“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 – Kesunyian di Dalam Rumah
Malam telah turun dengan tenang di rumah besar keluarga Rafa. Lampu-lampu di ruang tamu sudah dimatikan satu per satu. Para pembantu juga telah kembali ke kamar masing-masing setelah menyelesaikan pekerjaan mereka.
Namun di salah satu kamar di lantai atas, lampu kecil masih menyala.
Ardila duduk di tepi tempat tidur dengan tubuh sedikit bersandar pada sandaran kepala ranjang. Di sampingnya, seorang anak kecil tertidur dengan sangat pulas.
Resa.
Anak kecil itu meringkuk kecil dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai dada. Nafasnya naik turun dengan teratur, seolah dunia di sekitarnya sedang baik-baik saja.
Ardila menatap wajah kecil itu cukup lama.
Tangan Ardila perlahan menyentuh rambut halus Resa. Ia menghela napas pelan.
Sejujurnya… kehadiran anak kecil itu membuat hatinya sedikit lebih hangat malam ini. Setidaknya kamar itu tidak terasa terlalu kosong.
Sejak menikah dengan Rafa dua hari yang lalu, Ardila sering merasa seperti tinggal sendirian di rumah besar itu. Rafa hampir tidak pernah berada di rumah pada malam hari.
Kadang pulang sangat larut.Kadang bahkan tidak pulang sama sekali sampai pagi. Ardila menoleh ke arah jam dinding.
Jarum jam sudah melewati pukul sepuluh malam. Namun Rafa belum juga pulang.
Seperti biasa.
Ardila tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya. “Aneh sekali ya…” gumamnya pelan.
Ia menatap Resa yang masih tertidur. “Padahal kita baru dua hari menikah.”
Kalimat itu terasa pahit di lidahnya.
Bahkan sampai malam ini… tidak ada satu pun momen yang terasa seperti kehidupan pasangan yang baru menikah.
Tidak ada percakapan hangat.
Tidak ada perhatian.
Tidak ada kedekatan.
Bahkan malam pertama yang seharusnya menjadi awal kehidupan rumah tangga mereka… tidak pernah terjadi. Ardila masih ingat malam pertama mereka dengan jelas.
Saat itu ia duduk di kamar yang sama, menunggu Rafa yang katanya akan segera datang setelah Kerjaannya selesai malam itu.
Namun waktu terus berjalan. Rafa tidak pernah datang. Ardila menunggu sampai larut malam. Sampai akhirnya ia tertidur sendirian.
Keesokan paginya Rafa hanya berkata singkat bahwa ia sibuk.
Tidak ada penjelasan lain.
Tidak ada permintaan maaf.
Seolah hal itu bukan sesuatu yang penting.
Ardila menatap langit-langit kamar dengan mata kosong. Kadang ia bertanya-tanya dalam hati.Apakah Rafa benar-benar menginginkan pernikahan ini? Atau mereka hanya menikah karena alasan keluarga? Ardila menarik selimut Resa sedikit lebih rapat.
Anak kecil itu bergerak sedikit dalam tidurnya.
Lalu bibir kecilnya bergumam pelan.
“Mama…”
Ardila terdiam. Hatinya terasa aneh saat mendengar kata itu keluar dari mulut anak kecil itu. Resa kembali tenang setelah itu.
Ardila menatap wajahnya lagi.
Anak ini…
Begitu kecil.
Begitu rapuh.
Namun entah kenapa kehadirannya terasa seperti teman bagi Ardila. Setidaknya malam ini… ia tidak benar-benar sendirian.
Ardila mengusap punggung kecil Resa dengan lembut. “Tidurlah…” Suara Ardila hampir seperti bisikan. “Di sini kamu aman.”
Angin malam bertiup pelan melalui celah tirai jendela. Kamar itu terasa sunyi, tetapi tidak lagi terasa terlalu kosong.
Beberapa menit kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Ardila langsung menoleh ke arah jendela.
Mobil Rafa. Ardila tidak tahu kenapa hatinya sedikit berdebar.
Ia bangkit dari tempat tidur perlahan agar tidak membangunkan Resa. Langkahnya pelan menuju pintu kamar.
Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu rumah terbuka di lantai bawah. Ardila turun dari tangga. Rafa baru saja masuk ke dalam rumah.
Pria itu terlihat masih mengenakan jas kerjanya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi tetap dingin seperti biasanya. Rafa sedikit terkejut melihat Ardila berdiri di ruang tamu.
“Kamu belum tidur?”
Ardila menjawab pelan.
“Belum.”
Rafa berjalan melewatinya menuju sofa.
“Kamu tidak perlu menungguku.”
Nada suaranya datar. Ardila menatap pria itu beberapa detik sebelum berkata,“Aku tidak menunggumu.”
Rafa tidak menanggapi.Ia membuka kancing jasnya dengan santai. Ardila akhirnya berkata lagi, “Resa tidur di kamar.”
Rafa berhenti sebentar. “Anak itu?”
Ardila mengangguk. “Iya.”
Rafa tampak tidak terlalu tertarik.
“Biarkan saja.”
Jawaban itu membuat Ardila sedikit mengernyit. Ia tidak tahu kenapa Rafa selalu terlihat begitu tidak peduli.
Ardila menghela napas pelan. “Aku akan kembali ke kamar.”
Ia berbalik menuju tangga. Namun sebelum naik, Ardila berhenti sebentar.
Ia berkata tanpa menoleh,
“Mas…”
Itu adalah pertama kalinya ia memanggil Rafa dengan sebutan itu malam ini. Rafa mengangkat sedikit kepalanya. “Ada apa?”
Ardila terdiam beberapa detik.Namun akhirnya ia tidak mengatakan apa pun.
“Tidak apa-apa.”
Ia melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
Sementara di ruang tamu, Rafa hanya duduk diam di sofa dengan wajah yang sulit dibaca.
Di kamar, Ardila kembali berbaring di samping Resa.
Anak kecil itu masih tertidur dengan damai.
Ardila menatap langit-langit kamar lagi.
Hatinya terasa sunyi.
Namun setidaknya malam ini… ada seseorang yang bernapas pelan di sampingnya. Seseorang yang tanpa sadar membuatnya merasa sedikit tidak sendirian. Ardila menutup matanya perlahan. Di luar sana, malam terus berjalan.Dan di dalam rumah itu, kesunyian tetap tinggal.