Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.
Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.
Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?
Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Death Zone
Adam dan Ziva menatap Rifana dengan terkejut.
"Kadal? Jangan bilang ke gua Rif" Ziva segera berbicara, tangannya sedikit gemetar saat mendengar itu.
Dia menghampiri Rifana "Buaya itu," katanya tersendat "Bukan buaya itu kan?" matanya yang dingin kini terasa lemah.
Adam hanya terdiam ditempat, dia menunduk memikirkan sesuatu "Baiklah.." Meski suaranya bergetar, Adam berusaha mengatakannya dengan lantang.
Melihat tingkah aneh dua saudara ini Rifana mau tak mau menghela nafas 'Kayanya ada masalah nih' Rifana mengamati Adam lebih dekat, tangannya mengepal dengan keras.
'Hm..' Mereka sepertinya salah paham, namun Rifana tak berniat meluruskannya. Dia hanya menghampiri mereka dan berkata.
"Karena lu udah setuju, ikut gua" Dia berjalan meninggalkan mereka di belakang, tangannya membuka pintu dan berjalan ke luar.
...
'Gua harus balik ke rumah dulu' Rifana mengendong tas ranselnya di pundak, dia kini tak bersenjata jadi sebaiknya dia pergi ke tempat aman dulu.
Mereka saat ini berada di sisi lain perumahan.
Cukup jauh dari kawasan buaya mutan itu, mayat mayat masih tergeletak di berbagai sudut tempat ini, namun jumlah mahluk mutan memang sudah berkurang sepenuhnya.
Adam dan Ziva hanya mengikuti di sepanjang jalan. Saat Rifana berbalik untuk melihat mereka, mereka hanya menunduk dengan wajah serius.
'Yah itu bukan urusanku' Rifana meneruskan langkahnya dengan cepat, dia harus segera pergi ke rumah untuk mengisi perbekalan dan mengemas barang untuk pergi.
Di jalanan penuh kematian, kini mereka bertiga berjalan bersama dalam keheningan.
Rifana belum mengatakan hal lain lagi pada mereka, sampai Adam mempercepat langkahnya untuk menyusulnya.
Adam menepuk pundaknya dari belakang"Jadi gimana cara kita bisa dapet kekuatan kaya lu?" Wajahnya masih sangat serius, matanya terlihat sangat fokus pada sesuatu.
Dengan pria besar ini menghampirinya Rifana hanya menjawab singkat "Bunuh." Dia mengalihkan pandangannya ke pria itu "Kita harus membunuh mutan." Ucapnya menjawab Adam.
Kini tatapannya sedikit rileks, sepertinya lega 'Seharusnya begitu' Rifana sebenarnya belum yakin, namun berdasarkan kasusnya dia hanya perlu sebuah inti monster mutan.
Dia bahkan belum membuka antarmuka sistem untuk waktu yang lama 'Yah, Gua bisa ngecek nanti' Meski tidak begitu yakin Rifana hanya bisa mengataka itu.
Meskipun dia tahu cara sebenarnya, dia mungkin hanya akan diam dan meninggalkan Mereka.
Membawa orang lain bisa saja mempersulit dirinya sendiri, rencananya dia memang hanya akan tetap menyendiri.
Namun pikiran Rifana terus mendesaknya, setelah bertemu dengan dua mahluk yang tidak masuk akal itu, dia dengan jujur mengakui betama lemahnya dia.
Pada akhirnya, mau tak mau dia harus bekerja sama dengan orang lain.
Lagipula Trait miliknya sepertinya hanya membuat sebuah skill pasif, dan itu tak banyak membantu dalam pertarungan langsung.
Untuk apa kau punya regenerasi, jika seluruh tubuhmu hancur tak bersisa dalam sekali langkah? Tentu itu tak berguna!
Apalagi sepertinya skill pasif yang didapat Rifana hanya meningkatkan regenerasi alaminya, itu bukan semacam cheat skill gila yang akan menumbuhkan lengannya saat ditebas.
Adam dan Ziva mengikuti dari belakang, bau menyengat dan anyir mulai melonjak naik saat mereka sampai di suatu daerah.
Frekuensi jumlah tubuh yang tergeletak semakin membeludak, dan itulah saat mereka melihatnya.
'... Ah' Rifana terdiam.
Adam dan Ziva, secara naluriah berhenti saat Rifana tertegun. Mereka berhenti menunduk dan melihat kedepan.
Secara naluriah, kedua bersaudara itu mundur, tubuhnya gemetar dan berkedut dengan aneh, wajah mereka memucat saat tubuhnya memanas.
Tanah dipenuhi dengan retakan, rumah-rumah didaur ulang kembali menjadi tanah kosong.
Bahkan puing-puingnya tak tersisa.
Mulut Rifana tergantung, matanya dipenuhi kejutan. Saat visinya meluas, kehancuran di hadapan mereka semakin jelas.
Semakin jauh mereka melihat, semakin jelas.
Layaknya terjadi gempa bumi, tanah di bawah mereka tidak lagi rata. Beberapa lempeng tanah menjorok keluar, menciptakan kekacauan.
'Ini' mereka bertiga melihatnya, Rifana secara tak sadar maju semakin jauh, meninggalkan kedua saudara itu terpaku tanpa tenaga.
Udara terasa semakin berat di sekitarnya, area seluas puluhan meter hancur berantakan dengan semua besi yang meleleh.
Saat itulah mereka menyadarinya.
Bermandikan cahaya halus yang mengalir dari retakan di langit, hanya satu kata yang terlintas di benaknya "mengerikan."
Di sisi tanah yang merembes hancur, Rifana menyaksikan itu. Spora kemerahan menyebar dengan lambat menutupi sebagian tempat itu.
Udara terasa mencekik, spora aneh itu seakan menyadari keberadaan mereka, merambat kembali dengan gerakan yang dipercepat.
Jejak besar menghancurkan segalanya itu, kini diselimuti lautan merah yang terus meluas.
Tubuh Rifana menegang, seakan berteriak untuk lari.
Jantungnya berdegup kencang, saat semburan tenaga konstan menyelimuti tubuhnya. Rifana hanya menyadari satu hal setiap kali reaksi tubuhnya seperti ini.
'Titan...' Dia melangkah mundur dengan cepat, kulitnya terasa gatal secara tiba-tiba memunculkan memar yang samar.
Setiap tarikan nafas terasa akan membunuhnya, Rifana secara naluriah berbalik dan menarik kedua bersaudara itu pergi.
'Ga beres ni tempat' Pikirnya cepat, dia tidak ingin membuang lebih banyak waktu lagi.
Rifana merasa dia akan mati jika menyaksikan adegan itu lebih lama, instingnya terus menekannya untuk pergi.
Kondisi dua bersaudara itu bahkan lebih buruk dari Rifana. Setiap hembusan nafas mereka mengeluarkan partikel-partikel merah, tubuhnya mulai dipenuhi tanda aneh.
Sebagai manusia biasa, toleransi tubuh mereka terhadap hal aneh tentunya sangat rendah jika dibandingkan dengan Rifana yang telah menjadi Superhuman.
Mereka terengah-engah saat Rifana dengan cepat membawa mereka melarikan diri dari sana, tatapannya lemah, bahkan mereka tak bisa berbicara.
'Tempat itu pasti semacam Zona kematian!' Rifana hanya menyimpulkan cepat, dia terus berlari meninggalkan tempat itu.
Cepat.
...
Setelah periode yang mematikan, mereka akhirnya berhasil kabur dari tempat itu.
Adam dan Ziva masih dalam kondisi yang buruk, tenaga mereka terkuras habis setelah semua yang terjadi.
Mereka masih terengah-engah kelelahan, menatap Rifana yang kini berdiri dihadapan mereka.
"Ha.. Ha... Hei Rif." Ziva membungkuk dengan kedua tangannya menopang tubuhnya pada kakinya "Ugh.. Uhuk.. Lu punya solusi ga?" Matanya yang lemah menatap dengan penuh harapan.
Pengalaman sebelumnya tentunya bukanlah hal yang menyenangkan bagi mereka, akhir dunia sepertinya memang tidak bisa diremehkan. Terlebih lagi mereka berdua masihlah seorang manusia biasa saat ini.
Ini membuat Ziva berpikir 'Apa yang bakal terjadi kedepannya?' Kalau dia masih manusia normal sampai bulan atau bahkan tahun tahun selanjutnya, hal buruk macam apa yang akan datang?
Itulah kenapa dia dengan segera bertanya pada Rifana tepat setelah mereka sedikit aman, dia percaya kalau Rifana dapat membantu mereka dalam kondisi ini.
Percaya tidak percaya, inilah satu satunya pilihan bagi mereka.
Dibandingkan dengan eksplorasi mandiri yang membutuhkan waktu dan ketelitian lebih, mereka lebih memilih jalan yang telah diterangi untuk mereka lalui.
Adam di sisi lain hanya terdiam tanpa kata, dia hanya melihat Rifana dengan tatapan aneh, seakan dia akan melakukan apa saja yang akan dikatakannya.
Nafas mereka bahkan belum pulih, namun insting bertahan hidup mereka memaksa untuk terus maju.
Rifana menghampiri kedua orang itu "Memang ada solusi, tapi gua gak yakin" Dia berpikir sejenak "Menjadi superhuman tentunya adalah solusi terbaik yang kulikirkan."
Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
"Dan untuk menjadi salah satunya.."
"Kalian harus membunuh mutan"