NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

Malam itu, paviliun ndalem yang biasanya tenang mendadak dipenuhi ketegangan yang menyesakkan. Zavier bersimpuh di depan Abi Luqman dan Umi Hannah, jemarinya meremas kain sarungnya hingga buku-bukunya memutih. Matanya merah, bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena beban rahasia yang mulai merobek kewarasannya.

"Abi, Umi... bisakah malam ini juga Abi mengkhitbah Zaheera, putri Pak Narendra untuk ku?" tanya Zavier dengan suara yang bergetar hebat.

Kyai Luqman meletakkan tasbihnya, menatap putra bungsunya dengan dahi berkerut. "Zavier, ada apa denganmu, Nak? Bukankah segalanya butuh proses? Apa tidak bisa ditahan dulu perasaanmu itu? Satu atau dua tahun ke depan, sembari kamu mematangkan ilmu di sini?"

"Tidak bisa, Abi. Perasaan ini sungguh menyiksa saya. Setiap detik adalah peperangan yang saya kalahkan sendiri," Zavier menunduk, air matanya jatuh membasahi lantai ubin.

"Tapi kakakmu, Syafi'iyah, dia baru saja dikhitbah minggu lalu. Masa iddah khitbahnya belum selesai, dan kita sedang fokus pada persiapannya. Masa kamu mau melangkahi—"

"Bagaimana ini Abi..." Zavier memotong ucapan ayahnya, suaranya naik satu nada karena putus asa. "Saya sering bermimpi... saya bermimpi mencumbu Zaheera. Jika tidak menikah segera, saya benar-benar tidak bisa menahan perasaan ini lagi, Abi! Saya takut terjatuh dalam zina!" ucapnya dusta.

Deg.

Suasana seketika beku. Umi Hannah menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya membelalak tak percaya mendengar pengakuan itu dari mulut putranya. Kyai Luqman terdiam, wajahnya mengeras. Beliau melihat ketakutan yang nyata di mata Zavier—ketakutan seorang pemuda yang sedang berada di tepi jurang syahwat yang tak terkendali.

"Umi, panggil Azlan ke sini," perintah Kyai Luqman pendek.

Tak lama, Gus Azlan masuk dengan langkah tegap. Setelah mendengar inti permasalahannya dari sang Abi, Azlan terdiam sejenak. Ia menatap Zavier dengan tatapan tajam, seolah sedang membedah isi kepala adiknya. Namun, alih-alih menunda, Azlan justru mengambil keputusan yang mengejutkan.

"Disegerakan saja, Abi. Fitnah wanita itu kejam, apalagi bagi pemuda yang baru pulang dari kota besar seperti Zavier. Jika dia sudah merasa tidak sanggup menjaga pandangan dan pikirannya, lebih baik kita halalkan. Kita berangkat malam ini juga ke rumah Pak Narendra," ujar Azlan dengan suara baritonnya yang tegas.

Satu jam kemudian, rombongan keluarga El-Shaarawy tiba di kediaman Pak Narendra. Suasana sangat formal dan canggung. Pak Narendra, yang masih menyimpan luka dari kejadian pagi tadi, tampak sangat terkejut melihat kehadiran sang Kyai di jam yang hampir larut.

Setelah basa-basi singkat dan Kyai Luqman menyampaikan maksud kedatangannya untuk mengkhitbah Zaheera bagi Zavier, Pak Narendra terdiam seribu bahasa. Wajahnya pucat. Ia menatap Zavier dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kyai... saya merasa terhormat. Sangat terhormat," suara Narendra bergetar. "Tapi, sebelum saya memberikan jawaban, bolehkah saya bicara berdua dengan Zavier di teras belakang? Ada hal yang harus saya sampaikan secara jantan padanya."

Kyai Luqman mengangguk setuju. Zavier bangkit dengan kaki yang terasa seperti jeli. Ia mengikuti langkah Narendra menuju taman belakang yang gelap.

Di bawah rembulan yang tertutup awan, Narendra berbalik. Matanya berkaca-kaca. "Zavier... kamu anak baik. Kamu putra seorang Kyai besar. Tapi putriku... Zaheera..." Narendra terisak pelan. "Dia bukan lagi gadis suci, Zavier. Dia sudah pernah dijamah oleh pria lain. Aku sebagai ayahnya gagal menjaganya. Aku tidak ingin membohongimu dan keluargamu. Kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik."

Jantung Zavier berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Inilah saatnya.

"Dad... dengarkan saya," Zavier memegang bahu Narendra, menatap mata pria tua itu dengan kejujuran yang menyakitkan. "saya mencintai putri Anda. Dan soal apa yang Daddy katakan... Sayalah pria itu. Sayalah yang telah menjamah Zaheera. Saya pelakunya, Dad."

Zavier memejamkan mata, menunggu pukulan keras mendarat di wajahnya atau teriakan kemarahan yang akan membangunkan tetangga. Ia siap jika harus dihajar habis-habisan malam ini.

Namun, keheningan panjang justru menyergap. Saat Zavier membuka mata, ia melihat Narendra justru menatapnya dengan pandangan yang penuh rasa haru dan lega yang luar biasa.

"Terima kasih, Zavier... Terima kasih," ucap Narendra lirih, suaranya pecah oleh tangis.

Zavier tertegun. "Kenapa... kenapa Daddy berterima kasih? Aku telah merusak putri mu, Zaheera!"

"Karena kamu tidak meninggalkannya," Narendra memeluk Zavier erat. "Di zaman sekarang, pria akan pergi setelah mendapatkan apa yang mereka mau. Tapi kamu... kamu datang ke sini, membawa orang tuamu, dan bersedia bertanggung jawab tanpa memandang masa lalu kelam yang kamu ciptakan bersamanya. Kamu menerima putriku apa adanya di depan keluargamu yang suci. Terima kasih telah kembali untuknya."

Deg.

Zavier merasa hatinya tersayat. Narendra mengira pengakuannya adalah bentuk "penerimaan atas masa lalu orang lain", padahal itu adalah "pengakuan dosa sendiri". Namun, Zavier tidak sanggup mengoreksinya lagi. Biarlah ini menjadi rahasia yang ia bawa sampai mati.

Mereka kembali ke ruang tamu. Pak Narendra mengusap sisa air matanya dan duduk kembali di samping Kyai Luqman. Semua mata tertuju pada pintu kamar, tempat Zaheera berada.

Tak lama, Zaheera keluar dengan didampingi Umi Hannah dan Mommy Kayes. Zaheera mengenakan jilbab Putihnya, namun kali ini sorot matanya penuh dengan harapan. Saat Kyai Luqman bertanya apakah ia menerima Khitbah Zavier, Zaheera menatap Zavier sekilas, lalu mengangguk perlahan.

"Iya... saya menerima, Kyai," ucap Zaheera pelan.

Suasana haru seketika pecah. Umi Hannah memeluk Zaheera, begitu pula Mommy Kayes. Tangis bahagia meledak di ruangan itu. Pak Narendra menjabat tangan Kyai Luqman dengan sangat erat, seolah menitipkan seluruh nyawanya pada keluarga tersebut.

Namun, di sudut ruangan, Gus Azlan duduk dengan raut wajah yang kaku. Di balik bibirnya yang mengucapkan "Alhamdulillah", hatinya bergejolak hebat. Ia menatap adiknya dengan rasa kecewa yang mendalam.

“Zavier... kenapa kamu begitu ceroboh?” batin Azlan pedih.

Sebagai seorang kakak yang sangat mencintai adiknya, Azlan merasa Zavier sedang melakukan kesalahan besar. Mengapa Zavier harus memilih gadis yang baru belajar memakai kain penutup kepala? Mengapa tidak memilih seorang Ning dari pesantren besar yang sudah matang ilmunya, yang bisa mengejar akhirat bersama-sama tanpa harus memulai dari Awal?

Azlan melihat Zaheera yang masih kaku dengan jilbabnya, melihat cara bicaranya yang masih sangat "kota". Baginya, ini bukan pernikahan, tapi beban tambahan bagi Zavier. Ia takut adiknya justru akan terseret kembali ke dunia hitam jika tidak kuat membimbing wanita sesulit Zaheera.

"Semoga ini benar-benar karena Allah, Zavier. Bukan karena nafsu yang kamu katakan tadi," gumam Azlan sangat pelan, hampir tak terdengar.

Malam itu, di bawah saksi dua keluarga, sebuah janji suci telah diikat. Zavier dan Zaheera saling melempar pandang—sebuah tatapan yang penuh dengan rahasia, dosa, dan keinginan kuat untuk bertaubat bersama. Mereka tahu jalan di depan tidak akan mudah, namun di tengah dinginnya malam desa itu, satu hal yang pasti: mereka tidak akan lagi menanggung beban ini sendirian.

🌷🌷🌷

Jangan lupa like 🤭

Supaya Author Semangat Nulis bab selanjutnya 🥰

1
winpar
lnjuttttttt💪💪💪💪💪lnjuttttttt
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!