Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Bima segera tiba di alamat yang disebutkan Sari. Tanpa membuang waktu, ia menggendong wanita itu dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Sari sudah benar-benar kehilangan kendali. Tubuhnya terus menggeliat liar, kedua tangannya tanpa henti menarik-narik pakaian yang sudah berantakan.
“Bos… bisakah Anda sedikit menahan diri? Anda benar-benar sedang menguji daya tahanku!” keluh Bima hampir menangis.
Pakaian Sari sudah terkoyak sepenuhnya. Apa yang seharusnya tertutup maupun tidak, semuanya kini terbuka. Bagi Bima—yang sudah lama tidak menyentuh seorang wanita—pemandangan itu jelas sangat sulit untuk ditahan.
“Aku panas… aku sangat panas!”
Sari berteriak dengan kesadaran yang kabur, tangannya terus bergerak tanpa henti.
“Kalau terus begini… aku benar-benar akan ‘memakanmu’!” gumam Bima sambil menggertakkan gigi.
Namun Sari sudah tidak bisa mendengar apa pun. Keadaannya bahkan semakin tidak terkendali. Ia terus berteriak kepanasan.
“Obat ini benar-benar ganas. Kalau tidak segera bertindak, dia bisa celaka.”
Bima mengatupkan rahangnya. Ia menekan Sari ke atas tempat tidur, lalu mulai merobek sisa pakaian yang masih menempel. Tubuh Sari yang hampir telanjang sepenuhnya telah diselimuti warna merah muda aneh. Bahkan dari balik kulitnya, pembuluh darahnya tampak samar-samar terlihat.
“Tidak… efek obatnya sudah menyebar sepenuhnya. Sekarang tidak mungkin lagi diredakan dengan cara biasa. Hanya ada dua pilihan… membiarkannya sampai organ tubuhnya gagal dan mati… atau… membantunya menetralkan racun itu.”
Bima berhenti sejenak. Pada titik ini, tampaknya ia memang tidak memiliki pilihan lain.
“Aku panas… aku menginginkannya… aku menginginkannya…”
Sari yang hampir sepenuhnya kehilangan kesadaran merangkak mendekat. Dengan liar ia mulai merobek pakaian Bima.
Bima menarik napas panjang. Tatapannya berubah tegas. Ia mengambil keputusan. Tanpa ragu, ia mendorong Sari kembali ke atas tempat tidur, lalu melepaskan pakaiannya sendiri.
…
Ketika Bima terbangun, matahari sudah tinggi di langit. Sari masih tertidur di sampingnya. Di wajahnya tampak kelelahan bercampur ketenangan.
“Benar-benar luar biasa… aku, seorang sopir kecil, justru berhasil mendapatkan presiden terkenal sekaligus primadona Jakarta ini.”
Bima menggaruk kepalanya sambil menatap tubuh putih bersih Sari yang terbaring tanpa penutup, dengan lekuk tubuh yang sempurna. Di seprai di samping mereka, tampak noda merah seperti bunga plum yang sangat mencolok. Itu adalah bukti pertama Sari sebagai seorang wanita.
“Tidak mungkin… keberuntungan seperti ini justru jatuh kepadaku. Tapi kalau dipikir-pikir, ini agak konyol juga. Tanpa sengaja aku mengubahnya dari seorang gadis menjadi wanita. Semua ini berkat bajingan Dimas itu.”
Meski berkata demikian, wajah Bima sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Bahkan dalam hatinya justru muncul rasa bangga. Bagaimanapun juga, wanita secantik Sari—ini pertama kalinya ia dapatkan. Perasaan puas muncul begitu saja.
Saat sedang berpikir, ia tiba-tiba merasa ingin ke kamar mandi. Tanpa banyak pikir, ia segera mengenakan celana dan berlari ke luar kamar. Rumah ini adalah apartemen empat kamar yang cukup sederhana di area Jakarta Selatan. Tidak ada dekorasi mewah, tetapi suasananya terasa hangat dan nyaman.
“Kukira Sari pasti tinggal di vila mewah. Tak kusangka dia justru hidup cukup sederhana.”
Belum sempat mengamati lebih jauh, ia sudah menendang pintu kamar mandi dan masuk.
“Aaaah!”
“Aaaah!”
Dua teriakan terdengar bersamaan. Bima refleks menutup bagian sensitifnya dengan tangan, lalu menatap gadis yang berdiri telanjang di depannya. Matanya langsung berbinar.
Gadis itu tampak berusia sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun. Wajahnya bulat dengan mata besar dan poni di dahinya. Tubuhnya mungil, namun di bagian dadanya terdapat sepasang lekuk yang sangat menonjol—seolah dua bola voli yang menggantung.
Gadis itu sedang mandi ketika Bima tiba-tiba masuk. Ia tertegun dua detik sebelum akhirnya berteriak dan buru-buru menarik handuk menutupi tubuhnya.
“Siapa kamu?! Kenapa kamu ada di sini?! Kenapa kamu tidak mengunci pintu kamar mandi?” Bima justru memprotes balik.
“Aku Wanda! Ini rumahku! Kenapa aku harus mengunci pintu saat mandi di rumahku sendiri?” balas gadis itu kesal.
“Rumahmu? Bukankah ini rumah Sari?” Bima kebingungan.
“Kamu yang dibawa pulang oleh Kak Sari?” Wanda menatapnya dengan penasaran, lalu tiba-tiba tersenyum penuh arti. “Lumayan tampan, tubuhnya juga bagus. Masih cocok untuk Kak Sari. Wah, bahkan ada otot dada juga!”
Dengan nakal ia menepuk dada bidang Bima dua kali.
“Tapi kamu berani sekali. Berani pulang bersama Kak Sari untuk bermalam. Untung Kak Bianca sedang dinas ke luar kota. Kalau tidak, kamu pasti mati mengenaskan!”
“Bianca?” tanya Bima bingung.
“Di rumah ini, selain Kak Sari, aku dan Kak Bianca juga tinggal di sini,” jelas Wanda. “Kak Bianca sangat galak. Aku beri tahu diam-diam kalau kamu tidak ingin mati, jangan datang ke rumah ini lagi!”
Wanda menyeringai. Namun kata-katanya justru membuat Bima semakin tertarik.
“Kalau begitu aku malah semakin ingin bertemu Kak Bianca-mu itu.”
“Terserah! Jangan salahkan aku kalau nanti kamu mati!” kata Wanda sambil melambaikan tangan. Lalu ia menatap Bima dengan penuh rasa ingin tahu. “Ngomong-ngomong… bagaimana performamu tadi malam? Apakah Kak Sari puas?”
Bima langsung membusungkan dada. “Tentu saja puas! Julukanku ‘Delapan Kali Semalam’ bukan tanpa alasan!”
“Delapan kali semalam? Kamu membual, ya? Satu menit sekali?” Wanda mencibir. “Pokoknya ingat! Kalau nanti kamu datang lagi, jangan berpakaian terlalu terbuka dan berkeliaran sembarangan! Dan kalau kalian berolahraga bersama lagi nanti, jangan terlalu berisik! Jangan sampai mengganggu aku membaca novel!”
Wanda berkata dengan wajah serius. Melihat ekspresinya, Bima tidak bisa menahan tawa. Gadis ini benar-benar menarik.
“Wanda! Omong kosong apa yang kamu katakan?!”
Suara dingin tiba-tiba terdengar dari belakang mereka. Sari berdiri di sana dengan tubuh terbungkus seprai, menatap Wanda dengan wajah mengancam.
Wanda menjulurkan lidah nakal. “Kak Sari, aku hanya mengingatkanmu! Kemarin aku baca berita—ada pasangan yang mengalami cedera karena posisi yang terlalu sulit…”
“Berani-beraninya kamu!”
Sebelum ia selesai berbicara, Sari sudah mencubitnya. Keduanya segera berlari keluar kamar mandi sambil saling mengejar.
Bima buru-buru masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya, lalu menghela napas lega.
Realitas benar-benar kejam. Wanita-wanita cantik di rumah ini terlalu berbahaya. Ternyata Sari tidak tinggal sendirian. Ada Wanda dan seorang wanita bernama Bianca yang tinggal bersama di apartemen ini.
Namun mengapa seorang wanita kaya seperti Sari memilih tinggal bersama orang lain? Apa hubungan Wanda dan Bianca dengannya? Bima memikirkannya sebentar, lalu menggeleng. Masalah itu terlalu rumit. Lebih baik memikirkan hal sederhana saja. Misalnya… apakah ukuran luar biasa milik Wanda tadi benar-benar asli?