Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun, semesta memiliki rencana lain.
Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merencanakan rumah orang tua
Aku pernah membiarkan diriku hanyut dalam mimpi tentang sebuah pernikahan. Menghayal tentang adegan romantis dengan seorang pria yang mencintaiku tanpa syarat, biasanya efek samping setelah menonton maraton serial drama di akhir pekan.
Membayangkannya terasa aman karena tidak ada konsekuensi nyata. Namun, bagi jiwaku yang sudah menelan pahitnya pengalaman, menjalani hubungan yang sebenarnya terasa seperti melangkah di atas ladang ranjau; terlalu banyak risiko yang dipertaruhkan.
Saat merenung seperti ini aku suka ber"andai".
Jika Bian dan Cinta tetap berjalan di atas garis takdir yang kuingat, maka dalam kurang dari tiga bulan, kedua adikku itu akan melangkah ke pelaminan bersama kekasih mereka masing-masing. Di saat-saat seperti ini, mungkin saja mereka sudah diam-diam menghadap Orang tua untuk meminta izin, melompati urutan kakak tertua mereka yang masih betah menjomblo.
Aku bisa memprediksi apa yang akan terjadi sebulan lagi. Ponselku akan mulai berisik oleh telepon dari Ibu. Suaranya yang lembut namun penuh desakan akan mulai memperkenalkan deretan kandidat laki-laki yang menurut standar keluarga adalah "pilihan terbaik". Lalu, para saudara akan ikut campur, menciptakan skenario-skenario pertemuan yang dipaksakan.
Dan musuh terbesarku dalam urusan ini adalah Siska.
Siska, si agen perjodohan keluarga yang kebetulan bekerja di kota yang sama denganku. Aku yakin, dalam waktu dekat dia akan muncul secara tiba-tiba di depanku, entah di lobi kantor atau kafe tempatku biasa menghabiskan waktu. Ini bukan murni inisiatifnya; dia adalah pion yang digerakkan oleh kekhawatiran keluargaku.
Aku pernah melewati fase melelahkan ini sekali di masa lalu. Kali ini, aku hanya bisa merapal doa yang sangat tulus: semoga aku bisa menghadapinya dengan lebih tenang dan bijak. Sebab, menghadapi tekanan keluarga sering kali jauh lebih menguras tenaga daripada mencoba memperbaiki alur waktu yang berantakan.
Ponselku bergetar di atas meja kerja, menampilkan nama Bian di layar. Saat aku mengangkatnya, suara adik laki-lakiku itu terdengar lebih berat, menyimpan semacam rahasia yang sudah kuprediksi.
Ia sedang berada di kampung halaman dan rencananya akan menetap di sana selama satu bulan penuh.Firasatku benar. Ini adalah ritual "masa tenang" sebelum ia melepaskan status lajangnya. Bian ingin menghabiskan hari-hari terakhirnya sebagai anak laki-laki di rumah itu sebelum resmi membangun rumah tangganya sendiri.
Sebuah ide tiba-tiba melintas di benakku. Aku harus membuat keluarga ini sibuk. Jika pikiran mereka hanya tertuju pada rencana pernikahan Bian dan Cinta, maka aku, si kakak tertua yang masih melajang akan menjadi sasaran empuk interogasi dan perjodohan seperti di kehidupan sebelumnya. Aku tidak bisa membiarkan sejarah berulang.
"Bi," potongku di tengah ceritanya tentang suasana rumah. "Aku butuh bantuanmu. Tolong audit semua keuangan Bapak dan Ibu. Cek nilai saham Bapak, aset tanah, dan tabungan mereka sesuai harga pasar terkini."
Suara di seberang sana terdiam sejenak. "Audit? Untuk apa, Mbak?"
"Dengarkan aku. Jika kondisinya memungkinkan, aku ingin Bapak segera mengajukan pinjaman renovasi atau pembangunan rumah di lahan baru yang baru saja dia beli. Pinjaman tanpa agunan, tenor sepuluh tahun. Mengingat usia Bapak, mungkin ini kesempatan terakhirnya untuk mendapatkan kredit jangka panjang," jelasku dengan nada otoritas seorang kakak sekaligus wanita berusia 34 tahun.
"Tapi Mbak, bukannya sekarang fokusnya harus ke hal mendesak lebih penting, Pernikahan misalnya?" tanya Bian ragu. Sekaligus memberi kode kalau sebenarnya ia akan menikah.
Aku menarik napas panjang, mencoba memasukkan logika yang akan mengguncang harga dirinya sebagai laki-laki. "Justru itu poinnya, Bi. Coba bayangkan, jika kredit ini cair dan pembangunan dimulai, Bapak dan Ibu akan menyambut calon besan di rumah milik sendiri. Lebih lega, lebih bermartabat, meski itu hanya rumah sederhana.
Kita tidak perlu memaksa mengadakan pesta mewah di rumah warisan hanya demi standar warga sekitar, yang ujung-ujungnya malah meninggalkan jejak utang yang mencekik."
Hening merayap di saluran telepon. Aku bisa membayangkan Bian sedang mencerna kalimatku.
"Mbak... aku tidak terpikir sampai ke sana," bisik Bian, nada suaranya berubah kagum. "Menerima keluarga mempelai wanita di rumah baru yang kita bangun sendiri... itu kedengarannya jauh lebih terhormat daripada pesta pora tapi rumah masih numpang di tanah keluarga besar."
"Tepat," sahutku mantap.
"Bantu Bapak mengurus berkasnya. Aku yakin kamu bisa diandalkan, Bi. Kadang idemu bahkan lebih cerdik dariku."
Bian tertawa kecil, semangatnya kini tersulut. "Oke, Mbak. Aku akan kerjakan sekarang ini juga. Aku akan buatkan simulasi angsurannya supaya Bapak tidak merasa terbebani."
Aku menutup telepon dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Satu bidak catur telah kupindahkan. Dengan proyek pembangunan rumah ini, fokus Ibu dan para saudara akan teralihkan sepenuhnya.
Mereka akan terlalu sibuk memikirkan warna cat, denah dapur, dan cicilan batako untuk sempat memikirkan siapa pria yang harus diperkenalkan padaku.
Kali ini, aku tidak hanya mengubah alur waktuku sendiri, tapi aku sedang membentengi kedamaian hidupku dari badai ekspektasi yang bernama "pernikahan".
Malam itu, ruang tengah rumah warisan yang pengap terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya ada suara jangkrik dari balik dinding papan dan desau kipas angin tua. Bapak duduk bersandar, memijat pangkal hidungnya yang kacamata bacanya sudah melorot, sementara Ibu terpaku menatap lembaran simulasi kredit yang disodorkan Bian.
"Pinjam bank itu bukan perkara main-main, Bi," suara Bapak berat, penuh kehati-hatian khas orang tua yang seumur hidup menghindari jeratan utang. "Bapak tidak mau di masa tua nanti kita malah dikejar-kejar orang bank hanya karena sebidang tanah. Lagipula, kita sudah punya rumah ini, meski numpang di tanah keluarga besar."
Ibu mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca menatap angka cicilan di kertas itu. "Iya, Nak. Ibu takut kalau nanti ada apa-apa, kamu dan kakak-kakakmu yang repot.
Lebih baik hidup sederhana tapi tenang tanpa beban pikiran."
Bian tidak langsung membantah. Ia menggeser duduknya mendekat ke arah Bapak, lalu membuka laptopnya. Ia menampilkan sketsa rumah minimalis yang dulu pernah dibuat Ayyara—rumah kecil dengan dua kamar, ruang tamu yang terang, dan dapur bersih yang menyatu dengan ruang keluarga.
"Pak, Bu... coba lihat ini," Bian memulai dengan nada yang sangat tenang, persis seperti seorang konsultan profesional namun tetap lembut. "Ini bukan utang untuk konsumsi atau foya-foya. Ini investasi untuk harga diri kita."
Bapak sedikit memajukan duduknya, matanya menyipit menatap layar laptop.
"Bapak sudah bekerja keras puluhan tahun. Saham yang Bapak punya sekarang nilainya sudah naik berkali-kali lipat dari saat pertama beli. Kalau kita cairkan sebagian, itu sudah cukup untuk uang muka dan jaminan," lanjut Bian. "Pinjaman ini flat, Pak.
Cicilannya tetap setiap bulan, dan nilainya jauh di bawah penghasilan pasif dari kebun sayur kita yang baru panen tempo hari."
Bian membalik lembar simulasi itu, menunjuk kolom angka dengan telunjuknya. "Sepuluh tahun itu cepat, Pak. Dan yang paling penting, rumah ini dibangun di atas lahan milik Bapak sendiri. Bukan lagi di tanah warisan yang setiap hari Ibu harus dengar sindiran dari saudara-saudara. Bayangkan, sebentar lagi Bian dan Cinta menikah. Apa Bapak tidak ingin menyambut besan di teras rumah yang benar-benar milik Bapak?"
Kalimat terakhir Bian seperti anak panah yang tepat sasaran.
Bapak terdiam cukup lama, matanya beralih dari layar laptop ke arah Ibu. Ada keraguan yang mulai terkikis oleh binar harapan.
"Benar bisa selesai sebulan, Bi?" tanya Bapak lirih, suaranya kini terdengar penuh minat.
"Bisa, Pak! Teman Bian ini kontraktor ahli.
Karena ini akan jadi konten edukasi di media sosialnya, dia janji akan kasih kualitas terbaik dan tenaga kerja ekstra supaya cepat. Bapak tidak perlu pusing cari tukang atau beli material sendiri, semua sudah masuk dalam paket," Bian meyakinkan.
Ibu yang tadinya tegang, perlahan mulai tersenyum tipis saat melihat detail dapur di sketsa itu. "Kalau memang tidak memberatkan anak-anak nanti... Ibu setuju, Pak. Ibu ingin sekali punya dapur yang tidak bocor kalau hujan."
Bapak menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan mantap.
Ia menepuk bahu Bian dengan bangga. "Ya sudah. Kalau kamu yakin perhitungannya aman, Bapak percaya. Besok kita ke bank. Bapak mau lihat langsung lahan itu, mau Bapak bersihkan rumputnya supaya tukangnya bisa langsung kerja!"
Malam yang tadinya terasa berat kini berubah menjadi penuh semangat. Ketakutan akan angka-angka di kertas itu kalah oleh impian tentang dinding bata milik sendiri yang selama ini hanya tersimpan di dalam hati. Di sudut kota yang lain, aku yang mendengar kabar ini lewat pesan singkat Bian hanya bisa menghela napas lega. Satu tembok besar baru saja runtuh.
Beberapa hari berlalu dalam rutinitas kantor yang menjemukan, hingga sebuah dering telepon di jam makan siang memecah konsentrasiku. Nama Bian berkedip di layar. Aku mengangkatnya, dan suara adikku itu langsung meledak dengan nada kemenangan yang tak tertahankan.
"Mbak! Semuanya aman! Jalur hijau!" serunya tanpa salam pembuka.
Aku mengernyit, menghentikan suapan makan siangku. "Aman? Aman bagaimana, Bi? Pelan-pelan bicaranya."
Bian menarik napas panjang, lalu mulai menjelaskan dengan rincian yang membuatku nyaris menjatuhkan sendok.
Rupanya, setelah pembicaraan serius kami terakhir kali, si otak jenius itu tidak membuang waktu sedetik pun. Ia langsung bergerak melakukan audit total terhadap aset Bapak dan mengajukan pinjaman atas nama beliau ke sebuah bank.
"Aku kenal surveyor-nya, Mbak. Orangnya asyik dan prosesnya dibantu habis-habisan. Tapi itu belum bagian terbaiknya," lanjut Bian, suaranya merendah seolah membocorkan rahasia negara.
"Lalu apa?" tanyaku penasaran.
"Aku mendatangi teman lamaku. Ayahnya sudah puluhan tahun malang melintang di bisnis kontraktor, spesialis rumah cepat bangun. Kebetulan temanku ini sekarang jadi konten kreator arsitektur yang pengikutnya lumayan banyak.
Kami sudah negosiasi," Bian menjeda sejenak untuk memberi efek dramatis. "Mereka menjanjikan rumah itu bisa ditempati dalam waktu satu bulan! Mereka tim profesional, Mbak."
Aku terbelalak. "Satu bulan? Kamu yakin? Itu pembangunan rumah, Bian, bukan merakit lemari toko."
"Yakin seratus persen. Mereka pakai sistem prefabrikasi modern. Dan ini yang paling penting: kita dapat harga jasa yang sangat miring. Syaratnya cuma satu, seluruh proses pembangunannya boleh mereka jadikan konten media sosial sebagai proyek percontohan rumah minimalis modern."
"Bapak dan Ibu setuju?"
"Bapak dan Ibu sudah tahu?" tanyaku dengan jantung berdebar.
"Sudah! Awalnya mereka ragu, tapi setelah dijelaskan soal efisiensi dan melihat sketsa yang dulu pernah Mbak buat, mereka langsung semangat. Sekarang Bapak malah sibuk ikut bantu-bantu di lahan."
Aku terdiam, menyandarkan punggung ke kursi kafe. Rencanaku untuk membuat keluarga sibuk ternyata melesat jauh lebih cepat dan lebih besar dari yang kubayangkan. Bian benar-benar 'pencuri start' yang luar biasa.
"Bagus kalau begitu," ucapku akhirnya dengan senyum tipis yang tak bisa kusembunyikan.
"Pastikan semua kontraknya jelas, Bi. Jangan sampai karena konten, kualitas bangunannya dikorbankan."
"Beres, Mbak. Serahkan pada adikmu yang paling tampan ini.
Aku tertawa kecil, merasakan beban di pundakku sedikit terangkat. Setidaknya, untuk sebulan ke depan, benteng pertahananku aman.
Malam selanjutnya, Aku menelepon Bian via panggilan video. Wajah adikku itu tampak lelah namun matanya berbinar, latar belakangnya adalah tumpukan berkas dan layar laptop yang masih menyala.
"Bi, satu hal yang paling krusial," aku membuka percakapan dengan nada rendah, nyaris berbisik. "Proyek ini harus steril. Jangan sampai ada satu pun keluarga besar yang tahu sebelum batako pertama terpasang."
Bian membetulkan posisi duduknya, raut wajahnya berubah serius. "Aku tahu, Mbak. Tadi siang Tante Lastri sempat mampir ke rumah, nanya-nanya kenapa aku bolak-balik bawa map logonya bank. Aku cuma jawab lagi urus legalisir ijazah buat lamaran kerja tambahan."
Aku menghela napas lega. "Bagus. Kamu tahu sendiri kan gimana mereka? Kalau mereka tahu Bapak ambil pinjaman buat bangun rumah di lahan baru, besok paginya seluruh kampung bakal dengar narasi kalau kita ini 'keluarga sombong yang gali lubang demi gaya-gayaan'. Mereka bakal berusaha memengaruhi Ibu supaya takut dan batalin semuanya."
"Iya, Mbak. Aku sudah wanti-wanti Bapak sama Ibu juga," sahut Bian. "Tadi aku bilang ke Ibu, 'Bu, ini kado rahasia buat pernikahan Bian sama Cinta nanti. Kalau orang lain tahu sekarang, pamalinya kuat.' Ibu langsung tutup mulut rapat-rapat, bahkan tadi pas ada tetangga lewat, sketsa rumahnya langsung disembunyiin di bawah taplak meja."
Aku terkekeh pelan. "Ibu memang paling jago kalau soal menjaga rahasia anak-anaknya. Tapi bagaimana dengan lahan itu? Kontraktor temanmu itu kan bakal mulai bawa material besar-besaran."
"Nah, itu dia cerdiknya," Bian tersenyum penuh arti. "Karena lahannya agak masuk dan jauh dari keramaian tanah warisan ini, aku bilang ke orang-orang kalau itu proyek percontohan kantor tempatku magang. Jadi kalau ada yang lihat truk semen lewat, mereka pikir itu urusan kantor, bukan milik pribadi Bapak."
"Brilian, Bi. Biarkan mereka mengira kita tetap 'miskin' dan 'pengejar dunia fana' seperti yang mereka bilang selama ini. Kita tidak butuh validasi mereka," kataku dengan tegas. "Aku ingin saat rumah itu jadi nanti, kita tinggal bawa Bapak dan Ibu pindah secara mendadak. Hanya bawa baju dan perlengkapan penting. Biarkan rumah lama ini kosong, atau terserah mereka mau diapakan."
Bian mengangguk mantap. "Aku setuju. Biar mereka tahu saat kita sudah syukuran rumah baru saja. Itu pun kalau kita mau undang mereka."
"Nggak perlu buru-buru mengundang, Bi," ujarku sambil menatap pantulan diriku di cermin kamar kos. "Biarkan kesunyian dari pihak kita menjadi jawaban paling berisik buat nyinyiran mereka selama tujuh tahun ini.
Fokus kita cuma satu: kenyamanan Bapak dan Ibu di hari tua mereka."
"Siap, Bos," canda Bian, mencairkan suasana.
"Mbak tenang saja di kota. Pokoknya operasional di lapangan aman di tangan 'agen rahasia' Bian."
Aku menutup telepon dengan perasaan puas.
Membangun dinding beton memang penting, tapi membangun dinding rahasia dari kerabat yang toksik ternyata jauh lebih melegakan. Kini, aku hanya perlu menghitung hari sampai istana kecil untuk orang tuaku itu berdiri tegak tanpa interupsi dari siapa pun.