Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
“Han!” Suara ibu menyambutku begitu kakiku menginjak anak tangga dengan langkah terpincang. Ia berdiri dengan centong di tangan, wajah setengah kesal. “Panggilan ibu tidak kau dengar, kah?!”
“Aku dengar ibu ...” balasku. “Aku cacat.” Kaki mengetuk lambat tangga kayu. “Wajar kalau datangnya lama.”
Kalimat yang kulontarkan itu refleks kataku semata. Ibu berdiri di samping meja, perlahan menurunkan centong nasinya.
Di sana, Shen Yuexi berada, duduk di kursi meja makan keluarga kami, wajah berbinar tumbuh dari sudut bibirnya yang melengkung naik. Berbanding terbalik dengan raut muka ibu saat ini.
Suasana menghening ketika derap langkah ini telah mencapai anak tangga terakhir, aroma tumis telur tomat yang asam segar berbaur dengan wangi legit rempah di daging perut babi berkecap, membuat perutku semakin berontak.
Sampai ketika ibu berkata, “Jangan bicara seperti itu!” Ruangan kembali terisi bentakannya berpose tolak pinggang. “Kau itu cuman luka, bukan cacat, pasti sembuh!”
“Betul kata ibu, Han,” suara Shen Yuexi ikut mengisi sunyi. “Kau bukan cacat.” Ia senyum terpejam.
“Hahh ...” Hanya hela yang kubisa.
“Nak Yue sudah di sini dari tadi.” Ibu melangkah menuju dapur. “Kau jangan membuat seorang gadis selalu menunggu, Han. Ibu mau lanjut masak dulu.”
“Aku tak keberatan kok, Bu,” gumam Shen Yuexi.
“Jangan dibiasakan Yuexi ... aku tak mau anak laki-lakiku hidup dari kemanjaan.” Ibu menjauh, hingga benar-benar meninggalkan kami di ruang makan keluarga ini.
Aku duduk, berhadapan dengan Shen Yuexi. Rambutnya yang pirang panjang itu tak pernah bosan kutatap, entah mengapa.
“Yue ... kau serius? Maksudku, pesan di WhatsApp?”
“Kapan aku pernah bercanda tentang mimpi yang kau kejar?”
Growl ...
Perutku tercekik.
Baru saja kuingat, aku belum menyuap makanan sama sekali sedari pagi tadi.
“Makanlah dulu, aku akan menjelaskan detailnya,” ucap Shen Yuexi. “Bukankah, fanqie chao dan buatan ibumu itu yang paling enak, Han?” Ia meraih lauk lalu menaruhnya di piring. “Aku suka, tumis telur buatan ibumu.”
“Hmm ... bagiku, hongshao rou tetap menu terena—” Aku terhenti di ujung kata. “Tunggu bukan itu, jelaskan detailnya Yue.” Kemudian bangkitlah tubuhku, tangan bertumpu pada meja. “Tentang Hangzhou Xuejun ... kita akan makan jika kau jelaskan dulu.”
“Hihi, baiklah-baiklah, aku jelaskan pelan ya ...” Shen Yuexi menopang kepalanya di tangan yang bertumpu pada meja. “Beginilah Xiao Han yang kukenal, lupakan kamar pasien itu, Han. Kau harus menjadi kau, dirimu yang aku tahu.”
“Hahh ...” Aku kembali duduk. “Sebelumnya, aku ucapkan terimakasih padamu, Yue.”
Senyum Shen Yuexi terbenam lebih kecil, bibirnya meredakan sudut yang meninggi. Raut wajah itu, selalu kulihat setiap kali aku mengecap budi padanya.
“Sebenarnya ...” katanya akhirnya. “Aku sudah lama mengajukannya, semenjak hari pertama aku datang ke Beijing dan kau ingin menjadi pelatih, sepulang menjengukmu di rumah sakit.
“Hari pertama?”
“Iya, aku dengar dari Meqi Lubau ... kakimu patah parah.”
Aku diam.
Diam yang mendengarkan.
Meqi Lubau ... kah? Jadi apa dia sekarang?
“Hal yang aku pikirkan pertama kali adalah ... konsekuensi dari sifatmu, aku tahu kau bagaimana orangnya.” Shen Yuexi menunduk, lalu menatapku lagi. “Dari kita masih kecil, kalau kau tertimpa masalah sepak bola selalu saja menangis, aku syok, dokter bilang kau tak boleh main bola lagi.”
Kata-katanya ...
Ciri khas Shen Yuexi yang terpelajar.
Pandanganku dan Shen Yuexi saling menyapa.
“Tapi yang kudengar dari dirimu bukan wajah yang sedih, walau masih sedih sih.”
Lalu senyumnya kembali mekar.
“Kau justru menunjukan kedewasaan yang tak pernah aku tahu itu dirimu, kau menunjukkan keseriusan untuk menapaki sepak bola sekali lagi, tanpa kepala tertunduk.”
Aku masih diam, jari telunjukku mengetuk-ngetuk pahaku sendiri.
“Kau ... bukan Han si kecil yang selalu menangis kalau aku tendang.”
Bukan, kau salah Yue ...
Aku masih aku yang selalu ditolong olehmu.
Kata-katanya entah mengapa membuat hatiku teriris sedikit.
Jika bukan karena sistem, aku tetap menundukkan kepalaku hingga kau datang menjenguk.
“Saat kita lulus SD, aku dan kau tidak lagi satu sekolah.” Shen Yuexi menyilangkan tangannya di atas meja.
Posisi itu, membawaku pulang ke satu masa sekolah dasar. Aku ingat, wajah Shen Yuexi yang terduduk rapi di sebelah diriku.
Aku ingat, hari terakhir SD, Yue menangis diam-diam di pojok kelas. Waktu itu aku hanya bisu, tidak tahu harus berkata apa. Sekarang, ia masih di sini, masih menemaniku.
“Dan aku ingat, Hangzhou Xuejun. SMP yang kau pilih karena sepak bolanya,” katanya masih berucap. “Mereka mungkin lupa tentang mantan siswa mereka, tapi tidak dengan namamu si calon gelandang, jadi aku berinisiatif mendatangi mereka.”
“Yue ...” Aku memutuskan bersuara.
“Aku datang ke sekolah itu, bertanya ke bagian administrasi, lalu bertemu pelatihnya langsung. Aku bilang, ada mantan siswa kalian yang sekarang—”
“Kau tak perlu serepot itu ...”
“Aku belum selesai, Xiao Han ...” Shen Yuexi bangkit mendekat padaku. “Jangan memotongku.”
Plak!!
“Aduh! Yue!”
Sentilan mendarat di dahiku.
“Dengarkan dulu sampai selesai.”
Aku hanya mengangguk.
Shen Yuexi duduk kembali. “Aku akan melanjutkan studi-ku, kita akan sulit bertemu nantinya.” Ada hela napas panjang yang ia ambil. “Aku ingin membantumu, sebelum dunia semakin padat waktu.”
Ucapannya mengendap di dadaku.
Aku ingin bertanya.
Di mana kau akan kuliah?
Tapi yang keluar hanya diam.
“Kau tahu apa yang aku syukuri? Melihatmu terus berkembang sebagai Han yang mencintai sepak bola, walau aku tidak terlalu mengerti olahraga itu sih.”
Tanpa sadar, bibirku melemaskan dirinya.
“Untungnya ... Pelatih Hangzhou Xuejun sedang mencari asisten pelatih.”
Ahh ... begitu ... ternyata apa yang dilakukan Shen Yuexi tak sesederhana yang kupikirkan.
“Jadi kau memberi nomor WhatsApp-ku, Yue?”
“Tidak, Han.”
“Kenapa?”
“Karena Xiao Han harus ke sana bersama Shen Yuexi ini.”
“Eughh.” Aku menggaruk pipi, malu karena ia tahu aku lebih suka ditemani.
Shen Yuexi tertawa, cukup gelak untuk disaksikan. “Sudahlah, kita harus makan, nanti dingin masakan ibumu,” katanya. “Kita harus pergi ke Huanglong Center Sport Stadium, kan?” Dia berbisik, hampir tak terdengar olehku.
“Baiklah ...”
Shen Yuexi menyendok nasi, aku setelahnya. Namun ketika aku ingin memotong daging babi yang kusuka dengan pisau ...
Ding!
Tanganku tersentak, pisau hampir jatuh. Suara sistem mencuat di kepala.
[ Misi Analisis Diterbitkan ]
[ Tujuan : Menganalisa pertandingan secara langsung antara Zhejiang Professional FC vs Guangzhou ]
[ Batasan : Tidak boleh membaca ulasan pertandingan atau menonton pertandingan di layar kaca ]
[ Format Jawaban : Tuliskan berdasarkan pengamat taktik formasi ]
[ Hadiah : EXP besar tergantung seberapa padat jawaban ]
Aku mematung.
Gila ... hanya itu yang aku pikirkan, jika aku melewatkan laga ini. Aku takkan pernah merangkak sebagai seorang pelatih.
Sistem ini ... benar-benar keuntungan besar.
Aku harus mencoba skill Talent Eye pada pemain profesional, seberapa tepat taktik dan statistik diriku terhadap ritme lapangan.
Ini bukan perang dua kubu klub saja.
Ini tentang aku yang harus bertarung melawan diriku sendiri.
Terkadang, lawan terbesar dari diri sendiri adalah diriku sendiri. Rasa takut masih bersemayam di dalam dada, ketakutan akan ketidakpastian. Apakah aku akan menjadi seorang pelatih sejati nanti?
Shen Yuexi selalu mengajarkanku, ketegaran harus tetap bersinar, walau cahayanya tak sebenderang matahari yang terbit.
Tapi setidaknya, terang yang tidak benderang itu masih tersimpan sekecil harap. Walau terhalang kaki yang pincang ini, aku tidak ingin hidup dalam penyesalan.
“Han! Kenapa melamun?” Shen Yuexi menyadarkanku. “Cepat makan, kita harus segera berangkat.”
“Ahh, iya-iya.”
Senyum kusimpulkan rapi, ada hangat dalam dada, suara gadis itu selalu membangunkanku, dari mimpi yang mungkin belum menjadi nyata.