Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Teror Perhatian Sang CEO
Sesampainya di rumah Maya, Gisel tidak bisa diam. Ia langsung menyambar sapu, membereskan ruang tamu, lalu berduel dengan peralatan dapur. Bau harum tumisan menggoda indra penciuman tepat saat pintu depan terbuka.
"Wah! Oh senangnya ada Gisel-ku sayang!" seru Maya yang baru pulang kerja, matanya berbinar melihat meja makan yang sudah penuh. "Gue berasa punya istri simpanan kalau begini."
Gisel tertawa sambil mengacungkan sutil. "Mandi dulu sana! Bau matahari. Habis itu baru kita makan."
Beberapa saat kemudian, mereka sudah duduk berhadapan. "Ayo makan, makan!" ucap Maya semangat, menyendok nasi ke piringnya. Di sela-sela kunyahan, Maya menatap sahabatnya itu. "Gimana? Udah ketemu anak bungsu lo si Diego?"
Gisel mengangguk, tapi perlahan gerakannya melambat. "Udah. Gue nggak tega sebenarnya, May, buat ninggalin Diego. Pas dia tidur tadi, rasanya berat banget mau lepasin."
"Ya kalau gitu bawa aja dia ke sini," celetuk Maya enteng.
"Sst! Sembarangan aja! Itu anak orang, main bawa-bawa aja emangnya kucing?"
"Ya kalau nggak mau dibawa ke sini, lo yang pulang ke sana," balas Maya santai.
Gisel langsung mengerucutkan bibirnya. "Lo ngusir gue, May? Tega banget lo!"
"Bukan gitu, Sel—"
"Terserah lah!" potong Gisel pura-pura merajuk, meski ia tahu Maya hanya bercanda.
Setelah makan, mereka pindah ke depan TV untuk bersantai. Namun, ketenangan itu terusik. Ponsel Maya terus-menerus berbunyi klunting! klunting! tanda pesan masuk beruntu.
Dewa: Nona Maya, maaf mengganggu. Bagaimana keadaan Gisel?
Maya: Baik.
Dewa: Dia sudah makan? Tadi dia tidak makan banyak di kafe.
Maya: Sudah.
Dewa: Apa dia sedang tidur? Dia terlihat lelah.
Pertanyaan-pertanyaan lain mulai berdatangan—tentang Gisel sudah cuci kaki atau belum, sampai apakah Gisel memakai selimut. Karena merasa waktu istirahatnya dirampok oleh perhatian posesif sang CEO, Maya akhirnya meledak.
Maya menyambar ponselnya dan langsung menekan tombol telepon ke nomor Dewa. Begitu diangkat, Maya berteriak, "JANGAN GANGGU AKU! TANYA SENDIRI SAMA ISTRI SITU!"
Pip. Maya mematikan telepon dengan napas memburu karena kesal.
Gisel yang duduk di sampingnya sampai melongo. "May, lo kenapa sih? Kok sewot banget?"
Maya menoleh dengan tatapan tajam. "Sel, gue tanya. HP lu hilang?"
"Nggak kok," jawab Gisel bingung.
"Atau hilang sinyal? Atau nggak ada kuota? Atau mati?" cecar Maya lagi.
"Nggak, semuanya normal."
"KALAU GITU KASIH KABAR KE BAPAK CEO ITU!" teriak Maya sambil menekankan kata 'CEO' dengan nada sangat kesal. "Dia neror gue kayak gue ini asisten rumah tangga kalian!"
Gisel terdiam, lalu menyadari apa yang terjadi. Ia langsung nyengir lebar sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. "May... maaf ya, maaf banget..." ucapnya sambil menggerak-gerakkan tangannya memohon ampun karena ulah suaminya yang mendadak jadi "penguntit" perhatian.
Gisel menghela napas panjang, lalu meraih ponselnya. Dengan jari yang lincah, ia mengetik pesan singkat namun tegas untuk suaminya.
Gisel: Mas Dewa, jangan ganggu Maya lagi! Dia mau istirahat, kasihan diteror terus. Kalau mau tanya apa-apa, tanya langsung ke aku saja.
Di tempat lain, di kamar mewahnya yang sunyi, Dewa sedang menyandarkan punggung di kepala ranjang. Begitu notifikasi pesan dari Gisel muncul, bukannya merasa bersalah karena sudah mengganggu Maya, Dewa justru tersenyum tipis. Strateginya berhasil—membuat Gisel sendiri yang menghubunginya.
Tanpa membuang waktu, Dewa langsung membalas.
Dewa: Gisel, kamu pulang besok ya? Anak-anak tidak ada yang jaga. Aku harus ke Bangkok minggu ini untuk urusan bisnis.
Gisel yang membaca pesan itu langsung mengerutkan kening. Sifat cerdasnya mulai bekerja; ia curiga ini hanya taktik Dewa agar dia mau pulang. Namun, memikirkan tiga anak di rumah tanpa pengawasan membuat hatinya bimbang.
Gisel: Aku pikirkan dulu.
Dewa: Baiklah. Aku tunggu kabar baiknya.
Setelah membalas pesan itu, Dewa meletakkan ponselnya di nakas. Ada binar kemenangan di matanya. Ia tahu, titik lemah Gisel adalah anak-anak.
Sementara itu di rumah Maya, Gisel berjalan menuju jendela kamar. Ia berdiri mematung di sana, menatap langit malam yang bertabur bintang. Pikirannya melayang jauh.
Di satu sisi, ia merasa damai bisa menjauh sejenak dari tekanan di rumah besar itu. Namun di sisi lain, bayangan Diego yang tertidur di pelukannya, rengekan manja anak bungsu itu, hingga tatapan dingin Raka dan kebucinan anak gadisnya, terus berputar-putar di kepala.
"Harus pulang besok, ya?" gumam Gisel lirih.
Ia memikirkan tawaran Dewa. Pulang berarti harus kembali berhadapan dengan si "Tuan Batu Es" yang akhir-akhir ini mulai menunjukkan sisi manis yang mengerikan. Tapi jika tidak pulang, siapa yang akan mengurus kekacauan di rumah itu saat Dewa pergi ke Bangkok?
Gisel menghela napas berat, wajahnya tampak bingung antara mengikuti ego atau rasa tanggung jawabnya sebagai ibu sambung.