi. Opa bisa melihat wajah kesal Sultan. Opa sangat mengerti kekesalan cucunya itu.
"Sini kamu!" Panggil opa.
Sultan pun mendekati opa.
"Kenapa mukamu ditekuk begitu, kamu marah sama opa?"
"Tidak, opa."
"Halah, jangan menyangkal."
Opa menjewer telinga Sultan.
"Aduh aduh ampun, opa."
Melihat hal itu yang lain hanya bisa tertawa.
"Opa tahu yang ada di otakmu. Nanti kalau sudah resepsi kamu puas-puasin."
"Iya opa, lagi pula istriku masih lampu merah." Bisik Sultan.
"Dasar cah gemblung!" Opa memukul lengan Sultan.
Sultan pun terkekeh.
Meski di dalam pesawat, mereka seperti berada di dalam rumah.
Riri baru saja sampai di rumah. Ia memutuskan pulang dari hotel karena lebih nyaman tidur di kamarnya sendiri. Apa lagi ia tidak ada temannya di kamar hotel. Mama dan papa pun ikut pulang. Yang menginap di hotel hanya Sisi dan suaminya. Saat ini Riri menunggu kabar dari suaminya.
Beberapa saat kemudian, Sultan pun menghubungi Riri untuk memberitahu bahwa ia sudah sampai di Bandara Juanda.
"Sayang, nanti kalau sudah sampai rumah aku hubungi lagi. Itu pun kalau kamu belum tidur."
"Iya, mas. Dicoba saja nanti. Siapa tahu aku belum tidur."
"Ya sudah, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah menutup telponnya, Riri pun turun ke bawah untuk makan malam bersama keluarga yang masih menginap di rumah itu. Setelah selesai makan malam mereka masih memperbincangkan soal resepsi pernikahan Firi yang akan diadakan satu minggu lagi. Mereka juga harus mempersiapkan baju seragam untuk acara itu. Karena acaranya dadakan, jadi mereka berencana membeli baju yang sudah jadi.
Sekitar jam 21.30, Sultan menghubungi Riri lagi. Kebetulan Riri belum bisa tidur karena terbayang-bayang akan kejadian tadi siang di kamar hotel bersama suaminya. Riri pun langsung mengangkat telpon Sultan. Sultan sangat senang saat tahu istrinya belum tidur.
"Assalamu'alaikum, sayangku."
"Wa'alaikum salam, suamiku."
"Lagi apa, sayang?"
"Lagi tiduran, mas."
"Boleh menemani?"
"Monggo, silahkan."
"Ah.. coba saja aku belum pulang, sudah pasti kutemani."
Riri cekikikan mendengar nada kesal suaminya.
"Mas, kamu pasti capek. Nggak mau tidur?"
"Pingin dengar suara kamu, sayang. Setelah itu aku akan tidur."
"Hem... gitu ya?"
"Temani aku sampai terlelap ya."
"Baiklah... "
Mereka membahas hal-hal kecil yang akan mereka lalui nanti saat berumahtangga. Mereka juga membahas sesuatu yang sebenarnya tidak penting, namun tiba-tiba saja menjadi pembahasan. Hingga akhirnya, Sultan pun merasa ngantuk. Ia benar-benar terlelap.
"Hallo mas... mas... "
Tidak ada sahutan.
"Sepertinya dia sudah tertidur." Gumam Riri.
Akhirnya Riri menutup telponnya. Ia pun mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur. Setelah itu, ia juga menyusul tidur.
Keesokan harinya.
Sultan terbangun saat hampir adzan Shubuh. Ia baru sadar jika handphone nya ada di bawah bantalnya karena semalam ia tertidur saat telponan. Sultan pun segera beranjak je kamar mandi untuk mandi dan shalat Shubuh.
Sementara itu, Riri masih tidur nyenyak di kamarnya. Namun ia dikagetkan dengan bunyi handphone-nta. Ternyata Fira yang menelponnya sepagi ini. Fira meminta penjelasan kepada Riri soal kabar pernikahan Riri dengan CEO perusahaan pusat mereka. Fira mengira Riri sudah menghianati Ahmed. Riri hanya tertawa mendengar ocehan Fira. Ia masih mengumpulkan kesadaran untuk menjelaskannya kepada Fira.
"Fir... aku mau ke kamar mandi dulu. Nyawaku belum nyatu. Nanti aku telpon balik."
"Hei, Ri... kamu jangan menghindar ya!'
"Ish nggak percayaan amat!"
Riri pun meletakkan handphone nya lalu masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan ganti pembalut. Setelah itu ia menghubungi Fira kembali. Ia menjelaskan yang sebenarnya kepada Fira. Sontak Fira terkejut mendengarnya.
"Hah... jadi selama ini bang Ahmed cuma nyamar, Ri?"
"Nggak nyamar juga sih. Dia memang sengaja ngojek kok."
"Ya ampun... beruntung banget kamu, Ri. Memang dari awal sih aku udah curiga kalau lihat penampilannya. Dia tidak seperti tukang ojek biasa. Ah... selamat ya, Ri. Jadi nanti aku bakal diundang kan?"
"InsyaAllah, ya. Aku nggak tahu juga karena ini acaranya dadakan. Mungkin semua karyawan kantor pusat dan cabang diundang. Makasih ya, Fir.
"Iya ya, semoga saja."
Fira ikut bahagia mendengar kebahagiaan sahabatnya. Namun ia juga cukup sedih karena nantinya Riri tidak akan ngekost bareng dengannya lagi. Riri pasti akan tinggal di rumah suaminya.
Kedua orang tua Sultan langsung membagi tugas untuk persiapan resepsi pernikahan Sultan. Mereka meminta bantuan kepada saudara dan keponakan. Opa sudah mengatur undangan yang dibuat secara kilat dan akan selesai dalam dua hari ini. Acara tentu akan dilaksanakan di salah satu hotel milik keluarga. Untuk katering diserahkan kepada Ummi Nisa, dan vendor akan diurus oleh tante Winda dan anak-anak nya. Persiapan tersebut tentu sangat mudah bagi mereka. Karena keluarga mereka sudah ahli di bidang masing-masing.
Menjelang 3 hari acara resepsi undangan sudah disebarluaskan. Keluarga Riri pin mendapat jatah undangan 50 orang. Riri dan keluarganya akan berangkat ke Surabaya besok. Mereka difasilitasi kamar hotel tempat acara berlangsung agar lebih efisien jarak dan waktu.
Keesokan harinya.
Riri dan keluarganya sudah dijemput pesawat pribadi opa. Sebagian ada juga yang naik kapal karena mereka takut ketinggian dan sebagian mabuk udara. Keluarga Riri memang beragam. Tidak hanya dari keluarga berasa saja, tapi juga ada yang menengah.
Saat sampai di bandara, mereka dijemput mini bus menuju hotel. Di hotel mereka sudah disambut oleh manager dan langsung dibagikan kunci kamar masing-masing. Tidak lama kemudian, orang tua Sultan datang ke hotel untuk menemui keluarga besannya sekaligus memeriksa kesiapan tempat untuk acara besok. Ummi juga membawakan gaun yang harus dicoba Riri dan akan dipakai di acara besok. Untungnya gaun tersebut sangat pas di badan Riri. Sultan sebenarnya ingin menyambut istri dan keluarganya, namun tidak boleh. Opa yang melarangnya dengan alasan mereka dipingit. Padahal opa tahu apa yang ada di otak cucunya itu.
Sultan hanya bisa mondar-mandir di kamarnya. Ia juga tidak bisa menghubungi istrinya, karena handphone nya disita.
"Gini amat punya opa. Aturannya MasyaAllah sekali. Tapi aku sangat beruntung punya opa yang gercep." Gumamnya.
Ummi dan abi baru saja sampai di rumah. Sultan langsung menghampiri ummi untuk menanyakan istri dan keluarganya.
"Alhamdulillah mereka sampai dengan selamat. Oh ya, gaunnya Riri juga sudah dicoba, pas di badannya."
"Alhamdulillah... terima kasih, ummi."
"Ini oleh-oleh khas dari Lombok buat kamu, dari mertuamu."
"Iya ummi. Wah ini pasti enak. "
Sultan langsung mencobanya.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kesempatan mumpung ada hadiah dari opa 🤭🤭