NovelToon NovelToon
Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: RaeathaZ

Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.

Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.

Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

Pagi itu terasa sama seperti pagi-pagi sebelumnya.

Setidaknya… di permukaan.

Langit Jakarta kembali cerah setelah hujan semalam. Sisa-sisa genangan air masih terlihat di beberapa sisi jalan, memantulkan cahaya matahari yang perlahan mulai naik. Udara terasa sedikit lebih bersih, lebih segar, meskipun hiruk pikuk kota tidak pernah benar-benar hilang.

Di dalam mobilnya, Rionegro duduk dengan posisi yang sama seperti biasa.

Tangan di setir.

Pandangan lurus ke depan.

Radio menyala pelan, hanya musik instrumental ringan yang hampir tidak ia dengarkan.

Lampu merah di depannya berubah dari kuning ke merah.

Mobil berhenti.

Dan untuk beberapa detik—pikirannya kosong.

Bukan kosong karena tenang.

Tapi kosong karena… terlalu penuh.

Ia menghembuskan napas pelan.

Mencoba fokus kembali.

Lampu lalu lintas masih merah.

Beberapa kendaraan berhenti di sekitarnya.

Motor di sisi kanan bergerak sedikit maju, seorang pengendara terlihat menatap layar ponselnya.

Semua terlihat biasa.

Normal.

Seharusnya.

Namun entah kenapa, pikirannya kembali ke satu hal yang tidak bisa ia jelaskan dengan cara biasa.

Semalam.

Apartemen itu.

Suara hujan di jendela.

Dan Yusallia.

Rionegro mengerjapkan matanya pelan.

Seolah mencoba menghapus bayangan itu.

“Fokus,” gumamnya pelan.

Lampu berubah hijau.

Mobil di depannya mulai bergerak.

Ia menginjak pedal gas.

Perjalanan kembali berjalan seperti biasa.

Kampus terlihat seperti biasanya.

Mahasiswa sudah mulai memenuhi area depan gedung fakultas. Beberapa berjalan cepat, beberapa lainnya terlihat santai sambil membawa kopi di tangan. Suara percakapan terdengar di berbagai sudut.

Rionegro memarkir mobilnya dengan rapi.

Mesin dimatikan.

Namun ia tidak langsung turun.

Tangannya masih berada di setir.

Diam.

Beberapa detik.

Pikirannya kembali berputar.

Ia menghela napas pelan, lalu akhirnya membuka pintu mobil.

Langkahnya tetap tenang saat berjalan menuju gedung fakultas.

Seperti biasa.

Tidak ada yang berubah dari luar.

Tidak ada yang bisa melihat bahwa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya sama di dalam dirinya.

Ruang kelas sudah cukup penuh ketika ia masuk.

Beberapa mahasiswa langsung menoleh.

Sebagian menyapa dengan anggukan kecil.

“Pagi, Pak.”

“Pagi.”

Rionegro membalas singkat.

Ia meletakkan tas di meja, lalu membuka laptopnya.

Materi sudah siap.

Slide presentasi terbuka.

Semua berjalan sesuai rutinitas.

Seperti yang selalu ia lakukan.

Ia berdiri di depan kelas.

Menatap mahasiswa-mahasiswa di hadapannya.

“Baik, kita lanjutkan materi kemarin.”

Suaranya stabil.

Tenang.

Terstruktur.

Seperti biasa.

Ia mulai menjelaskan.

Tentang ekonomi pembangunan.

Tentang distribusi sumber daya.

Tentang teori-teori yang sudah ia hafal di luar kepala.

Kalimat demi kalimat mengalir dengan lancar.

Logis.

Sistematis.

Tanpa celah.

Namun di tengah penjelasannya—

Ia berhenti.

Sepersekian detik.

Tidak lama.

Tapi cukup membuat beberapa mahasiswa saling melirik.

Rionegro menatap slide di layar.

Kata-kata yang seharusnya mudah ia lanjutkan tiba-tiba terasa… tidak tersusun.

Ia menarik napas kecil.

Lalu melanjutkan.

“…dan faktor eksternal juga mempengaruhi stabilitas ekonomi dalam jangka panjang.”

Nada suaranya tetap tenang.

Namun di dalam kepalanya—

tidak sepenuhnya sama.

Ia melanjutkan penjelasan.

Beberapa mahasiswa mencatat.

Beberapa mengangguk.

Semua terlihat normal.

Tapi sesekali—

pikirannya terpotong.

Oleh sesuatu yang seharusnya tidak muncul di saat seperti ini.

Wajah Yusallia.

Cara ia menatapnya semalam.

Nada suaranya yang pelan.

Gerakan kecil tangannya yang tanpa sadar bertumpu di bahunya.

Rionegro menahan napas sejenak.

Fokus.

Ia kembali menatap kelas.

“Kita lanjut ke bagian berikutnya.”

Tangannya bergerak mengganti slide.

Namun satu hal menjadi jelas.

Ia tidak sepenuhnya berada di ruang kelas itu.

Kelas berakhir tanpa masalah berarti.

Mahasiswa keluar satu per satu.

Beberapa masih berdiskusi kecil.

Beberapa langsung pergi.

Rionegro menutup laptopnya.

Gerakannya tetap tenang.

Terukur.

Namun begitu ia benar-benar sendirian di ruangan itu—

ia berhenti.

Tangannya terdiam di atas meja.

Pikirannya kembali mengulang potongan-potongan semalam.

Tidak lengkap.

Tidak berurutan.

Tapi cukup jelas untuk tidak diabaikan.

Ia menghembuskan napas panjang.

“Tidak seharusnya,” gumamnya pelan.

Kalimat itu keluar hampir seperti refleks.

Seolah itu satu-satunya hal yang bisa ia yakini.

Tidak seharusnya terjadi.

Tidak seharusnya sejauh itu.

Tidak seharusnya berarti apa-apa.

Ia berdiri.

Mengambil tasnya.

Dan berjalan keluar dari ruang kelas.

Kantin kampus tidak terlalu ramai saat itu.

Beberapa dosen duduk di sudut, berbincang santai.

Beberapa mahasiswa terlihat sibuk dengan laptop.

Rionegro mengambil kopi hitam.

Pilihan yang sama seperti biasanya.

Ia duduk di meja kosong.

Sendiri.

Tangannya memegang cangkir kopi.

Hangat.

Stabil.

Nyata.

Berbeda dengan pikirannya yang… tidak.

Ia menyesap pelan.

Pahit.

Seperti biasa.

Namun tidak cukup untuk mengalihkan pikirannya.

Ia menatap ke depan.

Tanpa benar-benar melihat apa pun.

“Cuma kebetulan,” katanya pelan.

Kalimat yang sama.

Yang ia ulang sejak kemarin.

Pertemuan pertama.

Hujan.

Pertemuan kedua.

Cafe.

Dan semalam.

Ia mengerjapkan mata.

Mencoba kembali menyusun logika.

Itu hanya rangkaian kebetulan.

Tidak ada yang lebih.

Tidak ada yang harus dipikirkan lebih jauh.

Itu hanya—

Langkah kaki seseorang mendekat membuatnya menoleh.

Savira.

Ia membawa minuman di tangan.

Ekspresinya santai seperti biasa.

“Tumben sendirian,” katanya sambil duduk di depan Rionegro tanpa banyak basa-basi.

Rionegro mengangkat alis sedikit.

“Biasanya juga sendiri.”

Savira tertawa kecil.

“Iya sih.”

Ia memperhatikan wajah Rionegro beberapa detik.

“Lo keliatan capek.”

“Biasa.”

“Kurang tidur?”

Rionegro tidak langsung menjawab.

Savira menyipitkan mata.

“Lo begadang?”

“Enggak.”

“Terus?”

Rionegro mengangkat bahu kecil.

“Kerjaan.”

Jawaban standar.

Terlalu standar.

Savira menatapnya beberapa detik lebih lama.

Seolah mencoba membaca sesuatu.

“Lo aneh,” katanya akhirnya.

Rionegro mengernyit sedikit.

“Apanya?”

“Biasanya lo lebih… kosong.”

“Sekarang?”

Savira menyeringai kecil.

“Sekarang kayak lagi mikirin sesuatu.”

Rionegro diam.

Sepersekian detik.

Tidak lama.

Tapi cukup.

Savira langsung tersenyum.

“Nah kan.”

“Enggak ada,” jawab Rionegro cepat.

Terlalu cepat.

Savira tertawa pelan.

“Denial lagi.”

Rionegro menatapnya datar.

“Lo kebanyakan asumsi.”

“Gue cuma observasi.”

Rionegro tidak menanggapi.

Ia kembali menyesap kopinya.

Namun Savira tidak berhenti.

“Gue tanya satu hal.”

Rionegro melirik.

“Apa?”

Savira menyandarkan siku di meja.

“Lo ketemu dia lagi?”

Pertanyaan itu datang santai.

Tapi tepat.

Rionegro terdiam.

Dan kali ini—

lebih lama.

Savira langsung tersenyum lebar.

“Wah.”

Rionegro menghembuskan napas kecil.

“…Iya.”

Jawaban itu akhirnya keluar.

Singkat.

Tapi cukup.

Savira langsung bersandar.

Ekspresinya berubah jadi lebih tertarik.

“Serius?”

Rionegro mengangguk kecil.

Savira tertawa pelan.

“Berarti ini udah…”

Ia menghitung dengan jari.

“Tiga kali?”

Rionegro tidak menjawab.

Namun itu sudah cukup sebagai jawaban.

Savira menggeleng pelan.

“Gila sih.”

Rionegro menatapnya.

“Cuma kebetulan.”

Savira langsung terkekeh.

“Masih aja.”

Rionegro tidak menanggapi.

Namun untuk pertama kalinya—

kalimat itu terasa… tidak cukup kuat.

Savira mencondongkan tubuh sedikit.

“Dan?”

Rionegro mengernyit.

“Dan apa?”

Savira tersenyum miring.

“Cuma ketemu aja?”

Rionegro menatapnya.

Diam.

Beberapa detik.

Savira memperhatikan ekspresi itu.

Dan perlahan—

senyumnya menghilang.

“Wait.”

Nada suaranya berubah.

Lebih pelan.

Lebih serius.

“…Lo ngapain?”

Rionegro mengalihkan pandangannya.

Ke arah cangkir kopi.

Tangannya mencengkeramnya sedikit lebih kuat dari sebelumnya.

“Enggak ada apa-apa.”

Jawaban itu terdengar datar.

Tapi tidak sepenuhnya meyakinkan.

Savira menatapnya.

Lebih lama.

“…Rion.”

Rionegro tidak menjawab.

Dan itu sudah cukup.

Savira menarik napas pelan.

Tidak bertanya lagi.

Tidak memaksa.

Namun ekspresinya berubah.

Ada sesuatu yang ia sadari.

Dan sesuatu yang Rionegro sendiri… belum sepenuhnya akui.

Setelah beberapa menit, percakapan mereka kembali ke hal lain.

Lebih ringan.

Lebih normal.

Seolah topik tadi tidak pernah muncul.

Namun bagi Rionegro—

tidak sepenuhnya hilang.

Ia berdiri dari kursinya.

“Gue balik ke ruang dosen.”

Savira mengangguk.

“Iya.”

Namun sebelum ia benar-benar pergi—

Savira berkata pelan.

“Lo tau kan…”

Rionegro berhenti.

“…nggak semua hal bisa dijelasin pakai logika.”

Rionegro menoleh.

Menatapnya sebentar.

Tidak menjawab.

Lalu berjalan pergi.

Langkahnya kembali tenang di koridor kampus.

Namun pikirannya—

tidak lagi sama.

Kalimat itu kembali terulang di kepalanya.

Tidak semua hal bisa dijelaskan dengan logika.

Ia menghembuskan napas pelan.

Matanya menatap lurus ke depan.

Namun bayangan semalam kembali muncul.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak langsung menolaknya.

Hanya diam.

Dan membiarkan pikiran itu… tetap ada.

Meskipun ia belum tahu harus melakukan apa dengannya.

1
Reilient
ditunggu lanjutannya
Rei_983
lanjutin
Ocean Blue
lanjutin ceritanya
Rose Ocean
lanjutin ceritanya kak
Reha Hambali
lanjutin ceritanya thorr
Riha Zaria
lanjutin ceritanya thor
Reezahra
lanjutin thorr
Zariava
lanjutin thor
Reatha
lanjut thorr
Reazara
lanjutin kak
Zahira
lanjutin thor
Zahra
lanjutin kak
Ria08
lanjut kak
Reza03
lanjut thor
Riza09
lanjut
Rei_Mizuki98
lanjut thor
Rose Mizuki
lanjut💪
Rieza05
lanjut kak
Reva456: lanjut
total 1 replies
@RearthaZ
boleh kok, kak
Unparalleled: haii aku mampir nih..
btw semangat okee buat The continuation of the story nyaaa🤩
total 1 replies
sayang kamu
gw nyicil bacanya ya min bagus gw baca setiap hari 1 bab krn sibuk sendiri di realita gk bisa maraton semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!