Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan
Gua di balik air terjun hitam itu mendadak terasa sekecil sangkar burung. Keringat dingin mengalir menuruni pelipis Shen Yuan, melewati luka goresan di pipinya, dan menetes ke lantai batu yang lembap. Sepasang matanya menatap tajam ke arah pria tua renta berpakaian abu-abu yang masih duduk santai di atas stalaktit yang meruncing.
Tidak ada riak hawa murni. Tidak ada niat membunuh. Tidak ada suara napas.
Jika Shen Yuan menutup matanya, kesadaran spiritualnya yang baru mekar di Ranah Penempaan Raga Lapisan Ketiga akan menganggap stalaktit itu kosong melompong. Keberadaan pria tua ini benar-benar menjungkirbalikkan segala nalar yang diketahui oleh seorang pendekar fana.
"Kesepakatan... apa yang kau maksudkan, Senior?" suara Shen Yuan terdengar serak, namun ia berusaha keras menjaga nada bicaranya agar tetap tenang dan tidak menunjukkan sedikit pun kelemahan. Tangan kanannya masih mengepal, siap melepaskan sisa-sisa hawa murninya untuk satu serangan terakhir yang sia-sia jika pria tua itu berniat buruk.
Pria tua abu-abu itu terkekeh pelan. Ia menjentikkan jarinya dengan santai.
Bagaikan sehelai daun kering yang terlepas dari rantingnya, tubuh kurus pria tua itu melayang turun dari langit-langit gua setinggi puluhan tombak, dan mendarat di atas permukaan kolam air tanpa menimbulkan satu pun riak gelombang. Ujung sepatu jeraminya bahkan tidak basah.
Mata Shen Yuan menyipit hingga sebesar jarum. Berjalan di atas air tanpa mengganggu ketenangannya... Kekuatan kendali hawa murni macam apa ini? Bahkan Tetua Agung Keluarga Shen di Ranah Pengumpulan Lautan Qi tidak mungkin bisa melakukan hal sehalus ini!
"Jangan menatapku seperti melihat hantu, Bocah," ucap pria tua itu sambil mengusap janggut putihnya yang berantakan. Ia berjalan melintasi air, mendekati Teratai Tulang Putih yang memancarkan cahaya keperakan, lalu menoleh ke arah Shen Yuan.
"Tubuhmu saat ini adalah sebuah tungku yang retak," pria tua itu memulai penjelasannya dengan nada datar yang menembus langsung ke relung jiwa Shen Yuan. "Kau menggunakan teknik iblis—apapun namanya itu—untuk menelan esensi darah binatang buas secara serampangan. Hawa pembantaian dari puluhan Ular Sisik Besi dan amarah liar yang terpendam di nadimu sekarang saling bertabrakan."
Pria tua itu menunjuk ke arah dada Shen Yuan. "Memang benar, Teratai Tulang Putih ini memiliki sifat sangat dingin yang bisa memadamkan gejolak darahmu. Namun, menelan tanaman roh berumur tiga ratus tahun secara langsung dengan tubuh fanamu yang penuh luka dalam dari Kera Lengan Batu? Hawa dingin mutlak dari teratai ini akan membekukan darahmu dalam hitungan napas, lalu hawa pembantaianmu akan memberontak. Hasil akhirnya? Bum! Tubuhmu akan meledak menjadi kabut darah."
Mendengar penjelasan itu, wajah Shen Yuan menjadi sedikit pucat. Ia mencoba merasakan kondisi Dantian-nya, dan benar saja, di balik aliran kekuatan Lapisan Ketiga yang membara, terdapat rasa sakit yang tersembunyi seperti ribuan semut api yang menggigiti dinding pembuluh nadinya. Leluhur Darah di dalam jantungnya sebelumnya juga telah memperingatkan hal yang sama, namun terdiam sebelum sempat memberikan solusi.
"Lalu, apa yang Senior inginkan dariku?" Shen Yuan bertanya, menurunkan sedikit kuda-kudanya, menyadari bahwa melarikan diri atau melawan adalah hal yang konyol.
"Sederhana," pria tua itu tersenyum lebar, menampakkan beberapa giginya yang sudah tanggal. "Aku akan menggunakan metodeku untuk mengekstrak esensi murni dari Teratai Tulang Putih ini, membuang racun hawa dinginnya, dan menjadikannya cairan obat yang bisa langsung kau serap dengan aman. Sebagai bayarannya..."
Pria tua itu menunjuk ke arah bangkai Kera Lengan Batu yang tergeletak tak jauh dari mereka.
"...Aku menginginkan Inti Binatang dari kera bodoh itu, dan sebotol darah jantungnya. Aku butuh bahan penawar untuk menyeduh arakku yang baru. Di tempat terkutuk seperti Jurang Ratapan ini, mencari Kera Lengan Batu cukup merepotkan untuk tulang tuaku."
Shen Yuan tertegun. Hanya itu? Inti Binatang dari Kera Lengan Batu Lapisan Keempat memang berharga ribuan keping emas di Balai Lelang Kota Debu Merah, tetapi bagi Shen Yuan saat ini, nyawa dan fondasi bela dirinya jauh lebih berharga daripada segunung emas.
Tanpa ragu sedikit pun, Shen Yuan mengangguk. "Sepakat. Bangkai kera itu milik Senior."
"Anak muda yang tegas. Tidak bertele-tele. Aku menyukainya," pria tua itu tertawa.
Ia mengangkat tangan kirinya. Tiba-tiba, tanpa ada mantra atau formasi segel yang rumit, segumpal api berwarna biru pucat berkobar di telapak tangannya. Suhu di dalam gua anehnya tidak menjadi panas, melainkan menjadi semakin dingin, seolah api itu tidak membakar bendawi, melainkan membakar jiwa.
Api Sejati! Jantung Shen Yuan berdegup kencang. Ia pernah membaca di gulungan kuno Keluarga Shen bahwa hanya pendekar di atas Ranah Pembentukan Inti Emas yang mampu memadatkan hawa murni menjadi Api Sejati. Pria tua renta di depannya ini... keberadaan mengerikan macam apa yang sedang bersembunyi di dasar jurang pembuangan ini?
Pria tua itu mengibaskan tangannya, dan Api Biru Pucat itu melesat menyelimuti Teratai Tulang Putih di tengah kolam. Dalam sekejap mata, teratai yang sekeras tulang giok itu mulai meleleh, memisahkan kotoran berwarna kelabu yang menguap ke udara, dan menyisakan beberapa tetes cairan putih susu yang memancarkan aroma harum tak tertandingi.
"Duduklah dan pusatkan pikiranmu!" perintah pria tua itu.
Shen Yuan segera duduk bersila dan menutup matanya. Pria tua itu menjentikkan jarinya, dan tetesan cairan putih susu dari Teratai Tulang Putih itu melesat cepat, langsung masuk menembus celah bibir Shen Yuan.
Boom!
Sensasi dingin yang sangat murni meledak di dalam tenggorokan Shen Yuan, turun seperti sungai es menuju Dantian-nya. Seketika itu juga, hawa pembantaian yang tadinya liar dan brutal di dalam Nadi Iblis Penelan Surga mengamuk, mencoba melawan serbuan hawa dingin tersebut.
Dua kekuatan yang saling bertolak belakang—panasnya darah iblis dan dinginnya tulang teratai—berperang di dalam tubuhnya. Wajah Shen Yuan berubah drastis, setengah memerah seperti besi bakar, setengah memucat seperti mayat beku. Ia menggertakkan giginya hingga hampir retak, menahan rasa sakit dari tubuhnya yang seolah sedang dibongkar dan disusun ulang.
"Gunakan teknik utamamu untuk menelan hawa murninya! Jangan ditahan, arahkan ke pembuluh nadi utamamu!" suara pria tua itu bergema, membawa kekuatan yang secara paksa menjaga jiwa Shen Yuan agar tidak kehilangan kesadaran.
Shen Yuan meraung di dalam hatinya, memutar Sutra Penelan Surga hingga ke batas maksimal. Nadi Iblis Penelan Surga bekerja layaknya naga yang rakus, membuka mulutnya dan mulai menelan perpaduan energi panas dan dingin itu.
Luka dalam di pinggangnya perlahan sembuh dengan kecepatan yang kasat mata. Kotoran-kotoran sisa dari esensi darah binatang buas yang kotor didorong keluar dari pori-porinya dalam bentuk cairan hitam pekat. Sumsum tulangnya berderit, berganti warna dari putih kusam menjadi sebening batu giok. Ini adalah proses Pembersihan Sumsum yang sempurna!
Waktu terus berlalu, mengalir tanpa suara di dasar jurang.
Entah berapa lama kemudian, saat esensi teratai terakhir berhasil ditaklukkan dan dilebur ke dalam Dantian-nya, hawa murni di tubuh Shen Yuan meledak bagai letusan gunung berapi yang telah lama terpendam.
Krek!
Penghalang yang membatasi kekuatannya hancur berkeping-keping. Hawa murni yang kini jauh lebih kental dan stabil mengalir deras menembus jalur nadi yang baru saja diperlebar.
Ranah Penempaan Raga Lapisan Keempat!
Ia belum berhenti. Esensi Teratai Tulang Putih berumur tiga ratus tahun terlalu kuat untuk hanya mendorongnya satu lapisan. Hawa murninya terus mendaki dengan ganas... Lapisan Keempat Tahap Awal... Tahap Menengah... hingga akhirnya perlahan berhenti di Puncak Lapisan Keempat!
Shen Yuan membuka matanya. Sepasang pupilnya kini tidak hanya memancarkan keganasan merah darah, tetapi juga disembunyikan oleh kedalaman yang tenang dan sedingin es. Aura pembantaiannya yang liar kini telah terkendali sepenuhnya, masuk ke dalam tulangnya, menjadikannya bagai pedang tak bersarung yang bisa menyembunyikan ketajamannya.
Ia menghela napas panjang, menembakkan seberkas udara kotor yang melesat bagai anak panah hingga menembus dinding batu gua. Perasaan memiliki kekuatan mutlak menguasai dirinya.
Ia segera bangkit dan menangkupkan kedua tangannya ke depan untuk memberi hormat. "Shen Yuan berterima kasih atas anugerah penyempurnaan yang diberikan Senior. Kebaikan ini..."
Shen Yuan menghentikan kata-katanya. Ia mendongak, dan mendapati bahwa stalaktit itu telah kosong. Pria tua berpakaian abu-abu itu telah menghilang, seolah ia tidak pernah ada di sana.
Satu-satunya bukti bahwa kejadian tadi bukanlah mimpi adalah hilangnya Teratai Tulang Putih dari kolam, bangkai Kera Lengan Batu yang dadanya telah dibelah dengan sangat rapi (menghilangkan jantung dan Inti Binatangnya), dan... sebuah benda yang tergeletak di atas batu karang di depan Shen Yuan.
Itu adalah sebuah jimat kayu berwarna hitam legam. Di permukaannya, terukir satu aksara kuno yang rumit: Bintang.
Shen Yuan memungut jimat kayu tersebut. Benda itu terasa hangat di telapak tangannya, membawa jejak hawa murni yang sangat kuno.
"Huh... Syukurlah iblis tua itu sudah pergi..." Suara Leluhur Darah akhirnya kembali bergema di lautan kesadaran Shen Yuan, terdengar bercampur antara kelegaan dan ketakutan yang mendalam.
"Leluhur, kau akhirnya bersuara. Siapa pria tua tadi? Mengapa kau tiba-tiba bersembunyi seperti kura-kura yang ketakutan?" ejek Shen Yuan di dalam batinnya.
"Tutup mulutmu, Bocah bodoh!" bentak Leluhur Darah dengan nada gusar. "Kau tidak tahu seberapa dekat kau dengan kematian barusan! Pria tua itu... kultivasinya telah mencapai titik di mana ia bisa menyembunyikan Hukum Langit di dalam tubuhnya. Bahkan di masa kejayaanku dulu, sosok seperti dia adalah keberadaan yang tidak akan berani kusinggung sembarangan! Jika dia menyadari bahwa Kepingan Darah Purbakalaku ada di tubuhmu, jangankan nyawamu, bahkan jiwamu akan disiksa di api penyucian selama jutaan tahun!"
Shen Yuan terkesiap. Leluhur Darah adalah entitas yang sangat sombong, yang bahkan meremehkan para dewa di Sembilan Cakrawala. Jika pria tua tadi bisa membuat Leluhur Darah begitu ketakutan... seberapa mengerikannya dunia di luar kota terpencil ini?
"Simpan jimat kayu itu baik-baik," lanjut Leluhur Darah. "Orang-orang di tingkatnya tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Menyelamatkanmu dan mengambil inti kera bodoh itu hanyalah kedok. Dia telah menanamkan benih sebab-akibat padamu. Suatu hari nanti, ketika takdir mempertemukan kalian lagi, kau akan tahu apa yang sebenarnya ia inginkan dari Iblis Penelan Surga."
Shen Yuan menatap jimat kayu bertuliskan 'Bintang' itu sejenak, lalu menyimpannya rapat-rapat di balik sisa pakaiannya yang compang-camping. Ia mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan Puncak Lapisan Keempat berdesir di dalam nadinya.
"Sebab-akibat atau apa pun itu, aku tidak peduli," gumam Shen Yuan dengan tatapan sedingin es. "Yang aku tahu saat ini, fondasiku telah kokoh. Sudah saatnya aku meninggalkan dasar neraka ini."
Shen Yuan berjalan menuju mulut gua. Ia mendongak, menatap ke arah celah sempit di atas tebing yang tertutup kabut beracun. Di atas sana, Kota Debu Merah menunggu. Keluarga Shen menunggu. Dan sepupunya, Shen Tian, sedang menunggu kematiannya.
"Shen Tian... sudahkah kau merayakan kematianku?" Shen Yuan tersenyum buas, senyum yang menjanjikan lautan darah. "Tunggu aku. Kakak sepupumu ini akan segera kembali untuk memberimu kejutan besar."
Dengan satu hentakan kuat yang meretakkan lantai gua, tubuh Shen Yuan melesat menembus tirai air terjun hitam, memulai pendakiannya keluar dari Jurang Ratapan.