NovelToon NovelToon
My Possessiv Damian

My Possessiv Damian

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!

Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

Damian membukakan pintu penumpang sedan mewahnya dengan gerakan yang terlihat sopan namun sebenarnya penuh paksaan.

Dengan wajah cemberut dan bibir yang mengerucut kesal, Valerie akhirnya masuk ke dalam kabin mobil yang beraroma kulit mahal dan maskulin itu.

Damian segera menyusul, duduk di sampingnya dengan aura dominan yang seolah menghimpit ruang gerak Valerie.

"Jalan," instruksi Damian singkat kepada sopirnya. Mobil itu pun meluncur halus meninggalkan pelataran Club Millennium, menjauh dari dentuman musik yang seharusnya masih dinikmati Valerie.

Valerie melirik Damian dari sudut matanya. Rasanya saat itu ia ingin sekali memaki pria di sampingnya ini. Kebebasannya untuk bersenang-senang malam ini dirampas begitu saja tanpa kompromi.

Dengan perasaan dongkol, ia merogoh tasnya dan mengambil ponsel. Jemarinya bergerak cepat mengetikkan pesan untuk Aiden.

> "Aiden, maaf banget... tiba-tiba ada urusan keluarga yang mendadak dan darurat. Aku harus pulang sekarang juga. Maaf ya tidak pamit langsung, jangan cari aku dulu. Happy birthday buat Adrian!"

>

Setelah menekan tombol kirim, Valerie menghela napas berat. Ia merasa bersalah, namun ia tidak punya pilihan lain jika tidak ingin Damian membuat keributan yang lebih besar di depan teman-temannya.

Damian menoleh, memperhatikan setiap gerak-gerik gadis di sampingnya. Saat mata mereka tidak sengaja bertatapan, Valerie dengan malas mengangkat ponselnya ke depan wajah Damian.

"Aku sudah mengirim pesan pada teman-temanku. Apakah kau sudah puas sekarang, Tuan Penculik?" ketus Valerie dengan nada sarkasme yang kental.

Damian tidak marah. Ia justru memberikan senyum tipis yang penuh kemenangan—senyum yang membuat Valerie semakin ingin melempar ponselnya ke wajah pria itu.

Ia nampak sama sekali tidak peduli dengan kekesalan Valerie, karena baginya, seorang tawanan harus tahu di mana posisinya berada.

"Bagus," jawab Damian pendek. "Setidaknya kau mulai belajar untuk patuh, Valerie."

Valerie melangkah gontai memasuki penthouse yang sunyi, diikuti oleh derap langkah sepatu kulit Damian yang terdengar tegas di belakangnya.

Baru saja ia melewati ruang tamu yang dihiasi sofa beludru mahal, tiba-tiba sebuah tarikan kuat di lengannya membuat Valerie terhuyung. Sebelum sempat memprotes, Damian sudah mendorongnya pelan hingga terduduk di atas sofa empuk tersebut.

Damian berdiri di hadapannya, menanggalkan jasnya dan melemparnya sembarang ke arah kursi lain. Tatapannya kini berubah, tidak lagi sedingin es, melainkan berkilat lapar.

Penampilan Valerie dalam gaun midnight blue yang membentuk lekuk tubuhnya, ditambah aroma alkohol tipis dan parfum yang menggoda dari kulitnya, benar-benar membangkitkan gairah Damian. Ia tidak tahan lagi untuk tidak menggoda "tawanan kecilnya" ini.

Valerie terbelalak kaget, tangannya menumpu di bantalan sofa saat ia mencoba memundurkan tubuhnya. "Damian! Kau mau apa?" protesnya dengan suara yang sedikit bergetar.

Damian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menyeringai tipis, sebuah seringai predator yang mematikan.

Ia mengulurkan tangan, mencengkeram dagu Valerie dengan tegas namun tidak menyakitkan, memaksa wajah cantik itu terangkat untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang gelap.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Valerie untuk mengeluarkan makian lagi, Damian menumpukan satu lututnya di atas sofa, sedikit membungkuk hingga tubuh tegapnya mengurung Valerie sepenuhnya. Detik berikutnya, ia langsung menyambar bibir ranum gadis itu.

Ciuman itu bukan lagi sebuah perkenalan; itu adalah lumatan penuh tekanan dan mendalam, seolah Damian sedang menghukum kebohongan Valerie malam ini sekaligus mengklaim hak miliknya.

Valerie terkesiap, tangannya reflek memegang bahu kokoh Damian, mencoba mencari pegangan di tengah serangan gairah yang tiba-tiba melumpuhkan logikanya.

Ponsel Valerie tiba-tiba berdering di dalam tasnya, memecah kesunyian di ruang tamu yang tengah diselimuti hawa panas. Damian mendengarnya, namun ia seolah tak peduli; ia terus menciumi Valerie, melumat bibirnya dengan intensitas yang tak berkurang.

Dering itu kembali terdengar untuk yang kedua kalinya, lalu yang ketiga kalinya. Valerie mulai merasa panik. Ia menepuk-nepuk pundak kokoh Damian dengan tangan gemetar, memberi isyarat kuat agar pria itu berhenti.

Damian akhirnya mengalah. Ia melepaskan tautan bibir mereka dan berdiri tegak kembali, meskipun ia sama sekali tidak bergeser dari posisinya, tetap mengurung Valerie dengan keberadaannya yang dominan.

Dengan napas yang tersengal-sengal, Valerie merogoh tasnya dan mengambil ponsel. Jantungnya mencelos saat melihat nama Aiden terpampang di layar. Ia berusaha menormalkan deru napasnya, mencoba menenangkan diri sebelum menekan tombol terima.

Damian dengan santai justru duduk di samping Valerie, sangat dekat hingga lengan mereka bersentuhan. Saat Valerie hendak bangkit untuk menjauh dan mencari privasi, tangan Damian dengan cepat menahan pergelangan tangannya, memaksanya untuk tetap duduk di sana.

Valerie pun akhirnya menurut, tak punya pilihan selain mengangkat telepon itu di bawah pengawasan tajam sang "Pria Gila".

"Halo, Aiden," ucap Valerie, suaranya sedikit serak.

Dari seberang telepon, suara Aiden terdengar penuh kekhawatiran. Ia menanyakan keadaan Valerie dan memastikan apakah gadis itu sudah sampai di rumah dengan selamat.

"Aku baik-baik saja, Aiden. Kamu tidak perlu khawatir," jawab Valerie sesingkat mungkin. Ia ingin sekali mengobrol lebih lama, menceritakan segalanya, atau sekadar mendengar suara kekasihnya untuk menenangkan hati.

Namun, dengan Damian yang duduk tepat di sampingnya—memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibirnya—hal itu mustahil dilakukan.

"Iya... sampai jumpa besok di kampus ya," tutup Valerie cepat sebelum Aiden sempat bertanya lebih jauh.

Ia segera mengakhiri panggilan itu, merasa sesak karena harus bersikap seolah semuanya normal di depan pria yang baru saja mengklaim bibirnya dengan paksa.

Setelah panggilan telepon itu berakhir, Damian tidak membiarkan Valerie bernapas lega. Ia kembali mendekatkan wajahnya, mengurung Valerie dengan tatapan matanya yang tajam dan mengintimidasi.

Mata Valerie mengerjap beberapa kali, jantungnya berpacu cepat karena wajah Damian begitu dekat. Ia bisa mencium aroma alkohol tipis yang bercampur dengan wangi rokok dari napas pria itu.

Dari jarak sekekat ini, Valerie bisa melihat dengan sangat jelas setiap detail wajah Damian yang nyaris sempurna—rahang yang tegas, hidung mancung, dan bibir tipis bervolume yang tadi baru saja melumatnya.

Valerie merutuki dirinya sendiri karena lagi-lagi ia sempat terpesona dengan ketampanan pria yang telah menculiknya ini.

"Apakah itu tadi pacarmu yang menelepon?" tanya Damian dengan nada rendah, suaranya terdengar seperti bisikan berbahaya yang menggetarkan udara di antara mereka.

Valerie menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberaniannya. Ia memutuskan untuk menjawab dengan jujur, berharap dengan kejujurannya ini, Damian tidak akan bertindak sembarangan lagi. "Iya, itu pacarku," jawab Valerie pelan.

Namun, bukannya menjauh atau melepaskannya setelah mendengar jawaban jujur itu, Damian justru mengulas senyum aneh yang membuat bulu kuduk Valerie merinding.

Ia mengulurkan tangannya, jari-jarinya yang panjang mengelus pipi Valerie dengan lembut namun terasa posesif.

"Apa pacarmu tahu kalau saat ini kau sedang bersamaku, Penipu Kecil?" bisik Damian lagi, wajahnya semakin mendekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan.

"Apakah dia tahu kau bahkan sudah tidur di kasurku?"

Seketika suara Valerie tercekat di kerongkongannya. Pertanyaan Damian itu menghantamnya seperti godam. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Aiden sampai tahu kebenarannya.

Aiden pasti akan sangat kecewa, marah, dan mungkin akan mendepaknya dari kehidupannya selamanya. Valerie tidak ingin itu terjadi, tidak untuk saat ini.

Valerie paham betul kalau Damian sedang mengancamnya, menggunakan hubungannya dengan Aiden sebagai senjata untuk mengendalikannya.

Dengan suara bergetar namun penuh penekanan, ia pun bertanya, menantang takdirnya sendiri. "Apa... apa yang kau inginkan dariku, Damian?"

1
@RearthaZ
lanjutin terus ceritanya kak
@RearthaZ
awalan cerita yang bagus kak
Raffa Ahmad
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!