NovelToon NovelToon
Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.

Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Riuh tepuk tangan dari luar panggung masih terdengar samar saat Cassandra melangkah masuk ke area backstage. Suasana di balik layar jauh berbeda dengan di depan panggung. Suasana di sana lebih kacau, lebih cepat, dan penuh tekanan.

Asisten yang berlarian membawa pakaian. Makeup artist yang sibuk merapikan sentuhan terakhir. Serta beberapa model berdiri di depan cermin, memeriksa diri mereka dengan ekspresi tegang.

Namun kehadiran Cassandra, tetap tidak luput dari perhatian. Beberapa pasang mata langsung beralih ke arahnya. Ada yang menatap kagum, terdiam, serta ada pula yang tidak senang melihat kehadirannya.

Cassandra tetap berjalan seperti biasa. Tenang, tanpa tergesa. Seolah semua tatapan itu tidak memiliki arti apa pun baginya.  Ia berhenti di depan mejanya, mengambil botol air, lalu meneguknya perlahan.

“Impressive.”

Suara itu terdengar dari samping.

Cassandra tidak langsung menoleh. Ia sudah tahu nada seperti itu bukanlah pujian tulus.

Ia menurunkan botolnya, lalu akhirnya melirik. Seorang model lain berdiri di sana di samping tempat duduknya. Tinggi, putih, cantik, dengan riasan sempurna tanpa cela. 

“Aku tidak tahu kau bisa mencuri perhatian sebanyak itu,” lanjutnya, nada suaranya terdengar santai, tetapi penuh makna tersembunyi.

Cassandra menatapnya sekilas, lalu kembali fokus pada cermin di depannya, menatap wajahnya yang masih cantik meski usianya menginjak kepala tiga. “Aku tahu kau iri, tetapi tidak perlu menunjukkannya kepadaku seperti itu,” jawabnya datar dan santai.

“Satu hal lagi, jika kau ingin menyamai posisiku, fokus saja pada pekerjaanmu dan jangan ganggu orang lain,” pesan Cassandra tanpa menatap wajah model yang ia tahu menjadi saingannya itu.

Model itu tertawa kecil. “Pekerjaan, ya? Lucu sekali kau membahas itu, padahal kau sendiri sempat menghilang selama satu tahun. Membahas pekerjaan? Kau tidak profesional dalam hal itu,” sindirnya.

Cassandra berhenti sejenak. Tangannya yang tadi merapikan rambut kini terdiam. Perlahan, ia menoleh. Tatapannya tajam, tetap tenang namun terasa menusuk.

“Sebaiknya kau diam dan urus saja dirimu sendiri. Apa kau tidak sadar? Eyelash-mu miring sebelah,” katanya tegas.

Senyum di wajah model itu menghilang seketika, ia sontak melihat ke arah cermin dan memeriksa wajahnya sendiri.

Beberapa orang di sekitar mulai melirik. Mereka bisa merasakan perubahan suasana, meski tidak berani ikut campur.

“Kau pikir satu penampilan bagus bisa membuatmu berada di atas?” sindir model itu lagi, belum puas, nadanya mulai meninggi sedikit. “Ini Paris. Semua orang bisa bersinar, setidaknya untuk satu malam.”

Cassandra berdiri perlahan. Gerakannya tidak tergesa, tetapi cukup untuk membuat perbedaan posisi mereka terasa lebih nyata.

“Aku tidak pernah merasa aku berada di atas siapa pun,” katanya tenang. “Tapi jika kau merasa iri dengan posisiku sekarang, maka cobalah untuk merebutnya dariku.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan halus. Model itu mengepalkan tangannya sedikit, menahan emosi yang mulai terlihat.

Namun Cassandra sudah tidak tertarik melanjutkan. Ia mengambil tas kecilnya, lalu melangkah melewati wanita itu tanpa menoleh lagi. Sikapnya tetap sama, tenang dan percaya diri. Seolah konflik itu tidak cukup penting untuk ia pikirkan lebih lama.

***

Suasana ruang keluarga sore itu terasa berbeda. Biasanya, ruangan itu hanya dipenuhi keheningan yang tenang. Namun kali ini, udara di dalamnya terasa lebih berat seolah keberadaan Bianca di sana adalah sebuah beban.

Bianca duduk dengan anggun di sofa utama, punggungnya tegak, tangannya bertaut di atas pangkuan. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan penuh perhitungan.

Di hadapannya, Cameron berdiri dengan tegak. Wajahnya tenang seperti biasa, tetapi sorot matanya sedikit mengeras.

“Kau sudah melihatnya sendiri,” ucap Cameron akhirnya, memecah keheningan. “Tidak ada yang perlu aku jelaskan lagi kepadamu, Bu.”

Bianca tersenyum tipis. “Justru karena aku melihatnya sendiri, aku jadi tidak bisa mengabaikannya,” balasnya pelan, tatapan matanya fokus tertuju pada Cameron.

“Seorang wanita asing tinggal di rumahmu, bersama dengan bayinya. Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan, Cameo? Untuk sekarang kau mungkin bisa menyembunyikannya. Tetapi, bagaimana jika media sampai tahu? Dan yang paling membahayakan, bagaimana jika ayahmu tahu?” tanya Bianca, mengutarakan kekhawatirannya.

Cameron menghela napas pelan. Ia tahu percakapan ini tidak akan mudah. “Aku hanya merasa tidak tega,” jawabnya singkat. “Kondisinya tidak baik dan bayinya juga membutuhkan perawatan.”

Bianca langsung menoleh tajam. “Hanya karena itu? Rasa kasihan? Cameo, Ibumu ini tidak sebodoh itu.” 

Cameron tidak langsung menjawab, tetapi diamnya justru memperkuat kecurigaan di mata Bianca.

“Aku adalah Ibumu, Cameo. Aku mengenalmu dengan lebih baik dari siapapun,” lanjutnya, suaranya kini terdengar pelan. “Kau tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas. Dan apa tadi? Kau tidak tega melihatnya sampai membiarkannya tinggal di rumah ini?”

Cameron menatap ibunya. “Lalu menurut Ibu, apa alasanku?” tanyanya datar. “Apakah aku tidak boleh menolong seseorang?” 

Bianca tidak langsung menjawab. Ia bangkit perlahan dari duduknya, lalu melangkah mendekat. Tatapannya menelusuri wajah Cameron, seolah mencoba menemukan sesuatu yang tersembunyi.

“Jawab aku dengan jujur, Nak. Siapa sebenarnya bayi itu?” tanyanya pelan. “Aku tahu kau tidak akan mengambil keputusan seperti ini hanya atas dasar kasihan.”

Cameron terdiam, tak tahu harus menjawab apa saat ibunya bertanya seperti itu. Namun, ia hanya bisa membuang muka, isyarat kecil bahwa Cameron tidak ingin menjawab pertanyaan ibunya itu.

Bianca menarik napas dalam, lalu mengucapkan sesuatu yang sudah sejak tadi mengendap di pikirannya.

“Anak itu sedikit mirip denganmu.”

Kalimat itu membuat Cameron membeku di tempat. Namun bukan karena terkejut, melainkan tidak percaya. 

Bianca melanjutkan, suaranya kini lebih tajam dan tatapannya penuh selidik. “Aku melihatnya dengan jelas. Cara dia tidur, bentuk wajahnya, tatapan matanya, bibirnya. Dia sedikit mirip denganmu saat masih kecil. Itu semua bukan kebetulan, kan?” 

Ia menatap Cameron lurus dan tajam, ada kecurigaan dalam tatapannya. “Apakah kau memiliki anak di luar pernikahan?” tanyanya langsung. 

Cameron menghela napas panjang, rahangnya mengeras. Tangannya terkepal kuat, ia merasa sesak. Pertanyaan itu seperti tuduhan baginya. 

“Tidak,” jawabnya tegas.

Namun Bianca tidak mundur. “Kalau begitu jelaskan padaku, kenapa anak itu bisa begitu mirip denganmu?” tekan Bianca.

Cameron menatap ibunya lebih dalam, kesabarannya mulai diuji. Meski ia ingin sekali mengatakan yang sebenarnya, mulutnya tetap terkunci rapat, demi menjaga rahasia sang kakak. 

“Itu mungkin hanya perasaan Ibu saja,” kilahnya seraya membuang muka dan melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher.

“Hanya perasaanku?” ulang Bianca, tidak percaya. “Kau pikir Ibumu akan menerima jawaban seperti itu? Jawab yang jujur, Cameo, sebelum Ibu mencari tahu kebenarannya sendiri dengan caraku.”

Cameron menggeleng pelan. “Aku tidak memiliki anak di luar pernikahan. Mengapa Ibu tidak percaya kepadaku? Bagaimana mungkin aku memiliki anak di luar pernikahan sementara kalian saja sudah mengatur segalanya untukku.”

Ketegasan Cameron itu membuat Bianca terdiam sejenak. Namun keraguan di matanya belum sepenuhnya hilang. Di satu sisi, ia yakin bahwa putranya tidak akan melakukan hal hina seperti itu, namun di sisi lain, ia juga merasa ada hal yang putranya sembunyikan.

Di luar ruang keluarga, tanpa sengaja,  Giana mendengar semuanya. Ia berdiri di dekat lorong, langkahnya terhenti sejak beberapa menit yang lalu. Awalnya ia hanya ingin lewat, tetapi suara Bianca yang meninggi membuatnya tanpa sadar berhenti.

Dan kini ia tidak bisa bergerak. Setiap kata yang ia dengar terasa seperti potongan puzzle yang membingungkan.

Pertanyaan Bianca pada Cameron terus terulang di kepalanya. Giana mengernyit bingung. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Jika Cayden bukan anak Tuan Cameron, lalu anak siapa?” pikir Giana bingung.

Tangannya tanpa sadar mengerat di sisi tubuhnya. Ia mencoba mengingat kembali semua yang ia tahu. Semua yang pernah dikatakan Cameron. Semua yang terjadi sejak ia datang ke rumah itu.

Namun semakin ia memikirkannya, semuanya terasa semakin tidak masuk akal. “Atau, mungkinkah selama ini ada sesuatu yang disembunyikan Tuan Cameron?”

Giana menelan ludah pelan. “Mungkinkah Tuan Cameron berbohong pada Ibunya sendiri? Bagaimana jika apa yang dipikirkan Nyonya Bianca benar? Bagaimana jika sebenarnya, Tuan Cameron memiliki anak di luar pernikahan namun malu untuk mengakuinya?” gumamnya tertegun di tempatnya berdiri.

1
awesome moment
thx, kak. sdh mengembalikan giana dan cay ke panti. buat agak lamaan di panti jg g p2. biar regina dan bianca tau smuanya dlu. biar cameron terbuka dlu. biar bianca nyesel dlu..biar...cay gemoy dlu😄😄😄
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Cerita yg sangat seru 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Harusnya kamu berterima kasih pada Giana 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg harusnya di usir Regina 😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
rasain luuhh.. bela aja teruus calon mantu manjamu ituu
E Putra
bagus ceritanya
mawar hitam
tanda kutipnya ketinggalan nih
mawar hitam
gugup
mawar hitam
gumamnya
mawar hitam
km salah paham ih 🤣
mawar hitam
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mawar hitam
Make-up artist
mawar hitam
???
mawar hitam
bener2 deh si Rengginang ini 😶
mawar hitam
terpisah kalimatnya 😐
mawar hitam
kurang titik nih
mawar hitam
cakeeep, gini dong ah, tegasss
mawar hitam
dih lebay bgt
awesome moment
giana ditolong ibu panti asuhan. dibawa ke panti. tinggal dan bekerja di panti, krn disana, giana dan cay aman dan hidup layak meski...sebatas rakyat kebanyakan. bukan sbg horang kayah dan...smua tu menyiksa cameron. krn giana pergi bawa cay dan...tdk mintol samsek. kn hp ketinggalan😉😉😉
mawar hitam
hadeuhhh provokator
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!