"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya
Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Brankas Es dan Pengkhianatan
Vandiko tidak membuang waktu. Dalam waktu kurang dari satu jam setelah jamuan makan malam yang mencekam di Windsor, jet pribadi Gulfstream miliknya telah membelah langit malam menuju Aurich .
Di bawah sana, Pegunungan Zlpen berdiri kokoh seperti raksasa yang tertidur, menyembunyikan rahasia paling kotor dari peradaban manusia
Vandiko duduk di kabin jet yang sunyi, menatap serbet kertas berisi kode akses dari Lord Alistair
Di sampingnya, Gia sedang memeriksa perlengkapan taktis
alat peretas frekuensi, peledak termit mini, dan baju zirah kevlar yang disamarkan di balik mantel wol mahal
"Tuan, brankas Alpine Sanctuary bukan sekadar gudang penyimpanan," Gia menjelaskan sambil menampilkan peta holografik "Itu dibangun di dalam gunung
Pintunya terbuat dari baja setebal dua meter dengan sensor biometrik ganda. Kode dari Alistair hanya akan membawa kita melewati gerbang pertama."
"Aku tahu," jawab Vandiko dingin
"Tapi Sistem ini tidak akan membiarkanku gagal."
[Ting! Status Sistem: Daya 30%.]
[Fitur Terkunci: 'Ghost Walk' (Memungkinkan pengguna tidak terdeteksi sensor elektronik selama 60 detik).]
Saat jet mendarat di pangkalan udara pribadi di kaki Alpen, udara dingin ekstrem langsung menyambut mereka
Suhu berada di angka -15°C Mereka berpindah ke SUV lapis baja dan mendaki jalanan bersalju yang curam menuju koordinat yang dituju
[Infiltrasi di Ketinggian]
Di depan sebuah pintu beton raksasa yang menyatu dengan dinding gunung, Vandiko turun
Penjaga bersenjata lengkap dengan seragam putih kamuflase segera menodongkan senjata
"Identitas!" bentak salah satu penjaga
Vandiko tidak bicara
Ia hanya memberikan serbet kertas itu Pemimpin penjaga memeriksa kode tersebut, matanya membelalak, lalu ia memberi hormat
"Maaf, Tuan Silakan masuk Lord Alistair tidak memberi tahu akan ada tamu selarut ini."
Mereka masuk ke dalam lorong panjang yang diterangi lampu neon pucat
Semakin dalam mereka masuk, suasana semakin terasa seperti makam bawah tanah
Di ujung lorong, sebuah pintu baja bundar yang megah berdiri tegak Itulah jantung dari ekonomi dunia
Vandiko memasukkan kode kedua di panel digital
Clank! Whirrr...
Pintu itu terbuka perlahan, mengeluarkan uap dingin
Di dalamnya, ribuan kotak deposit emas berjajar
Namun, Vandiko tidak mencari emas
Ia berjalan menuju kotak nomor 001
"Buka ini," perintah Vandiko pada sistem
[Proses Peretasan Biometrik Dimulai... 10%... 50%... 100%.]
Kotak itu terbuka, Di dalamnya terdapat sebuah buku tua bersampul kulit hitam dan sebuah flasdisk berbahan titanium
Inilah The Black Ledger yang asli—daftar pemilik sah aset-aset di seluruh dunia yang tidak tercatat di bank mana pun
Namun, tepat saat Vandiko hendak mengambilnya, suara tepuk tangan bergema di ruangan sunyi itu
"Luar biasa, Vandiko Kau benar-benar anjing pelacak yang hebat."
Vandiko berbalik Di pintu masuk brankas, berdiri Isabella Wijaya, Di sampingnya bukan lagi Lord Alistair, melainkan sesosok wanita yang tampak hancur, kurus, namun matanya penuh dengan kebencian yang dalam
Clarissa
"Clarissa?" Vandiko menyipitkan mata
"Vandiko..." Clarissa berbisik dengan suara serak
"Kau menghancurkan hidupku, Kau membuatku menjadi gelandangan
Isabella memberiku kesempatan untuk melihatmu mati... dan aku tidak bisa menolaknya."
Isabella tersenyum penuh kemenangan, memegang sebuah detonator kecil "Alistair bodoh, tapi aku tidak
Kode yang dia berikan padamu mengandung pelacak aktif
Dan sekarang, brankas ini akan menjadi peti mati es untukmu
Clarissa, lakukan."
Clarissa menekan sebuah tombol di panel dinding. Seketika, pintu baja raksasa itu mulai menutup dengan cepat.
"Selamat tinggal, mantan kekasihku," teriak Isabella saat pintu hampir tertutup rapat.
BAM!
Vandiko dan Gia kini terjebak di dalam brankas kedap udara dengan oksigen yang terbatas
Suhu di dalam ruangan mulai turun drastis karena sistem pendingin darurat diaktifkan
"Tuan! Kita terjebak!" Gia mencoba menembakkan senjatanya ke arah pintu, namun peluru itu hanya memantul sia-sia
Vandiko tetap tenang, Ia mengambil buku hitam dan flasdisk itu, menyimpannya di balik jasnya
Ia menatap layar sistemnya yang berkedip merah
[Peringatan! Oksigen Menurun. Suhu Ekstrem Terdeteksi.]
[Opsi Terakhir: Gunakan 10% Sisa Daya untuk 'Overload Burst'.]
"Gia, menjauh dari pintu," perintah Vandiko
Matanya mulai bersinar dengan cahaya biru yang sangat terang, lebih terang dari sebelumnya
"Isabella berpikir dia telah menjebak seekor tikus
Dia lupa bahwa dia baru saja mengurung seekor naga di dalam gudang senjatanya sendiri."
Vandiko meletakkan tangannya di pintu baja setebal dua meter itu
Seluruh tubuhnya bergetar hebat saat energi sistem mengalir keluar secara paksa
Di luar brankas, Isabella dan Clarissa berjalan menjauh dengan puas
Namun, sebuah ledakan dahsyat yang mengguncang seluruh gunung membuat mereka terlempar ke lantai
Pintu baja yang seharusnya tak bisa hancur itu terbang melesat seperti kepingan kertas, menghantam dinding lorong hingga hancur
Dari balik asap dan uap es, Vandiko melangkah keluar, Mantelnya sedikit terbakar, namun tatapannya jauh lebih mengerikan dari ledakan tadi
Vandiko berjalan mendekati Clarissa yang sedang merangkak ketakutan
Ia mencengkeram dagu wanita itu, memaksanya menatap matanya
"Kau bilang aku menghancurkan hidupmu? Tidak, Clarissa Kau yang menghancurkannya sendiri sejak hari kau memilih uang daripada ketulusan."
Vandiko melepaskannya begitu saja, seolah Clarissa tidak lebih dari sampah
Ia lalu menatap Isabella yang sedang gemetar sambil memegang pistolnya
"Isabella," suara Vandiko bergema di seluruh lorong gunung
"Buku di tanganku ini berisi bukti bahwa keluarga Wijaya hanyalah pelayan bagi bankir-bankir Kau bukan naga, Kau hanyalah anjing penjaga
Dan hari ini, aku baru saja mencuri kalung lehermu."
Vandiko berjalan melewati mereka, menuju pintu keluar. "Jangan coba-coba mengikutiku lagi, atau aku akan memastikan nama Wijaya hanya akan ditemukan di buku sejarah sebagai contoh pengkhianat terbesar abad ini."
Vandiko dan Gia menghilang ke dalam badai salju Alpen, meninggalkan Isabella yang berteriak histeris dan Clarissa yang menangis di atas salju yang dingin